BAB 2

1343 Words
Terkulai lemas, Ollin memandangi barang-barang yang teronggok di lantai kamar kosannya. Matanya menatap nanar sang ibu kos yang juga menatapnya, namun dengan tatapan tajam. Wanita berusia empat puluhan dengan tubuh cukup tambun yang dibalut dengan daster bercorak bunga-bunga itu bertolak pinggang, kaki berbobotnya tampak nangkring di kursi dekat meja belajar gadis yang kerap dipanggil Ollin itu―yang sebenarnya tidak pernah Ollin gunakan untuk belajar. Ini udah sore, bentar lagi malem. Maghrib aja udah lewat. Gue nggak mungkin diusir kan, hari ini? Batin Ollin seraya memusatkan matanya pada barang-barang berharga, yang sejatinya miliknya itu. Ollin mencoba memeriksa secara sekilas apakah ada dari barang miliknya yang rusak, karena baru terkena tornado dadakan ibu kosannya tersebut. Bu Katiem yang lebih senang dipanggil Katy, agar terlihat seperti Katy Peri itu, melepas gelungan rambutnya. Lalu menggoyangkan kepalanya beberapa kali, "Hari ini lu aye usir dari ini kosan. Bukan ape-ape, udah dua bulan lu nunggak uang sewa. Lu pikir ini kosan milik enyak babe lu ape?" Suara dengan logat Betawinya yang begitu kental menyapa gendang telinga Ollin. "Yah, Bu Ket―" "Bukat buket, nama aye itu Keti, bukan buket. Lu pikir buket bunge? Panggil gue Mpok Keti. Jangan Bu! Lu pikir aye ibu lu? Gue ini cewek paling cantik seantero rumah eni," ucap Bu Katy penuh percaya diri memotong ucapan Ollin. Ya elah, Mpok? cewek? Ngaca atuh Bu, situ udah nggak pantes disebut Mpok, apalagi cewek. Cantik dari mananya, pula? Badan udah kayak tong bocor gitu. Batin Ollin dengan matanya yang memandang miris tubuh tambun Bu Katy, bibir perempuan berusia 25 tahun itu berusaha menyunggingkan seulas senyum. Meski rasanya itu sangat sulit. "Iya deh, Mpok. Emang Ibu sama Bapak saya nggak ngirim duit ke Mpok, apa? Segitunya nunggak sampai dua bulan. Saya bener-bener syok loh, Bu." Bu Katy mendengkus lirih, "Kalau udah ngirim, aye nggak bakal ngusir elu. Mikir dong, gimane sih?" Ollin kembali meringis. Tepat sesaat setelah wajahnya kehujanan air liur dari ibu kosannya itu. "Mpok bercanda ya? Jangan bercanda Mpok, saya lagi nggak ada mood buat bercanda. Hari ini saya baru bimbingan, dan ternyata skripsi saya masih banyak kesalahannya. Otak saya rasanya udah nggak kuat buat mikir, Bu. Capek banget," ucap Ollin seraya memijat pelipisnya. Bertingkah seakan ia tengah pusing berat. Untuk masalah yang melibatkan otak, Ollin memang suka ogah-ogahan. Ollin sebenarnya perempuan yang cerdas, dulu sewaktu masih SD, SMP, dan juga SMA, ia selalu mendapat peringkat di sepuluh besar pararel. Bahkan sampai semester empat kuliahnya, Ollin tetap berprestasi. Hanya sampai semester lima kuliahnya saja, Ollin berubah. Ollin tidak akan memberi tahu hal apa yang membuatnya berubah, karena jujur saja, kejadian itulah yang membuat ia sedikit trauma. Hingga akhirnya Ollin merubah seluruh hal tentang dirinya dari yang semula feminim menjadi tomboi, urakan, slengean dan semacamnya. Ollin pikir dengan seperti itu hidupnya akan lebih berwarna. Lalu masalahnya akan sedikit terlupakan. Ollin sudah kadung "Halah, lu jangan drama deh. Ini bukan sinetron. Aye tahu kalau lu baik-baik aje, muke lu aja kagak keliatan pucet. Cerah berseri gitu. Udah sono, angkut semua barang lu. Aye mau nyewain kosan ini ke orang lain. Uang sewa lu yang belum elu bayar, kalau bisa lu kirim secepetnye. Utang tetep utang. Ya udin, aye mau balik ke istana aye dulu, Wassalamu'alaikum." Setelah mengucapkan kalimat yang lumayan panjang itu, Bu Katy langsung melenggang pergi dari kamar kosan Ollin. Meninggalkan Ollin yang masih terduduk di lantai dengan eskpresi lesunya. "Wa'alaikumsalam." Pada akhirnya hanya sahutan lirih yang merupakan balasan salam itu yang Ollin lontarkan. Perempuan itu mengacak rambutnya dengan frustasi. "Cobaan macam apa ini Ya Allah. Emak Bapak, kenapa nggak bayar uang sewa Lin sih? Sedih hayati tuh, mana nggak ada duit. Terpaksa deh, lontang-lantung di jalan. Nasib anak rantauan yang cantiknya ngalahin Miss Kandang Kebo ini." Desahan penuh kekesalan menjadi akhir dari kalimat yang perempuan bernama Alana Ollin Nadheranjani itu ucapkan. ***** "Ma, kok uang sewanya nggak Mama sama Papa kirim, sih? Sekarang Ollin di usir nih dari kosan." Terdengar helaan napas dari lawan bicara Ollin di telepon. Saat ini Ollin sudah berada di halte bis. Satu koper besar beserta tas besar, perempuan itu letakkan di masing-masing sisinya, sementara di punggungnya terdapat tas gendong. Koper besar itu berisi seluruh pakaian beserta sepatu-sepatu Ollin, dan juga beberapa barang pribadi milik perempuan itu. Sementara tas besar itu berisi beberapa buku paket berisi materi perkuliahannya. Kalau tas gendongnya itu berisi laptop dan beberapa perintilan kecil dari seperangkat laptopnya. "Salah kamu Lin, umur udah mau tiga puluh―" "Masih lama itu mah, Ollin baru dua lima umurnya. Jangan lebay ah!" Kata Ollin yang langsung memotong ucapan dari Mamanya itu. "Kamu ini, Ibunya lagi ngomong main potong aja. Kamu itu udah dewasa, tapi kelakuan masih sama saja. Temen-temen kamu udah banyak yang gendong anak. Kamu kapan? Nunggu Mama sama Papa dipanggil Tuhan? Kamu ituloh, kuliah kok nggak selesai-selesai?" Ollin menghela napasnya mendengar gerutuan sang Mama. Ia tahu, jika selama ini ia sudah mengecewakan ibunya. Perempuan itu sama sekali belum berniat berbicara atau sekedar melakukan pembelaan atas perkataan Mamanya itu. Ollin tahu kalau sebentar lagi ibunya akan kembali berbicara, "Mama sama Papa, sengaja nggak kirim uang sewa kamu ke Bu Katy. Mama pengin kamu berubah. Terkadang hidup susah akan merubah cara pikir kamu jadi lebih baik. Lagipula, Mama tahu kamu masih ada uang, hasil dari endors-an di sosmed kamu. Kamu sekarang lagi garap skripsi kan? Kalau kamu bisa cepet selesaiin itu skripsi, maka semakin cepat kamu sidang. Usahain sidang kamu berjalan lancar, belajar ngomong yang luwes. Pelajari betul-betul materi yang mau kamu presentasikan. Kalau sidang kamu berhasil, tinggal nunggu wisuda. Kamu nggak bakal lama-lama hidup susah. Mama yakin kamu bisa bertahan." "Tapi Ma―" "Nggak ada tapi-tapian. Kalau kamu masih tetap mau tinggal di kosan Bu Katy, bayar pakai uang kamu sendiri. Ya udah, Mama mau nyalon dulu, biar cantik dan Papa makin cinta. Bye, Sayang. Wasalamu'alaikum." Yang menjadi permasalahannya itu adalah ; Ollin tidak memiliki uang banyak saat ini. Sudah satu bulan lebih tidak ada produk yang menggunakan jasanya untuk periklanan. Uangnya pun semakin menipis, belum lagi Bu Katy yang menagih uang sewanya. Mau makan apa dia nanti. Benar-benar nasib anak rantauan. Sangat menyedihkan. "Riana! Kenapa nggak gue telepon aja itu anak? Minta izin tinggal di rumahnya, boleh kali?" Kemudian, Ollin pun menggerakkan jari jemari cukup lentiknya di atas layar gawai. Mencari kontak sahabatnya. Siapa tahu sahabat Ollin yang bernana Riana itu mau menolongnya. Nada dering pun sudah terdengar, namun lebih dari sepuluh detik belum juga diangkat. Bahkan sampai nada dering terakhir pun, panggilan belum juga di angkat. "Ini bocah kemana sih? Nggak tahu apa sahabatnya lagi butuh bantuan?" Ollin kembali mencoba untuk menghubungi Riana. Ollin tidak patah semangat, meski berkali-kali teleponnya tidak diangkat. Dan pada panggilan ke empat, akhirnya sambungan pun terhubung. "Assalamu'alaikum. Ha―" "Na, gue butuh bantuan lo. Gue baru dideportasi dari kosan. Gue boleh tinggal di rumah lo, nggak? Plis, boleh ya," ucap Ollin yang langsung memotong ucapan salam Riana. "Ya Tuhan Na, salam itu dibalas, jangan asal ngoceh aja. Dosa baru tahu rasa lo! Lagian, seharusnya lo duluan yang ngasih salam. Lo tuh harus ngebiasain diri buat ngucap salam, ini salah satu identitas kita loh." "Iya, iya, Wa'alaikumsalam." "Nah gitu dong. Coba lo ngomongnya pelan-pelan, biar gue bisa nyerna apa kata lo," ucap Riana yang sempat memrotes cara bicara Ollin yang kelewat cepat. Ollin pun segera mengulang ucapannya tadi, namun dengan tempo yang lebih lambat sehingga mudah dipahami oleh lawan bicaranya. Ollin mengakhiri ceritanya dengan desahan penuh kefrustasian. "Yah, bukannya gue nggak setia kawan, ya Lin. Tapi lo tahu sendiri gue tinggal di rumah Om gue. Gue bingung ngomong ke Om gue." "Emang lo nggak bis―" Sambungan tiba-tiba terputus, membuat Ollin mengerutkan keningnya bingung. Perempuan itu, pun melihat layar gawainya yang tampak hitam, mencoba mengaktifkan lagi gawainya itu, namun sama sekali tidak berhasil. "Ya Allah, cobaan macam apa lagi ini?! Baterainya kenapa habis, di saat genting kayak gini sih? Nggak tahu waktu banget," ucap Ollin yang terdengar semakin frustasi, membuat beberapa orang yang berada di sekitarnya, memandang gadis itu dengan penuh tanda tanya. Kira-kira yang ada di pikiran mereka seperti ini ; dia CGB ya, alias cewek gila baru?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD