Part 7

1002 Words
Evelina POV ========= Adam ternyata sudah meninggalkan rumahku sebelum aku bangun. Aku segera mandi, sarapan, dan mencari pakaian yang pantas. Jam delapan ini, Sera, memintaku datang ke kafe favorit kami. Dia hanya bilang kalau aku harus menemaninya ketemuan dengan seseorang. Kalau bukan Bestie, aku malas ikut campur pertemuan orang. Pasti ini seperti yang sebelum-sebelumnya. Temanku itu suka sekali ketemuan dengan orang asing dari media sosial. Pernah sekali dia hampir dikasih obat bius, untung saja aku datang tepat waktu! Dan dia masih belum kapok sembarangan ngajak ketemuan orang... Baru aku sampai di kafe Moonie's Moon, belum juga kuminum lemon tea-ku, dia sudah nyerocos betapa inginnya bertemu dengan 'orang ini'. Dia terus memujinya kalau sudah saling mengenal selama bertahun-tahun, bahkan dari SMA. Oke, artinya ini bukan kenalan dari dunia maya? "Ketemu siapa sih?" Tanyaku mulai penasaran. Kuperhatikan dandanannya hari ini juga berbeda dari penampilannya jika ketemuan dengan orang-orang asing. Dia lebih feminim, memakai dress warna biru cerah, memakai make-up tipis. "Bukan orang aneh-aneh lagi? Padahal aku sudah siap semprotan cabe ini.." sindirku hanya untuk menggodanya. "Hei, jangan gitu dong, tidak semua kenalanku itu seperti yang kemarin itu!" Sahutnya sewot. "Terus ini siapa? Teman kamu? Cowok pasti ya?" Dia tertegun sejenak. Kemudian malah mengatakan hal diluar pembicaraan kami, "Lin, aku mau jujur padamu sebelumnya.." "Ada apa?" "Surat rahasiamu itu.." Kenapa bahas surat dari Fabian? Aku memicingkan mata padanya, "Surat iseng itu?" "Sebenarnya yang awal itu, aku yang memberikannya padamu, dari Fabian.. iya aku.. tahu siapa Fabian.." kata Sera mengejutkanku. Aku sangat kaget sampai diam saja seperti batu. Sera melanjutkan, "Iya, maaf, aku disuruh Fabian.. aku juga baca sih.." Aku masih membisu. Dia tampak menyesal, "Cuma sekali saja, lainnya dia sendiri yang ngirim. Aku cuma.." "Jadi kamu sudah tahu!" Kesalku melototinya. Jadi dia sok-sok tidak tahu kemarin? Astaga, aktingnya bagus sekali... Tapi kenapa dia sampai membohongiku.. "Apa kamu masih menyukainya? Aku sengaja pura-pura tidak tahu dan membantunya.. aku ingin.. aku ingin tahu reaksimu," jelasnya menjadi canggung, bingung dan terbata-bata. Aku curiga... Aku mengerutkan dahiku, "Jangan-jangan kamu dan Fabian.." "Kamu masih suka tidak?" Selanya. Aku menggeleng cepat, "Tidaklah. Mau kamu akting atau tidak, aku benar-benar benci dengan Fabian. Mana mungkin aku menyukainya." "Sebenarnya.. kami baru jadian," katanya membuatku semakin melongo. Dia menambahkan, "jadi saat aku tahu kamu mantannya, aku juga ingin tahu apakah kamu masih..." "Tunggu sebentar.." Apa dia tahu kalau Fabian juga mengirimkan pesan sialan ke rumahku? Fabian ngomongin ciuman... Sera masih menungguku bicara. "Kamu serius?" Tanyaku menelan ludah. Dia menjawab, "Tentu, kami sudah kenal sejak SMA." "Sejak SMA?" Ulangku mulai sadar dari tadi dia terus mengatakannya. Perasaan Sera ini tidak satu sekolah dengan kami. "Eh, maksudku bukan satu sekolah loh.. kalian dan aku beda sekolah," ralatnya memahami kebingunganku. "Oke.. tapi kamu yakin? Dia playboy loh.. seriusan." Maksudku, Fabian mungkin belum sembuh dari kebiasaannya selingkuh... "Tidak kok, tidak.." dia mulai keras kepala. Sera memang begini. Terlalu mudah percaya dan kalau sudah tertarik pada seseorang, sudah tidak mau tahu. Apalagi kalau dihadapkan dengan Fabian. Padahal aku ingin dia tidak merasakan penyesalan sepertiku. Tapi kalau aku terus melarangnya, pasti dia akan mengira aku masih memendam rasa. Aku hanya memberinya peringatan, "Ingat, Sera, kamu sebaiknya hati-hati saja, dia sukanya nipu.." "Tenang saja, kami sebenarnya saling berhubungan sejak dia ke Jakarta.. dan akhirnya dia kembali kemari.." Matanya sudah dipenuhi bunga-bunga cinta. Sudah tidak bisa kuselamatkan lagi. Semoga tidak terjadi apapun. Lagipula dengan menyebarkan berita mereka berpacaran, Adam tidak akan cemburu lagi. Benar juga... Ini juga untuk kebaikan kita semua.. "Baik, kalau kamu memang sudah mengenalnya," kataku mengangguk, "harusnya dari awal jelaskan padaku. Tidak perlu memberikan teror cinta segala..." Dia malah tertawa, "Ya, kalau kamu masih cinta'kan.. aku tidak mau dengan Fabian. Aku tidak mau.. kita jadi renggang.." Aku memotong ucapannya yang bingung itu, "Ya ampun, aku sudah punya Adam. Tolonglah. Fabian itu mantan.. lama sekali, kelas satu SMA, bayangkan, aku masih labil." "Sekarang masih'kan?" Guraunya. "Jangan bahas." "Maaf banget loh.." "Tidak masalah. Lagian lain kali, langsung tanya denganku, jangan ngikutin idenya Fabian ya.. dia sesat, kalau ngerjain orang emang begitu.." "Maafin dia deh.." kata Sera tertawa terbahak-bahak, "akhirnya kami pacaran, dan bestie-ku tidak akan cemburu.." Aku risih mendengarnya.. cemburu darimana, perasaanku bagaikan api membara jika melihatnya.. "Intinya kalau dia masih suka main di belakang, pukul saja kepalanya! Ingat, jangan mau diduakan, oke! Kamu temanku, kalau dia menyakitimu, biar kubantu balas dendam!" Tegasku malah membuat temanku itu semakin keras tawanya. "Oh iya, si Adam kenapa tidak diajak juga?" "Adam sedang sibuk dengan kerjaannya, tidak mau kubantu." Dia tersenyum padaku, "Aku kagum dengannya, calon pendamping hidup yang pekerja keras." Ya.. walaupun Adam suka pesimis.. aku hanya takut jika kami sudah menikah, lalu dia berusaha bunuh diri.. aku bisa jadi janda.. "Tapi dia sedikit cemburuan," kataku keluar begitu saja. "Seru dong," ucapnya menahan tawa. Kalau saja dia tahu Adam membunuh dosen matematika karena cemburu.. ini cemburu tidak sehat, dia keterlaluan.. "Kita sebaiknya jangan bahas Adam, aku takut lidahnya kegigit nanti, kasihan," candaku tersenyum palsu. Aku hanya tidak ingin mengingat tindakan jahatnya.. Kelihatannya Sera tidak peduli dengan omonganku barusan karena seseorang mendatangi kami. Orang yang ditunggu-tunggu. Orang yang dandanannya sangat modis, wajahnya fresh, parfumnya sangat maskulin. Fabian. "Eh, ada orang ketiga!" Serunya langsung menepuk pundakku. Kemudian duduk di antara kami. Sera menertawai gurauan garingnya. Fabian ikut tertawa pula. Mereka berdua tampak kompak bagaikan sudah menjadi pasangan yang amat lama. Tidak kusangat kalau temanku ternyata mengenal mantan pacarku. Mereka pacaran juga sekarang. Mereka juga kompak mengerjaiku dengan surat teror cinta. Kalau saja aku jomblo, sudah kujitak kepala mereka. "Ah, jadi aku pergi saja bagaimana?" Tanyaku meredam tawa mereka. Sera menjadi tidak enak padaku. Dia menjawab dengan nada lirih, "Eh, maaf, tujuanku mengajakmu, agar kita bisa.. ya.. saling akrab." "Ideku," lanjut Fabian melirikku tajam, "kubilang pada Sera kalau si Lina itu mungkin benci padaku." Aku yakin lidah ular ini tidak bilang pada Sera kalau telah mengirim pesan teror isinya ciuman-ciuman itu.. "Kita sudah baik'kan? Ayo pesan saja es krim atau apa, biar aku yang traktir.." kata Fabian memandangku. Lalu pada pacar barunya. Sera, kok bisa kamu pacaran dengan dia.. yasudah ah, semoga kalian senang... terserah.. ==============================
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD