Bab. 4

1012 Words
Roseline menatap datar ke arah tamu yang tak undang itu. Entah apa tujuannya mendatangi rumahnya. Hanya saja kehadirannya membuat Roseline merasakan aura yang tidak mengenakkan. "Apa kau kaget dengan kedatanganku? Apa kau mengira kalau aku adalah Jovan?" Tutur orang itu dengan senyuman miringnya. Menatap Roseline dengan tatapan meremehkan. "Apa tujuanmu kemari?" Tanya Roseline tanpa basa-basi. Orang tertawa sinis. "Sangat to the point. Baiklah, aku menyukai orang yang tidak basa-basi," ujarnya kemudian menatap Roseline dengan tajam. "Ceraikan Jovan." Roseline mendengus pelan. Seharusnya tanpa ia tanya pun ia sudah tahu apa tujuan w***********g di depannya itu menyambangi rumahnya. Ya, Roseline jelas tahu hubungan gelap antara Jovan dengan wanita masalalunya karena Jovan sama sekali tidak pernah berniat menyembunyikannya. Seolah-olah sengaja membiarkan Roseline mengetahuinya dan merasa tersakiti. "Mimpi saja," balas Roseline dengan lugas. Membuat Deluna menatapnya marah. Ia tidak menyangka kalau Roseline akan seberani ini membalas perkataannya. Padahal dari yang ia dengar, Jovan sering mengatakan kalau Roseline adalah wanita yang lemah tak berdaya. Tak memiliki kekuatan untuk melawan kejahatan. Tapi ternyata salah. Deluna tidak melihat sedikitpun sorot lemah dari netra coklat wanita itu. Yang ada hanya tatapan angkuh dan sinis. "Kau! Kau sama sekali tidak pantas untuk Jovan. Apa kau lupa kalau Jovan adalah kekasihku? Dia sangat mencintaiku. Seharusnya kau malu karena sudah merebutnya dariku!" Amuk Deluna. "Dia mencintaimu? Apa dia menikahimu? Kalau dia mencintaimu, sudah pasti dia akan menceraikanku dan menikahimu. Tapi kenyataannya?" Balas Roseline lagi. Wanita itu tampak tenang membalas amarah Deluna. Ia sama sekali tidak terpancing emosi. Baginya, Deluna hanyalah wanita sampah yang suka menggoda suami orang. "Lagipula untuk apa aku merasa malu? Bukankah seharusnya kau yang malu karena sudah menggoda suami orang? Jovan pernah bilang kalau kau adalah wanita yang cantik, mandiri, dan berkelas. Tapi setelah ku lihat bagaimana kau menggoda suamiku, ternyata kau tidak jauh berbeda dengan seonggok sampah di jalanan." Lagi, Roseline kembali melemparkan lontaran pedas kepada Deluna. Deluna yang merasa telah di hina oleh Roseline pun merasa marah. Bagaimana bisa wanita rendahan itu mengolok dirinya penggoda suami orang. Benar-benar membuat harga dirinya terluka. "Dengar, Roseline. Jovan menikahimu hanya untuk menyiksamu. Tidakkah kau sadar itu? Dia hanya menjadikanmu pelampiasan dari amarahnya. Jadi jangan pernah berharap kalau dia akan mencintaimu," ujar Deluna. Roseline tersenyum tipis namun terlihat mengejek. Ia bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Deluna yang duduk di depannya. Ia membungkukkan badannya, mendekatkan wajahnya ke telinga wanita itu. "Kami sudah tidur bersama. Apa itu belum cukup membuktikan kalau dia mencintaiku?" Bisiknya memanasi Deluna. Kedua mata Deluna membola begitu mendengar ucapan Roseline. Tidak. Tidak mungkin Jovan membohonginya. Tidak mungkin Jovan mengingkari janjinya. Itu tidak mungkin. Deluna mendorong tubuh Roseline dengan kasar. Membuat Roseline terhuyung ke belakang, hampir terjatuh. Satu tamparan keras mendarat di pipinya. Deluna menatap nyalang dengan amarah yang bergejolak. "Kau jangan coba-coba untuk bermain-main denganku, Roseline. Ku pastikan Jovan akan segera menceraikanmu," ujar Deluna kemudian beranjak pergi dari rumah Jovan dengan hati yang bergemuruh marah. Roseline menatap kepergian Deluna dengan senyuman tipis. Apakah Deluna berfikir kalau dia adalah wanita yang lemah sehingga berani mendatanginya sendirian? *** "Sudah hampir satu bulan kau tidak mengunjungiku," ujar seorang lelaki berusia senja dengan wajah kesalnya. Menatap anak semata wayangnya yang gila bekerja. "Akhir-akhir ini aku sedang sibuk, Pa. Jadi tidak sempat ke rumah," balas Jovan. Ia bukannya tidak ingin mengunjungi papanya, hanya saja ada beberapa urusan kantor yang harus ia selesaikan ditambah lagi dengan kondisi Roseline yang tidak memungkinkan. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam pernikahannya dengan Roseline selain Regan dan Deluna. "Kau ini selalu gila bekerja. Aku sangat merindukan menantu kesayanganku. Aku tidak mau tahu kau harus membawanya ke rumah besok pagi. Bukankah besok hari libur?" Ujar Abraham lagi. "Tapi Pa—" "Aku tidak butuh penolakan darimu," tukas Abraham membuat Jovan tidak berani membantah lagi. Sore ini, entah angin apa yang membuat Abraham datang menyambangi kantornya. Biasanya lelaki itu akan berdiam diri rumah, menghabiskan waktunya dengan bermain golf atau membaca koran. Kedatangan Abraham yang tiba-tiba juga cukup mengejutkannya. Karena tepat satu tahun yang lalu, Abraham dengan resmi menyerahkan urusan kantor kepada Jovan untuk di kelolanya. Jadi lelaki itu hampir tidak pernah datang ke kantor lagi. Untung saja Deluna sedang tidak ada di kantor. Kalau sampai Abraham tahu Deluna bekerja di kantornya, sudah pasti Abraham akan meminta Jovan untuk memecatnya. Bukan tanpa alasan Abraham membenci Deluna. Karena dulu Deluna meninggalkannya begitu saja, membuat kehidupan Jovan menjadi hancur. Ditambah lagi dengan kepergian Mamanya. Kehilangan dua orang yang sangat dicintainya, membuat Jovan hampir gila. "Baiklah. Besok aku akan membawanya," ujar Jovan akhirnya mengalah. "Ya sudah. Aku pulang dulu. Jangan sampai kau ingkari janjimu," kata Abraham kemudian beranjak keluar dari ruangan anaknya. Pukul 9 malam, Jovan pun sudah bersiap untuk pulang ke rumah. Ia berjalan melewati ruangan Deluna yang kosong. Tidak biasanya wanita itu pulang lebih dulu. Biasanya ia akan mengajak Jovan untuk pulang bersama. Ada apa dengan wanita itu? Apa sedang marah? Tapi Jovan tidak membuat kesalahan hari ini. Atau mungkin karena pertengkaran pagi tadi? Jovan mengusap wajahnya gusar. Kemudian kembali berjalan menuju parkiran. Hari ini rasanya melelahkan. Tak butuh waktu lama, Jovan akhirnya sampai di rumah. Seperti biasa, ia melihat Roseline yang berdiri di depan pintu menyambut kedatangannya. Jovan menatapnya sebentar dari dalam mobil, sebelum akhirnya keluar. Ia berjalan melewati Roseline yang memberikan senyum manis. Roseline tersenyum tipis, tak apa. Bukankah sudah biasa? Roseline berjalan mengikuti Jovan dari belakang. Mengambil tas kerja lelaki itu dan meletakkannya di meja kerjanya. Meksipun Jovan tidak pernah memperlakukannya dengan baik, tapi Roseline tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang istri. Ia pun menyiapkan pakaian santai untuk Jovan yang sedang mandi. Setelah itu ia pun beranjak keluar dari kamar Jovan. Saat Roseline hendak bersiap tidur, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Roseline beringsut saat melihat Jovan yang datang ke kamarnya. Untuk apa lelaki itu datang ke kamarnya malam-malam? Bahkan Jovan tidak pernah mendatangi kamarnya selain untuk menyiksa dirinya. Apa mungkin lelaki itu akan kembali melukainya? Tapi ia tidak berbuat salah hari ini. Apa mungkin Deluna mengadu kalau tadi ia sempat bersitegang dengan wanita itu? "Jo—jovan... Ada apa?" Tanya Roseline dengan terbata-bata. Bukannya menjawab, Jovan malah terus berjalan mendekati Roseline dan menatap netra wanita itu dengan lekat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD