“Mati.” Bisik Raina.
Rizal tidak menggubris ucapan itu. Sebaliknya, dia membopong Raina lalu membawanya ke dalam rumah diikuti Bi Asih. Bi Asih dapat melihat betapa sayangnya majikannya pada Raina. Mata majikannya menyiratkan segala perasaannya.
Bi Asih membantu Rizal membuka pintu kamar. Dibawanya Raina ke kamar mandi yang ada di kamar itu dan diletakkanya di bak mandi. Perlahan dia mengusap rambut yang menghalngi pandangan Raina, kemudian menyalakan kran air hangat. Wanita itu pasrah. Mulutnya masih menggumamkan kata ‘mati’ berulang kali.
“Bi, gantikan bajunya.” Pinta Rizal lalu bangkit berdiri keluar dari ruangan itu.
Bi Asih menuruti perintah majikannya. Dia memandikan Raina dan menggantikan pakaiannya. Setelah selesai berganti pakaian, Bi Asih membawa Raina keluar dari kamarnya menuju ruang makan.
“Kita makan dulu ya, Non.” Bi Asih mengajak Raina mengobrol, “tapi janji, Non Raina jangan lari lagi. Kasihan mas Rizal. Dia ketakutan sewaktu Non Raina kecebur kolam renang. Kalau Non Raina kenapa-kenapa, kami semua sedih. Jangan, ya.”
Di ruang makan sudah ada Rizal yang sedang memakan roti isi selai kacang yang dibuatnya sendiri. Melihat majikannya yang sedang makan, Bi Asih menuju kompor seraya bertanya pada Rizal, “mas Rizal mau bibi masakan apa?”
“Telur dadar saja, Bi.” Jawab Rizal tanpa berpikir dua kali. Dia menatap Raina yang ada diseberangnya. “Kamu mau makan apa, Raina?”
Raina diam. Tatapannya kosong dengan kedua tangan berada di atas pahanya. Rizal menghela napas. Dia seharusnya tahu apa yang akan dilakukan yaitu diam. Apa yang harus dia harapkan dari Raina? Berbicara cerewet? Sepertinya itu tidak akan terjadi.
“Buatkan Raina telur dadar saja, Bi.”
“Iya, mas.”
Rizal memberikan potongan kecil roti yang dia makan pada Raina, “mau?” tawarnya.
Wanita itu membuka mulutnya, Rizal tersenyum memberikan potongan roti pada Raina. Perlahan wanita itu mengunyah rotinya masih dengan tatapan kosong.
“Jangan melakukan itu lagi, Raina.” Rizal berkata seraya menyuapi potongan kecil roti yang tidak jadi dimakannya, “kasihan bi Asih. Oke?”
“Mati.” Bisik Raina.
Rizal menghela napas mendengar itu, “kenapa?” tanyanya pada Raina.
“Mati.”
“Ya, kenapa kamu mau mati? Apakah kamu tidak memikirkan orang yang menyayangi kamu?”
“Mati.”
Rizal menunduk lalu menggeleng pelan. Habis sudah kesabarannya. Perlahan dia bangkit dari duduknya.
“Bi.” Panggilnya pada Bi Asih.
“Ya, Mas?”
“Saya di ruang olahraga.” Katanya lalu berjalan pergi.
Bi Asih memerhatikan majikannya yang berjalan cepat menuju ruang olahraga. Jika sudah seperti itu, pria itu tidak ingin diganggu. Dialihkan pandangannya pada Raina yang masih duduk diam.
“Nona bilang apa sama mas Rizal?” tanyanya pelan.
“Mati.” Bisik Raina.
Bi Asih menggeleng. Dia meletakkan dua telur dadar di piring. “Pantas saja mas Rizal marah. Nona bilang begitu terus.” Kemudian beliau duduk di samping Raina dan menyuapi telur dadar, “mas Rizal tidak suka nona Raina bilang begitu. Bibi yakin, mas Rizal sayang nona.” Katanya lagi.
Raina diam. Dia memilih untuk mengunyah telur dadar buatan bi Asih. Dia tidak tahu apa yang dipikirannya. Yang dia ingin hanya mengakhiri hidup.
Sementara itu, Rizal masuk ke dalam ruang olahraga. Segera dipakainya sarung tinju yang ada di lemari penyimpanan dengan cepat. Tanpa melakukan pemanasan terlebih dahulu, dia menuju samsak lalu memukulnya tanpa ampun. Keinginannya begitu banyak. Terlebih lagi dia ingin Raina tetap waras dan tidak mengalami depresi.
Ada rasa yang tidak bisa dia ungkapkan untuk Raina. Ada keinginan besarnya untuk tetap menjaga namun dia ingat janjinya pada Kanya. Dia tidak ingin janji itu teringkari. Janji bahwa dia tidak akan pernah mencari pengganti sampai kapanpun.
Dipukulnya samsak itu berulang kali, seolah dia memukul pikirannya sendiri karena sudah memiliki rasa pada Raina. Dia tidak ingin hal itu terjadi. Dia tidak ingin siapapun masuk kembali ke dalam hatinya dan melukainya lagi. Dia tidak ingin saat mencintai seseorang, dia ditinggalkan lagi. Seperti Diandra dan Kanya yang meninggalkannya lalu memilih menikah dengan orang lain.
“Maafkan aku.” Bisiknya. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak ingin Kanya sedih jika dia mengingkari janjinya.
‘Aku janji, tidak akan mencari penggantimu. Aku hanya mencintaimu.’
Ingatan itu membuatnya memukul kembali samsak kuat-kuat. Rasanya untuk Kanya mulai terbelah dan dia takut.
***
Bi Asih melihat jam dinding yang ada di kamar Raina. Majikannya masih di ruang olahraga padahal hari sudah siang. Perlahan Bi Asih keluar dari kamar, sebelum menutup pintu, beliau memerhatikan Raina yang tidur nyenyak.
Saat bi Asih hendak menuju ruang olahraga, Rizal sudah keluar dari ruangan itu dengan keringat membanjiri pakaiannya.
“Bi.” Sapa Rizal.
“Saya kira mas Rizal masih lama.” Bi Asih menunduk.
“Buatkan saya kopi, Bi. Bawa ke belakang, ya.”
“Baik, mas.”
Tidak lama kemudian, bi Asih datang membawa kopi yang masih panas. Diletakkan kopi tersebut di meja sampingnya.
“Terima kasih, Bi.” Ucap Rizal lalu menyeruput pelan kopinya. Ketika bi Asih masih berdiri di sampingnya, Rizal menatap heran pembantunya tersebut, “kenapa, Bi?”
“Mas, maaf,” Bi Asih menundukkan kepala. Takut jika Rizal marah dengan ucapan yang akan diutarakannya.
“Kenapa, Bi?” tanya Rizal, “Raina sudah tidur siang, ‘kan?”
“Sudah, mas.” Bi Asih masih menunduk.
“Kenapa, Bi?” Dia menuntut lagi. “Bicara saja, Bi. Tidak apa-apa.”
“Maaf kalau saya lancang, mas,” kata bi Asih masih menunduk. Majikannya sedang dirundung kesal dan beliau merasakan itu, “Apa tidak sebaiknya mas Rizal hari ini di rumah saja? melihat bagaimana sikap Raina tadi pagi.” Lanjutnya.
“Tapi nanti malam saya harus keluar, Bi.” Dia harus melakukan tinjunya. Kegiatan itu sudah menjadi bagian dari hidupnya. Sudah menjadi adrenalinnya. Dengan begitu, dia dapat melupakan masalahnya.
“Semalam Non Raina tidak tidur, mas. Menunggui mas Rizal dan paginya Non Raina ... maaf ‘kumat’ dan setelah mas datang, sampai siang ini Non Raina tidak ‘kumat’ lagi.”
Rizal menghela napas. Dia ingin di rumah tetapi dia tidak bisa mengabaikan begitu saja tinjunya. “Saya tetap pergi nanti malam, Bi. Setelah Raina tidur.”
Bi Asih mengangguk. “Baik, mas.” Jawabnya, “saya permisi. Mau beres-beres mumpung Non Raina tidur.”
Rizal mengangguk. Dia kembali mengalihkan pandangannya pada halaman belakang rumahnya yang tidak begitu luas. Hanya terdapat kolam renang dan sebuah taman kecil. Rumah minimalis yang dibelinya itu tidak pernah kedatangan tamu apalagi wanita menginap. Hanya Raina saja hingga saat ini. Dia mengepalkan tangannya mengingat Raina dan juga Kanya. Dia harus bertindak demi menjaga hatinya lebih lanjut.
Rizal beranjak dari duduknya kemudian menuju kamar Raina. Dia ingin memastikan apakah wanita itu memang sudah tidur atau belum.
Perlahan dibuka pintu kamar itu. Raina masih tidur. Rizal berdiri di ambang pintu masuk. Tiba-tiba dia teringat perkataan Kala dan bi Asih. Apakah benar yang dikatakan mereka bahwa Raina terkendali ketika bersama dengannya? Dia mengangkat bahunya kemudian mengeluarkan ponsel yang ada di saku celananya. Dia ingin menelepon seseorang.
“Halo?”
“Kala?”
“Iya. Bagaimana kabarmu, Zal? Apa Raina sehat?”
Rizal menghela napas. Dia harus mengatakannya. Sekarang atau tidak sama sekali.
“Zal? Raina kenapa?” terdengar nada panik Kala yang membuatnya merasa bersalah.
“Maaf, Kala. Aku lalai.” Katanya.
“Lalai? Kenapa? Apa Raina mau bunuh diri lagi?”
Rizal mengacak rambut pendeknya. “Ya. Ketika aku baru sampai rumah.”
Kala terdiam sesaat. “Itu bukan salahmu, Zal. Kamu ada kesibukan sendiri.”
“Maaf, Kala.”
“Tidak apa-apa. Besok aku pulang ke Indonesia. Lusa sampai. Berkas-berkas Raina sudah siap. Secepatnya kubawa Raina berobat.”
“Ya, Kala.”
“Terima kasih, Zal. Maaf jika Raina merepotkanmu.”
“Tidak sama sekali.”
Jawaban cepat Rizal membuat Kala diam kemudian terdengar tawa pelannya.
“Kenapa?” tanya Rizal heran.
“Tidak apa-apa.” Jawab Kala, “terima kasih kamu sudah memerhatikan Raina.”
“Ya. Sama-sama.”
Setelah percakapan selesai, Rizal kembali memandang Raina dan sebuah pemikiran aneh melintasi kepalanya. Pemikiran itu membuatnya takut. Tanpa disadarinya, dia mengepalkan kedua tangannya.
“Aku tidak mau itu terjadi.” Bisiknya keluar dari kamar itu lalu menutup pintunya.
Kembali dia menelepon Kala.
“Ada apalagi, Zal? Apa Raina baik-baik saja?”
“Ada sesuatu hal yang harus aku katakan padamu.” Jawab Rizal tanpa basa-basi. Rizal menuju ruang tamu lalu duduk di salah satu sofa.
“Aku mendengarkan.” Jawab Kala.
“Ketika Raina sudah sembuh dari sakitnya,” bisik Rizal, “tolong jangan sekali pun kamu sebut namaku.”
“Apa?” dari nada bicara Kala, dia tidak terima. “Tidak bisa. Kamu orang berarti baginya, Zal. Dia menyayangimu.”
“Tolong.” Rizal berbicara berbisik lagi. “Aku tidak pernah meminta apa pun padamu, Kala. Tolong, jangan tunjukkan fotoku, jangan bahas namaku. Tolong, Kala.”
“Kenapa?”
CEKLEK!
Pertanyaan Kala itu bersamaan dengan bunyi pintu kamar yang terbuka dan tertutup. Dilihatnya Raina keluar kamar seorang diri. Mata itu memandang berkeliling lalu berhenti ketika melihat Rizal.
“Aku tidak ingin dia mengingatku. Itu saja.”
“Alasan macam apa itu?” Kala tidak terima.
“Tolong, Kala.”
Terdengar helaan napas Kala. “Akan kuusahakan semampuku. Akan kusampaikan permintaanmu pada Cinta.”
“Usahakan kamu pulang cepat.”
“Ya, rencananya aku pulang hari ini menggunakan pesawat jet.”
Raina masih berdiri diambang pintu. Mata itu masih menatap Rizal tanpa kedip. Memerhatikan apa yang dikatakan pria itu pada siapa pun yang sedang ditelepon. Perasaan terdalamnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.
“Maaf aku tidak mengantarkan kalian nanti. Aku ada kegiatan di luar kota dua hari. Berangkat nanti malam.”
Itu hanya alasannya saja. Dia tidak ada kegiatan di luar kota. Dia hanya ada kegiatan tinju underground nanti malam dan tinju professional paginya masih di daerah Jakarta. Dia tidak ingin mencegah Raina untuk pergi. Tidak ingin melihat bagaimana mata wanita itu ketakutan saat berpisah dengannya. Pemikiran itu membuatnya memejamkan mata sesaat.
“Ya, tidak apa-apa, Zal.”
“Terima kasih.” Lalu tanpa menunggu jawaban Kala, dia menutup teleponnya.
Rizal memasang senyumnya pada Raina ketika wanita itu masih berdiri di tempat. Dia beranjak dari duduknya dan disapanya wanita itu, “kamu sudah bangun? Apa yang mau kamu lakukan hari ini?”
Raina diam. Dia tidak berteriak ataupun histeris seperti tadi pagi. Mata itu masih memandang Rizal seolah mengingat bagaimana rupa wajah itu di dalam memorinya.
“Bagaimana kalau kita menonton kartun? Kamu suka kartun Disney?”
Tangan Rizal terulur menggandeng tangan kanan Raina. Dibawanya wanita itu ke dalam ruang teater mini di rumahnya. Dia memang membuat ruang teater kecil untuk menghibur dirinya saat sedang suntuk.
“Kamu suka kartun apa? Mickey Mouse? Atau Donald Bebek?” tanyanya. Didudukkannya Raina di salah satu sofa sementara dia sibuk memilihkan beberapa film Disney yang sengaja dibelinya jika suatu saat dua keponakannya datang berkunjung.
Rizal menyalakan salah satu kartun Disney yang bertuliskan Beauty and The Beast kemudian duduk di samping Raina. Diperhatikannya wanita itu yang diam tidak bergerak. Dia menghela napas pelan. Apa yang harus diharapkannya? Raina yang cerewet? Tetapi setidaknya wanita itu memiliki perilaku baik. Tidak mau mengakhiri hidup atau bertindak di luar nalar.
“Wajahmu banyak memarnya.” Gumam Rizal. Dia mengulurkan tangannya mengusap pipi Raina yang merah, “jangan lakukan itu lagi. Kamu menyakiti dirimu sendiri, Raina.” Katanya.
Raina diam tidak bergerak. Mata itu masih menatap layar besar yang ada di hadapannya.
***
Malam harinya Raina merajuk. Dia tidak mau tidur padahal Rizal harus sudah berangkat. Dia harus sudah sampai lokasi tinju underground lalu setelah itu dia mesti melakukan perjalanan menggunakan mobilnya.
“Non, ayo sudah malam. Kita tidur.” Bi Asih membujuk Raina namun wanita itu bergeming. Mata itu tetap awas. Dia tidak menguap atau pun memejamkan mata.
Rizal membuka pintu kamar dengan pakaian rapi dan sudah menggunakan jaket. Tas punggungnya sudah dia bawa serta. Alisnya bertaut ketika melihat Raina duduk di atas tempat tidur dengan Bi Asih yang masih membujuknya.
“Loh, kukira Raina sudah tidur.” Rizal bergumam.
Bi Asih yang melihat kehadiran majikannya, berdiri dari duduknya. “Mas.” Sapanya.
“Raina belum tidur, Bi?” tanya Rizal kemudian masuk ke dalam kamar.
Bi Asih menggeleng. “Saya tidak tahu kenapa, mas. Tapi Non Raina sepertinya sedang ngambek.”
Rizal menghela napas. Dia duduk di tepi tempat tidur. “Raina, kenapa belum tidur? Sudah malam.”
Raina diam seolah banyak pemikiran berkecamuk dalam otaknya.
“Raina, tidurlah. Aku ada pekerjaan malam ini.” Rizal membujuk.
Mata itu melirik Rizal lalu kembali kosong.
“Aku akan pulang.” Ucap Rizal lagi.
Mau tidak mau dia berbohong pada Raina yang sepertinya tidak ingin dia pergi. Apakah Raina mengetahui apa yang dikatakannya pada Kala? Pemikiran itu membuatnya menggeleng pelan. Dia yakin, Raina tidak akan tahu. Wanita itu sedang terganggu jiwanya dan tidak mungkin dapat mengetahui apa pun.
Raina diam ketika Rizal berusaha meluruskan kakinya lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. “Tidur, ya, aku makan dulu.” Ucapnya kemudian berdiri, “Bi Asih, bisa bantu saya siapkan makan malam saya?” tanyanya pada Bi Asih yang berdiri diambang pintu kamar.
Bi Asih mengangguk lalu keluar kamar diikuti Rizal. Ketika mereka berada di ruang makan, dia menghentikan langkah Bi Asih.
“Bi,” panggilnya.
“Ya, mas? Mau dimasakkan apa?”
“Bi, tidak perlu.”
Alis Bi Asih bertaut. “Loh, kenapa, mas?”
Rizal menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada orang yang mendengarkan. Terutama Raina. “Bi,” lanjutnya, “saya mau pergi ke luar kota dua hari. Tolong jangan beritahu Raina. Besok atau lusa ada orang yang datang jemput dia, namanya Kala. Orang itu mau bawa Raina berobat. Tolong disiapkan pakaian Raina, ya, Bi.”
Bi Asih mengangguk. “Kenapa mas Rizal tidak antar Non Raina?”
Rizal menggeleng, “saya sibuk, Bi. Kalau saya menemani Raina, saya tidak akan punya uang, Bi.”
Itu hanya alasannya saja. Dia tidak ingin melihat Raina yang berontak atau menangis meraung tidak ingin ditinggal.
Bi Asih mengangguk. Ucapan Rizal kembali seperti semula. Menyakitkan jika sedang ada masalah. Majikannya memiliki masalah namun entah pada siapa. Mungkin pada Raina, batinnya. Tetapi apa salah Raina pada majikannya?
Setelah mengatakan itu, Rizal terburu-buru pergi. Dia bahkan sudah memarkirkan mobilnya di luar pagar rumah agar cepat dia kabur jika sewaktu-waktu wanita itu mengejarnya.
***