“Raina?” Panggilan itu membuat Raina mendongak dari desain yang dibuatnya. “Ya, Ma?” bibirnya tersenyum. “Apa desainnya sudah?” Raina mengangguk. Dia mengulurkan coretannya pada mamanya. “Bagaimana? Jelek?” Mamanya tersenyum. “Bagus ini.” Katanya. Matanya memandang takjub coretan desain Raina. Diraihnya pensil di meja, “Berikan sedikit hiasan di bagian ini, dan … wah, cantik!” mamanya menunjukkan tambahan coretan pada desain itu. “Wah!” Raina bertepuk tangan. “Mama hebat!” pujinya. Mamanya selalu tahu bagaimana membuat sebuah desain jadi tambah bagus. “Oiya,” mamanya meletakkan desain itu di meja. Ditatapnya Raina, “mama mau keluar sebentar. Nanti ada klien mama yang datang namanya Sendi.” Raina mengangguk. “Dia mau lihat-lihat desain gaun untuk acara ulang tahun pernikahan adi

