KUBUAT KAMU MISKIN, MAS 8
**
PoV Sandrina
Ibu melihat aku gusar sambil menatap Ratmini. Pandangan ku lurus ke adik Ipar yang wajahnya di penuhi lebam itu.
"Kenapa wajahmu?"
"Aku di pukul suamiku, kamu kan dengar aku bicara barusan!" katanya ketus padaku. Menyebalkan masih bisa berbicara ketus padaku.
"Terus kamu ngomong surat tanah tadi maksudnya apa? Surat rumah kalian yang di kampung itu?" tanya ku.
"Ya!" jawabnya sambil mencibir.
"Ratmini!" Ibu mencubitnya. Dia meringis memegang pinggangnya yang di cubit Ibu.
"Sakit, Bu!" ucapnya mengeluh sakit. Aku menatap heran mereka berdua. Ibu sepertinya tak ingin kedoknya terbongkar.
"Sebentar, Ratmini, jadi tanah kalian gak di jual melainkan kamu simpan suratnya?" tanyaku.
"Rencana mau di jual tetapi belum laku karena kamu kan tahu, Mbak. Di sana jauh dan kampung banget."
"Oh, gitu. Kenapa Ibu kamu bilang tanah kalian di jual. Dasar pembohong. Artinya ini adalah uang perhiasanku dan uang Perusahaan, 'kan, Bu?"
"Bukan. Itu uang Ibu?"
"Dapat dari mana?"
"Pokoknya uang Ibu. Mau dapat dari mana kek, kenapa kamu jadi pencuri gini!"
"Aku pencuri, terus Mas Alif apa? Mafia?"
"Kamu emang gak tahu diri jadi mantu!"
"Uang ini aku ambil. Kalau Ibu mau uang maka kerja. Jangan tahunya nyusahin orang aja!" kataku dengan mata melotot. Ibu dan Ratmini diam namun dari wajahnya mereka tidak setuju. Aku berlalu dari mereka namun Ratmini memanggil.
"Mbak, aku mau tinggal di sini sementara waktu, bisa, 'kan?" katanya menghentikan langkahku. Aku menoleh melihatnya dengan pandangan tajam.
"Oh, gitu. Tadi kamu ngomong ketus padaku sekarang sesuka nya tinggal di sini. Apa di sini rumah penampungan!"
"Sandrina! K**ang *jar, kamu. Dia anakku dan adik suami mu, adik Iparmu!" kata Ibu marah anaknya ku sindir.
"Tetapi dia bukan adik kandungku, enak sekali bisa tinggal di sini!"
"Makin ke sini sikap kamu semakin ngeselin, Sand. Ratmini babak belur tapi kamu gak ada rasa kasihan sedikit pun!"
"Tolong lah, Mbak. Aku mau kemana lagi. Kamu kan saudariku. Kita sesama perempuan harus saling membantu," katanya sesenggukan menangis. Aku menghela napasku, sangat menyusahkan. Bagaimana aku menolaknya, apa Ratmini dan Ibu se-miskin ini. Banyak gaya, sih, coba tinggal di kampung maka tak akan susah. Ratmini juga salah, Jaja di kampung rajin kerja nyawah dan mau ngelamar dia malah di tolak, memilih kawin sama Seno, lelaki kota. Akhirnya babak belur di hajar suami karena punya suami b*j**gan.
"Kami gak ada pembantu. Kamu mau bantu beres rumah!"
"Kamu benar-benar keterlaluan, Sand. Dia adik ipar bukan babu!" kata Ibu sengit menunjuk wajahku.
"Ya udah kalau gak mau, lagian kenapa Ibu usir Mbok Yem. Salah sendiri dan susah sendiri. Kalau mau silahkan gak silahkan keluar dari rumahku!" kataku ketus ke mereka. Wajah Ibu mengeras tak terima. Ratmini memegang tanganku.
"Baiklah, Mbak. Aku mau. Asal aku ada tempat berteduh," katanya setuju. Aku kembali membuang napas kasar. Benar-benar benalu menyusahkan. Kenapa Papa dulu suruh aku kawin sama Mas Alif. Nasib yang tidak baik punya suami tukang nyeleweng. Keluarga parasit.
"Kerjakan semuanya. Aku mau keluar sebentar. Mau menolak juga percuma karena kondisi mu mengenaskan. Mau bagaimana lagi aku," ucapku berlalu.
"Mau kemana kamu, Sand. Uang Ibu bagaimana?"
"Bukan urusan Ibu. Dan itu uangku, jangan ngaku-ngaku, bersyukur aku gak laporkan Mas Alif ke Polisi karena udah jual perhiasanku!" ucapku berlalu, aku ingin keluar sebentar untuk satu tujuan.
Aku naik taksi pergi ke suatu tempat. Berkendara sendiri aku tak sanggup karena sedang banyak pikiran. Aku gak fokus, akibat memikirkan langkah apa yang akan aku ambil selanjutnya. Aku gak akan bisa menghadapi Mas Alif sendiri karena dia punya pasukan yang siap kapanpun menyerang ku.
Aku harus hancurkan dia secara halus, hancurkan Miranti, sahabatku sendiri. Ibu dan Ipar julid. Banyak sekali yang harus ku hadapi. Membuat mereka sengsara perlahan, tentunya aku tak bisa menghadapi mereka sendiri.
Sampailah aku di satu tujuan. Di rumah yang sederhana milik Faiz, sepupu ku. Hubungan kami cukup akrab. Aku suka bermain dengan intan anaknya yang berusia hampir dua tahun, karena sampai sekarang, sudah menikah dengan Mas Alif hampir dua tahun aku belum hamil juga.
Faiz bekerja membangun industri rumahan, mempekerjakan tetangganya mengolah keripik pisang, singkong lalu dipasarkan ke berbagai tempat.
"Assalamualaikum," sapaku, Intan yang hampir dua tahun berlari ke arahku.
"Waalaikumsalam," ucap Nisa, istrinya. Aku menggendong Intan. Nisa lalu mempersilahkan aku masuk dan duduk di dalam. Beberapa pekerja sedang sibuk bekerja.
"Aku ganggu, gak?" tanyaku.
"Enggak, kok, Mbak. Biasa memang rumah kami berantakan maklum dijadikan tempat Ibu-Ibu kerja membungkus keripik," sahutnya. Beberapa saat, Faiz datang.
"Hai, Mbak!" katanya, dia tersenyum lalu duduk di dekat istrinya.
"Mana oleh-oleh dari Malaysia?" tanyanya.
"Maaf, Mbak gak beli sedang banyak masalah," kataku dengan helaan napas berat.
"Masalah apa, sih! Tetapi makasih loh kami sekeluarga udah di berikan baju gratis rancangan mu," kata Faiz mengulas senyum.
"Sama-sama. Eh, rumahmu kok dipakai Ibu-Ibu pekerja sih, gak ada tempat besar kayak gedung gitu!" Faiz dan istrinya terlihat murung. Aku menatap heran Faiz.
"Kami punya banyak hutang di Bank, Mbak. Mas Faiz di tipu rekan bisnisnya," sahut istrinya. Aku menutup mulutku.
"Astaga!"
"Kami harus melunasi dana yang tak seharusnya. Ini cobaan, Mbak. Bagaimana pun dapur harus ngebul dan usaha juga seret karena kurang modal," kata Nisa lagi menunduk. Faiz memegang tangan istrinya. Aku merasa kasihan. Pantas saja rumah mereka menjadi tempat bekerja.
"Terus?"
"Kalau Mas Faiz gak melunasi uang itu maka kami terancam di usir dari rumah ini," sahutnya mengelap kasar pipinya yang berjatuhan bulir bening.
"Maaf, Mbak. Nisa jadi curhat," kata Faiz tak enak hati.
"Mbak juga lagi ada masalah. Kalian mau kan bantu, Mbak." Aku mengeluarkan uang milik Ibu tadi lalu ku serahkan ke Nisa.
"Apa ini, Mbak?" tanyanya.
"Buat kalian untuk membantu meringankan beban Faiz. Tetapi kalian bantu, Mbak ya." kataku.
"Bantu yang bagaimana, Mbak?" seru Faiz terkaget saat aku memberinya uang dalam jumlah besar.
Bersambung.