Chapter 38

2362 Words

“Kamu dimana Carolina? Please jangan membuatku takut sayang.” Kemudian membanting ponselnya ke lantai karena nomor Carolina sudah tidak aktif. Menjambak rambut sendiri kasar kemudian memukul – mukulkan kepalanya ke dinding. Tangis pun tak dapat ditahan lagi hingga membasahi pipi kokoh William. Baru saja merajut kebahagiaan, namun kini kesedihan datang menghampiri. “Hillery.” Geram William sembari mengepalkan tangannya kuat – kuat hingga kukunya menancap mengakibatkan darah segar merembes melalui sela jari. “Permisi, Sir.” Ucap kelapa bodyguard. Segera menolehkan wajahnya, siapapun yang melihat penampilan William saat ini akan dibuat ketakutan hingga lari tunggang langgang. Dan itulah yang dirasakan kepala bodyguard, tubuhnya bergetar hebat bahkan untuk mengeluarkan sepatah kata saja ras

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD