Gadis-gadis yang tengah berbaring di ranjang mereka masing-masing itu perlahan membuka mata. Tangan mereka masih dipasang infus dengan muka yang masih kelihatan pucat. Salah satu di antara mereka mendudukan diri dengan kelopak matanya yang mengerjap sayu. Rambutnya masih berantakan dengan bibirnya kering dan tenggorokannya yang terasa gatal. "Bentar, mbak. Jangan kemana-mana dulu, mbak masih sakit." Tahan Dean yang datang dari samping membuat perempuan itu jadi mengurungkan niat dan kembali duduk. "Saya haus," jujurnya dengan memegang tenggorokannya. Dean pun langsung sigap membuka laci lemari di samping ranjang. Mengambil sebotol mineral lalu menyodorkannya pada gadis itu. Walau menyempatkan membuka penutupnya terlebih dahulu. "Terima kasih," ujar gadis itu sembari menenggak mineral i

