Pemuda itu berbaring di atas kasur dengan tatapan matanya yang mengarah langsung pada langit-langit kamar. Setelah membunuh ayah dan adiknya dan menjadikan sang ibu sebagai kambing hitamnya, Arthur memilih kabur sejauh-jauhnya agar tidak berhubungan lagi dengan keluarganya dulu. Pemuda itu bangkit duduk dengan memandangi jendela yang hordengnya tersingkap karena tiupan pada kipas angin di sebelahnya. Kamar sepetak dengan ruangannya yang terlihat menyesakan itu kini menjadi tempat tinggal barunya. Sudah berhari-hari ia melakukan perjalanan dan berhari-hari juga ia belum makan apapun. Dan anehnya perutnya tidak kelaparan sama sekali. Sudah kenyang dengan kepuasannya yang telah menghabisi orang-orang yang sudah membuat mentalnya terganggu selama ini. Pemuda itu berdiri, melangkah mendekat

