Samuel masih tersenyum samar menunggu keputusan Elang yang setia dengan ekspresi datarnya. Berbeda dengan Julian yang menatapnya dengan penuh harap. Berharap Elang mau menerima bantuan temannya itu. "Tidak lama kok, Elang. Cuma sebentar, tapi kalau memang lumayan lama Julian berinteraksi dengan ayah kalian. Pasti bakalan lama juga," jelas Samuel dengan menjelaskan. "Terima aja, daripada kau menyesal tidak bisa melihat rupa ayahmu untuk terakhir kalinya." Sahut Edric yang masih memegangi lengan Julian. Elang terdiam lama, merunduk samar dengan tatapan tajamnya. "Baiklah, aku terima." Balasnya membuat ketiga orang di depannya sontak berseru senang. Walau kemudian kembali mengatupkan bibir rapat saat Elang menatap mereka dingin. "Ya, sudah ... sebaiknya kita masuk ke dalam dulu. Jangan l

