PART 15

1373 Words
Sesampainya di resort milik Arslan, rekan Jonael, mereka menuju kamar masing-masing untuk membersihkan diri. Jonael mengingatkan Aleta jika mereka mendapat undangan makan malam dari pengantin baru. Karena mereka tiba di resort sore hari, maka malam pun datang dengan cepat. Hanya memakai pakaian casual, mereka turun menuju restoran yang ada disana. Sepertinya Arslan dan Ellen sudah tiba lebih dulu. Ellen berdiri menyambut kedatangan Aleta, mereka berpelukan. “Kau oke, Ale?”, Ellen khawatir. Aleta mengangguk tersenyum, “Aku sangat baik, Ell. Chill.” “Syukurlah. Kau membuat moodku hari ini buruk. Ini hari pertamaku sebagai pengantin baru, huh.” “Aku tahu kau menyayangiku, Ell. Terimakasih.” Ellen mengangguk dan membawa tubuh Aleta untuk duduk di samping Jonael, “Sekarang makanlah yang benar.” Ellen tidak lagi mengenalkan Aleta pada Arslan karena dia pernah bercerita banyak tentang temannya itu. Begitu pula dengan Jonael. Meski Ellen tidak mengenal Jonael secara langsung, namun dia tahu Jonael adalah partner yang pernah bekerja sama dengan perusahaan Arslan. Secara tidak langsung mereka terkait satu sama lain. “Dunia sesempit ini, bukan? Jonael bersama Aleta? Like wow, right?”, Arslan membuka percakapan dengan godaan untuk dua sejoli yang terlihat kaku di hadapannya saat ini. “Jangan menggoda temanku, Ars.”, protes Ellen pada suaminya. “Oh maaf. Sebenarnya tadi hanya candaan. Jadi, kami mengundang kalian untuk sebuah permintaan maaf tentang kecelakaan tadi siang. Kami tidak menyangka jika kendaraan resort akan bermasalah seperti itu.”, jelas Arslan. “Iya, maaf, Ale, kami membuatmu rugi.”, tambah Ellen. “Tidak apa. Aku juga salah. Aku tidak tahu track yang akan kulewati dan mengabaikan kemiringan tanjakan. Aku bahkan lupa sedang mengendarai mobil klasik. Maaf membuat mobilmu rusak, Ell.”, Aleta membenarkan. “Ssstt…. itu bukan masalah besar. Yang penting kau selamat.” “Aku hanya tersesat, bukan kecelakaan besar--“ “Tapi kau bisa saja terluka. Kau bahkan sangat ketakutan dan itu tidak bisa disebut baik-baik saja.”, Jonael memotong kalimat Aleta. Tatapannya menajam. Wanita itu terkejut dan sedikit melebarkan mata tanda tak setuju dengan kalimat Jonael yang terkesan provokasi. Pasangan pengantin baru memperhatikan tingkah mereka berdua. Yang diperhatikan hanya berpandangan dengan saling kesal. “Well, kami juga minta maaf padamu, Jo. Maaf membuatmu khawatir seharian ini.”, Arslan membangunkan kesadaran Jonael dan Aleta bahwa disana masih ada manusia lain. “Oh… bukan itu maksudku, Ars. Aku hanya kesal jika ada manusia yang berpura-pura--” “Aku tidak berpura-pura.”, potong Aleta membalas, “Jangan memperbesar situasi, Jo.” “Dan kalian jangan bertengkar. Kita disini untuk memperbaiki keadaan.”, Ellen menginterupsi. Jonael dan Aleta menurunkan emosi dan segera beralih pada makanan di hadapan mereka. Arslan memperhatikan dengan tawa kecil. Mereka menggemaskan. Tadi sore Arslan sempat melihat keduanya berlagak seperti lovebird, berbeda dengan sekarang. “Makan dulu. Kalian butuh energi untuk melanjutkan perdebatan.”, ucap Arslan dengan kekehan kecil. Dua jam kemudian makan malam selesai. Aleta dan Ellen mengambil sedikit waktu untuk berjalan santai melihat display buffet yang ada di restoran itu, sedangkan Arslan dan Jonael duduk menatap keduanya dari jauh. “Ars, maaf untuk bertanya lebih lanjut, tapi bagaimana kondisi mobil tadi sore? Kerusakan ada di bagian apa?”, tanya Jonael dengan wajah serius namun santai. “Kurasa aku memang perlu berbicara ini padamu. Ada yang janggal, Jo. Meskipun mobil klasik, tapi Ellen sudah mengganti mesinnya menjadi mesin baru dan hal itu jarang terjadi.” “Maksudmu ada sabotase? Oh maaf aku terlalu terus terang.” “Kenapa? Kau mencurigai seseorang?” “Ah tidak, aku hanya berpikir random. Aku memiliki banyak musuh di bidang ini dan Aleta asistenku.” “Aku masih menyelidiki hal itu, Jo. Satu sambungan ke bahan bakar terpotong. Itu jelas terpotong. Kau tahu maksudku.”, jelas Arslan dengan wajah serius. Jonael mengangguk dengan khawatir. Apa ini kesengajaan? Aleta bahkan terancam? Jonael bingung. “Aku tidak punya gambaran apapun, Ars. Aku pernah mengalami kecelakaan tapi semua bersih. Sebenarnya aku tidak berharap ada musuh yang bertingkah, namun karena itu Aleta dan sebuah kejanggalan, maka aku harus waspada.” “Tenanglah, jangan dulu berspekulasi. Kau kuijinkan mendapat akses penuh dariku jika ingin menyelidikinya sendiri. Timku sedang bekerja juga karena ini tanggung jawab perusahaanku, Jo.” “Terimakasih, Ars. Sementara aku percaya pada timmu.” “Oke, aku akan memberi kabar jika mendapat info baru.” “Sangat kutunggu.”, pungkas Jonael dengan mengarahkan tatapannya pada Aleta yang berdiri di ujung ruangan. Wanita itu terlihat bersenda gurau dengan Ellen. Akhirnya hari ini dia bisa melihat senyum Aleta.     ****** Jonael berjalan di belakang Aleta tanpa peduli dimana kamarnya berada. Mereka memasuki lorong hotel di lantai yang sepi. Jonael hanya ingin mengikuti Aleta hingga apa yang ada di kepalanya bisa terungkapkan. Yaa, dia ke Bali memang untuk meminta penjelasan. Beberapa saat kemudian Aleta menghentikan langkah di sebuah pintu. Dia berbalik dan menatap Jonael heran. “Kau bisa ke kamarmu. Aku ingin istirahat. Terimakasih.”, Aleta memberi kalimat perpisahan. “Bukankah sekarang giliranku?”, tuntut Jonael. Sial, lelaki ini masih ingat. Jujur, Aleta penasaran pada apa yang ingin Jonael bahas darinya. Kenapa harus ada kata marah jika Aleta bahkan tidak berbuat salah? “Ap-apa?”, tanya Aleta ragu. “Untuk satu setengah hari yang kita lewatkan, aku ingin satu malammu untuk membahas sesuatu.” “Aku tidak mau.”, jawab Aleta cepat. Dia bahkan bersiap menempelkan access card-nya dan berlari masuk. “Kau menolak meski kita sama-sama tahu apa itu hubungan mutualism?????”, tegas Jonael. What???? Aleta terkejut bukan main. Hatinya berdentum hebat. Dia tidak percaya Jonael mengucapkan kata itu. “Ka—kau ingat?”, ucapnya terbata. “Belum sepenuhnya. Tapi aku tahu kita memang memiliki hubungan spesial, Ale. Kau tidak bisa mengusirku sekarang. Karena apa? karena aku belum memutus kesepakatan itu. Aku hanya lupa dan sekarang aku berniat melanjutkannya….” “Tidak… tidak. Aku tidak setuju. Aku keluar dari itu—” “Surat perjanjian kita masih ada di brankasku. Jika saja kau lupa, aku membawa salinannya.”, Jonael sangat percaya diri. Aleta menggeleng dengan lemah. Jonael memanfaatkan kelengahan wanita itu. Satu lengan Aleta ditariknya agar tubuh mereka merapat. Jonael membelai punggung Aleta kemudian menempelkan dahi mereka. Dalam posisi itu mata mereka saling bertemu. “Kau tahu, Ale? dengan atau tanpa perjanjian itu, aku.tetap.akan.mengejarmu…” Menyerah sudah. Aleta tidak bisa membalas perkataan Jonael. Dia seperti kehilangan akal saat Jonael sudah bersikap seperti ini. Demi Tuhan, siapa yang bisa menampik pesona Jonael? Aleta beruntung mendapatkan itu secara cuma-cuma. Gila, logikanya menghilang seketika. Lelaki sialan. Satu peluang lagi, Jonael tahu access card milik Aleta tergenggam lemah di tangan wanita itu. Dari balik tubuh Aleta, Jonael merebut dengan satu sentakan lalu membuka pintu dengan cepat. ‘Ckliiik….’, pintu terbuka. Aleta sempat terkejut tapi Jonael menahannya dalam posisi tadi. Mereka masih menempel, mulai dahi hingga kaki. “Temani aku berbincang malam. Aku tidak pernah memilikinya di sepanjang hidup yang aku ingat…”, bisik Jonael di wajah Aleta yang memerah. Wanita itu bergerak kecil dalam dekapan Jonael. Mata mereka masih enggan berpisah. “Apa jawabanku masih berlaku?”, tanya Aleta pesimis. Jonael tersenyum. Ya, dia akhirnya tersenyum karena Aleta tidak lagi melawan. “Kau pintar.” ‘Cup…’ Jonael mengambil satu kecupan dari bibir Aleta.     ****** Entah bagaimana upaya rayuan Jonael, tapi Aleta sudah menyerahkan diri pada pesona lelaki itu hingga mereka bergelut manja di satu ranjang kecil yang ada di kamar Aleta. Dengan menahan kantuk, mereka berbincang. Ini memang keinginan Jonael, memiliki teman bicara secara intens, terlepas dari dia yang ingin mendengar secara langsung cerita versi Aleta. Aleta menceritakan pada Jonael bagaimana perjalanan mutualism itu. Dengan hati-hati Aleta menyusun kalimat. Dia juga menjelaskan dan mengingatkan Jonael tentang isi dari perjanjian mereka, dimana imbalan yang diinginkan Aleta adalah bertahan di perusahaan. Dia ingin mendapat banyak pengalaman tanpa takut dipecat. Selama itu, Jonael hanya mendengarkan dalam diam. Dia fokus menahan tubuh Aleta untuk selalu berada di dekapannya. Sekitar lima belas menit Aleta menjelaskan. Hubungan mereka dulu tidak berbeda jauh dengan hubungan mereka sekarang. Aleta bahkan terkejut saat dengan cepat Jonael kembali tertarik padanya setelah kecelakaan. Hal itu diluar dugaan karena niat Aleta bertahan di sekitar Jonael hanya untuk membantunya dalam pekerjaan yang telah ia lupa. Jonael tidak merasa terganggu dengan semua penjelasan Aleta. Dia menerima dengan pola pikir ‘Ya, memang begitulah yang Jonael butuhkan. Seseorang yang berbeda dari yang lain.’ Jonael kembali mengecup puncak kepala Aleta. Wanita itu pasrah saja pada serangan fisik yang sejak tadi dilayangkan Jonael. Percuma, apapun usahanya tidak akan berhasil karena hati kecilnya sendiri bahkan setuju untuk segala tindakan lelaki itu. “Bagaimana ini? Aku bahkan tidak peduli lagi pada jenis hubungan kita di masa lalu. Aku hanya ingin seperti ini, Ale. Kau dan aku, kita, berdua, menghabiskan waktu bersama.” ‘Cup….’ Lelaki itu mengecup puncak kepala Aleta dengan lembut. Kali ini lebih lama. “Sejak dulu hubungan kita memang biasa saja.”, ucap Aleta serak, dia mulai mengantuk. Ada maksud lain di balik kalimat itu sebenarnya, tapi dia yakin Jonael tidak sadar.  “Tapi kita bisa membuatnya menarik. Seperti sekarang….. dan seterusnya.”, pungkas Jonael dengan mengeratkan pelukan. Aleta menyimpan banyak keraguan pada kalimat itu. Jonael hanya menggoda, tidak pernah ada keseriusan. Aleta sangat yakin. Lelaki serba berkecukupan seperti Jonael memang mudah menebar pesona pada banyak wanita. Aleta terus merapalkan kalimat ‘jangan tergoda, jangan tergoda, jangan tergoda’, dalam hatinya. Meski mereka sekarang dalam situasi intim, namun semua harus dianggap ‘biasa saja’. Bertahan dalam beberapa waktu lagi dan perjanjian mereka selesai. Aleta bisa bebas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD