Kirana membuatkan secangkir teh hangat untuk Aldo setelah Aldo merasa sedikit tenang. Ia membelai kepala Aldo saat pria itu meminum teh hangat buatannya, seolah kakak yang menyayangi adiknya. “Thanks,” ujar Aldo setelah bertambah tenang akibat teh hangat yang menenangkan dirinya itu. “Sama-sama.” “Kenapa kamu bisa ke sini? Galang tau kamu ke sini?” “E-enggak.” “Kir, apa kamu bahagia dengan pernikahan kamu?” “I-iya.” “Galang memperlakukan kamu dengan baik?” Kirana terdiam sejenak. Seketika ia teringat saat Galang menguncinya di balkon kamar tidur mereka di lantai dua di saat turun hujan deras di malam hari. Ia masih ingat dengan jelas saat itu ia benar-benar tersiksa dengan udara dingin yang menusuk tubuhnya. Namun begitu, ia tetap menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan A

