Kinanti tersenyum saat Galih kembali ke rumah yang mereka sewa setelah pulang dari kantor yang jaraknya tak jauh dari tempat tinggal mereka. Galih pun membalas senyuman itu. Tidak seperti senyuman yang biasa ia tampilkan, senyuman yang terpaksa demi mengatakan pada istrinya bahwa ia baik-baik saja, kali ini Galih tersenyum semringah padanya. “Ada apa, Mas? Kamu kayaknya lagi seneng banget,” tanya Kinanti. “Aku punya kabar gembira untuk kamu,” jawab Galih bersemangat. “Apa itu?” “Sebentar lagi kamu akan jadi nenek.” Kinanti terdiam saking terkejutnya. Entah ia harus senang atau sedih. Ia tahu keluarga Wirayudha tidak akan pernah bisa memaafkannya, maka ia juga tidak yakin mereka akan menerima cucunya itu hadir di keluarga mereka. Galih mengerutkan dahinya mendapati Kinanti yang hanya

