3. Pertemuan Pertama

974 Words
Malam pertama Arienne di bangsal selir berlalu tanpa tidur. Bayangan-bayangan gelap di kamar terasa seperti tangan-tangan yang ingin menariknya kembali ke mimpi buruk. Setiap suara kecil—desiran angin, langkah penjaga jauh di lorong—membuat tubuhnya menegang. Ketakutan adalah selimut dingin yang menutupi seluruh dirinya. Ketika fajar akhirnya merayap masuk melalui jendela, Arienne duduk di tepi ranjang dengan mata berair. Ia merapikan rambutnya sendiri; pelayan belum datang pagi itu, dan ia tak ingin terlihat berantakan saat dipanggil… jika memang ia dipanggil. Ia bahkan tidak tahu seperti apa Putra Mahkota Alistair Caelum itu. Yang ia tahu hanyalah rumor: tatapannya tajam, hatinya beku, dan orang-orang menyebutnya “The Iron Prince” bukan tanpa alasan. Arienne tidak mengerti mengapa pria dominan itu memilihnya. Apakah pangeran membutuhkan dirinya untuk dijadikan mainan atau bahan pelampiasan? Pria seperti itu biasanya cukup keji dalam memperlakukan budaknya. Jantungnya berdentum setiap kali membayangkan pria itu mungkin akan melakukan penyiksaan di atas ranjang atau di tempat lain. --- Ketukan keras menggema. Arienne berdiri spontan. Pintu dibuka tanpa menunggu jawaban, memperlihatkan dua pelayan istana berbusana sederhana. “Saatnya bersiap,” kata salah satunya. “Untuk… apa?” suara Arienne nyaris tidak terdengar. Pelayan pertama saling pandang dengan temannya, kemudian menjawab datar, “Perintah Permaisuri Aurelia. Sang Putra Mahkota ingin melihatmu pagi ini.” Dunia berhenti sejenak. Arienne mematung. Tangannya membeku di sisi tubuhnya. “A-aku… pagi ini?” Lidahnya kelu. “Cepatlah,” ujar pelayan dengan nada yang tidak memberi ruang penolakan. “Permaisuri ingin kau tampil pantas.” Mereka membawa sehelai gaun sutra putih pucat. Saat dibentangkan, kain itu memantulkan cahaya lembut yang memukau. Mereka membantu memakaikannya. Tangan-tangan para pelayan bekerja cepat, memasukkan lengannya ke dalam, membiarkan sutra itu meluncur turun dan menyentuh kulitnya. Rambutnya disisir rapi, dibiarkan terurai sebagian. Aroma bunga lembut disemprotkan ke pergelangan tangannya. Ketika cermin memantulkan bayangannya, Arienne terkejut dengan penampilannya—begitu cantik. Warna pucat itu membuat wajahnya tampak lebih dingin. Pelayan memperingatkan, “Jangan menatap wajah sang pangeran terlalu lama kecuali diperintah. Apa kau mengerti?” Arienne mengangguk, meski jantungnya mulai berdetak sakit. “Dan,” pelayan lain menambahkan pelan, “pastikan jangan berkata hal yang tidak perlu. Kalimat yang salah bisa membahayakanmu.” Kalimat itu membuat kulit Arienne merinding. Istana pagi itu masih sunyi. Langkah mereka bergema di lorong panjang dengan lantai marmer yang memantulkan cahaya matahari. Dinding-dinding batu kokoh dihiasi permadani bertuliskan sejarah kemenangan Kerajaan Valoria—panjang dan megah. Pelayan berhenti di depan sebuah pintu besar berhias ukiran burung baja. Arienne menelan ludah. “Ruang latihan sang Putra Mahkota,” bisik pelayan. “Masuklah ketika penjaga mempersilakan.” Penjaga mengetuk dua kali. “Yang Mulia, gadis yang diperintahkan telah tiba.” Dari dalam, suara berat terdengar. “Masuk.” Pintu dibuka. Arienne mengatur napas—dan melangkah masuk. Ruang itu luas dan didominasi cahaya matahari pagi. Dinding batu tinggi mengelilingi area latihan yang dipenuhi senjata-senjata: pedang, tombak, dan perisai. Di tengah ruangan, seorang pria berdiri membelakanginya, tubuh tegap, rambut hitam sedikit berantakan, pakaian latihan hitam dengan pinggiran perak. Putra Mahkota Alistair Caelum. Arienne bisa merasakan hawa dingin memancar dari siluet pangeran itu bahkan sebelum ia berbalik. Seorang pelatih berdiri beberapa langkah dari sang pangeran, tampak gugup. “Yang Mulia, ini dia gadisnya.” Alistair tidak segera menoleh. Ia sedang membersihkan pedang panjang, gerakannya tenang, tetapi membebani udara. Ada wibawa berbahaya yang menempel pada setiap gerakan, bagaikan hewan buas yang sedang menunggu saat untuk menyerang. Pelayan memberi tanda kecil agar Arienne maju. Dengan langkah kecil, ia mendekat. Jantungnya berdetak begitu cepat, rasanya ia tak bisa tenang. Ketika jarak tinggal beberapa langkah, Alistair akhirnya berbicara—tanpa menoleh. “Nama?” Suaranya rendah dan dingin, memecah udara pagi. Arienne menunduk dalam. “Arienne Vale, Yang Mulia.” Hening sejenak. Kemudian perlahan—sangat perlahan—Alistair berbalik. Saat itu, Arienne berusaha mencuri-curi pandang. Ia cukup penasaran. Pangeran itu ternyata tampak jauh lebih muda daripada rumor-rumor yang terdengar di pelosok desa, tetapi tatapannya… tatapan itu begitu keras dan tajam, seakan bisa menembus lapisan terdalam seseorang. Tatapan mata dingin itu menilai Arienne dari kepala hingga kaki tanpa menunjukkan emosi sedikit pun. Alistair mengamati wajah gadis itu lebih lama dari yang dia kira. Arienne menunduk lebih dalam. Kegelisahan terpampang di wajahnya begitu jelas saat pangeran berjalan mengitarinya. “Kau takut?” Arienne tidak berani berbohong. “Benar, Yang Mulia.” Alistair berhenti tepat di belakangnya, memandang punggungnya yang tegang. “Dan kau selalu mematuhi perintah?” Ia ingin mengatakan tidak. Ia ingin mengatakan kenyamanan hidupnya telah dirampas. Namun suaranya tak keluar. Ia hanya mengangguk pelan. “Bagus,” kata Alistair, datar dan tanpa emosi. “Itu akan membuat hidupmu lebih mudah.” Arienne meremas jemarinya sendiri. Pangeran itu kembali berdiri di hadapannya. “Permaisuri Aurelia memilihmu karena wajahmu. Aku tidak terlibat dalam keputusan itu.” Arienne hanya terdiam, mencoba tetap bernafas dengan teratur. Alistair menaikkan alis sedikit—heran karena gadis itu tidak menunjukkan ketertarikan seperti yang dia lihat pada selir lain ketika pertama kali bertemu dengannya. “Angkat wajahmu.” Arienne mematuhi. Mata mereka bertemu. Mata biru pangeran begitu indah, seperti lautan di pagi hari. Ada sebuah gejolak yang membuat suasana hati Arienne berubah. Seumur hidup ia tak pernah menatap pria setampan Putra Mahkota. Alistair memalingkan wajah. “Kau akan tinggal di bangsal selir. Ikuti aturan. Jangan timbulkan masalah.” Arienne mengangguk. “Baik, Pangeran.” Pangeran itu hendak kembali ke latihannya, namun berhenti. Ia menatap Arienne sekali lagi. Entah kenapa dia merasa gadis itu tampak ketakutan. Tapi apa yang membuatnya ketakutan? Alistair memberi isyarat bahwa percakapan telah berakhir. “Bawa dia kembali.” Pelayan mendekat, membungkuk. “Mari, Nona Arienne.” Saat Arienne dibimbing keluar dari ruang latihan, rasanya dia bisa bernafas lega. Pangeran sepertinya bukan orang yang bengis walau sifatnya begitu dingin. Wajahnya yang tampan menghantui ingatannya. Suaranya yang dingin terus bergema di kepalanya. Dia harap pangeran akan berperilaku baik padanya sehingga hidupnya tidak terlalu menderita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD