Kisah Anak Haram dan Gadis Panti Asuhan

2193 Words
Sinar terik matahari menerobos masuk melalui celah kaca jendela yang gordennya sedikit tersibak. Seorang pria dua puluh tujuh tahun yang tengah terlelap di atas ranjang king-size mengerjapkan matanya merasakan silau. Perlahan demi perlahan, ia mulai membuka kelopak matanya yang masih terasa begitu sepat, rasa pening dan berat ia rasakan di kepalanya ketika kesadarannya mulai terkumpul. Ia mengusap wajah dengan kedua tangannya, kemudian menatap sekitar. Saat ini ia tengah berada di sebuah ruangan yang sangat familiar baginya. Kamar besar bernuansa putih dengan design modern dan elegan, ada beberapa peralatan elektronik yang berserakan di atas meja yang terletak di pojok ruangan. Ini kamarnya. Ya, ia hafal betul dengan macam-macam peralatan elektronik di atas meja itu. Ia sering sekali berkutat disana untuk membuat musik. Pria itu bangkit terduduk. Ia menatap pakaian yang ia kenakan saat ini, sepertinya ini masih pakaian yang sama dengan pakaian yang ia kenakan ketika pergi ke kelab tadi malam. Kaus putih polos dan ripped jeans, dipadu dengan leather jacket hitam. Ya, ia cukup ingat soal itu. Ia juga samar-samar ingat kalau tadi malam ia mabuk berat. Tapi kalau soal bagaimana caranya ia bisa sampai di kamarnya ini, ia benar-benar tidak ingat. Hal terakhir yang ia ingat adalah saat ia tertidur di toilet kelab malam setelah ... 'Ah, gadis itu,' batinnya terenyak. Tak sadar seulas senyum tersungging di bibirnya ketika mengingat apa yang telah dilakukannya terhadap wanita berseragam pelayan bar itu. Ya, ia ingat betul bibirnya ini hampir bersentuhan dengan bibir wanita itu. 'Sayang sekali aku harus ambruk duluan sebelum itu terjadi,' batinnya lagi sedikit menyesal. Tok, tok, tok, suara ketukan pelan membuatnya bangkit dari lamunannya. Ia menatap ke arah pintu, seorang pria tinggi dengan kulit putih agak kemerahan masuk ke dalam kamarnya sambil membawa nampan berisi semangkuk sup dan segelas air. “Makan ini,” ucap pria itu padanya. “Sup pereda pengar akan membantu meringankan kepalamu.” Ia menerimanya sambil mengangguk terima kasih, kemudian mulai menyantap sup itu. “Hyung yang mengantarku pulang?” Ia bertanya pada sosok pria di hadapannya. Pria itu, alias Min Yeong Nam, ia memberikan tatapan datar yang terkesan mengejek. “Memangnya siapa lagi kalau bukan aku? Cepat makan! Kau ini, selalu saja melampiaskan segalanya dengan alkohol. Dokter Kang 'kan sudah bilang, tidak baik kalau kau terus seperti ini, Yeong Gi-ya. Kau harusnya minum obatmu saja. Ah, biar kutebak, kau pasti tidak meminum obatmu lagi 'kan?” Sang adik, Min Yeong Gi, ia menyuap sup ke dalam mulutnya tanpa menggubris perkataan kakaknya. Yeong Nam pun jadi kesal diacuhkan seperti itu. “Ya! Kau tidak mendengarku?!” Yeong Nam berseru nyaring. Mendengar pekikan itu, Yeong Gi refleks memiringkan kepalanya sedikit. Ia berdecak kesal menatap Yeong Nam. “Ck. Hyung! Kau berisik sekali, sih? Pergi sana! Kepalaku sakit mendengar ocehanmu.” “Ya!” Yeong Nam semakin tidak terima. “Aku begini karena peduli padamu! Dasar adik tidak tahu diri!” Yeong Gi mengangkat bahunya acuh, sambil terus memakan sup-nya. “Kalau begitu jangan anggap aku adikmu, mudah ‘kan? Toh kita memang beda ibu.” Kali ini Yeong Nam terlihat sangat marah. Wajahnya tampak memerah, tangannya terkepal menahan emosi. “Kau ....” Giginya bergemeretak menahan perkataan yang hampir ia lontarkan. Tapi untunglah ia tidak mengucapkannya. Ia pun mengembuskan napas meredakan amarah. “Sudahlah makan saja, habis ini kau siap-siap. Ayah memintaku untuk membawamu ke hotel. Kali ini kau tidak boleh menolak lagi.” Yeong Gi mengacak-acak sup-nya malas. “Dia masih bersikeras memintaku untuk menjadi penerus hotel? Cih, kenapa dia tidak pernah mengatakannya sendiri? Kenapa harus selalu melalui kau?” Yeong Nam menghembuskan napas sekali lagi. Ia kemudian menjawab dengan tenang, “Kau tahu betul bagaimana posisi ayah saat ini. Walau dia mengasingkanmu di tempat ini, tapi kau tahu itu sama sekali bukan keinginannya, ataupun keinginan ibuku. Sejak awal media tidak pernah tahu soal skandal ayah dan ibumu waktu itu. Kehadiranmu terpaksa harus disembunyikan. Ini semua demi kebaikan keluarga kita, Yeong Gi-ya. Kau hanya perlu bersabar sampai waktunya tiba untuk mengungkapkan jati dirimu yang sebenarnya.” Yeong Gi mendadak menaruh sendoknya di dalam sup. Ia meletakkan nampan itu di atas kasur kemudian menatap Yeong Nam dengan tatapan tidak terima. “Keluarga kita kau bilang?” sindir Yeong Gi sarkas. “Mereka keluargamu, Hyung, bukan keluarga kita.” “Yeong Gi-ya ...,” gumam Yeong Nam merasa iba. “Pergilah,” ucap Yeong Gi kemudian. “Aku akan ke hotel sendiri nanti. Kau duluan saja, tidak apa. Lagi pula aku tidak mau seorang penyanyi yang sedang naik daun sepertimu terlibat skandal besar karena pergi bersama dengan adik haramnya yang diasingkan.” “Apa? Aku tidak ....” “Hyung!” potong Yeong Gi. “Pergi saja kumohon. Aku ingin sendiri.” Yeong Nam menatap YeongGi dalam sejenak, lalu kemudian mengembuskan napas pasrah. “Baiklah, aku akan pergi,” ucapnya seraya melangkah keluar dari kamar Yeong Gi. Sementara Yeong Gi sendiri, ia merosot ke bawah dari kasur, kemudian duduk meringkuk di lantai sambil menaruh kedua tangannya di belakang tengkuknya, matanya pun terpejam. Ekspresi wajahnya terlihat agak meringis seperti sedang merasakan sesuatu, dadanya juga mulai terlihat naik turun tidak karuan. ‘Perasaan ini ... jangan lagi ...,' gumamnya dalam hati. ‘Kumohon biarkan aku tenang. Sebentar ... saja.’ ••• Di sebuah panti asuhan kecil bernama Rumah Pelangi, Lee Ha Na tengah sibuk memakai seragamnya dengan terburu-buru, memoleskan make-up seadanya, ia bahkan terjatuh-jatuh ketika mengenakan heels-nya. Seorang gadis delapan belas tahun menatapnya datar sambil bersandar pada dinding lorong di depan kamarnya. Ia terlihat tengah memakan keripik kentang dengan santai. Lee Ha Na melirik tidak senang ke arahnya. “Kenapa kau terus menatapku seperti itu? Pergi sana!” Gadis itu berdecak sambil menggeleng mengejek. “Ckckck ... sebenarnya kau bekerja dimana sih, setiap hari selalu pulang pagi dan bangun kesiangan seperti ini? Aku jadi curiga denganmu.” Ha Na mendelik terkejut ketika sedang menyiapkan barang bawaannya. Sungguh, ia benar-benar takut kalau adiknya ini, Lee Bo Na, akan mengetahui kalau ia bekerja paruh waktu di kelab malam. Ha Na pun buru-buru menetralkan diri, kemudian menjawab dengan setenang mungkin. “Sudah kubilang aku bekerja paruh waktu di salah satu restoran yang ada di Itaewon. Kau tidak usah banyak tanya. Aku begini juga demi kau dan anak-anak yang lain, supaya kalian bisa tetap hidup walau Rumah Pelangi sedang tidak memiliki sponsor. Nikmati saja hasilnya, dan kau fokus saja dengan sekolahmu.” Lee Bo Na terlihat cemberut kesal mendengar perkataan Ha Na barusan. Ia berjalan menghampiri kakaknya itu dan menghadang di pintu kamar sambil melipat tangan di d**a. “Eonni! Kenapa kau selalu bersikap sok pahlawan seperti ini?” Ia bertanya dengan nada yang sedikit meninggi. “Kenapa kau tidak pernah membiarkanku membantumu? Aku sudah cukup dewasa untuk bekerja paruh wak—” “Tidak!” potong Ha Na tegas. “Kau masih pelajar, maka tugasmu hanyalah belajar. Jika kau ingin membantuku, jadilah pelajar yang pintar supaya kau bisa masuk universitas bagus dan memiliki masa depan yang cerah, tidak sepertiku.” Lee Ha Na menyampirkan tas selempangnya di bahu. Ia kemudian berjalan ke pintu dan menyingkirkan Bo Na yang menghalangi jalannya. “Sekarang menyingkir. Aku sudah telat,” katanya. Ia kemudian berlari ke luar dengan terburu-buru. “Kau jangan kemana-mana!” teriaknya sebelum benar-benar pergi. “Bantu Bibi mengurus anak-anak!” Lee Bo Na hanya menanggapinya dengan melambaikan tangan mengusir Ha Na. Sang kakak pun bergegas pergi dengan memasang ekspresi penuh dendam. ••• Pukul enam lewat lima puluh delapan pagi. Lee Ha Na menghela napas lega karena ia sampai di hotel tempatnya bekerja tepat dua menit sebelum terlambat. Omong-omong, ini adalah pekerjaan tetap Ha Na. Ia bekerja di salah satu hotel mewah yang sangat terkenal di kota Seoul, Hotel Sky—sebagai staf room service. Menurut berita yang beredar di TV, katanya hotel ini milik seorang pengusaha terkenal bernama Min Seung Ho, yang menikah dengan aktris terkenal Nam Chun Ae. Anak mereka, Min Yeong Nam juga telah debut sebagai penyanyi solo sejak sepuluh tahun lalu. Ya, selain hotel ini terkenal karena labelnya yang tergolong bintang lima, hotel ini juga terkenal karena nama-nama itu. Lee Ha Na yang hanya tamatan sekolah tingkat atas saja benar-benar merasa bersyukur bisa di terima bekerja di hotel mewah seperti ini walau hanya sebagai staf room service. Pekerjaannya di hotel ini juga terbilang ringan bagi seorang Lee Ha Na yang selalu bekerja keras sedari kecil. Ia hanya mondar-mandir ke setiap kamar, menyiapkan segala keperluan kamar yang harus disiapkan, atau mengantar entah itu makanan atau barang yang dipesan oleh penyewa kamar. Ya, memang sih, sesekali kakinya lecet-lecet karena harus terus berjalan keliling hotel dengan memakai heels. Tapi pemandangan interior hotel yang sangat memukau cukup membantunya untuk menikmati pekerjaannya ini. Dan lagi gajinya juga lumayan besar, itulah penyemangat utamanya. Ia sangat membutuhkan uang untuk menghidupi anak-anak di Rumah Pelangi. Bicara soal Rumah Pelangi, panti asuhan itu didirikan oleh Bibinya, Lee Sang Hee, adik dari mendiang ayahnya yang meninggal karena kecelakaan dalam pekerjaan proyek bangunan. Sejak saat ayahnya meninggal, ibunya pergi entah kemana meninggalkan dirinya dan adiknya Lee Bo Na. Untungnya ada bibinya yang dengan sukarela mau merawatnya serta adiknya yang ditelantarkan seperti itu. Dan sejak saat itu, berdirilah panti asuhan bernama Rumah Pelangi. Anak pertama yang menempati Rumah Pelangi selain Ha Na dan Bo Na adalah Kim Jae Young, yang entah bagaimana kabarnya saat ini. Dia seumuran dengan Ha Na, tapi sekarang Ha Na tidak tahu dimana keberadaannya setelah dia di adopsi dan meninggalkan Rumah Pelangi ketika mereka berumur empat belas tahun. Ah, memikirkan Jae Young, d**a Ha Na mendadak jadi terasa sesak. Sungguh, ia sangat merindukan senyum cerah yang selalu menghiasi wajah pria itu. Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore. Tapi baru saja Ha Na hendak bersiap-siap untuk pulang karena shift-nya sudah akan berakhir, tiba-tiba saja atasannya mengumumkan kepada para staf untuk berbaris di lobi hotel. Ha-Na pun melenguh pasrah dan menurut saja. Semua staf mulai berkumpul, Ha-Na bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya ada apa sampai mereka semua di kumpulkan seperti ini? Penasaran, ia pun bertanya pada salah satu temannya yang berdiri di samping kirinya. “Sebenarnya ada apa ini?” bisik Ha Na. Temannya itu, Oh Eun Jung, ia balas berbisik di telinga Ha Na. “Kudengar katanya Direktur Min akan datang. Dia akan memperkenalkan calon penerus Hotel Sky. Masa kau tidak tahu berita itu?” “Mana kutahu, aku tidak peduli dengan mereka,” jawab Ha Na enteng, masih dengan berbisik. Oh Eun Jung menatap Ha-Na sebal. “Kau ini ya, cobalah peduli sedikit dengan gosip-gosip yang beredar mengenai para petinggi hotel! Kau pasti akan terkejut mendengarnya.” “Memangnya ada gosip apa?” tanya Ha Na lagi penasaran. Eun-Jung terlihat celingak-celinguk sebelum menjawab. Ia ingin memastikan, apakah ada orang yang akan mendengar ucapannya atau tidak. Setelah cukup yakin, ia akhirnya menjawab. “Dengar baik-baik ini.” Ha Na memasang kuping menuruti arahan Eun Jung. “Banyak yang bilang, katanya calon penerus Hotel Sky adalah anak dari hasil hubungan gelap Direktur Min dengan seorang staf housekeeping di hotel ini dulu.” “Apa?” Ha Na mendelik terkejut. “Tidak mungkin hal sebesar itu tidak terungkap di media. Kau dapat berita itu dari mana?” “Katanya dulu berita itu adalah rahasia umum bagi seluruh staf hotel. Direktur Min membungkam semua pihak, termasuk pihak media agar berita ini tidak terbeberkan kemana-mana.” Eun Jung menjelaskan. “Aku tahu ini dari para koki yang sudah bekerja puluhan tahun di hotel ini.” Ha Na mengangguk-angguk mengerti. Namun baru saja ia akan menyahut, tiba-tiba saja atasannya sudah mengisyaratkan para staf untuk diam dan bersiap-siap. Ya, mobil mewah milik Direktur Min sudah tiba di depan lobi hotel. Tidak hanya itu, dibelakangnya juga terlihat mobil berwarna putih yang samar-samar terlihat dikemudikan oleh seorang pria muda yang hanya memakai pakaian santai dan topi. ‘Itukah anak dari hasil hubungan gelap Direktur Min yang masih disembunyikan identitasnya sampai saat ini?’ Ha Na bertanya penasaran dalam hati. ‘Dia tidak memakai jas? Urakan sekali.’ Ia tersenyum miring dan segera memalingkan wajah ke arah lain ketika selesai membatin seperti itu. Sementara itu, pintu mobil mulai terbuka masing-masingnya. Di mobil yang ada di depan, seorang laki-laki paruh baya yang tampak mengenakan setelan jas rapih nan elegan keluar dari pintu belakang bagian kiri. Ha Na menebak, itu pasti Direktur Min. Tidak salah lagi, wajah itulah yang sering ia lihat di TV. Sementara di mobil yang belakang, keluar seorang pemuda tinggi berkulit pucat, wajahnya hampir tertutup sempurna dengan topi dan masker hitam yang ia kenakan. Ketika hendak memasuki pintu masuk hotel, keduanya terlihat saling tatap sejenak, lalu kemudian berjalan beriringan. Ha Na memperhatikan baik-baik wajah pria yang berjalan di samping Direktur Min itu, entah kenapa ia merasa begitu penasaran terhadapnya. Dia seperti sosok misterius yang cukup menarik perhatian banyak orang. Dan akhirnya, pria itu pun menunjukkan gerak-gerik seperti akan membuka masker dan topinya. Ha Na menatapnya tidak sabar. Namun, saat pria itu baru saja membuka topinya, Ha Na benar-benar dibuat terkejut bukan main. Wajah itu ... ia masih ingat betul dengan wajah itu. Dan ketika pria itu membuka maskernya tepat saat dia sudah berada di hadapan Ha Na, detik itu juga jantung Ha Na mendadak berpacu dengan sangat cepat. Apa lagi kini kedua pasang mata mereka tengah bertemu tatap. ‘Oh, tidak, dia ... kenapa harus dia lagi?’ batin Ha Na menjerit dalam hati. Sementara pria itu sendiri, yang tak lain adalah Min Yeong Gi, ia juga tampak sedikit terkejut ketika melihat Ha Na, tapi kemudian seulas senyum miring tersungging di bibirnya. Ia bahkan sempat-sempatnya bergumam pelan pada gadis itu, “Ah, ketemu!” Deg! Kaki Ha Na mendadak melemas mendengar itu. Namun ia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa saat ini, bahkan kabur saja tidak bisa. Kini ia mulai berpikir, sepertinya pekerjaannya tidak akan semudah seperti yang sebelumnya lagi. •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD