Kisah Pahit Yang Sama

1871 Words
Suasana riuh gembira malam musim semi menemani sepanjang kaki Ha Na melangkah. Memberi kesan teduh di hati, selagi perasaannya tengah gondok lantaran terpaksa harus menemui Yeong Gi lagi. Ia tengah berjalan menuju Naksan Park, tempat di mana terpampang jelas pemandangan gemerlap kota Seoul di malam hari. Ya, menurutnya itu tempat yang sesuai dengan keinginan Yeong Gi. Yang benci keramaian, juga benci keheningan. Naksan Park menyeimbangi keduanya, juga memiliki pemandangan malam yang indah walau agak kurang cocok untuk dinikmati ketika musim semi. Tidak apalah, toh Yeong Gi juga tampak tidak terlalu tertarik dengan festival musim semi. Ha Na terus berjalan, sembari kepalanya sibuk menoleh kesana kemari untuk mencari spot yang bagus. Tetapi ketika sedang melakukan itu, tak sengaja matanya menemukan pemandangan mengejutkan baginya, sekaligus menyesakkan. Di depan sana, ia melihat sepasang pria dan wanita paruh baya tampak tengah bergembira ria bersama putra kecil mereka. Mata Ha Na terfokus pada sosok sang wanita. Dia begitu familiar dalam ingatannya. Meskipun ia sudah berusaha melupakan wajah itu, tetapi tetap saja ia masih mengingatnya dengan jelas. Membuat batinnya kini mendadak jadi terasa sesak, terlebih ketika melihat senyum di wajah itu ketika sedang bermain-main bersama dua sosok yang sepertinya adalah keluarga kecilnya. Walau hati tak ingin, tapi entah kenapa kaki Ha Na tetap melangkah maju mendekati mereka. Pandangannya kosong sambil merasa sesak di d**a, sampai tak sadar ia bertabrakan dengan anak laki-laki itu yang usianya kisaran sepuluh tahun. Anak itu pun terjatuh di hadapannya. “Aduh!” Anak itu mengerang pelan ketika bokongnya terantuk aspal jalanan. Kedua orang tuanya—yang juga termasuk si wanita paruh baya yang begitu Ha Na kenali—seketika terburu-buru menghampirinya. Keduanya tampak begitu khawatir. Kaki Ha Na pun otomatis terhenti. Rasa sesak di dadanya seketika menjadi semakin membuncah. Hingga membuat matanya memanas dan tergenang oleh air mata. “Aigo ... kau baik-baik saja, uri adeul?” Sang wanita paruh baya itu berjongkok sambil melihat-lihat sekujur tubuh putranya, takut kalau dia terluka. “Aku baik-baik saja, Ibu.” Sang anak menjawab seraya bangkit berdiri. Sang ibu pun mengelus kepalanya lega. Tetapi kemudian ia menatap ke arah Ha Na yang sedang memunggunginya dengan tatapan marah. “Jeogiyo!” Ia menepuk pundak Ha Na agak kencang. Tetapi Ha Na masih tetap bergeming, tidak berbalik. Air matanya sudah semakin menggenang saat ini. Terlebih setelah memastikan sendiri kalau anak yang tadi tidak sengaja ditabraknya memanglah putranya. “Kau menabrak putraku tadi, tapi kau tidak meminta maaf?!” Ha Na menoleh sedikit ke kanan, tetapi masih menyembunyikan wajahnya. Ia juga menarik napas dalam kemudian bergumam, “Maaf.” Sialnya suaranya terdengar agak parau lantaran menahan tangis. Ia pun buru-buru melangkah pergi. “Tunggu sebentar!” seru wanita paruh baya itu menahan tangan Ha Na. Ha Na jadi terpaksa menghentikan langkahnya, tetapi tetap tidak berbalik. Membuat wanita itu jadi semakin mencibir marah. “Cih, kau hanya meminta maaf singkat tanpa menolehkan wajahmu pada kami?!” seru wanita itu lagi. “Di mana sopan santunmu? Apa ibumu tidak pernah mengajarimu soal tata krama?!” Bagai di sayat pisau, d**a Ha Na semakin terasa sakit ketika mendengar wanita itu bicara begitu. Ia pun tak kuasa lagi menahan tangisnya. Sebulir air mata kini jatuh membasahi pipinya. “Maaf.” Ha Na menjawab singkat, dengan nada yang begitu sarkas. “Ibuku memang tak pernah mengajarkanku hal itu. Dia terlalu sibuk melarikan diri dari masalah sampai tega membuang putri-putrinya.” Wanita itu seketika tertegun mendengar jawaban Ha Na. Seolah merasa tersindir, kemarahan dalam dirinya sebelumnya terhadap Ha Na mendadak meluntur begitu saja. Ha Na pun buru-buru berpamitan. “Permisi,” katanya. “T-tunggu! Kau—” Wanita itu berusaha menghentikan Ha Na, tetapi keburu disergah oleh suaminya. “Yeobo, sudahlah. Biarkan gadis itu pergi.” Wanita itu mendengus pasrah. Kini ia hanya bisa menatap sendu pada punggung Ha Na yang semakin menjauh darinya. Akibat ucapannya tadi, kini ia jadi kembali teringat pada orang-orang terkasih di masa lalunya. Yang ia tinggalkan begitu saja hanya karena ingin lari dari hutang. ••• Yeong Gi mengedarkan pandangan ke segala arah, menatap sepanjang jalan menanjak yang terdapat pagar beton besar yang mirip seperti benteng di sisi kanannya, sebagai pembatas jalan yang menyajikan pemandangan malam kota Seoul dari ketinggian. Ia mengikuti arah GPS yang tertera di ponselnya. Ya, itu adalah lokasi Lee Ha Na berada saat ini. Tetapi gadis itu tak kunjung menjawab panggilannya, padahal Yeong Gi mau menanyakan posisi tepatnya. Sudah tiga puluh menit Yeong Gi terus berjalan menelusuri tanjakan, tetapi ia tak kunjung menemukan keberadaan Ha Na. Masa gadis itu membohonginya? Awas saja kalau sampai benar, Yeong Gi akan menaikkan hutang gadis itu jadi tiga kali lipat. Itu sebagai ganjaran karena telah membuatnya melakukan sesuatu yang ia benci. Ya, Yeong Gi benci mendaki, ia benci sesuatu yang melelahkan tetapi tidak berguna. Sepuluh menit lagi kembali berlalu, kini Yeong Gi menghentikan langkahnya. Napasnya tersengal, ia sudah lelah. Tapi ketika pandangannya menatap ke depan, di sanalah ia akhirnya menemukan keberadaan Lee Ha Na. Gadis itu tampak tengah terduduk di atas pagar beton yang dihiasi dengan cahaya kekuningan. Di sisi kanannya terdapat dua botol Soju yang salah satunya sudah kosong, satu masih terisi penuh. Juga ada satu botol lagi yang tengah ia genggam di tangannya. Isinya tinggal setengah, pertanda kalau setengahnya lagi sudah ia minum bersama dengan isi botol yang sudah kosong itu. Yeong Gi jadi bertanya-tanya bingung melihat pemandangan itu, ada apa dengannya? Kenapa dia minum, tumben sekali? Yeong Gi pun kembali menanjak jalan, menghampiri Ha Na. Ia ikut naik ke atas pagar beton dan duduk di samping gadis itu. Ia menatapnya datar, tetapi terkesan lembut. “Sepertinya kau sudah tertular penyakit canduku,” kata Yeong Gi memecah keheningan, sekaligus menyadarkan Ha Na dari lamunnya. Gadis itu kini menatap Yeong Gi dengan mata sayunya. Pipinya tampak memerah, dia sudah mabuk. “Kau ... lama sekali,” gumam Ha Na seraya menepuk-nepuk pelan lengan Yeong Gi. “Aku sudah menunggumu sangat lama. Aku 'kan juga butuh teman, bukan hanya kau saja yang membutuhkanku.” Yeong Gi tersenyum tipis melihat tingkah Ha Na yang sedang mabuk. “Wah, kalau kau sadar dan ingat akan tingkahmu yang seperti ini padaku, aku berani jamin kau pasti tak akan berani menatap wajahku lagi.” “Cih, aku tak pernah takut padamu dasar pengganggu!” Ha Na tertawa miring seraya kembali menenggak botol Soju di tangannya. “Kau hanya pria banyak uang yang sok mengintimidasi, padahal kau juga sangat lemah. Lebih lemah dariku!” Yeong Gi tertunduk. “Kau benar,” timpalnya. “Aku memang lemah, sangat lemah.” Ha Na tersenyum senang merasa menang. Sekali lagi ia menenggak botol Soju di tangannya sampai tak bersisa. Ia kemudian merebahkan tubuhnya, menatap langit malam tak berbintang. Seketika, perasaan sendu kembali menyelimutinya. “Menurutmu ...,” katanya kemudian sambil menatap datar pada langit gelap di atas sana. “... apa arti seorang ibu?” Yeong Gi menoleh bingung pada Ha Na, tapi akhirnya ia mendesah halus. Ia paling sensitif kalau ada seseorang yang mengungkit soal 'ibu'. Ia jadi kembali teringat pada masa-masa ketika ibunya pergi meninggalkannya. Itu adalah masa-masa yang berat baginya, sampai membuatnya mengalami trauma sampai detik ini. Yeong Gi ikut merebahkan tubuhnya menatap langit. “Entahlah,” jawabnya. “Aku bahkan hampir tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Kalaupun pernah, memori indah itu sudah terkubur dalam oleh kenangan-kenangan pahit yang membuatku jadi lemah.” Yeong Gi menoleh pada Ha Na. “Kalau menurutmu sendiri bagaimana?” “Menurutku? Hmm ... menurutku ‘ibu’ adalah sosok antagonis dalam hidupku,” jawab Ha Na sambil tersenyum sinis, tetapi jelas sekali matanya menunjukkan kesedihan yang begitu mendalam. “Kenapa begitu?” “Dia meninggalkanku dan adikku ketika aku masih berusia sembilan tahun, sementara adikku dua tahun.” Ha Na menutur jujur. Tentu saja itu akibat pengaruh alkohol. Kalau tidak, dia pasti tidak akan segila ini membahas hal pribadi pada orang yang dibencinya. Yeong Gi tertegun mendengar itu. Kini ia jadi merasa kalau ada kesamaan dalam dirinya dengan gadis di sampingnya ini. Jujur, ia merasa agak senang karena ada orang lain yang mengalami penderitaan sepertinya. Tapi ia juga merasa sedih ketika melihat seorang gadis kuat seperti Lee Ha Na terlihat begitu frustasi malam ini. Ia jadi berpikir, pasti ada sesuatu yang memicunya jadi kembali teringat pada masa lalu kelamnya itu, sampai dia harus minum-minum seperti ini demi meringankan bebannya. “Kau tahu,” sambung Ha Na lagi, “dia meninggalkanku tepat setelah enam bulan ayahku meninggal dalam kecelakaan. Alasannya sepele, hanya karena ayahku meninggalkan hutang yang cukup besar sehingga dia bosan terus didatangi depkoleptor setiap hari. Itu jahat bukan?” Yeong Gi masih diam, ia ingin menjadi pendengar yang baik bagi Ha Na. “Dan malam ini,” kata Ha Na lagi, kali ini terdengar lebih pilu. “Akhirnya aku kembali dipertemukan dengannya. Tapi kau tahu apa yang membuatku sakit? Dia tampak sudah bahagia bersama keluarga barunya. Dia begitu menyayangi putranya, sampai-sampai memarahiku yang tak sengaja menabraknya. Tidak adil bukan? Padahal dia hampir tak pernah menyayangiku dan adikku.” Yeong Gi terus menatap Ha Na iba. Ia tahu betul bagaimana rasanya itu. Ia juga merasakan hal yang sama dari ayahnya. Ia selalu merasa kalau Yeong Nam lebih beruntung karena begitu disayangi oleh Seung Ho juga oleh Chun Ae. Hidupnya sempurna, sementara Yeong Gi hanya menjadi parasit bagi mereka yang harus terus diasingkan. Yeong Gi pun bangkit terduduk. Ia meraih botol Soju yang masih tersegel, lalu membukanya. “Boleh aku minum ini?” tanyanya pada Ha Na. Gadis itu tak menjawab. Ia sedang sibuk memejamkan mata sedari tadi. Sehingga Yeong Gi akhirnya memutuskan untuk menenggaknya saja. Ya, ia juga butuh asupan alkohol saat ini. “Sepertinya nasib kita sama,” kata Yeong Gi kemudian, matanya menatap lurus pada pemandangan gemerlap kota Seoul di depan sana. “Ibuku juga meninggalkanku ketika usiaku masih tujuh tahun. Kau tahu apa yang dia katakan sebelum pergi?” Ha Na membuka matanya, ia memandang Yeong Gi datar. “Apa?” tanyanya. Yeong Gi tertunduk, ia kembali menenggak botol Soju. “Dia bilang aku ini anak yang seharusnya tidak pernah terlahir di dunia ini. Katanya aku adalah anak yang membawa kesialan dalam kehidupannya, membuatnya jadi harus merasakan penderitaan selama delapan tahun. Terintimidasi oleh sosok wanita yang jauh lebih berkuasa. Kata-kata itu bahkan sampai membuatku harus terus merasakan luka batin yang tak kunjung sembuh sampai detik ini.” Ha Na terdiam, tidak merespon apa pun. Ia hanya menghela napas halus lalu kembali memejamkan mata. Suasana hening pun menyelimuti keduanya dalam beberapa menit ke depan. Yeong Gi sendiri tengah sibuk dengan pikiran kalutnya yang lagi-lagi kembali menghantuinya tiap kali ia teringat pada kenangan menyakitkan itu. Setelah dua puluh menit hanya saling diam, Yeong Gi akhirnya berhasil menenangkan diri dan kembali pada kenyataan. Ia menoleh ke arah Ha Na, gadis itu masih memejamkan matanya saat ini. Yeong Gi menoel pipinya pelan, tetapi Ha Na tak kunjung terbangun. Sepertinya dia sudah tertidur pulas. Yeong Gi kemudian menatap lelah pada jalan turunan yang cukup jauh dari tempat di mana mobilnya terparkir. Ia mendesah pelan. “Hah ... jadi aku harus menggendongmu turun sampai kesana? Semoga saja kau tidak berat.” Yeong Gi menatap dalam pada wajah Ha Na yang sedang terpejam. Ia melepas jaketnya, kemudian memasangkannya pada tubuh gadis itu yang memang terlihat menggigil sedari tadi. Setelah itu ia bangkit berdiri dan turun dari pagar beton, lalu dengan perlahan dan hati-hati mengarahkan tubuh Ha Na ke atas punggungnya. Ia pun menggendongnya sepanjang jalan turun ke bawah, membawanya pergi menuju tempat yang lebih nyaman untuk tidur. ••• GLOSARIUM : • Uri adeul : Putraku. (Berasal dari kata Uri = -ku/kita, dipadu dengan Adeul = anak laki-laki) • Jeogiyo : Permisi. (Kalau dalam konteks kalimat di atas lebih tepat seperti : 'Hei, yang di sana!') • Yeobo : Panggilan sayang yang biasa digunakan oleh pasangan suami-istri di kalangan masyarakat Korea.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD