***
Menenangkan ratu Ellena adalah salah satu kewajiban yang harus putri Aura lakukan. Ia tidak akan membiarkan sang Ibunda merasa tertekan. Cukup sudah kejadian yang hampir saja mengancam nyawanya beberapa waktu lalu membuat sang Ratu ketakutan. Kini, putri Aura tak ingin membuat ratu mengkhawatirkannya.
“Ibunda tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja,” Putri Aura meyakinkan Ratu Ellena.
Namun, kecemasan masih tampak jelas di mata sang Ibunda. Tentu saja, Villain itu hampis saja membunuh putrinya tercinta. Entah apa sebabnya hingga yang penjahat incar adalah putri Aura. “Maafkan Ibundamu ini, putri, karena tidak bisa menjagamu,” ratu Ellena sungguh tertekan dengan kejadian mengerikan yang menimpa istananya.
Memang, kejadian-kajadian menakutkan seperti ini sudah biasa. Pernah ketika muda dirinya hampir kehilangan raja Ziurif akibat peperangan. Namun, untuk kali pertama seseorang mengincar nyawa sang putri. Sungguh, ratu Ellena khawatir dan merasa tidak berdaya karena tidak bisa melakukan apa-apa.
“Jangan bicara seperti itu, Ibunda, aku sungguh baik-baik saja,” putri Aura mencoba yang terbaik untuk meyakinkan ratu Ellena. “Ibunda harus percaya padaku. Ibunda sendiri tahu aku memiliki ilmu beladiri yang tinggi,” lanjutnya.
Ratu Ellena menganggukkan kepalanya. Tentu dirinya tahu sebesar apa kekuatan yang dimiliki putrinya, tetapi sebagai seorang Ibu, Ellena tetap saja mengkhawatirkan sang putri tercinta.
“Baiklah kalau begitu, putri Aura, Ibunda akan percaya padamu. Ibunda benar-benar berharap dirimu baik-baik saja,”
Putri Aura pun ikut menganggukkan kepalanya. Meyakinkan ratu Ellena bukan lah suatu hal mudah. Putri Aura mengerti betapa Ibundanya khawatir akan keadaannya saat ini. Namun, putri Aura yakin ia tidak akan terluka karena sang penjahat sudah berada di dalam genggaman tangannya.
Sudut bibir putri Aura tertarik membentuk senyum sinis tanpa sepengetahuan Ibundanya tercinta. Lelaki bernama Rafas itu tak akan sanggup membunuhnya. Rafas dan sang villain adalah Dua jiwa yang berbeda. Putri Aura tidak merasa takut sama sekali dalam menghadapi b******n yang mengaku bernama Rafas Raymond Yuro.
“Baiklah Ibunda, kalau begitu izinkan aku kembali ke kamarku,”
“Tentu, putri. Berhati-hatilah.” Pesan Ibunda ratu diiakan dengan patuh oleh putri Aura. Lalu setelah itu, sang putri pun kembali ke kamarnya.
Meskipun percaya Rafas tak sanggup melukainya, tetapi putri Aura tetap berhati-hati. Ia mengendap ketika masuk ke kamarnya. Matanya tampak waspada ketika tak melihat Rafas di mana-mana.
“Sial!” ujarnya.
Namun, beberapa detik setelah ia mengumpat kesal, Rafas pun menampakkan batang hidungnya. Pria yang memiliki wajah serupa dengan sang penjahat yang mencoba membunuhnya itu baru saja keluar dari dalam lemari.
“Apa yang baru saja kau lakukan?” tanya putri Aura curiga.
Rafas yang lelah dan lusuh meringis. Ia tahu sang putri baru saja mencurigainya. “Aku sedang bersembunyi, kalau-kalau yang datang bukan dirimu,” jawabnya apa adanya. Memang, sejak telinganya mendengar langkah mengendap yang putri Aura lakukan, ia pun masuk ke dalam lemari untuk bersembunyi. Takut bila yang datang orang asing.
“Aku benar-benar tidak ingin terbunuh sekarang juga,” ucap Rafas sembari mengedikan bahunya.
Putri Aura mengerti arti dari ucapan Rafas. Genggaman pada pedangnya yang tadi mengerat kini mengendur. Putri Aura mulai mempercayai apa yang Rafas katakan, bahwa pria itu bukan sang villain. Mereka hanya memiliki wajah yang sama, tetapi jiwa yang berbeda.
Dalam beberapa detik yang hanya diisi keheningan itu, putri Aura memutuskan untuk menerima penjelasan Rafas mengenai siapa dia sesungguhnya. Sang putri membalikkan badan, dan melangkah menuju pintu.
“Kau akan pergi lagi?” tegur Rafas. Putri Aura menoleh padanya, lalu menggeleng tegas. Tanpa mengatakan apa-apa, putri Aura menutup pintu kamarnya dengan rapat. Ia mengecek sekali lagi adakah orang yang diam-diam menguping di belakangnya.
Syukurlah, tidak ada siapa-siapa di sana. Putri Aura kembali menemui Rafas. “Ceritakan mengenai dirimu jika kau tidak ingin mati sekarang!” ujarnya tegas.
“Tentu,” balas Rafas. Lalu mengalirlah cerita hidupnya di masa lalu. Entah putri Aura mengerti atau tidak, tetapi melihatnya diam dan kadang mengernyit heran, membuat Rafas tahu sang putri sedang berusaha keras untuk memahami setiap kata yang dirinya ucapkan.
“Jadi kau orang baik?” tanya putri Aura begitu Rafas menyelesaikan ceritanya.
Meskipun Rafas tak suka menilai dirinya sendiri, tetapi akhirnya ia mengangguk juga. “Setidaknya aku tak pernah berniat membunuh orang lain. Bahkan tak pernah membunuh hewan secara sengaja,” ucapnya.
Mendengar bagaimana masa lalu Rafas, membuat putri Aura semakin yakin bahwa yang berada di depannya saat ini bukan sang villain. Mereka sungguh Dua orang yang hanya memiliki wajah serupa saja.
“Apa kau percaya padaku?” tanya Rafas sebab putri Aura hanya diam menatapnya.
“Apa kau juga percaya padaku?” Alih-alih menjawab, sang putri justru ikut mempertanyakan kepercayaan itu pada Rafas.
Sejujurnya, Rafas belum begitu percaya pada putri Aura. Bisa saja sang putri menghunuskan pedang padanya.
“Jika kau tidak mempercayaiku bagaimana aku bisa mempercayaimu? Kau tahu apa yang terjadi jika kau berhasil membunuhku waktu itu? Istana akan gempar,”
Tck.
“Bukan aku! Aku tidak mungkin bisa membunuhmu ataupun orang lain!” balas Rafas tak terima. Harus berapa kali lagi ia meyakinkan sang putri perihal rencana kejahatan yang pernah ia lakukan? Harus bagaimana lagi dirinya membuat sang putri percaya kepadanya sepenuhnya? Sungguh, Rafas tak mungkin bisa menyakiti seseorang yang tidak bersalah. Bahka yang bersalah pun tak sanggup ia bunuh.
“Diamlah. Aku tidak bisa menghentikan tuduhan itu di saat wajahmu sangat mirip dengannya, meskipun aku percaya bahwa kau bukan dia,” ucap putri Aura yang mulai merendahkan suaranya.
Medengar itu, membuat Rafas memberanikan diri menatap wajah sang putri. Rafas ingin putri Aura tahu bahwa ia hanya mengatakan kejujuran saja. “Seperti yang aku katakan putri Aura, aku berjanji akan membuktikan siapa diriku sebenarnya,” tegasnya.
“Dan apa konsekuensinya bila kau berbohong?”
“Kau bisa membunuhku, mencabik-cabikku hingga tak bersisa,” jawab Rafas atas pertanyaan yang putri Aura ajukan.
“Aku tidak akan melarikan diri ke mana-mana karena aku tidak sanggup melakukan itu. Aku butuh bantuanmu,” ucap Rafas sungguh-sungguh. Ia tahu, tanpa bantuan dari putri Aura, dirinya tak akan sanggup bertahan di tempat ini. Tempat yang sejak awal tak ingin dirinya percayai.
Putri Aura memahami maksud dari permintaan Rafas. Namun, ia belum memiliki ide untuk membantu pria itu. Putri Aura hanya akan memberikan bantuan yang bisa menjamin keselamatannya. Ia tak akan gegabah meskipun hati kecilnya berkata bahwa jiwa di depannya ini bukan seorang penjahat. “Aku akan memikirkannya terlebih dahulu. Sebaiknya kau bersihkan dirimu!” ujarnya.
“Kau boleh menggunakan tempat pemandianku. Gunakan lap bersih untuk mengeringkan tubuhmu nanti. Aku akan keluar sebentar untuk menemukan beberapa pakaian,”
Dengan begitu, Rafas pun percaya bahwa sang putri bisa membantunya.
.
.
Bersambung.