I’m (Not) A Villain | 7

1060 Words
*** Usai membeli pakain baru untuk Rafas, putri Aura membawa Rafas berkeliling ke tempat lain. Namun, keduanya masih sangat hati-hati. Putri Aura tidak ingin penyamarannya terbongkar dan Rafas berakhir ditangkap. Tak hanya Rafas yang akan di introgasi, dirinya pun akan di sidang karena dianggap menyembunyikan seorang penjahat. Rafas pun sama berhati-hatinya. Dia tak ingin tertangkap dan diadili lagi seperti terakhir kali. Rafas mengikuti putri Aura, langkahnya tepat berada di belakang sang putri. Mereka akhirnya berhenti di tempat yang cukup hening. “Anda sangat hebat, putri Aura,” puji Rafas secara tiba-tiba. Putri Aura mengernyitkan dahinya. “Apa maksudmu?” tanyanya. “Anda seperti bukan seorang putri raja. Bermain di pasar dengan leluasa tanpa takut kotor,” Putri Aura mengedikan bahunya. Dia sudah biasa menyelinap seperti ini. Dari pada berdiam diri di istana dan melihat Perdana Mentri menyebalkan itu, lebih baik pergi mencari udara segar. Istana terlalu penat sejak perdana mentri Basam berada di kedudukannya. “Aku sudah biasa menyelinap keluar seperti ini,” ucap Aura. “Apakah Ibundamu tidak khawatir? Kau tidak di hokum karena melakukan ini?” tanya Rafas. Tentu saja yang mulia ratu khawatir, tapi Aura meninggalkan istana tanpa sepengetahuan mereka. Lagi pula Ibundanya tidak akan mencarinya setiap waktu. “Ratu akan menghukumku begitu tahu aku menyelinap keluar, tapi selama ini aku tak pernah ketahuan. Lagi pula sekarang aku cukup dewasa untuk di hukum,” terangnya. Kepala Rafas bergerak naik turun. Putri Aura benar-benar pemberani, pikirnya. Pantas saja perdana mentri Basam mengincarnya. Ketegasan dan keberanian sang putri bisa mengancam rencana jahat entah apa yang dimiliki perdana mentri Basam. Rafas yakin itu yang perdana mentri Basam pikirkan saat memutuskan untuk menghabisi Aura. “Kau seorang pemberani, Teman!” ujar Rafas sengaja mengulangi panggilannya untuk Aura. Terang saja, hal itu membuat mata Aura kembali mendelik tajam padanya. “Jangan memanggilku dengan panggilan seperti itu, Rafas!” ujarnya memperingati. Rafas menaikan salah satu alisnya. “Kenapa?” tanyanya sambil menggantung senyum. “Karena aku bukan temanmu! Aku ini tuanmu, mengerti?” “Ahh, Anda benar, Anda adalah tuanku yang telah menyelamatkanku dari hukumna pancung. Maafkan kelancangan hamba, Tuan,” Entah kenapa Rafas ingin menggoda putri Aura, padahal mata sang putri semakin menatap tajam ke arahnya. Rafas juga berani sekali melakukan itu. Putri Aura sendiri akhirnya mendengus. Meninggalkan Rafas yang terus saja memanggilnya tuan. Ini kesalahannya karena meminta Rafas menganggapnya sebagai majikan. “Jangan tinggalkan aku, Tuan!” ujar Rafas menghampiri putri Aura yang tiba-tiba saja menghentikan langkah kakinya. “Diam,” bisik putri Aura. Rafas benar-benar menutup mulutnya karena sekarang putri Aura tampak serius. Mata Rafas mengikuti ke mana arah pandangan putri Aura. Beberapa prajurit tak jauh dari tempat mereka berdiri. Rafas sedikit ngeri dibuatnya. “Tundukan kepalamu!” Putri Aura masih mengatakan itu dengan cara berbisik. Dengan patuh Rafas menuruti. Meskipun sudah mulai mahir menggunakan pedang, tapi Rafas tak ingin ketahuan sekarang. Dirinya pun tahu, bukan hanya dia saja yang akan mendapat masalah bila mereka tertangkap. Putri Aura pun akan mendapatkan hukuman karena dituduh menyembunyikannya. “Lihatlah di sana,” tunjuk putri Aura hingga Rafas mengangkat kepalanya. Kelopak mata pria itu membesar begitu melihat beberapa gambar wajahnya tertempel di mana-mana. Astaga! Kerajaan benar-benar mengincarnya sekarang. Mereka menyebarkan gambarnya ke seluruh pasar. “Sekarang kau percaya bahwa kau adalah buronan yang paling dicari,” Rafas mengiakan ucapan putri Aura dengan anggukkan kepala. Sepertinya dia harus melakukan sesuatu agar tidak bisa dikenali. Sungguh tidak nyaman bila terus seperti ini. “Ayo pergi sekarang!” ujar putri Aura membuyarkan lamunannya. Dengan cepat Rafas mengikuti langkah putri Aura. Mereka akhirnya meninggalkan pasar dengan segera. Putri Aura kembali membawa Rafas ke tempat persembunyiannya. Sebuah ruang bawah tanah yang hanya ia dan raja saja yang tahu tempat itu. Ruang bawah tanah itu menjadi tempat favorit Aura sejak dulu. Menjadi tempat paling menyenangkan untuk latihan. Kini, Rafas yang akan menempatinya. Aura akan membiarkan Rafas tinggal di sana sampai keadaan sedikit tenang. Setelah itu, Aura akan membawa Rafas ke tempat lain. “Aku akan pergi sekarang juga untuk memeriksa keadaan. Kau teruslah berlatih dan buktikan bahwa kau mampu menjadi pengawal pribadiku, mengerti?” tanya Aura kepada Rafas yang sejak tadi hanya memandangnya lekat. Sial! Putri Aura sedikit tidak nyaman dibuatnya. Rafas mengangguk singkat. “Aku akan berlatih hingga bisa menjagamu dari kejahatan,” ucapnya. “Baiklah.” Putri Aura berbalik. “Putri Aura,” panggil Rafas. “Ada apa?” Aura memutar kepalanya ke samping untuk menanggapi panggilan Rafas. “Sekali lagi terima kasih,” ucap Rafas. Tanpa mengatakan apa-apa selain menganggukkan kepala, putri Aura pun akhirnya meninggalkan Rafas sendirian. Rafas menghela napasnya dengan berat. Ia melarikan pandangannya ke seluruh tempat ini. Sepi. Tidak ada orang lain selain dirinya di sini, tapi Rafas merasa jauh lebih baik. Sejujurnya, ia sedikit trauma pada keramaian. Bayangkan, setelah sempat terbunuh di dunia nyata, dirinya tiba-tiba saja terbangun kembali dalam keadaan terikat bersamaan dengan suara teriakan-teriakan yang menginginkan kematiannya. Rafas bergidik ngeri. Ia tidak akan mengulangi kejadian itu lagi meski suatu hari nanti dia akan mati. “Setidaknya aku ingin mati karena membela seseorang, bukan karena bermaksud membunuh seseorang,” ucap Rafas. Menjadi pengawal pribadi tuan putri adalah keputusan yang sudah benar. Dengan begitu, ia tidak akan dituduh sebagai seorang penjahat lagi. “Ahhhh, ayo sekarang berlatih! Aku harus membuktikan bahwa aku bukan seorang penjahat!” ujar Rafas. Kembali ia meraih pedang pemberian putri Aura. Ia mengayunkan pedang tersebut dengan mahir. Tanpa Rafas sadari, selain dari kesungguhannya untuk bisa menguasai ilmu pedang, sang villain yang berbagi jiwa dengannya lah yang telah membuatnya cepat menguasai ilmu pedang ini. Tidak apa-apa selagi tujuan mereka berbeda. Sang villain bertujuan untuk membunuh putri Aura, sedangkan Rafas ingin melindunginya. Mereka adalah Dua jiwa yang berbeda. Entah siapa yang akan menang nanti, tetapi saat ini Rafas adalah penguasanya. Rafas berjanji untuk menjaga putri Aura dengan sungguh-sungguh. Rafas tidak akan menyianyiakan kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya bukan seorang penjahat. “Ternyata memiliki ilmu pedang menyenangkan juga,” ucap Rafas ketika ia sudah menyudahi latihannya. Rafas kembali mendudukan dirinya, meraih air minum yang ditinggalkan tuan putri untuknya. Rafas menatap botol tradisional itu sambil tersenyum. Salah satu alasan kenapa ia harus melindungi putri Aura adalah karena Aura adalah putri yang baik. Rafas pun bisa melihat kebaikan itu. “Lihat lah putri Aura, aku akan membalasmu karena telah menyelamatkanku dari hukuman itu,” ucap Rafas sungguh-sungguh. Ia mendekap botol minuman yang terbuat dari kayu itu dengan erat. . . To be continued.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD