***
Apa yang dikatakan putri Aura benar adanya. Rafas menjadi buronan kerajaan. Ketika Rafas mencoba mengintip pada celah kamar tuan putri Aura, ia mendapati banyak sekali penjaga. Rupanya, kerajaan tak ingin kecolongan lagi dari sang villain yang pernah hampir menghabisi Aura.
Rafas ketakutan. Dirinya yang tidak tahu apa-apa hanya ingin kembali pada dunianya meskipun ia sudah mati terbunuh. Ia ingin tenang, bukan menjadi buronan tanpa melakukan kesalahan seperti ini.
“Aku benar-benar tidak tahu apa-apa tentang penjahat itu, tapi wajah ini sungguh menunjukkan bahwa aku adalah pelakunya,”
Helaan napas berat menunjukkan bahwa Rafas tersiksa. Entah apa yang akan terjadi pada hidupnya setelah ini. Menjadi buronan kerajaan bukan sesuatu yang mudah, terlebih dirinya tak pernah benar-benar melakukan kesalahan. Rafas merasa lelah. Ia benar-benar tidak menyangka kehidupan setelah ia mati begitu mengerikan. Meski ini tidak setara dengan neraka, tetapi Rafas pun tak sanggup untuk menjalaninya.
“Bagaimana caranya agar putri Aura mempercayaiku sepenuh hati? Ayo Rafas pikirkan sesuatu!” ujarnya memaksa diri sendiri.
Rafas kembali mengingat dirinya di masa lalu. Kira-kira apa yang akan ia lakukan ketika terancam seperti ini? Dia tak pernah menghadapi situasi seperti ini kecuali kejadian terakhir kali. Kejadian yang membawanya ke dunia Immortal ini.
Waktu itu, Rafas tak sempat melakukan trik karena musuhnya menusuknya tanpa aba-aba. Semua tiba-tiba saja terjadi hingga ia dinyatakan telah pergi untuk selamanya. Rafas tidak ingin mengulangi hal yang sama. Dia ingin keadilan sekarang sebelum nyawanya hilang untuk yang kedua kalinya.
“Kepercayaan hanya bisa dibeli dengan prilaku yang baik. Jika aku melakukan sesuatu yang menguntungkan bagi tuan putri, mungkin dia bisa mempercayaiku sepenuh hati,” ucap Rafas. Dirinya telah menemukan suatu cara untuk membuat putri Aura mempercayainya.
“Baiklah, aku akan melakukan itu untuk putri Aura. Mungkin kekuatan dari pemilik jiwa sebelumnya bisa kumiliki bila aku berlatih.”
Rafas merasa sedikit lega karena ia sudah mendapatkan cara untuk membuat sang putri mempercayainya.
Di saat Rafas tengah tersenyum lega, sang putri tiba-tiba masuk lagi ke kamarnya dengan tergesa-gesa. “Cepat sembunyi! Prajurit Ayahanda dan Perdana Menteri Basam ada di sekitar sini!” ujarnya.
Rafas tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya dan ketakutannya. Pria yang semasa hidupnya menjadi pengacara umum di dunianya itu tampak gemetar. Dirinya tidak tahu harus bersembunyi di mana.
“Masuk ke sana!” geram putri Aura karena Rafas hanya diam saja. Sang putri menunjuk lemari kayunya yang kosong.
Dengan cepat Rafas berlari ke sana. Keduanya sama-sama menghela napas dengan lega. Putri Aura mengalihkan perhatian ketika pintu tiba-tiba saja dibuka dari luar. Ia berjalan dengan anggun meski penuh intimidasi untuk menuju orang-orang yang telah membuka pintu kediamannya. “Bukankah tidak sopan, Perdana Mentri, membuka pintu kamarku tanpa seizin pemiliknya?” sindirnya.
Perdana Mentri terkekeh. Ia tidak takut apalagi benar-benar merasa bersalah karena telah membuat sang putri kerajaan tidak nyaman. “Aku sangat mengkhawatirkan Anda, tuan putri. Kudengar kau sedang berbicara dengan seseorang. Siapa dia?” tanyanya.
Aura sedikit terkejut, tapi dengan cepat ia mengatasi keterkejutan itu. “Aku tidak mengerti maksudmu. Sejak tadi aku sendirian di tempat ini,” balasnya pura-pura.
Perdana Mentri menganggukkan kepalanya. Dirinya tidak percaya, tapi menantang tuan putri sekarang juga bukan sesuatu yang harus dia lakukan. Sudah cukup sang villain yang ia utus menimbulkan masalah untuknya dan membuat rencananya hancur berantakan. Perdana Mentri tak ingin terburu-buru dengan mengacaukan istana tuan putri Aura yang terkenal penuh perhitungan dan cerdas. Bisa-bisa sang putri mencium rencana busuknya.
“Kami permisi, Tuan Putri,” Basam menunduk hormat meskipun bibirnya tersenyum sinis diam-diam. Namun, putri Aura tahu akan hal itu. Ia sudah menyadari sejak lama kelicikan perdana mentri Basam. Hanya saja, sang putri belum memiliki bukti. Maksud hati menculik Rafas dari pengadilan adalah untuk membuatnya mengakui perbuatannya dan membuktikan bahwa yang menyuruhnya adalah perdana mentri Basam. Namun, semua diluar dugaan.
Setelah memastikan perdana mentri Basam meninggalkan kediamannya, putri Aura pun meminta Rafas untuk keluar. Rafas tidak melakukannya. Pria itu hanya membuka pintu dan terduduk lesu di sana. Sejujurnya, Rafas sangat lapar sekarang. Daripada mati ketakutan, sepertinya ia akan lebih cepat mati karena kelaparan.
“Ada apa denganmu?” tanya putri Aura menghampiri Rafas.
Pria itu menolehkan kepalanya. Mata sekelam malam miliknya menatap Aura penuh harap. “Aku benar-benar lapar,” jawabnya dengan lirih.
Sang putri tersentak mendengar itu. Dirinya memang belum sempat memberi Rafas makanan apapun. Putri lupa bahwa Rafas juga seorang manusia yang butuh makan meskipun saat ini dia adalah seorang burunoan.
“Tunggu sebentar. Sembunyilah kembali ke dalam sana. Aku akan memanggil pelayanku.”
Mendengar itu, membuat Rafas kesenangan. Ia pun menuruti perintah tuan putri. Rafas kembali bersembunyi hingga pelayan yang Aura maksud selesai menyiapkan makanan. Tanpa menunggu intruksi, Rafas pun keluar dengan sendirinya dari persembunyian. Pria itu pun makan dengan lahap karena benar-benar kelaparan.
Putri Aura hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat itu. Namun, di benaknya penuh dengan penilaian terhadap Rafas. Putri Aura memang belum mempercayai Rafas sepenuhnya, tetapi ketika melihat kondisi Rafas saat ini, sang putri sedikit percaya bahwa Rafas benar-benar bukan sang villain yang pernah ingin membunuhnya.
“Terima kasih atas makanannya, putri Aura. Aku sangat kenyang sekarang,” ucap Rafas setelah menghabiskan makanan yang putri Aura berikan. Dirinya tidak menyangka bila makanan kerajaan seenak ini. Melebihi masakan restoran bintang lima di dunia nyatanya.
“Kau lahap sekali di saat kau baru saja dicari Perdana Mentri,” pancing Aura.
Rafas mengerutkan dahinya. “Apa dia yang kau maksud waktu itu? Dia yang kau pikir menyuruhku membunuhmu?” tanyanya.
“Iya, dia orangnya. Dia yang ingin membunuhku,” jawab putri Aura. Rafas menganggukkan kepalanya. Tidak heran, pikirnya. Melihat bagaimana perdana mentri Basam terlihat tersenyum sinis kepada sang putri dan tampak tidak menghormatinya.
“Mari kita buktikan bahwa aku bukan orang yang berada dipihaknya, tuan putri,” ucap Rafas. Sudah saatnya ia memulai negosiasi ini bersama putri Aura.
“Apa maksudmu?”
“Aku memiliki cara untuk membuktikan bahwa aku bukan sang villain!” ujar Rafas menjawab pertanyaan putri Aura.
“Bagimana caranya?”
“Aku akan jadi pengawal pribadimu. Latih aku hingga bisa melindungimu dari Perdana Mentri,” terang Rafas. “Dengan begitu kau akan mempercayaiku sepenuhnya,” lanjutnya.
Putri Aura mengernyitkan dahinya. Apa yang Rafas sampaikan terdengar masuk akal di telinganya. Jika memang Rafas ingin membuktikan semuanya dengan cara seperti itu, kenapa dirinya tak mencoba saja? Lagi pula ia sudah tahu sebatas mana kekuatan yang sang villain miliki kalau-kalau suatu hari Rafas memberontak.
“Baiklah. Mulai sekarang kau adalah pengawal pribadiku!” ujar putri Aura mengambil keputusan.
.
.
To be continued.