Mengenal Suami

2096 Words
The Black World Conqueror Part 5 Mengenal Suami "Bu, Pak, Kayla mau pamit" ucap Kaylia kepada Pak Markadi dan Bu Masita. Setelah Bu Masita kondisinya membaik, Kaylia dan Salim sang suami berencana tinggal di rumah baru mereka yang telah disiapkan Juragan Maskur sang mertua. Berat memang bagi Kaylia, namun, baktinya kini telah berpindah ke pundak sang imam yaitu Salim suaminya. Terlepas bagaimana ia dan masa lalunya, kewajiban istri adalah taat kepada sang suami selagi ketaatan itu tidak bertolak dari ajaran agama yang ia pelajari selama di pesantren. "Haruskah secepat ini nak? Tidak terlalu cepatkah?" Tanya Bu Masita sambil menggenggam tangan putri angkat yang sudah seperti anak kandungnya itu. Kay melirik Salim sekilas, lelaki berbadan tegap itu tampak tenang dalam diamnya seakan respon Bu Masita bukan haknya untuk menjawab. "Maafin Kay Bu, Mas Salim mengajak Kay pindah segera, karena pekerjaan beliau juga sudah menanti" jawab Kayliq menjelaskan kepada Bu Masita "Benarkah itu nak Salim?" Tanya Pak Markadi terhadap menantu barunya tersebut. Salim hanya diam. Terlihat melamun "Mas" panggil Kaylia sambil menyenggol lengan sang suami. "Eh.. apa yaang" tergagap Salim menyahuti senggolan sang istri yang akhirnya membuat pipi Kaylia merona dengan panggilan 'yaang' dari Salim. Pak Markadi dan Bu Masita tersenyum melihat tingkah sepasang suami istri baru yang bahkan tak pernah saling mengenal sebelumnya sekalipun. Menyadari gelagat tak biasa dari istri dan mertuanya, Salim berusaha menetralisir suasana "Mm..maksudku ada apa senggol-senggol ngagetin aja" ketusnya tapi masih terlihat salah tingkah. "Aku tadi udah manggil loh, tapi mas aja yang ngelamun, jadi ga denger kan. Ya udah aku senggol dikit eh malah..." Ucapan Kaylia terhenti sejenak. "Tadi mau ngomong apa?" Tanya Salim dingin. "Tadi bapak tanya, haruskah kita pindah hari ini? Aku bilang iya karena mas bilang udah ada kerjaan yang menunggu bukan?" Kaylia menjelaskan. "Betul nak Salim, bukan maksud bapak menghalangi kalian hanya saja mungkin bisa diundur setidaknya tiga hari ke depan mengingat kondisi ibu yang baru saja membaik, bapak khawatir dengan kondisi ibu ketika Kayla tidak ada" Pak Markadi mencoba menjelaskan "Tolong ya nak, izinkan Kaylia paling lama tiga hari saja di rumah ini, anggaplah ini masa perkenalan kalian dan juga perkenalan nak Salim sebagai menantu di rumah ini" bujuk Bu Masita menatap Salim dengan teduh dan penuh harap. Kaylia melirik respon dan reaksi sang suami yang kini ada di sampingnya. "Baiklah, mari kita coba" jawabnya singkat. "Terimakasih nak Salim" ucap Bu Masita *** "Sudah matang kah sayurnya nak?" Tanya Bu Masita pada Kaylia yang sedang menyicipi sayur terong balado buatannya. "Sudah Bu, tapi entahlah rasanya kalau menurutku sih pas, coba deh ibu cicipi sedikit" Kaylia mengarahkan sendok kecil ke arah sang ibu angkat, ibu yang telah ia anggap ibu kandungnya sendiri. "Hmmm.. enak nak, pas sekali, ibu rasa suamimu pasti suka" ucap Bu Masita tenang, Kaylia hanya membalasnya dengan senyuman yang langsung padam dari wajahnya. Masih berat sekali rasanya menerima kenyataan bahwa ia kini telah bersuami di usia yang begitu muda, bukan ini yang diinginkan dirinya. Masih banyak impian yang ia goreskan pada buku diary miliknya, namun impian itu harus berhenti dan bisa jadi tak mungkin lagi ia wujudkan. Flashback "Udah lah Ra, ga usah kamu catat lagi impian-impian itu toh setelah lulus nanti kamu langsung nikah kan? Biarlah kamu mengabdi saja sama Bang Toha jodoh pilihan pamanmu itu" ejek Lidya kepada Rara. Mereka bertiga yakni Kaylia, Rara, dan Lidya tengah menggoreskan tinta untuk pengharapan masa depan mereka yang sangat ingin mereka raih setelah lulus sekolah dan pesantren ini. Namun, kenyataan berat harus dialami Rara, salah teman karib mereka, sebenernya Rara cenderung lebih dekat dengan Kaylia karena Lidia lebih sering berbeda pendapat dengannya. "Sabar Ra, semua pasti ada hikmahnya, ga mungkin Allah kasih sesuatu cobaan yang ummatnya ga bisa dan ga kuat nerima itu. Paati ada janji terbaik yang Allah janjikan buat kamu" ucap Kaylia menenangkan sahabatnya itu. "Dan kamu Lid, ataupun aku kita gak berhak menjudge masih seseorang, biarlah tetap kota goreskan tinta ini demi pengharapan di masa depan, tak apa apapun hasil dan takdir dari Allah kelak, kita harus saling support oke" ucap Kaylia menengahi keduanya "Ya ya ya ... What ever lah ... Yang jelas masa depan Rara selepas ini adalah jadi istri, bukan lagi mahasiswa sesuai impiannya nanti" ejek Lidya "Lid, bisa gak sih kamu ga usah ngejek aku terus, kita ga akan tau bahkan la menit ke depan bagaimana nasib kita kelak, biarlah aku dengan rencana keluargaku akan menikah selepas sekolah nanti, tapi kita juga gak ada yang tahu, siapa tahu selepas sekolah nanti kamu pun tak jadi kuliah karena sesuatu yang tak disangka-sangka" geram Rara menanggapi ocehan Lidya yang dianggapnya sangat menyakiti hatinya. Perjodohan ini bukanlah keinginannya, ini murni keinginan sang paman yang memintanya segera menikah untuk meringankan beban keluarga. Rara adalah anak piatu, ayahnya telah menikah lagi dan mau tak mau ia dititipkan sang paman setelah kematian neneknya. Sang paman memang merasa keberatan jika harus membiayai sekolah 2 anaknya yang masih di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, jika ditambah dengan membiayai kuliah Rara sang keponakan. Rara memang berinisiatif akan berusaha kuliah sambil bekerja, namun tetap saja biaya pendaftaran dan akomodasi lain lain perlu disiapkan di awal, dan Pak Sugeng paman Rara keberatan akan hal itu, beliau yang hanya seorang ojek online berusaha sedemikian keras agar tercukupi kebutuhan keluarganya terlebih hanya dirinya lah tulang punggung keluarga. "Jaga ya mulut kamu itu, aku tuh bukan keluarga miskin kayak kamu, aku pasti akan bisa jadi pengacara seperti impian orangtuaku, beda dengan dirimu. Kota sangag berbeda" sentak Lidya marah menanggapi ucapan Rara, ia merasa tersinggung dengan ucapan Rara yang merendahkannya. Tidakkah ia meraba kesalahannya sendiri sebelumnya? "Sudah sudah ... Kita semua tidak ada yang tahu nasib. Sebaiknya kita berjalan sesuai ketentuan Allah, kita disini diajari untuk saling bahu membahu saling mendukung jika ada yang merasa kesusahan, bukan malah saling menjatuhkan. Tak apa jika Rara harus menikah setelah lulus sekolah, kota doakan saja semoga jodoh Rara adalah lelaki baik yang bahkan bisa mendampinginya untuk merengkuh mimpi mimpi yang belum sempat terwujud. Dan buat kamu Lidya, semoga kuliahmu lancar dan harapanmu menjadi pengacara dipermudah oleh Allah" bijak Kaylia menengahi kedua sahabatnya itu. Kilasan masa lalu yang seakan menampar Kaylia dengan nasibnya saat ini, mungkin itu yang selalu diucapkan orang-orang yang kala dilanda kesusahan dan kita membantu mereka menasehatinya 'tidak semudah itu ferguso... Yang aku rasakan belum pernah kamu rasakan, jadi mudah bagimu untuk memberiku nasihat tanpa tahu perasaan dan pikiranku saat ini' Hal itulah yang dulu mungkin dirasakan Rara yang entah bagaimana nasibnya kini, selepas lulus dan pulang ke kampung halaman masing-masing baik Rara maupun Lidya tak ada satupun yang bertukar kabar. Andai mereka tahu nasib Kaylia sang sahabat penengah dan kerap pemberi nasihat itu kini sedang diuji dengan salah satu nasihat yang pernah ia ucapkan untuk mereka. *** "Astaghfirullah Kay... Udah hampir gosong aja terong balado ini, kamu kenapa malah ngelamun nak" Bu Masita tergesa mematikan kompor saat sang anak sedang termenung dengan kilasan masa lalunya hingga lupa dengan nasib terong balado miliknya. "Ya Allah gosong kah Bu?" Kaylia terjingkat kaget merespon ucapan ibunya di tengah kemelut hati dan pikirannya. "Kamu kenapa nak? Cerita ke ibu nak, ibu tahu ini gak mudah buat kamu. Dalam sehari harus menerima kenyataan yang bahkan mungkin ibu sendiri belum tentu mampu dan kuat menjalaninya" ucap Bu Masita mencoba memahami kemelut hati dan pikiran sang putri angkat. "Aku ga apa apa Bu, aku tadi kepikiran Rara sama Lidya temen waktu nyantri dulu. Semenjak lulus dan keluar mondok tak ada lagi kita berbagi kabar" jawab Kaylia bukan sebenarnya, tapi bagian itu memang ada benarnya juga namun bukanlah inti dari kegelisahan hatinya saat ini. "Kamu punya nomor handphone nya?" Tanya Bu Masita pada Kaylia "Punya sih Bu, coba deh nanti aku hubungi. Sampai lupa aku Bu kalau bisa bertukar kabar lewat handphone karena terlalu lama hidup berdampingan tanpai gawai atau alat komunikasi lainnya hehe" jawab Kaylia terkekeh dengan jawabannya sendiri. "Kay, ibu mau minta maaf... " Ucap Bu Masita pelan. "Untuk apa Bu?" Tanya Kaylia "Ibu minta maaf atas rahasia yang selama ini kami simpan, ibu sangat menyesal harus memberi tahu kamu di waktu yang belum tepat tentang... Tentang ... Hiks ... Hiks ... tentang siapa kamu sebenarnya anakku" Bu Masita terisak di tengah ucapannya. Kaylia memeluk satu-satunya wanita yang ia tahu dan ia kenal dengan sebutan ibu itu. Pelukan hangat yang tak pernah berbeda ia dapatkan dari Zulfa. Bu Masita dan Pak Markadi benar-benar memperlakukan Kaylia dan Zulfa tanpa beda sekalipun hingga selalu membuat Kaylia menepis kenyataan bahwa ia adalah anak angkat. Ya, jauh sebelum hari ini terjadi, Kaylia sudah mengetahui siapa jati dirinya dari beberapa tetangga dan kerabat, namun hal itu ia simpan dan menunggu bapak dan ibu angkatnya sendiri lah yang mengungkapkannya. Hal itulah yang selalu membuat Kaylia berusaha tahu diri dengan menempatkan diri sebaik-baiknya di keluarga yang telah berbaik hati menerimanya. Bukan hal mudah bagi anak usia 15 tahun harus menerima kenyataan bahwa ia bukanlah anak kandung dari keluarga yang membesarkannya, namun malang tak bisa dikata. Diterima dan dibesarkan dengan penuh kasih merupakan anugerah tak terkira rasanya jika dibandingkan besar tanpa sanak saudara Itulah yang ada dalam benak Kaylia selama ini. "Bu, aku yang seharusnya minta maaf Bu... " Ucap Kaylia pelan. "Maksudmu apa nak? Seharusnya ibu yang minta maaf karena merahasiakan siapa sebenarnya dirimu hingga kini kita harus mengungkapkan bahkan dengan kenyataan ketika kamu harus menikah karena salah kami lagi nak.. hu hu hu " Isak Bu Masita lagi. "Aku ... Aku sudah tahu jauh sebelum hari pernikahan itu Bu ... Kaylia tahu bahwa Kaylia anak angkat. Kaylia tahu dari beberapa kerabat yang datang ke rumah ini dan juga tetangga yang sebelumnya tahu kisah masa lalu keluarga ini Bu. Hanya saja Kay diam Bu, Kay seperti berat menerima kenyataan itu. Namun, saat di pesantren itulah Kay ditpa sedemikian hingga kau menyadari tidak adanya kemiripan fisik antara Kay dengan bapak dan ibu, juga dengan Mbak Zulfa. Lama Kaylia berdoa dan memohon pada Allah tentang semua ini, namun jalan inilah yang seharusnya Kay jalani Bu... Maafin Kay, karena baru menceritakan sesuatu yang sebenarnya Kay sudah tahu Bu. Hanya saja Kay belum sanggup menanyakan langsung" ujar Kaylia menggenggam erat jemari hangat yang mulai keriput itu. Bu Masita terlihat terkejut setelah mendengar penuturan Kaylia, namun isakan tangis kembali pecah. Tak kuasa ia peluk gadis 18 tahun yang telah dirawatnya sejak masih merah itu dengan penuh kasih. Meski anak angkat, tak sedikitpun ada perbedaan dalam perlakuannya terhadap Zulfa sang anak kandung, bagi Bu Masita semua anak membawa rezeki masing-masing. "Ya Allah nak... Kamu simpan semuanya sendirian? Bagiamana bisa kamu berdamai dengan kemelut kenyataan yang bahkan tidak semua orang mampu dan tidak berontak dengan kenyataan ini nak? Sungguh terbuat dari apakah hati putri kecil ibu ini? Subhanallah... Maafin ibu nak.... Ibu bodoh, karena tak sedikitpun peka dengan setiap yang ada dalam hati dan perasaanmu nak" Bu Masita memeluk dalam bahu sang putri. "Banyak banget yang ibu mau ceritain ke kamu nak, tapi ... Ngomong-ngomong kamu udah buatin suamimu kopi belum? Dari tadi dia mau ke dapur kayak ga jadi aja lihat kita ngobrol. Sana gih, bikinin kopi" titah Bu Masita setelah menyadari Salim terlihat tak enak mau ke dapur sedangkan istri dan mertuanya sedang ngobrol serius bahkan sambil menangis berpelukan. Akhirnya ia urungkan niatnya ke dapur. "Eh iya kah Bu? Aku ga tau Bu Mas Salim sukanya minum apa, atau aku buatkan semua jenis minuman biar dia sendiri nanti yang milih bagaimana?" Usul Kaylia "Terserah kamu nak, apa itu baiknya. Oh iya, setelah ini ibu dan bapak mau ke rumah sakit dulu ya, kata dokter sepertinya mbak mu butuh waktu lebih lama di rumah sakit, karena efek obat telah menyerang syaraf otak dan pembuluh darah di kepalanya" ucap ibu terdengar pilu. "Iya Bu, sebaiknya ibu bersiap-siap, nanti aku dan mas Salim insya Allah nyusul" ucap Kaylia. *** "Mas sarapan dulu, dan ini minumnya" ucap Kaylia sembari menghampiri sang suami yang sedang menyesap rokok di teras rumah. Hal yang tidak disukai Kaylia. Lelaki perokok, namun hal ituau tak mau ia terima kini karena Salim adalah suaminya. "Banyak banget, buat siapa aja?" Tanya Salim saat Kaylia menyodorkan kopi, teh, s**u, dan jus jeruk di depannya. "Buat mas Salim semuanya, aku gak tau mana minuman kesukaanmu, jadi kubuatkan saja semuanya. Entahlah mana yang kamu suka" jawab Kaylia polos. Salim mengambil kopi lalu menyesapnya pelan. Kaylia beranjak sembari mengambil tiga gelas yang tidak dipilih suaminya itu. Belum sampai beberapa langkah tiba-tiba Salim berucap. "Kita selesaikan dalam tiga bulan" ucapnya pelan namun terdengar jelas di telinga Kaylia. Kaylia menoleh dan memastikan ucapan sang suami. "Maksudmu apa mas?" Tanya Kaylia memastikan "Pernikahan ini, pernikahan yang sama-sama tidak kita inginkan. Mari kita selesaikan dalam tiga bulan ke depan. Aku janji setelah misiku selesai, aku akan melepasmu" jawab Salim
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD