Nadhira membuka matanya perlahan, membiarkan bayangan kamar yang temaram masuk ke dalam pandangannya.
Namun, detik berikutnya, dadanya terhempas oleh keterkejutan. Di sisinya, Bayu terbaring dengan napas yang teratur, wajahnya yang tenang seolah menolak semua badai yang tengah mengamuk di antara mereka.
“Mas? Kenapa kamu ada di sini?” Nadhira bertanya dengan nada terkejut, matanya membulat seperti bulan purnama di langit gelap.
Bayu, yang kini terjaga, hanya tersenyum kecil tanpa membuka mata sepenuhnya. Dengan gerakan yang perlahan, ia melingkarkan tangannya di perut Nadhira, membawa aroma lavender yang menguar dari tubuhnya ke dalam paru-parunya.
Napasnya terhembus panjang, seperti seorang pelaut yang menemukan daratan setelah berlayar di lautan badai.
“Kenapa memangnya, hm?” suaranya serak, berat seperti embusan angin malam yang membawa dingin. “Kenapa kamu terlihat kaget begitu tahu aku tidur di sini?”
Nadhira, meski terkejut, segera mengatur dirinya. Ia menyingkirkan tangan Bayu dengan lembut, lalu bangkit dan bersandar pada headboard tempat tidur.
“Seharusnya kamu tidur di rumah Hanna,” ucapnya, nada suaranya dingin namun tak bisa sepenuhnya menyembunyikan kegetiran. “Kenapa malah pulang ke sini?”
Bayu membuka matanya, menatap Nadhira dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sesuatu yang bergemuruh di balik sorotnya, seperti debur ombak yang terjebak di dalam cangkang kerang.
“Aku belum siap berbagi, Nad,” jawabnya akhirnya, suaranya terdengar seperti pengakuan yang enggan keluar dari bibirnya.
Nadhira menarik napas dalam, matanya menatap Bayu dengan campuran rasa lelah dan sayang yang begitu dalam.
Tangannya terulur, jemarinya menyusuri sisian wajah pria itu dengan kelembutan yang menyerupai belaian angin di musim semi.
“Bukankah lebih cepat lebih baik?” ia berucap, suaranya lirih namun tegas, mencoba membujuk. “Jangan mengulur waktu, Mas. Atau sebenarnya itu yang kamu inginkan?”
Alis Bayu bertaut, ia menegakkan tubuhnya sedikit, sorot matanya kini lebih tajam. “Apa maksudmu, Nadhira?” tanyanya, nada ketidaksukaan membayangi kata-katanya.
“Aku hanya mencintaimu, Mas,” ucapnya dengan nada yang datar namun penuh makna. “Aku tidak berniat berpaling darimu.”
Nadhira menghela napas panjang, lalu melanjutkan, suaranya kali ini lebih lembut, seperti nyanyian duka yang mendamaikan.
“Kalau begitu, segera beri aku anak, agar aku bisa fokus padamu dan juga anak kita. Aku akan membesarkan anak kita dengan setulus hatiku meskipun bukan terlahir dari rahimku.”
Bayu menutup matanya, menarik napas dalam-dalam seakan mencoba menemukan jawaban di balik gelapnya kelopak matanya.
Napasnya berat, seperti seorang pendaki yang terhenti di tengah jalur terjal, tak tahu harus mendaki lebih jauh atau kembali turun.
“Baiklah. Nanti malam aku akan pulang ke rumah Hanna.” Bayu menatap Nadhira dengan sorot mata yang tak bisa sepenuhnya disembunyikan—kombinasi antara keraguan dan kepasrahan.
“Kamu tidak apa-apa kalau aku tinggal sendiri?” tanyanya, suaranya serak namun tetap terdengar lembut, seperti bisikan angin di sela dedaunan.
Nadhira terkekeh pelan, tawanya seperti denting gelas kristal yang memantul di udara.
“Bukankah kamu sering meninggalkanku, hm? Kamu sering pergi ke luar kota dan negeri, Sayang,” ucapnya sambil menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke headboard, seolah mencoba membuat dirinya nyaman di tengah ketidaknyamanan.
Bayu mengangguk, seulas senyum tipis menghiasi wajahnya. “Benar juga.”
Dengan gerakan yang santai, ia membungkuk untuk mencium bibir Nadhira, sebuah ciuman yang terasa cepat namun tetap menyimpan kehangatan.
Lalu ia bangkit dari tempat tidur, gerakannya penuh percaya diri. “Aku mandi duluan. Ada meeting jam sembilan nanti. Tolong siapkan pakaian untukku,” ucapnya sebelum melangkah menuju kamar mandi, pintu kayu itu menutup dengan suara lembut.
Nadhira menghela napas panjang, menatap pintu kamar mandi yang kini memisahkan mereka. Setelah beberapa detik dalam keheningan, ia mengambil ponselnya yang tergeletak di meja.
Tangannya bergerak cepat, jemarinya menari di layar ponsel, menghapus pesan-pesan yang tidak ingin terlihat oleh suaminya.
“Untung saja Mas Bayu tidak mengecek ponselku,” gumamnya dengan nada lega yang bercampur waspada.
Ia kemudian melangkah ke walk-in closet, ruangan kecil yang penuh dengan pakaian yang tertata rapi, seperti barisan prajurit yang siap diperintah.
Tangannya memilih setelan jas untuk Bayu, memastikan semuanya sempurna seperti biasanya.
Namun, tugas itu tidak menghentikan pikirannya yang terus berputar. Dengan cepat, ia mengambil ponselnya kembali dan menekan nomor Hanna. Suara Hanna terdengar di ujung sana, lembut namun jelas menyiratkan kecanggungan.
“Hanna. Kenapa kamu tidak mengajak Mas Bayu agar tidur di rumahmu?” Nada suara Nadhira berubah, ketenangan semu yang ia tunjukkan di depan Bayu kini lenyap, berganti dengan ketajaman yang hampir seperti bilah pisau.
“Maaf, Mbak. Pak Bayu sendiri yang menolak untuk menginap di rumah saya,” kilah Hanna dengan nada yang terdengar hati-hati, seperti berjalan di atas tali yang rapuh.
Nadhira menggerutu pelan, matanya memandang kosong ke arah pakaian Bayu yang telah ia pilih. “Pokoknya aku tidak mau. Malam ini kalian harus tidur bersama. Kalau Mas Bayu tidak mau, paksa saja.”
Nada suaranya berubah lebih dingin, dan senyum sinis muncul di wajahnya, seperti bulan sabit yang tajam.
“Pria itu seperti kucing yang melihat ikan, Hanna. Tidak akan peduli siapa yang sedang menggodanya. Akan dia sentuh jika wanita itu menggoda. Jadi, kamu harus menjadi penggoda handal agar Mas Bayu menyentuhmu. Paham?!”
Di seberang sana, Hanna terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela napas panjang, pasrah dengan perintah yang diberikan.
“Paham, Mbak. Saya akan menggodanya seperti yang Mbak minta,” jawabnya dengan suara yang terdengar lelah namun tanpa daya untuk menolak.
Nadhira menutup panggilan itu dengan gerakan cepat, seperti menyingkirkan sesuatu yang tak lagi ia butuhkan.
Baru saja ia meletakkan ponselnya, pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Bayu yang kini telah selesai mandi. Uap air masih mengikutinya, seperti selubung tipis yang memeluk tubuhnya.
Nadhira segera mengembalikan senyum lembut ke wajahnya, menyembunyikan semuanya di balik topeng kesempurnaan yang telah ia kenakan begitu lama.
“Pakaianmu sudah siap, Mas,” ucapnya manis, suaranya kembali hangat seperti mentari pagi.
Bayu hanya mengangguk, melirik sekilas ke arah Nadhira, sebelum melangkah menuju pakaiannya.
**
Malam itu, embusan angin membawa serta aroma basah aspal kota, menambahkan sentuhan dingin pada hati Bayu yang sedang diselimuti perasaan bercampur aduk.
Ia memutuskan untuk memenuhi janjinya kepada Nadhira—malam ini ia akan pulang ke rumah Hanna, meski ada dorongan samar di dalam dirinya yang ingin menunda waktu itu.
Namun, langkahnya terhenti ketika dering ponselnya memecah keheningan malam. Nama Arkan berkedip di layar. Dengan helaan napas yang berat, ia mengangkat panggilan itu.
“Ada apa, Arkan?” tanyanya, suaranya datar namun tetap mengandung nada perhatian.
“Kemarilah! Aku sedang di bar dengan Zayn,” seru Arkan dari seberang, suaranya lantang seperti suara petir yang tiba-tiba memecah langit. Bayu menjauhkan ponselnya dari telinga, bibirnya mengulas senyum kecil yang lelah.
“Sorry, untuk malam ini libur dulu. Ada yang harus aku tuntaskan,” jawabnya sambil menggerakkan tangan ke rambutnya, mencoba mengusir sedikit ketegangan.
“Ah, tidak seru! Urusan apa, sih? Kerjaan? Udah malem, Bay. Kerja mulu,” balas Arkan, suaranya mulai terdengar seperti seorang anak kecil yang merajuk karena mainannya diambil.
“Bukan,” sahut Bayu sambil melirik arlojinya. “Have fun saja. Jangan ganggu aku kalau sudah mabuk parah. Telepon taksi online kalau tidak sanggup nyetir sendiri.”
Dengan sekali geser jari, panggilan itu diakhiri. Bayu mendesah pelan, membiarkan sunyi malam kembali merayap masuk ke dalam dunianya.
Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya dan kembali melangkahkan kaki menuju mobil. Namun, di sisi lain malam itu, Arkan yang masih berada di bar hanya bisa berdecak kesal, tatapannya yang sedikit kabur oleh alkohol memandang layar ponselnya.
“Basi banget, Bay,” gumamnya sambil kembali melangkah ke pintu bar, dengan niat untuk tenggelam lebih jauh dalam kebisingan dan musik yang memekakkan telinga.
Namun, tepat ketika ia hendak memasuki bar, langkahnya terhenti. Dunia di sekelilingnya yang penuh warna neon mendadak terasa hening, dan pandangannya yang buram oleh alkohol mendadak tajam.
Di seberang jalan, berdiri seseorang yang mengenakan gaun hitam sederhana, rambutnya tergerai lembut, memantulkan cahaya lampu jalan seperti sutra yang disepuh malam.
Arkan memicingkan mata, mencoba memastikan apakah penglihatannya tidak menipunya. “Apa itu... Nadhira?”