Iris belum bisa tertidur. Mungkin karena ia sudah tidur sangat lama dan sekarang matanya sangat sulit untuk terpejam. Ponselnya yang berada di atas nakas samping tempat tidur berbunyi menandakan panggilan masuk. Ia mengulurkan tangannya yang mulai memiliki tenaga dan melihat nomor James yang tertera di sana membuat Iris mengangkatnya dengan sangat cepat. Ia ingin tahu perkembangan apa yang terjadi di sana. “Hai, Iris. Aku harap tidak mengganggumu.” “Tidak. Sama sekali tidak.” “Aku ingin mengucapkan terima kasih untuk buah tangannya. Padahal kita hanya bertemu sekali dan kau cukup baik.” Iris tidak bergerak dengan tubuh tegang ketika berbisik, “.... Apa?” “Katakan juga pada suamimu aku mengucapkan terima kasih. Aku senang dengan buah tangan yang kalian berdua kirimkan.” Iris bergera

