Racun Zombie

248 Words
Kulirik ke atas balkon dan itu membuatku semakin ingin muntah. Ferguso sedang menikmati kekasihnya. Menikmati dalam arti sesungguhnya yaitu menyantapnya seperti seekor singa yang memakan rusa tua. Gigi Ferguso tampak kuat tidak seperti gigi-gigi para mumi yang bangkit dari dalam tanah. Kurasa itu karena dia baru saja berubah, sedangkan yang lain mungkin sudah ratusan tahun. Sesekali ia berhenti mengunyah dan memandangiku dengan liur yang menetes deras. Baiklah, aku tahu artinya itu, kurasa daging pria muda sepertiku akan terasa lebih lezat daripada perawan tua kurus kering. Aku bergidik membayangkan dia mengoyak kulitku seperti yang dia lakukan pada Nona Smith. “Rrrhhaaaarrr!” Tiba-tiba dia bangkit dan melompat dari balkon. “Cetarrr!” Refleks aku memecutkan ikat pinggangku ke b****g kuda itu. Dan kami melesat dengan sedikit terseok-seok. Kabar buruknya ternyata Ferguso juga cukup gesit seperti Nona Smith meskipun perutnya yang seperti perempuan hamil tujuh bulan terus bergoyang-goyang. Jadi kesimpulanku adalah, zombie yang baru berubah lebih berbahaya daripada mumi yang baru keluar dari kubur. Entah di mana Nalo, aku hampir tidak mendengar apapun kecuali kegaduhan kuda yang kutunggangi. Aku tidak bisa membayangkan jika Nalo menjadi Zombie, oh tidak … itu pasti akan sangat mengerikan. Masih berwujud manusia saja dia sudah sangat mengerikan apalagi sebagai zombie. Dan di tikungan yang tajam kuda yang kutunggangi tidak bisa menikung dengan sempurna karena sebagian tubuhnya memang sudah gepeng mengering. Kuda itu terpeleset dan kami tersungkur di tanah. Debu beterbangan mengaburkan pemandangan. Kulihat samar-samar kaki bagian depan terlepas dari tubuhnya, mengucurkan cairan berwarna hitam pekat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD