Ya ampun, aku merindukan sentuhan wanita. Ini sudah sangat lama sejak terakhir kali sebelum aku masuk rumah sakit. Mataku masih terkunci pada pasangan itu ketika tiba-tiba seorang mumi noni Belanda muncul di antara mereka, meraung ke arah Nola.
“Joe …!” teriak Nola menyebut nama kekasihnya.
Tangan joe menarik sebuah belati dari ikat pinggangnya, menancapkannya tepat di d**a mumi noni itu dan merobeknya hingga ke perut.
Kepala Noni Belanda itu tertunduk. Jelas kulihat dari matanya yang cekung kesedihan yang sangat dalam memandangi gaun dan korset yang penuh renda itu terkoyak, mengucurkan cairan hitam. Kepalanya menengadah ke atas, melolong seperti serigala yang terluka.
Suaranya membuat bulu romaku meremang. Kurasa itu bukan pertanda baik. Nola dan Joe mundur, mereka masih belum mengerti bahaya apa di hadapan mereka. Seharusnya mereka lari, bukannya menonton. Ya ampun, bodoh sekali pria itu.
Aku bisa melihat air mata mengucur dari bola mata lebar sang noni. Beberapa detik kemudian kesedihan itu bertransformasi menjadi amarah yang berkobar di matanya yang biru terang. Jari-jarinya yang kurus kering merobek sisa korset yang hampir putus itu.
Dan … mumi perempuan yang koyak bagian depan pakaiannya sangat tidak menarik. Semuanya kering dan keriput, tak ada lemak sama sekali. Seperti melihat batang kayu kering. Awalnya aku berharap itu akan menjadi sebuah pemandangan yang menarik, sial … sia-sia aku menunggu di sini