Zenoy

1009 Words
POV Nalo Adam akhirnya muncul, tampak puas dan tersiksa pada saat yang sama. Haitam menolak tawaranku, dan aku sedang memikirkan cara untuk menyelamatkan Nola. Dengan Adam yang ramping dan muram di sisiku beserta lima anak geng lumpur kami berkeliaran di pusat perbelanjaan. Aku mengantar Nola untuk melihat gaun pengantinnya. Adikku yang keras kepala itu bersikeras untuk pergi sendiri tapi aku khawatir akan ada orang jahat yang akan menyakitinya. Nalo memiliki banyak kekasih, bisa saja salah satu dari mereka ingin mencelakakan adikku. Kejadian yang terakhir, dua perempuan hampir saling bunuh karena memperebutkannya. Kuakui Haitam betul sangat tampan tapi dia tidak punya otak dan berengsek. Di seberang sana aku sudah melihat kelompok kecil geng aspal yang angkuh dengan jaket kulit hitam mereka. Yang paling mencolok adalah Zenoy dengan dandanan mewah dan celana jeans super ketat. Dia adalah pembalap wanita. Gadis itu menghampiriku yang berdiri di depan butik. "Kau harus membiarkan aku menawar untuknya, gaun-gaun di sini terlalu mahal," ucapnya santai seolah-olah kami berteman baik. Dia memberiku pandangan sinis saat sekelebat siluet adikku terlihat di balik pintu kaca. Nola akhirnya keluar, aku benci menunggu wanita berbelanja. "Kau harus cepat pulang, ada banyak anak aspal berkeliaran di sini." "Sepertinya kau yang punya masalah dengan mereka, bukan aku." "Nola!" Aku menggeram. Ia mengangkat bahunya; tanda tidak peduli dengan peringatanku. Ia menuju sebuah stand boba milk. Aku sudah memperingatkannya. Jika dia bersikeras menempatkan dirinya dalam bahaya atau dalam kesenangan yang bisa merusak pernikahannya, paling tidak, itu berita baik. Meskipun tidak diragukan lagi ayahku akan menyalahkanku untuk itu juga. Dalam sorot mata Zenoy, aku bisa melihat kemarahan besar saat melihat adikku. Kurasa dia sedang merencanakan sesuatu. Dua anak buahku mengawal Nola di kanan kirinya. Nola terus-terusan menggerutu tidak ingin dikawal. Adam hampir menerjang mereka tapi aku mencegahnya, "Tidak ada perkelahian di tempat umum hari ini, Adam. Damailah! Terlalu banyak saksi. Polisi sudah memperingatkan, jika kita kedapatan berkelahi lagi maka tidak akan ada lagi geng lumpur." Zenoy tertawa, "Kau berbicara tentang perdamaian?" Tiba-tiba tawanya terhenti. "Aku benci itu seperti aku membenci lumpur dan kalian. Angkat tinjumu, bodoh!" Rony, pria yang ada di belakang Zenoy memberinya isyarat untuk mundur. Wajahnya yang arogan tidak berperasaan. Zenoy terkenal mahir dengan ilmu beladiri. Dia adalah seorang petarung yang dilatih guru terbaik. Tubuhnya yang mungil dan kurus lebih cepat dariku yang bongsor. Bahkan dengan seluruh konsentrasiku, sulit untuk menangkis gerakannya yang secepat kedipan mata. Tinjunya menerjang, aku menangkisnya, hanya sedikit meleset. Pukulannya mengenai hidungku. Sikuku mengenai mulutnya. Serangan balikku ditepisnya dengan santai. Aku terdesak, dan semua perhatianku beralih pada tubuhnya. Matanya, keanggunan gerakannya yang mematikan. Tapi aku juga menyadari suara baku pukul lain ketika orang-orangku dan orang-orang Zenoy ikut bergabung. Keributan ini dengan cepat menjadi perkelahian jalanan. Aku mendengar lebih banyak teriakan dan orang-orang berseragam satpam berlarian ke arah kami yang masih saling jotos. Aku dan Zenoy berhenti, terengah, dan melotot. Ada dendam di antara kami. Aku membuat ketua gengnya hampir lumpuh. Ia menyeka darah di sudut bibirnya. Darah meleleh dari hidungku, kuusap dengan ibu jari. Orang-orangku sudah menarik diri ke tempat yang aman. Geng aspal terpaksa mundur. Rony menepuk-nepuk bahu Zenoy dan berjalan pergi. Aku menarik lengan Adam yang hampir mengikuti mereka. "Tenang, bisikku padanya. Ini bukan waktunya melampiaskan amarah." Aku mengguncang bahunya. Ia mengangguk, tampak ragu-ragu menatap para satpam dengan tatapan tajam yang mengurai kerumunan, mereka semua tidak suka pada kami; geng lumpur dan geng aspal. Salah seorang satpam yang paling tua bertanya kepadaku, "Siapa yang memulai perkelahian ini?" Kata-katanya yang netral terdengar menuduh. Aku menjelaskan bahwa itu adalah Geng Aspal. Aku laki-laki dan tidak mengkin menyerang perempuan lebih dulu. Satpam itu cemberut padaku. Nola terlihat berlari dari toko sepatu yang diikuti dua anak buahku. "Apa yang terjadi di sini?" Ia melihat sisa-sisa kekacauan. "Oh tidak, biar kutebak. Bentrokan antara dua geng i***t. Nah, kau terluka." "Aku tidak terluka. Terimakasih atas perhatianmu." Adam terkekeh. "Lalu hidungmu yang merah itu apa?" Ia menaikkan alisnya. "Baru saja aku meninggalkanmu, kau sudah membuat masalah. Kau ingin masuk bui lagi?" "Itu lebih baik daripada adikku menikah dengan pria berengsek itu." Adam tersenyum jahil, "Nola, kau melewatkan hal menarik. Kau tahu siapa yang baru membuat hidungnya berdarah? Seorang gadis mungil." "Hah, memangnya siapa dia? Aku penasaran." Aku menendang pantatnya. "Katakan! Dan kau akan menyesal." "Ok, ok. Jangan marah. Aku berjanji akan menunjukkannya padamu kapan-kapan Nola. Tidak di depan kakakmu yang pemarah." Akhirnya Adam menutup mulutnya. "Ayolah Nola, hentikah semua omong kosong ini, pergilah bersamaku, sejauh mungkin. Aku akan merasa sangat bersalah jika pernikahan ini terjadi. " "Tidak perlu merasa bersalah, aku tahu betul dengan siapa aku harus menikah. Matematikaku lebih baik darimu." Ia melipat lengannya di d**a. "Lebih baik menikahi pria berengsek yang t***l itu daripada politisi muda yang sok pintar." "Menikah tanpa cinta? Kau yakin? Aku bisa membantumu melarikan diri." Aku mencengkeram bahunya. "Pergilah ke luar negeri, kau masih muda dan temukan lah cinta sejatimu." "Tapi tidak. Biarkan saja. Aku punya rencanaku sendiri, dan sudah kubilang beberapa kali, bukan. Santailah sedikit, kau terlihat tegang sekali" Ia mengangkat bahu dan melirik jam tangannya. "Gadis keras kepala." Nadaku hangat dan mengejek. "Kau yang mengajariku keras kepala." Ia berjalan cepat, berbaur dengan kerumunan pejalan kaki. Dia belum mau mengatakan apa rencananya dengan Haitam dan terlihat tanpa beban menikahi pria berengsek itu. Adikku memang sedikit aneh, kurasa ada yang salah dengan jalan-jalan yang ada di pikirannya. Kurasa dia tersesat. Bahkan aku rela mati jika diperlukan tapi dia sangat, amat menikmati semua ini. Bisa-bisanya dia dengan penuh semangat merancang gaunnya sendiri dan segala macam persiapan pesta untuk pernikahannya. Aku tidak pernah bisa menebak jalan pikirannya. Aku masih menimbang-nimbang rencana mana yang akan kujalankan lebih dulu. Aku masih punya dua opsi; pertama, menculik Nola dan membawanya ke tempat yang jauh dari jangakauan orangtuaku atau nenek Haitam. Yang kedua, mengajak nenek Haitam bernegosiasi. Tapi cara yang kedua ini terasa lebih sulit. Siapa yang tidak kenal dia. Aku tak akan menang melawannya. Haitam sendiri sudah seperti boneka. Pria t***l itu, setahuku juga tidak ingin menikah tapi bahkan sekarang dia di kursi roda tidak berdaya. Hah, aku tidak menyangka bisa seperti ini jadi, kacau. Zenoy, kurasa dia bisa diajak kompromi. Aku harus menemuinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD