Bab 2. Tidak Jadi Dipecat

1020 Words
"Apa!? Saya dipecat, Pak? Emang apa kesalahan saya?" "Maaf, Alina. Saya sendiri nggak tahu apa alasan Pak Arsha memecat kamu, padahal sebelumnya dia sangat memuji hasil interview dan tes kompetensi kamu juga pengalaman kerja kamu." "Oh jadi gara-gara dia, Pak!" Bagian HRD hanya mengangguk mengiakan ucapan Alina. Namun, bukannya menerima keputusan itu, Alina malah berlari. Mengejar sang CEO yang sedang menuju lift pribadinya. Sesaat sebelum pintu lift tertutup, Alina menahan dengan tangannya. "Tunggu, Pak! Jelaskan apa alasan Anda memecat saya!" Arsha pun kaget saat melihat keberanian Alina. Pria itu tersenyum kecil. Menatap heran saat Alina masuk ke dalam lift. Alina terus menatap Arsh meminta penjelasan tentang pemecatan sepihak yang jelas merugikannya. Sedang lelaki tinggi tegap itu tetap bersikap dingin dan cuek dengan keberadaan Alina. "Nggak mau menjelaskan kenapa Bapak tiba-tiba memberhentikan saya dari kontrak kerja?"Alina kembali bersuara dan kali ini kedua tangannya sambil bersedakap. "Saya pimpinan di sini, jadi kuasa saya untuk mempekerjakan atau memecat orang yang berkompeten atau hanya pembuat onar,"jawab Arsha tak kalah tajam memandang Alina. "Cih, pembuat onar? Bahkan kita baru bertemu sekali ini, bagaimana Bapak bisa menuduh saya pembuat onar?"Alina geram dengan alasan yang diberikan Arsha, sungguh tidak masuk di akalnya. "Berani juga gadis bar-bar ini. Kalau dia tahu siapa saya apa dia masih seberani inip?"batin Arsha. "Kenapa diam?"Alina tetap kekeuh dengan tuntutan jawaban dari Arsha. "Yakin kamu mau tahu alasan saya memecatmu?" Alina mengangguk mantap. Sekarang giliran Arsha yang bersedekap dan menatap Alina. "Kamu merusak mobil saya!"ucap Arsha pelan, tapi penuh penekanan. "Saya? Merusak mobil Bapak?"tanya Alina merasa heran. Pikiran segera bekerja dengan cepat, mengingat kejadian yang berhubungan dengan mobil. "Bapak yang—" "Iya? Sudah ingat?" "Jadi begini kelakuan seorang CEO. Bawa mobil ugal-ugalan, hampir mencelakai pengguna jalan lain. Ah, iya… Bapak juga menabrak motor saya! Lecet itu motor saya!"cecar Alina begitu teringat kejadian tadi pagi yang membuatnya terlambat sampai di perusahaan ini. "Kaca belakang mobil saya pecah, pintu depan lecet, kap mobil saya juga lecet, semua karena tingkah bar-bar kamu! Anggap saja kita impas,"sahut Arsha sinis. "Bersyukur saya dipecat dari perusahaan ini. Nggak sudi juga saya bekerja dengan pimpinan yang arogan, nggak punya hati, ugal-ugalan!"balas Alina sambil melotot pada Arsha lalu gegas keluar dari lift begitu pintunya terbuka. Beruntung lift khusus jajaran petinggi perusahaan itu berhenti di lantai dasar, hingga tidak merepotkan Alina haru berganti lift untuk sampai lantai yang dia tuju. "Gila kali kalau dia sampai minta ganti rugi, duit dari mana sebanyak itu?"gerutu Alina mempercepat langkahnya. *** "Maaf Pak, di dalam ada Bu Hana, sudah saya beri tahu kalau Bapak sedang metting dan tidak mau diganggu, tapi beliau tetap mau menunggu di ruang Bapak."Dina–sekretaris Arsha memberi tahu tentang keberadaan wanita yang sebenarnya sangat dihindarinya. "Bram, kamu cari gadis tadi sampai ketemu dan bawa ke ruangan papi, saya butuh dia,"pinta Arsha pada asistennya. "Gadis yang tadi satu lift sama kita, Pak?"tanya Bram memastikan. "Iya, segera cari sebelum Hana tahu saya sudah selesai metting." "Baik Pak, saya permisi."Bram gegas mencari keberadaan Alina. "Din, kamu tolong ajarkan semua pekerjaan kamu pada orang yang nanti di bawa Bram. Pastikan dia bisa handel semuanya sebelum kamu berhenti kerja. Sementara saya pakai ruangan papi, ingat jangan sampai Hana tahu keberadaan saya!" "Baik Pak." Sementara itu, Bram yang diminta mencari Alina sampai harus berlarian dari dalam gedung menuju parkiran. "Pak yang jaga di depan siapa? Tolong suruh hentikan pegawai baru yang akan keluar, ini perintah langsung dari Pak Arsha."Bram menghubungi kepala keamanan perusahaan untuk membantu mencegah Alina pergi. *** "Bapak itu sebenarnya maunya apa sih? Tadi pecat saya, sekarang maksa saya untuk kembali ke sini,"omel Alina begitu berhadapan dengan Arsha. Di luar tadi, Alina sempat menolak waktu Bram memintanya kembali ke dalam karena dipanggil Arsha. Gadis yang menguasai ilmu bela diri karate itu sebenarnya sudah tidak mau berurusan dengan Arsha, tapi karena sang CEO menjanjikan gaji cukup besar dan sepeda motor baru sesuai keinginan Alina, jelas kesempatan bagus yang sayang untuk dilewatkan. "Sudah jangan berisik, kamu butuh pekerjaan dan saya butuh kamu untuk bekerjasama." "Tapi Bapak itu plin-plan, bagaimana bisa saya kerja pada pimpinan yang plin-plan begini."Alina masih kesal dengan Arsha karena sikap semaunya sendiri. "Kita lupakan insiden tadi pagi. Mulai hari ini kamu jadi sekretaris saya menggantikan Dina, nanti dia yang akan mengajarkan apa saja tugas-tugas kamu." "Sekretaris? Harus pakai rok mini dan baju slim body gitu? Nggak… nggak, saya nggak mau!"tolak Alina sama menggeleng kuat. Membayangkan saja ngeri rasanya kalau setiap hari harus memakai out fit seperti itu untuk bekerja. Belum dengan hig hils yang pasti akan menyakiti kakinya. "Lalu kamu mau pakai baju yang bagaimana?" Arsha merasa heran dengan gadis di hadapannya. Biasanya sekretaris akan berusaha tampil semenarik mungkin karena selalu berada dekat dengan orang nomor satu di perusahaan, mendampingi saat bertemu klien atau rekan bisnis. Namun, Alina justru menolak memakai pakaian yang menampilkan lekuk tubuhnya. "Baju yang saya pakai saat ini saya rasa sopan dan tidak kalah dengan baju-baju slim fit yang biasa dikenakan sekretaris Bapak."Dengan penuh rasa percaya diri Alina memutar tubuhnya seperti seorang model sedang memamerkan penampilannya di hadapan Arsha. "Ya… ya… ya, senyaman kamu saja, yang penting tidak membuat saya dan perusahaan malu karena kamu salah out fit saat bekerja."Demi tugas khusus yang akan diberikan pada Alina, akhirnya Arsha memilih menurunkan egonya. Bram menahan senyum melihat Arsha garuk-garuk kepala menghadapi calon sekretaris barunya. Selama ini tidak ada yang berani bersikap seperti Alina saat berhadapan dengan Arsha, dan kali ini bosnya dibuat pusing dengan sikap Alina. Suara ketukan pintu membuat ketiga orang dalam ruangan komisaris itu menoleh bersamaan. Bram membuka pintu, kemudian Dina masuk ke dalam. "Maaf Pak, itu Bu Hana marah-marah setelah dari ruang metting dan ternyata kosong tidak ada orang,"ujar Dina melaporkan apa yang terjadi dengan Hana. "Selalu saja bikin masalah,"gerutu Arsha dengan wajah kesalnya. "Kamu ikuti Dina, dan tolong sebisa mungkin usir perempuan yang bernama Hana, saya tidak mau tahu bagaimana caranya supaya dia tidak lagi datang dan mengganggu saya!"perintah Arsha tegas dan cukup jelas pada Alina. "Memang Hana itu siapa?"tanya Alina penasaran. "Nggak usah banyak tanya, lekas kerjakan tugas pertama kamu hari ini! Atau mau betul-betul saya pecat!" "Iya-iya, dasar pemaksa!"omel Alina sambil mengekor langkah Dina keluar dari ruangan. "Saya dengar apa yang kamu katakan!" Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD