Alina yang berjalan di samping Arsha cukup mencuri perhatian saat keduanya memasuki hall tempat gala diner diselenggarakan. Banyak yang mengira Arsha membawa pasangan resminya, karena baru kali ini CEO One Diamond itu menghadiri acara resmi dan berskala nasional dengan seorang wanita, biasa Bram yang selalu mendampingi Arsha atau kalau tidak lelaki dengan perawakan tinggi tegap itu memilih datang sendiri.
Acara berjalan lancar, Arsha juga tidak mau menjelaskan siapa sebenarnya Alina, biarlah orang dengan asumsinya masing-masing, toh Alina juga terlihat cuek dengan pemikiran tentang kebersamaan mereka malam ini.
"Sial, Arsha ternyata mengajak wanita bar-bar itu!"Rupanya Hana juga datang di acara yang sama, dan emosinya tersulut saat melihat Arsha menggandeng tangan Alina untuk berkeliling menyapa koleganya.
"Al saya ambil minum sebentar, kamu tunggu di sinu saja."Arsha beranjak dari tempatnya.
Belum sampai Arsha di meja khusus hidangan, seorang waitres menawarkan minuman dan tanpa mau menyiakan kesempatan akhirnya Arsha mengambil dua gelas minuman ringan.
Satu gelas diberikan pada Alina, mereka menikmati rangkaian acara sambil menyesap minuman yang ada, tak berapa lama Arsha merasakan panas pada tubuhnya.
Merasa ada yang tidak beres dengan dirinya, Arsha mengajak Alina pulang, padahal Alina sedang menikmati lagu favoritnya, sampai akhirnya Hana mendekati keduanya..
"Sha, kamu datang juga,"sapa Hana basa-basi.
Arsha hanya menatap sekilas pada wanita yang malam ini berpenampilan sexy. AIina meyapa Hana dengan mengulas senyum dan sedikit mengangguk, tapi justru mendapatkan tatapan sinis juga cibiran bibir.
"Sabar Lin, bukan tempatnya meladeni wanita ini,"batin Alina berusaha menahan emosinya.
Arsha menarik tangan Alina untuk melanjutkan langkah mereka yang terhenti karena Hana.
"Kalian mau kemana? Acara belum selesai lo."Hana kembali menghentikan keduanya, Arsha semakin gelisah karena badannya bertambah panas.
"Saya ada keperluan,"jawab Arsha singkat.
"Kamu pulang sama aku aja Sha."Hana mendekat dan melepaskan pegangan tangan Arsha dari tangan Alina.
"Kamu bisa pulang naik taksi, ini buat ongkos taksi!"Hana menyerahkan dua lembar uang nominal 100 ribu, lalu menggandeng Arsha menuju pintu keluar.
Arsha berusaha menolak ajakan Hana dan kembali menarik tangan Alina, tapi di depan mereka, kedua orang tua Arsha justru berjalan ke arah mereka. Hana tersenyum penuh kemenangan, karena dia tahu kalau lelaki di sampingnya tidak akan berani menolaknya.
"Sial, ada ayah sama bunda lagi!"umpat batin Arsha.
Saat ini keringat sudah semakin membanjir di sekujur tubuhnya. Badannya juga semakin terasa panas. Sentuhan Hana tambah membuatnya blingsatan.
"Sha, Han, kalian mau kemana? Ayah sama bunda baru datang lo."Indah menyapa putra satu-satunya.
"Mau pulang Bund, tiba-tiba nggak enak badan,"jawab Arsha menyalami kedua orang tuanya bergantian. Begitu juga Hana melakukan hal yang sama.
"Kamu sakit?"Indah memegang kening Arsha.
"Bund—"Arsha berusaha sedikit menghinda dari perlakuan ibunya. Jiwa keibuan Indah bekerja tanpa mengenal tempat dan situasi. Bagi Indah, mau sesukses apa, Arsha tetaplah bayi kecilnya.
"Han, tolong antar Arsha pulang ya. Kamu temani sampai keadaannya membaik,"pinta Heru—ayah Arsha pada Hana.
"Om tenang saja, aku akan merawat Arsha dengan baik."Hana benar-benar merasa di atas angin saat mendapat dukungan dari orang tua Arsha.
"Nggak usah Yah, aku bisa sendiri. Han, kamu masuk saja bareng bunda sama ayah. Lagian aku ke sini sama sekretarisku."Arsha berusaha menolak saran dan permintaan orang tuanya yang jelas-jelas modus untuk membuatnya lebih dekat dengan Hana.
"Ayah tidak melihat Dina,"sahut Heru sambil celingukan mencari keberadaan wanita yang tiga tahun terakhir bekerja untuk Arsha.
"Dina sudah berhenti Yah. Alina yang menggantikannya."Arsha meoleh ke belakang, mencari keberadaan gadis yang seharusnya selalu ada di sekitarnya.
Arsha melambaikan tangannya memanggil Alina yang berdiri tak jauh dari keberadaan Arsh dan kedua orang tuanya.
"Selamat malam Pak, Bu,"sapa Alina sambil sedikit membungkukan badannya.
Indah mengulas senyum sambil memgusap lembut lenga Alina, sedang Heru hanya mengangguk sebagai balasan salam.
"Ya sudah kalau ada sekretarismu. Tolong temani Arsha pulang ya. Hana ayo kamu temani kami saja."Indah menggandeng lengan Hana dan mengajaknya kembali masuk. Meninggalkan Arsha juga Alina.
"Tapi Te—"Hana seakan tidak rela kehilangan kesempatan berduaan dengan Arsha.
"Kamu antar Arsha sampai apartemennya dan pastikan keadaannya baik-baik saja,"pinta Heru pada Alina, sebelum menyusul sang istri.
"In sya Allah saya jaga amanah Bapak,"jawab Alina mengangguk dengan seulas senyuman.
***
Alina memapah tubuh tegap Arsha masuk ke unit apartemennya. CEO One Diamond itu mati-matian menahan hasratnya yang semakin bergejolak setiap kulitnya bersentuhan langsung dengan mulusnya kulit Alina.
"Huh! Berat banget sih, Pak?!"Akhirnya Alina bisa membawa Arsha sampai kamar dan mendudukkan di tepi ranjang.
"Udah Bapak istirahat aja, saya ambilkan obat sama air minum dulu."
Arsha memperhatikan Alina yang keluar kamar sambil menelan air liurny beberapa kali. Tubuh gadis bar-bar itu tiba-tiba jadi terlihat sexy, menarik dan semakin membangkitkan gairahnya.
"Sial, minuman apa yang tadi aku minum? Kenapa Alina sepertinya biasa saja tidak merasakan seperti yang aku rasakan,"gerutu Arsha sambil membuka bajunya hingga menyisakan celana panjangnya.
"Lihat saja nanti kalau ketahuan siapa yang menaruh obat perangsang dalam minumku nggak akan bakal selamat dia."Arsha masih ngomel sendiri.
"Astaqfirullohalazim! Pak Arsha kenapa nggak pakai baju?"pekik Alina kaget mendapati atasnya dalam keadaan telanjang d**a.
Tidak dipungkiri Alina cukup kagum dengan badan terlatih Arsha, d**a bidang, perut six pack, sepertinya hal itu yang didamba setiap wanita dari lelaki. Jantung Alina berdegup semakin cepat, kedua matanya tak lepas dari pemandangan indah di depannya.
"Kamu terpesona ya?"Tanpa Alina sadari, Arsha sudah berdiri di hadapannya dan perlahan memangkas jarak di antara mereka.
"Ba–pak mau apa?"Alina kembali dibuat kaget dengan keberadaan Arsha yang begitu dekat.
"Kamu cantik sekali malam ini, Al. Bantu aku menuntaskan semuanya."Arsha membuat Alina terpojok ke tembok dan tidak bisa menghidar lagi.
Tatapan Arsha sudah sangat berkabut gairah, bibir merah sedikit basah milik Alina terlihat semakin menggoda untuk dinikmati. Tanpa meminta persetujuan pemiliknya, Arsha dengan rakus meraup bibir Alina. Awalnya hanya lumatan lama-lama arsha melakukannya dengan kasar. Alina yang mendapat serangan mendadak cukup terkejut. Dipukulnya d**a atsannya itu berulang kali supaya menghentikan perbuatannya.
Arsha yang sudah memuncak bahkan tak menggubris pukulan Alina, justru memperdalam lumatanya begitu mendapat akses masuk begitu Alina mengerangng kesakitan saat tangan Arsha meremas kasar salah satu squisynya.
Alina berusaha sekuat tenaga mendorong Arsah, tapi lelaki yang sedang dikuasi hasrat tak terbendung itu menyeret Akina dan membanting tubuh sekretarisnya itu diatas tempat tidru lalu menindihnya.
“Malam ini bantu aku menuntaskan semuanya, Al. Aku sungguh tersiksa,” ucap Arsha sebelum kembali melakukan aksinya pada Alina.
Tanpa ampun Arsha menjamah bagian-bagian tubuh Alina dan berusaha membangkitkan hasrat sekretarisnya itu. Alina terus memberontak sebisa mungkin. Kekuatan Arsha seakan tak jadi penghalang untuk dirinya supaya bisa lepas dari tindakan pelecehan yang dilakukan Arsha. Sampai akhirnya terdengar pekik kesakitan menggema di kamar dengan pencahayaan terang benderang itu.
Bersambung.