Museum Lagi

1411 Words
Saat ini aku, Arfan, dan Nadya sudah sampai di Museum. Setelah masuk pendaftaran dan menitipkan beberapa barang kami di penitipan barang, kami bertiga pun bergegas pergi ke tempat tujuan dari bagian Museum untuk memenuhi tugas sejarah Indonesia. Selama berada di sana, seperti biasa aku selalu lebih banyak diam. Hanya Arfan dan Nadya yang cenderung lebih banyak bicara. Entahlah, saat itu aku hanya merasa cukup malu untuk menonjolkan diri di hadapan Arfan meskipun ada Nadya. Lama mengerjakan tugas, akhirnya waktu yang aku nantikan tiba, yakni pulang. Namun karena memang aku merasa penasaran pada suatu tempat, akhirnya dengan membisik aku bicara sesuatu kepada Nadya tanpa berniat memberitahu Arfan. "Nad, kita jangan dulu pulang ya." Bisikku tepat di telinga Nadya. Saat itu Arfan sedang sibuk dengan ponselnya, sehingga ia tidak menyadari apa yang sedang aku dan Nadya lakukan. Nadya menolehku, heran. "Kenapa?" Tanya Nadya dengan suara sedikit keras, membuat Arfan yang tadinya sibuk dengan ponselnya, kini beralih menatapku dan Nadya. "Ada apa?" Tanya Arfan, ingin tahu. "Gak tahu, Haneefa tadi bisikin aku, katanya jangan dulu pulang." Jawab Nadya kepada Arfan, kontan membuatku memejamkan mata sejenak. Yaa Allaah, kenapa Nadya ini tidak mengerti? Kenapa malah memberitahu Arfan? Arfan beralih menatapku, bingung. "Kenapa Haneefa, apa ada sesuatu yang ketinggalan?" Tanya Arfan, kemudian. Aku menipiskan bibirku, gugup. Ah, ini gara-gara Nadya, aku menjadi seperti ini. "Uhmm ... aku." Mataku mulai bergerak gelisah. "Aku ... aku pikir, kita jangan pulang dulu." Gumamku, menjawab. "Tapi, kenapa?" Tanya Arfan, terlihat penasaran. Mendengar Arfan bertanya lagi, dalam diam, aku menelan air liurku, gugup. "Aku ..." Sejenak aku menoleh Nadya yang juga tengah menatapku penuh tanya. "Aku ... ah! Sebaiknya kita jangan pulang dulu karena ada sesuatu yang ingin aku tunjukan." Kataku akhirnya dengan cepat, setelah tadi sempat masih bingung untuk menjawab pertanyaan Arfan. "Tempat apa?" Tanya Nadya, merasa aneh. "Nadya, kamu ingat, gak? Waktu SD, dulu kita pernah ke Museum ini?" Tanyaku kepada Nadya. Perlu diketahui bahwa Nadya ini memang dahulunya adalah teman sekolah dasarku, sama seperti Raihan. Nadya menatapku dengan kening yang mengercit. "Iya ... terus?" Aku melirik Arfan sejenak yang saat ini masih menatapku dan Nadya dengan tatapan penasaran. "Kamu ingat gak, kalau di Museum ini ada sebuah tempat kayak bioskop untuk nonton sesuatu tentang alam?" Tanyaku lagi kepada Nadya. Mendengar itu, Nadya semakin mengercit, menatapku. "Ohya? Aku ... aku lupa, deh, kayaknya. Aku gak ingat soal itu." Jawab Nadya, setengah ragu sembari mengingat-ingat. "Kamu coba ingat-ingat lagi." Kataku menimpali cepat, kontan membuat Nadya terdiam, seolah memang sedang benar-benar berusaha mengingat tempat yang aku maksudkan. "Kalaupun ada tempat kayak gitu, terus kamu mau apa, Haneefa?" Tanya Arfan, kontan membuatku menolehnya. "Uhmm ... aku, aku ingin menunjukkan itu sama kalian." Jawabku, meskipun terdengar cukup ragu. "Ah, aku udah ingat!" Kata Nadya seketika, mencuri atensiku dan Arfan. Aku pun menoleh Nadya dengan mata berbinar. "Jadi ... mau, 'kan, kalau kita ke sana?" Tanyaku kemudian kepada Nadya, tanpa menghiraukan lagi pertanyaan Arfan tadi kepadaku. "Aku, gak diajak?" Mendengar pertanyaan itu, aku menoleh Arfan dengan perasaan malu. Arfan ingin ikut? "Mm .. boleh aja, kalau kamu mau." Jawabku kepada Arfan, membuatnya tersenyum. "Baiklah, ayo kita ke tempat yang kamu maksud." Kata Arfan, terdengar senang. Akhirnya, setelah kami bertiga berkunjung dan berada di dalam ruangan yang aku maksud, ternyata tempat yang sedang mempertontonkan seputar alam dalam bentuk film alam itu sudah berakhir beberapa menit yang lalu. Lampu ruangan itu pun sudah kembali menyala saat aku, Nadya, dan Arfan setibanya di sana. Dengan perasaan malu dan tentu saja kecewa, sembari duduk aku tertunduk lesu pada bangku paling belakang di dalam ruangan yang seperti bioskop tersebut. Pikirku, bagaimana bisa filmya langsung berakhir saat kami bertiga datang? "Udah gak apa-apa, lain kali kita bisa nonton ke sini lagi." Ujar Arfan lembut seraya tersenyum kepadaku yang saat ini sedang duduk tepat di sampingnya. Saat itu aku baru tersadar bahwa ternyata aku duduk sedekat itu dengan Arfan. Detak jantungku yang tadinya berdetak normal, kontan kembali berubah cepat seperti biasanya jika berada di dekat Arfan. "Yang Arfan bilang benar, kita bisa ke sini lagi lain kali." Kata, Nadya ikut bersuara. Tanpa menoleh Arfan dan Nadya yang duduk mengapitku, aku menipiskan bibirku. Aku merasa gugup dan malu saat itu. Padahal ini adalah hal yang biasa. "Baiklah, kalau gitu sebaiknya kita segera pulang. Udah sore." Seloroh Arfan, mengingatkan. Tanpa membantah, aku dan Nadya pun langsung menuruti perkataan Arfan. Kami berjalan keluar ruangan yang seperti bioskop itu secara beriringan. Tepat ketika berjalan di koridor menuju pintu keluar Museum, aku, Nadya, dan Arfan sempat berbincang lagi mengenai tugas kelompok sejarah Indonesia milik kami. "Semua materi belum selesai hari ini, kayak kita harus observasi lagi ke sini." Kata Arfan, saat sedang berbincang. "Ya, kamu benar. Kita harus observasi lagi." Kata Nadya, setuju. "Apa itu artinya kita akan ke Museum ini lagi?" Tanyaku, terdengar ragu. Arfan mengangguk. "Iya, kita akan ke sini lagi." Jawab Arfan kepadaku. "Tapi, Fan, Museum ini hari sabtu dan minggu tutup. Jadi kapan kita ke sini lagi?" Tanya Nadya, merasa bingung. Mendengar itu, Arfan seketika menghentikan langkahnya yang diikuti olehku dan Nadya. Kini kami berdiri di koridor mendekati pintu keluar Museum. "Senin, kita ke sini lagi di hari itu aja." Saran Arfan. Saat itu aku yang memang masih memegang tiket masuk Museum, aku langsung menatap tiket tersebut yang ternyata terdapat sebuah jadwal operasional Museum yang tertera jelas di sana. Ketika kami bertiga hendak kembali berjalan lagi untuk keluar Museum, kontan menjadi urung setelah aku angkat bicara. "Eh, tunggu." Kataku, membuat langkah Arfan dan Nadya terhenti dan mau tak mau menolehku. "Ada apa?" Tanya Arfan, berjalan mendekatiku yang beberapa langkah tertinggal di belakangnya. "Aku rasa hari senin kita gak bisa kembali lagi ke Museum ini." Jawabku lirih, sembari sesekali memberanikan diri menatap Arfan yang saat ini sedang menatapku penuh tanya. "Loh, kenapa?" Tanya Nadya, bingung. "Dalam tiket ini tertera jadwal operasional Museum dan kebetulan hari senin itu Museum juga libur. Setiap hari senin ada pembersihan Museum." Jawabku, membuat Arfan dan Nadya terdiam sesaat. "Ya ampun, terus gimana, dong?" Tanya Nadya, khawatir. Arfan menatapku. "Kalau hari selasa buka, gak? Coba kamu lihat jadwalnya lagi." Seraya mengangguk, tanpa membalas tatapan Arfan, aku kembali membaca ulang jadwal yang tertera dalam tiket yang masih aku pegang. "Mm ... hari selasa buka." Jawabku, setelah membaca ulang jadwal dalam tiket Museum. Mendengar itu, kontan Arfan dan Nadya bernafas lega. "Ya ampun, kaget aku. Ya udah, hari selasa aja kalau gitu kita balik lagi ke sini. Mudah, 'kan?" Tanpa menunggu jawabanku dan Arfan, setelah berkata demikian, Nadya langsung saja melegang pergi meninggalkan kami berdua yang masih berdiri di tempat. Yaa Allaah, mengapa Nadya main pergi begitu saja meninggalkanku bersama Arfan di koridor Museum? Sungguh, seketika aku kembali dilanda oleh perasaan gugup, malu, dan cannggung dalam waktu bersamaan. Bahkan suasana di antara aku dan Arfan hening setelah kepergian Nadya. Dalam diam aku melirik Arfan yang saat ini tengah membuka ponselnya, entah untuk apa. Namun itu tidak berlangsung lama, karena kemudian setelah itu Arfan kembali lagi menatapku setelah sebelumnya aku segera kembali melirik ke arah lain. "Baiklah, hari selasa aja kita kembali lagi ke Museum ini. Apa kamu bisa?" Tanya Arfan, terkesan lembut kepadaku. Inilah hal yang paling aku benci, mengapa Arfan selalu berubah jika berbicara berdua denganku? Mengapa ia selalu terlihat lebih lembut dan sopan dalam berperilaku kepadaku? Tidak tahukah ia bahwa sikapnya itu semakin membuatku sulit untuk mengubur perasaanku padanya. Terlebih aku juga merasa takut, aku takut terlalu percaya diri dan salah mengartikan perasaan yang menyiksa ini. "Uhm.. insyaallaah, aku bisa." Aku menjawab perkataan Arfan tanpa menatapnya. Sungguh, saat itu ingin rasanya aku menangis karena ditinggal berdua dengan Arfan oleh Nadya. Mana suasana koridor saat itu terlihat sepi, aku semakin takut, gugup, malu, dan merasa berdosa karena telah ber-khalwat tanpa sengaja dengan Arfan. Ah, ini semua gara-gara Nadya yang main meninggalkanku begitu saja. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, لا يخلون أحدكم بامرأة فإن الشيطان ثالثهما "Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua." (HR. Ahmad 1/18, Ibnu Hibban [lihat Shahih Ibnu Hibban 1/436], At-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Awshoth 2/184, dan Al-Baihaqi dalam sunannya 7/91. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 1/792 no. 430). ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يخلون بامرأة ليس معها ذو محرم منها فإن ثالثهما الشيطان "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa ada mahrom wanita tersebut, karena syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua." (HR. Ahmad dari hadits Jabir 3/339. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Gholil jilid 6 no. 1813). Bagaikan Dandelion 09.04.21 Sfrdssyh
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD