Mulai Rapuh

1688 Words
Akhirnya setelah mereka selesai bertempur dengan berkas dokumen-dokumen yang ada,aku pun memberanikan diri untuk mengajak William ke rumah ayah.William pun setuju untuk ku ajak ke rumah ayah dan ia menyakinkan ku bahwa semua akan baik-baik saja. Beberapa jam kemudian kami akhirnya sudah berada di rumah ayah.Ibu tiriku dan adik tiriku langsung saja menghampiri William dan menarik ya secara perlahan untuk masuk ke rumah, seperti biasa aku seolah tidak terlihat oleh mereka. 'Pasti ada yang mereka rencanakan.' pikirku jengah melihat tingkah menjijikkan mereka. "Silahkan nak William duduk di sebelah Clara... " ujar ibu tiriku bersikap acuh tak acuh dengan keberadaan ku, langsung saja Clara merangkul lengan William di depanku sambil tersenyum sinis ke arahku. Aku hanya diam melihat mereka,sudah tidak heran bagiku melihat pemandangan yang spektakuler ini. "Terimakasih nak sudah mengunjungi ayah.. " ucap ayah duduk di sebelahku. "Sama-sama yah.. " aku melihat William mulai risih dengan perilaku Clara dan berusaha untuk melepaskan rangkulan Clara dari tangan ya. "Maaf ayah, bisa kah aku duduk di sebelah istriku?" ucap William,seketika membuat ibu dan adik tiriku terdiam tidak percaya dengan perkataan William. "Tentu saja nak, kamu tidak usah minta izin segala hahaha.." ucap ayah seperti biasa karena tidak tahu sifat kedua rubah betina yang menjijikkan di dekat William. William langsung saja pindah ke sebelah ku dan memegang tanganku.Clara dan ibu tiriku yang melihat ya semakin kesal dan geram. Ayah dan ibu serta adik tiriku bercengkrama bersama William dan sempat-sempat ya adik tiriku bermanja-manja menceritakan keseharian ya yang mengikuti kompetisi fashion.Sepanjang pembicaraan mereka, aku hanya diam dan menyimak. "Nak, apa kamu baik-baik saja?Dari tadi ayah melihatmu hanya diam saja... " ungkap ayah khawatir denganku. "Itu memang kebiasaan buruk Bella yang tidak sopan sayang, maafkan Bella ya Will... " ungkap ibu menyindirku halus. "Kak bisa kah kamu tidak merusak suasana?Bicaralah jangan hanya diam saja... " ungkap Clara berbicara lembut. Aku pun menanggapi mereka dengan tersenyum. "Istriku lagi kelelahan yah, maka ya dia hanya diam saja... " ujar William membelaku. "Ada apa nak?Coba cerita sama ayah..." ujar ayah meminta. "Apakah aku punya hak?" tanyaku spontan,sontak saja ibu dan adik tiriku sedikit terkejut. "Bell.. maksud mu apa sayang.. " ujar ibu tiriku berpura-pura baik kepadaku. "Hahaha tidak apa!Hanya saja di kampus..." "Di kampus ada rumor tidak benar yang tersebar.Setelah berbulan madu ke Paris, Bella di terpa rumor yang bilang bahwa dia adalah simpanan om-om.. om-om disini yang di maksud adalah saya dan rumor bahwa Bella merebut suami adik ya itu adalah rumor yang paling KONYOL yang pernah saya dengar lagi.Jelas-jelas waktu itu Clara yang menolak saya dan Bella datang kepada saya.Tentu saja saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama bertemu dengan istriku yang cantik jelita ini!!!" ungkap William dengan tersenyum sambil menahan amarah. 'Cantik jelita?Ayolah Will, jangan membuatku mual dengan gombalan mu.. ' pikirku diam. "Siapa yang menyebarkan rumor seperti itu...." ucap ibu tiriku berpura-pura bersimpati. "Aku sudah tahu siapa yang menyebarkan ya dan tunggu saja HUKUMAN DARI KU!" ucap William tersenyum sinis yang membuat adik tiriku gelagapan. "Ehmm..ma-maafkan aku..aku baru ingat ada urusan sebentar..aku ke kamar dulu ya." ujar ya berlalu tergesa-gesa. 'Pengecut!' pikirku sinis. Kami pun melanjutkan perbincangan lagi,sesekali ibu melirik sekilas ke arah kamar Clara mungkin ia bingung dengan apa yang terjadi dengan anak kesayangan ya. Hari semakin larut,aku dan William memutuskan untuk pamit pulang ke rumah kami.Di perjalanan William mampir ke sebuah cafetaria terdekat untuk makan karena di rumah ayah aku tidak begitu berselera untuk menyentuh makanan dan minuman yang di buat ibu tiriku. Setelah makan kami duduk sebentar bersama di bangku taman terdekat.Disana suasananya hening dan banyak lampu-lampu kelap kelip yang menghiasi taman. "Bell..aku ingin mengucapkan sesuatu?" ujar William serius. "Hah? Apaan? Serius banget Will.. " ucapku sedikit tertawa melihatnya yang menatapku serius. "Hari ini aku sangat berterimakasih sekali kepadamu,berkatmu aku bisa menyelesaikan semua dokumen dan dapat bercengkrama dengan ayahmu.. " ungkapnya serius. "Kenapa kamu bicara seperti itu tiba-tiba?Apa kamu mengidap penyakit kronis?" ungkap ku merasa janggal. "Hahaha mana mungkin orang kaya seperti ku ini dan rajin berolahraga mengidap penyakit kronis Bell.." ujar ya tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan ku. "Soal ya sifatmu tidak seperti biasa ya." ucapku. "Kenapa di rumah ayahmu kamu tidak terlalu berbicara Bell?" "Kamu kan sudah lihat saat kita datang mereka hanya menyambutmu sedangkan aku seperti hantu yang tidak terlihat." ungkap ku kesal. "Kenapa kamu tidak melawan mereka?" "Aku capek buang-buang tenaga ku saja!" ungkap ku tidak peduli. "Apa karena ayahmu?" Aku hanya diam karena bingung mau menjelaskan ya bagaimana. "Aku anggap diam mu adalah 'Iya'.." ungkap William menatapku lekat. "Sedikit saja lawan lah mereka Bell.Jangan hanya diam saja,mereka terus-terusan akan meremehkan dirimu!" "Aku gak bisa Will!Aku gak bisa seperti itu karena aku takut ayah akan.... " ucapku tertunduk seraya meremas ujung bajuku. "Akan apa Bell?Sedangkan Ia tidak pernah peduli denganmu! ITU LAH FAKTANYA!!" ungkap William menahan amarahnya. "Aku tahu... aku sangat tahu itu Will tapi semenjak ayah menikah..hidup ya mulai bersinar dan ia terus-terusan memperlihatkan senyum ya,sebelum itu ia selalu meratapi kesedihan ya sewaktu ibu tiada dan mulai dari situ aku harus kuat berada di samping ya hingga dia bertemu ibu tiriku.. Aku rela berkorban demi kebahagiaan ayah Will!" "BERKORBAN?TATAP AKU BELL... " ungkap William memegang kedua pundak ku agar aku menatapnya. "APA KAH DENGAN BERKORBAN KAMU BAHAGIA? KATAKAN BELLA!" ucap William menatapku dengan sendu bercampur emosinya. "Aku sangat bahagia Will.. " ungkap ku dengan berlinang air mata. Sontak saja William memelukku begitu erat seperti mengetahui perasaan ku yang selama ini ku sembunyikan baik-baik. "Kamu bohong bell.." ungkap William terdengar lirih di telingaku. Aku terdiam dalam tangisku dan dalam keheningan malam ini. 'biarlah ku pergi jauh dan sendiri tanpa ada dirimu disisiku.Dirimu kan baik tanpa kehadiran ku,karena semakin ku berharap semakin rasa sakit ini menggerogoti hatiku...'gumamku lirih dalam diam. Setelah diriku merasa sedikit tenang aku berusaha melepaskan diriku dalam pelukan ya. "Ehm.. terimakasih Will." ungkap ku serba salah menghadapi ya. 'Gawat!Kenapa aku harus kasih liat sisiku ini ke dia sih..' pikirku menahan malu. "Aku hanya tidak suka kamu di tindas mereka!" ungkap William. "Will, ku mohon jangan lebih jauh lagi dalam ikut campur urusan ku!" "Jelas aku ada Hak bell karena kamu istriku!" "Istri kontrak Will!Pernikahan kita adalah pernikahan kontrak!Apa kamu lupa?Kamu sendiri yang membuat kesepakatan pernikahan kita yaitu 'tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing'!" William terdiam menatapku,aku tahu pasti sorot mata itu adalah sorot mata kemarahan ya terhadap ku. "Kamu tahu Bell selama ini aku tidak pernah mengungkit kontrak kita tapi karena kamu terlanjur mengungkitnya aku sangat berterimakasih sekali kepadamu karena sudah dengan bodoh ya membuatku sadar!" "Ma-maksud mu... " ungkap ku seperti merasakan ada yang sakit di dadaku. "Baiklah, mulai sekarang jangan pernah lagi kita melewati batas!Anggap saja aku orang asing dan kita mulai dari awal lagi!" ungkapnya terlihat marah kepadaku. "Aku akan menelpon Iris agar dia menjemputmu!" ujarnya lagi beranjak langsung pergi meninggalkan ku sendirian. Aku terdiam dan menahan tangisku dengan kedua tanganku agar tidak mengeluarkan sebuah suara dari dalam mulutku. 'Benar!Ini adalah keputusan yang benar bagiku dan dirimu William.. Maaf.. maafkan aku.. ' gumamku lirih terisak. Lama diriku menangis sendirian di taman ini hingga akhirnya Iris datang menghampiri ku dengan tergesa-gesa. "No-nona.. apa anda baik-baik saja?" ungkap Iris begitu khawatir duduk di sebelahku. "Iya ris.. aku baik-baik saja.. " ungkap ku berusaha tersenyum agar kelihatan baik-baik saja. "Apakah tuan yang melakukan ya?" "Tidak, aku yang salah... " "Liat saja nanti akan aku balas Pak William itu!!" ungkap ya sedikit marah. "Apa kamu berani menghadapi ya?" "Eh.. ehm.. sepertinya gak berani nona.. hehe" jawab ya malu-malu. "Hahahaha" "Tapi tenang saja nona aku dan Jordan akan membuat Sekutu untuk melindungi mu dari singa itu.. eh maksud ya Pak William." ungkapnya dengan teguh. "Haha terimakasih ris, sudah menghiburku.. " "Haha nona.. ini kan sudah kewajiban ku.Oh iya, ini s**u strawberry buat nona... " ujar Iris menyerahkan s**u strawberry ya kepadaku. 's**u strawberry.. Sudah lama aku tidak minum ini.' pikirku mengenang. "Bagaimana kamu tahu aku suka minum s**u strawberry?" tanyaku sedikit penasaran. "Oh.. i-itu tadi saya hanya asal membeli ya saja karena bingung..." ungkapnya seperti mencurigakan. 'Apakah ini dari William?Bagaimana mungkin dia tahu?selama ini dia tidak pernah memberikanku s**u strawberry.Selalu makanan mahal dan mewah yang terkadang membuatku tidak nafsu makan.' pikirku sesaat. "Baiklah, terimakasih ya ris.Aku bisa minum s**u ya dulu sebentar.." "Tentu saja nona, saya akan selalu menemani anda disini." ungkap ya tersenyum kepadaku. Aku pun langsung meminum dan sangat menikmati s**u strawberry ya sampai tetes terakhir sedangkan Iris melihatku dengan sangat antusias dan itu sedikit membuatku merasa aneh. "A-ada apa ris?" tanyaku kepadanya. "Nona mengingat kan ku akan adikku.Ia sangat suka sekali s**u strawberry.. " ucapnya mengenang. "Benarkah?Sekarang adikmu dimana?" "Sekarang dia tinggal di Korea bersama suami ya nona.Ia tidak akan pernah kembali kesini dan menemuiku lagi.. " ungkap ya tersenyum dalam kesedihan. "Apakah ia memutuskan hubungan denganmu.. " "Iya nona.. tapi itu bukan salah ya nona ini karena masalah keluarga kami.. " ungkap ya terlihat sangat murung. "Sudahlah ris... aku mengerti.Kita punya kesamaan hanya beda situasinya saja.. " ucapku tersenyum seraya memegang sebelah pundak ya, ia menatapku kemudian tersenyum. "Aku sangat sangat bersyukur dapat bekerja dengan nona.Seharusnya tuan William tidak memperlakukan nona seperti ini.Dasar pria tua jahat!" ujar ya mengejek bos ya sendiri. "Hahaha biar begitu dia yang membawamu kesini." "Benar juga sih tapi kan aku gak suka dia seperti ini!" "Haha sudahlah ris.Ayo kita pulang.. " "Siap nona.Oh iya, nona besok ada jadwal kuliah nona tidak?" "Ehmm, entahlah terkadang dosen ku kayak hantu tahu.. Tiba-tiba ada tiba-tiba gak.. hahaha" "Wahh dosen nona unik ya.. " "Sangat unik sekali pastinya ris... " ungkap ku tersenyum-senyum. "Kalau besok tidak ada jadwal saya ingin membawa anda kesuatu tempat... " ujar ya melirik ku. "Tempat apa?" "Rahasia dong nona.. " ungkap ya tertawa. "Iih Iris.. " ungkap ku memukul salah satu lengan ya dengan pelan. Setetes demi setetes air mata ini mengalir seakan-akan semuanya terasa berat tiap detik ini... Seketika itu pula ku menangis pilu meratapi setiap kesedihan dan kekalahan yang menghampiriku... Ku coba bangkit dalam keterpurukan ini berharap ada yang menguatkan hatiku.. Karena tiada seorang pun yang tahu betapa sakitnya hati ini... Betapa lelahnya diri ini untuk mencoba menghapus buliran air mata yang terus mengalir... Sakit.. Perih.. Hancur... Lelah... semua menjadi satu. Namun aku bertekad untuk terus bertahan hingga akhir. ~Bella,You're (Not) Mh Sugar Daddy.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD