"Siniin infusnya," pinta Alana. Meski dalam hati ia ingin tertawa melihat bagaimana ekspresi Rafael yang menahan mual saat berjalan menuju toilet pesing, tapi Alana memilih tetap memasang wajah dingin tanpa ekspresi. Dia dapat melihat wajah lelaki itu memerah, menahan nafas, lalu menjepit hidungnya, dengan ekspresi meringis. "Ini," ucapnya dengan suara sengau. "Cepetan!" sungutnya pada Alana yang sedari tadi tampak santai saja, sama sekali tak kelihatan tersiksa, meski berada di toilet dengan bau menyengat. Usai membuang air kecil, Alana pun bergegas keluar dan mencuci tangan di wastafel. "Kita harus pindah ke kamar VVIP, sekarang," geram Rafael, tapi gadis itu hanya diam dan tak menanggapi. "Kenapa?" celetuknya lirih. "Aku tidak tahan berada di sini," cetus Rafael. "Kalau emang ga

