Setelah beberapa saat lamanya tak menyentuh tempat itu, hari ini, Alana akan kembali mengajar anak jalanan dan putus sekolah. Di sebuah sekolah kolong gratis, yang ia dirikan bersama Nabilla beberapa tahun lalu. Ada kerinduan tersendiri tiap kali ia berpisah dengan para wajah lugu dan polos, yang tulus menyayanginya itu. Hanya disanalah ia merasa diterima dan dihargai, anak-anak muridnya tak pernah sekalipun menanyakan mengapa Alana berbeda. Mengapa cara berjalannya tak sama? Mengapa bentuk kakinya tak normal? Oleh sebab itu, Alana tidak akan pernah bisa, jika harus meninggalkan pekerjaan itu meski ia tak dibayar sekalipun. Lagipula, menjadi bemanfaat bagi orang lain adalah hal yang sangat menyenangkan. "Non, semua yang Non minta sudah Bibi bungkus. Bibi harap anak-anak tempat Non ngaj

