Diam terkadang memang melelahkan Namun tak ada yang lebih baik dari diam untuk menyiapkan kekuatan hati ... *** Gibran berdiri di depan pintu sebuah ruangan. Ia menunggu Ines ke luar setelah diobati. Anehnya, entah kenapa perasaannya jadi simpang siur tak jelas. Antara cemas, bingung, dan sejenisnya. Beberapa kali pria itu ingin berbalik pergi, karena tak merasa harus sok peduli pada gadis yang tengah ditangani perawat di dalam ruangan. Namun, langkahnya harus kembali lagi seolah hendak memastikan Ines baik-baik saja. "Terimakasih, Sus," ucap Ines sembari menutup pintu. Pipinya terasa panas. Lebih panas lagi lubuk hatinya. "Ines Amalia?!" panggil Gibran spontan. Gadis itu menoleh kilat. Wajah tampan di hadapannya terlihat lumayan familiar. "Sales Tuperware?!" tebaknya masih mendug

