"Jubah mereka begitu lusuh," tutur Velia yang mengamati orang-orang yang sedang berjalan lalu lalang di depan mereka.
Orang-orang itu pun juga merasa heran karena melihat tiga orang yang memakai pakaian begitu bagus dan cemerlang.
"Apa mereka bangsawan?" bisik salah satu pria ke temannya.
"Aku rasa mereka hanya anak manja yang sedang berjalan-jalan." Penjual bunga mengatakan hal itu keras-keras.
Rain menarik mereka masuk ke g**g kecil yang berada di belakang mereka.
"Sepertinya kita berada di masa lalu. Aku sama sekali tidak mengenali tempat ini." Rain mengangkat timer untuk mengetahui mereka sudah berada di tahun berapa, tapi timer itu berpindah tangan dengan cepat.
"Pencuri!" teriak Rain sambil mengejar pemuda yang sudah mengambil timernya.
Mereka bertiga tidak cukup terampil untuk melompati rintangan dan berbelok dengan kecepatan tinggi sehingga beberapa kali terguling ataupun menabrak tembok karena kesulitan memperkirakan kecepatan.
"Berhenti! Jangan lari," teriak Rain yang berhasil menyusul pemuda itu hingga keluar dari kota.
Sesekali mereka melihat pencuri itu memperlambat lari untuk menunggu mereka seolah-olah mereka sedang bermain tarik ulur.
Mereka mulai masuk ke dalam hutan meskipun sebenarnya Velia dan Wanda agak ragu-ragu untuk melangkah karena teringat akan Hutan Kesunyian.
"Wan?" panggil Velia dengan cemas.
"Sepertinya aman. Mereka berdua bisa terus berlari sambil berteriak-teriak," jawab Wanda sambil terus berlari.
Velia yang tadinya ragu dan berhenti sekarang ikut berlari secepat mungkin.
Mereka bertiga berhenti kemudian mendongak ketika melihat ada rumah-rumah pohon yang demikian banyak.
"Apa kita berada di hutan milik Robin Hood?" ucap Velia dengan kagum ketika memutar tubuh sambil tetsp menengadah.
"Itu dia pencurinya!" pekik Wanda ketika melihat pemuda berkulit kecokelatan itu terlihat sedang memanjat tali yang berbentuk tangga di salah satu pohon besar.
Velia mengeluarkan tongkatnya, tapi ditahan oleh Rain. "Kita tidak boleh gegabah ketika ada di sarang musuh. Kita pakai cara biasa saja dulu. Zaman dulu penyihir bisa mendapatkan hukuman dibakar."
Ucapan Rain tidak membuat Velia ketakutan karena dia memiliki elemen api, lain halnya dengan Wanda yang langsung memucat.
Rain kembali memimpin pengejaran dengan memanjat ke atas pohon yang tadi digunakan untuk pencuri melarikan diri kemudian disusul dengan Wanda dan juga Velia.
"Wah, nyamannya," celetuk Wanda ketika melihat rumah pohon itu dari dekat.
Meskipun terlihat sama besar dengan tenda yang mereka gunakan untuk menginap, tapi rumah ini terlihat lebih nyaman. Ada beberapa pot bunga yang dijejer di sekitar pagar pembatas.
"Ayo, masuk," undang pencuri yang sudah menunggu mereka di depan pintu masuk.
Mereka pun akhirnya memberanikan masuk sambil tetap siaga agar siap kalau sewaktu-waktu diserang.
Rumah itu terbuat dari kayu seluruhnya dengan beberapa jendela hingga sinar matahari bisa masuk. Sebua karpet tebal menggantikan fungsi kursi di rumah tamu yang sempit.
"Silakan duduk. Buat diri kalian nyaman. Aku akan kembali lagi sebentar lagi," tuturnya.
Ketiganya lalu duduk bersila di atas karpet yang halus dan hangat yang di tengah-tengahnya ada sebuah meja kayu dengan kaki yang pendek.
"Bagaimana kalau dia melarikan diri?" Velia mencondongkan badan ke arah Rain.
"Kita tunggu saja, apa maunya," jawab Rain.
Tak berapa lama mereka menunggu, pencuri itu keluar dengan membawa nampan yang berisi cangkir-cangkir yang berasap dan juga sepiring kue.
"Sebaiknya kalian minum teh ini dan makan kue dulu untuk memulihkan tenaga." Pencuri itu meletakkan nampan di atas meja kemudian ikut duduk bersila.
"Panggil saja aku, Guntur." Pencuri itu kembali berbicara karena ketiga orang yang ada di depannya hanya diam sambil memperhatikannya.
"Apakah kamu masuk dalam golongan penyihir?" Wanda menunjuk tato yang ada di telapak tangan kirinya.
Guntur mengangkat tangan kemudian membolak-baliknya. "Tato ini sudah kudapatkan sejak lahir, tapi aku tidak tahu apa maksudnya."
"Apakah ada orang lain yang memiliki tato sepertimu?" tanya Velia.
"Aku rasa hanya kita berempat yang memilikinya. Maafkan sudah mencuri barang kalian." Guntur teringat akan barang yang ada di saku bajunya.
Dia kemudian menyerahkan timer itu pada Rain. "Benda apakah ini? Aku punya teman yang pandai memperbaiki barang mewah seperti itu."
Dahi Rain berkerut karena Guntur menyebut timer ini sebagai barang mewah padahal barang ini mudah didapatkan di masa mereka. Namun Rain sudah memodifikasinya hingga bisa digunakan untuk menjelajah waktu.
"Ngomong-ngomong ini tahun berapa?" Velia sudah tidak sanggup lagi untuk menahan diri.
"Tahun 1675," tuturnya.
Mereka bertiga saling lempar pandang ketika menyadari sudah terlempar begitu jauh dari masa yang seharusnya.
"Nah, bisakah kalian menceritakan tentang tato ini? Itu tujuanku mengambil barang kalian agar aku tahu tentang tato ini." Guntur memperlihatkan tato dengan bentuk kilat petir berwarna abu-abu.
"Sejak kapan kamu memiliki tato itu?" tanya Rain.
"Entahlah, mungkin sejak bayi," tuturnya yang lagi-lagi membuat ketiga orang itu tercengang.
"Coba kamu melakukan hal ini sambil ucapkan datanglah bila kupanggil." Rain memberi contoh dengan membuat bentuk lingkaran di atas tato itu sebanyak satu kali.
"Lakukan sebanyak tiga kali putaran," tambah Wanda yang sedari tadi diam karena curiga.
Guntur pun melakukan apa yang disuruh kemudian tato petir itu bergerak membesar dan meliuk-liuk lalu terlihat seberkas sinar melesat keluar dari tato menuju ujung jari telunjuk.
Sinar itu mewujud menjadi peri dengan tubuh lebih kecil dari Huan dan sedikit lebih besar dari Pixie dan Yelzi. Peri itu memiliki sayap berwarna keperakan dengan garis abu-abu yang terlihat tegas.
"Salam wahai Tuan yang bijak," ucapnya sambil menekuk kaki untuk memberi hormat pada Guntur yang tercengang.
"Apakah kamu peri?" Guntur mengulurkan tangan untuk menyentuh sayapnya yang mungil.
"Iya, Tuanku. Nama hamba adalah Gard. Siap melayani." Sekali lagi Gard melakukan penghormatan.
"Nah, Gard bisakah kau bercerita tentang kehidupan Guntur?" tanya Rain.
"Tunggu sebentar! Bagaimana mungkin kamu menyuruh peri yang keluar dari tato untuk bercerita tentang kehidupan yang bahkan aku saja tidak tahu ceritanya," protes Guntur.
"Untuk itulah kita harus bertanya padanya." Wanda ikut menjelaskan.
"Baiklah, coba saja kau ceritakan." Guntur mengarahkan tangannya ke arah Gard agar mulai bercerita.
"Dahulu kala sejak saya masih demikian muda, saya diserahkan pada keluarga kerajaan untuk menjadi peri penjaga bagi bayi yang baru lahir. Setelah selesai upacara maka saya terkurung di dalam tato. Namun ketika malam menjelang ada seseorang yang mengambil bayi itu dan membawanya pergi. Seharusnya yang menjadi pangeran saat ini adalah anda, Tuan."
"Maksudnya pangeran sudah ditukar dan dia adalah yang asli?" tanya Velia untuk mempertegas dugaan mereka.
"Betul sekali yang Nona katakan. Saat itu saya tidak bisa bertindak karena Tuanku masih bayi dan tidak bisa memanggil saya keluar. Namun saya terus mengamati keadaan sekitar sepanjang hidup Tuan. Tolong berhati-hatilah pada paman dari pangeran saat ini karena beliaulah yang menyuruh pelayan untuk menyingkirkan Tuan, tapi Tuan diselamatkan oleh Baba yang merawat Tuan sedari kecil." Gard menjelaskan dengan panjang lebar.