Alina berusaha agar tidak terpancing amarah oleh kakaknya.
"Salah! Karena dengan menikah akan mencegahku untuk mendapat kan cita-cita yang selama ini aku perjuangkan, mengerti?!" ujar Alea dengan tegas. Sorot matanya juga begitu tajam menatap Alina. Seperti sedang menatap musuh yang menantangnya.
"Cita-cita itu bisa diraih kapan saja. Tidak melulu soal usaha, Kak. Tapi, kakak harus ingat juga ada campur tangan Tuhan di sana. Bisa saja dengan menikah akan dengan mudah mendapatkan apa yang diinginkan," tutur Alina dengan bijak.
Alea hanya mendelik tak suka saat mendengar perkataan Alina. Ia tidak setuju dengan apa yang dikatakan adiknya. Baginya cita-cita dan usaha akan berbanding lurus dengan hasil.
Pagi hari, ibunya telah tiba di rumah dengan membawa begitu banyak belanjaan. Bang Arka membantu membawa sebagian belanjaan masuk ke rumah.
Alina segera keluar dari kamar untuk membantu ibunya membereskan barang-barang belanjaan.
Ia heran, dari mana ibunya bisa mendapatkan uang sebanyak itu untuk membeli semua itu. Ia takut kalau ibunya berhutang.
"Ibu jujur sama aku, dari mana Ibu punya uang untuk belanja sebanyak ini? Ini pasti menghabiskan uang cukup banyak, kan?" tanya Alina dengan suara pelan.
"Sebenarnya ini semua dari Gavin, waktu itu ia memberi uang lima puluh juta," jawab Bu Ani dengan suara berbisik.
Ia takut ada yang mendengarnya, padahal di rumah itu hanya ada keluarganya. Para saudara yang diundang belum datang juga.
"Ya ampun, banyak sekali, Bu. Padahal sisihkan untuk bayar hutang, Bu," usul Alina yang kaget sepertinya Gavin adalah orang yang baik.
"Bagaimana nanti saja. Menikah dengan orang kaya setidaknya jangan mempermalukan keluarga mereka. Soal hutang masih bisa dicicil," tolak Bu Ani dengan halus.
Ia takut bila uangnya tidak digunakan dengan seharusnya. Nanti Alea yang akan dituntut dan disalahkan.
"Seharusnya Kak Lea bisa menerima pernikahan ini dengan lapang d**a," lanjut Alina dengan wajah lesu.
"Ibu dan Bapak juga maunya begitu, tapi kamu tahu sendiri kakakmu itu begitu keras kepala," timpal Bu Ani dengan sendu.
Sepertinya ia sudah putus asa untuk membujuk Alea mau menikah. Tapi, acara pernikahan itu tetap harus terjadi. Mereka telah memberitahu semua keluarganya. Jika sampai gagal, maka tinggal malu yang akan menghampiri keluarga.
"Semoga segera disadarkan, ya, Bu, Kak Lesnya," ucap Alina sambil mengusap-usap punggung ibunya.
Tiba-tiba terdengar suara salam dari luar. Ternyata Bibi Narti dan beberapa saudara lainnya sudah datang untuk membantu memasak hari itu.
Di luar rumah, Pak Asep dan juga Bang Arka sedang memasang tenda. Nantinya akan digunakan untuk membuat tungku perapian, agar lebih cepat dan tidak hambur gas ketika memasak.
"Eh, Mbak, sini masuk aja." Bu Ani dengan begitu bersemangat mengajak kakaknya dan saudara lainnya.
Ia tidak ingin menampakkan kesedihan di depan saudara-saudaranya itu. Sudah cukup malu dirinya menjadi orang paling miskin diantara yang lainnya.
"Ini bener, Ani, si Alea emang mau nikah mendadak?" tanya Bi Narti memastikan kepada adiknya itu.
"Betul kok, Mbak. Kebetulan saja jodohnya dekat, jadi agak cepat-cepat," jawab Bu Ani dengan senyum yang dipaksakan.
"Ya sudah, kamu sudah belanja?" tanya Bi Narti lagi.
Sementara yang lain hanya memperhatikan sembari mengobrol santai. Tapi, mereka sudah mulai mengeksekusi semua belanjaan ibu yang begitu banyak.
"Sudah kok, Mbak. Aku sudah belanja semuanya. Itu di luar juga Arka sama Mas Asep sedang pasang tenda untuk bikin tungkunya," jawab Bu Ani sambil menunjuk ke luar.
Melihat itu, Alina kembali masuk ke kamar kakaknya. Ia ingin memperingatkan kakaknya untuk tidak membuat malu Bu Ani dan Pak Asep, yang merupakan orang tua mereka.
"Kak, tolong berdandanlah sedikit. Agar terlihat bahagia, kasihan ibu jika sampai harus malu di hadapan saudara-saudara kita," pinta Alina kepada kakaknya itu.
Alea menatap dengan sorot mata tak suka. Ia kesal pada adiknya yang sok mengatur dirinya. Bahkan sampai detik itu, Alea masih ingin kabur.
Ia berpikir ingin kabur di saat ibunya dan keluarga yang lain sibuk memasak.
"Kenapa harus malu dengan penampilanku? Bukankah sudah kamu dengar sendiri. Kemarin Gavin bilang apa, dia bilang enggak menikah dengan penampilanku," tolak Alea dengan tegas.
Ia malah ingin kalau saudara-saudara mereka itu mengetahui, kalau dirinya tidak ingin menikah. Lalu, akhirnya mereka membujuk Bu Ani dan Pak Asep untuk membatalkan pernikahan tersebut.
"Mereka malah akan menghinamu dan semakin mempermalukan mu bukan membantu untuk menghentikan pernikahan ini. Kak, tolonglah jangan buat malu ibu untuk hari ini," ujar Alina seperti bisa membaca pikiran kakaknya.
"Apaan sih, sok tahu banget. Enggak usah paksa aku," ujar Alea dengan tegas.
Dalam hati, Alea berpikir ada benarnya apa yang dikatakan adiknya. Ia bisa saja lebih dipermalukan.
"Aku mohon," ucap Alina sambil bersimpuh di paha Alea yang sedang duduk di tempat tidur.
"Baiklah," ucap Alea akhirnya, karena tidak ingin melihat drama yang lebih panjang dari adiknya itu.
Ia tahu adiknya takkan menyerah untuk memintanya agar tidak membuat malu orang tua mereka.
Alea lalu berdandan tipis agar tidak terlihat pucat seperti orang sakit. Padahal ia merasa hatinya sudah sangat hancur. Bahkan tak berbentuk.
Alina lalu kembali ke dapur untuk membantu ibunya dan saudara yang lainnya. Mereka sudah mulai memegang pekerjaan yang harus dikerjakan. Ada yang memotong tempe, mengiris tahu, juga mencuci daging dan ikan.
"Mbak, emang bener ya, semalam si Alea kabur?" tanya salah satu saudara yang masih satu kampung dengan mereka.
Rupanya berita itu telah menyebar di seluruh warga kampung. Memang kecepatan menyebar gosip lebih cepat daripada kecepatan cahaya.
Tiba-tiba hati Alina dan Bu Ani bagaikan disayat sembilu saat mendengar pertanyaan tersebut. Mereka bingung harus menjawab apa, karena memang gosip itu benar adanya. Apalagi dengan keributan-keributan yang terdengar dari rumah mereka tadi malam.
"Bukan kabur, tadinya mau ke Bandung dulu untuk ngasih kabar ke teman-temannya. Tapi, ya memang enggak bilang jadi bikin kaget dan geger," jawab Bu Ani dengan sedikit gugup.
"Oh begitu, kirain karena enggak mau dipaksa nikah," celetuk Yuni istri dari Paman Ucup, "malah kirain aku, Alea itu hamil duluan. Soalnya nikahnya mendadak banget, sih," lanjutnya tanpa perasaan.
"Tapi belum hamil, kan?" tanya saudara yang lain. Mereka jadi terbawa dengan suasana toxic dari Yuni.
"Belum, kok, siapa bilang!" bantah Alina yang tidak suka kakaknya dituduh seperti itu.
Diam-diam Alea juga mendengar percakapan tersebut. Hatinya sakit karena pernikahannya dianggap karena kecelakaan. Hal itu bukan pernikahan impian yang diidamkannya sejak dulu.
Seharusnya ia menikah karena saling mencintai. Juga sudah sama-sama mapan dan sukses. Itu keinginannya dengan calon suaminya nanti, tapi kenyataannya pernikahan dadakan dan dan dituduh hamil diluar nikah.
"Mereka jadi menyangka aku hamil di luar nikah. Menyebalkan sekali orang-orang tak berperasaan itu, apa yang harus aku lakukan untuk membalasnya?" gumam Alea dengan kesal di kamarnya.