“Mama kenapa belum bersiap?”
Saat aku tengah menyiapkan sarapan sederhana untuk kami di meja makan Fadli keluar dari kamarnya dan menanyaiku.
Aku melirik sambil tertawa khawatir, anak bujangku itu berkacak pinggang di ambang pintu dan menatapku penuh tanya.
“Memangnya Mama nggak kerja hari ini?” Fadli yang sudah lengkap dengan seragam dan topinya mendekati meja makan, lalu menarik salahsatu kursi dan duduk di atasnya. Aku hanya mengangguk pelan, menundukkan kepala sembari memerhatikan gerak-gerik anak semata-wayangku yang mulai mencomot roti dan menenggak s**u hangat yang kubuatkan.
“Kalau Mama libur, Fadli boleh di rumah aja, nggak? Nemenin Mama di rumah atau Mama yang bantu Fadli belajar.” Saat Fadli menawarkan dengan santai, aku mendelik marah ke arahnya. Helaan napasku terdengar, kupelototi bocah SMP tersebut. “Sudah Mama bilang, kamu harus ke sekolah. Jangan bolos. Demi masa depan kamu. Katanya pengen banggain Mama, kalau kamu absen terus bagaimana mungkin bisa jadi juara satu di sekolah?”
Fadli merengut, lalu mengabaikanku. Dalam semenit, langsung dihabiskannya roti dan bubur yang kubuatkan. Fadli menyalami tanganku, dengan malas melangkah ke luar menuju pintu tanpa mengucap salam terlebih dahulu. Aku menghembuskan napas lelah, entah kenapa lama-kelamaan bocah itu semakin menyerupai Mas Eli. Emosionalnya, keegoisannya, tingkahnya dan cara berjalannya. Membandingkan mereka berdua membuatku sedikit kesal.
Setelah memastikan Dli di bawah sudah menaiki sepedanya dan berangkat ke sekolah, aku mengunci pintu apartemen dari dalam. Sempat lupa sesaat dengan keberadaan Mas Eli, aku tersadar saat suara benturan pelan terdengar berulang dari pintu kamarku. Aku mengabaikan meja makan yang tengah kurapikan, lalu membukakan pintu kamar. Benar dugaanku, Mas Eli berdiri di baliknya. Lelaki itu sebelumnya mengantuk-antukkan keningnya ke pintu kamar, ganti menggedor pintu agar aku membukakannya. Wajahnya terlihat kusut, menatapku kosong, tidak perduli tubuh atasnya terbuka, hanya memakai handukku yang dengan lancang dia lilitkan ke pinggang.
“Kamu tega mengurungku di dalam sini hampir satu jam?” Mas Eli merengut. Sama persis seperti Dli yang cemberut.
“Maaf Mas,” aku menundukkan kepala. “Aku lupa.”
“Maaf juga, semalam aku juga lupa.”
“Lupa tentang apa.”
“Lupa jalan pulang, sehingga itulah aku mampir dan menginap di sini.”
Tidak perduli tubuh atasnya terbuka Mas Eli langsung menangkap tubuh mungilku dan memeluknya.
Aku bisa merasakan dinginnya kulit lelaki yang mengurungku dengan kedua lengannya. Lelaki itu menjijitkan kakinya dan menciumiku keningku. Aku menutup mata pasrah, lalu menepuk-nepuk lengan dinginnya.
“Mas mau mandi ‘kan?” Aku menanyai lelaki itu.
Mas Eli hanya mengangguk lemah, lelaki itu mengusap-ngusap punggungku tanpa henti.
“Kamar mandinya di sana, Mas. Tentu saja Mas bisa ke sana sendiri ‘kan?” Aku mengarahkan tanganku ke sebuah tempat.
“Kamu sudah mandi?” Mas Eli mencermati tubuhku. Dari atas sampai bawah, dengan mata menyipit memerhatikan penampilanku. Lelaki itu mendekatkan hidung dan mengendus, langsung dikampitnya benda mancung yang ada di wajahnya karena bau badanku yang cukup menyengat.
“Belum,” aku menjawab lirih.
“Pantas bau,” Mas Eli meringis.
“Rambutku saja tidak basah,” aku menjawab.
“Kamu saja sana mandi duluan,” Mas Eli melepaskan handuk yang melingkari pinggangnya dan memberikan benda tebal itu padaku. Sontak, aku menutup mata dengan kedua tangan, berdesis malu sekaligus heran, kenapa lelaki itu tidak segan melepas bungkusan terakhir pakaian di tubuhnya di depanku?
“Buka matamu, aku pakai celana.”
Saat Mas Eli memeringatkan, aku memberanikan diri membuka sedikit mataku. Ternyata benar, aku terlalu berburuk-sangka. Lelaki di hadapanku tidak akan setidak tahu malu itu, buktinya celana pendek membungkus kedua kakinya yang jenjang.
“Baiklah,” aku menerima handuk yang diberikannya.
Lelaki itu tersenyum kecut, lalu menggerakkan tangannya, memerintahku ke kamar mandi sesegera mungkin.
Aku meningalkannya menuju kamar mandi, sesekali masih melirik ke belakang, penasaran apa yang akan dia lakukan tanpaku.
Di dalam sebuah petak kecil, aku terburu-buru membersihkan diri. Mengambil gayung, mengguyur tubuhku berkali-kali, lalu menuangkan shampoo ke rambutku, menggosokkan banyak busa sabun ke sekujur tubuhku. Karena penasaran, aku sedikit memberanikan diri membukakan sedikit pintu, menciptakan cela sempit untuk mengintip. Sontak, tubuhku terdorong ke belakang karena terkejut setelah mendapati seorang lelaki ternyata berdiri di depan pintu. Aku langsung menutupnya kembali dan menguncinya. Tentu saja itu Mas Eli, dia benar-benar membuatku takut dan merasa ngeri.
Mas Eli mengetuk dari luar tanpa kalimat. Tingkahnya benar-benar membuatku gemetar.
“Aini,” akhirnya lelaki itu memanggil. Membuatku merasa seperti diteror dan terintimidasi.
“Aini.”
“K-kenapa, Mas?” Suaraku bertanya parau.
Lelaki itu diam cukup lama, lalu memohon lirih. “Buka pintunya ….”
“Aku masih mandi—”
“Buka pintunya, sayang.”
Aku menelan saliva, lalu membungkus tubuh basahku dengan handuk. Terpaksa kubukakan pintu, mendapati lelaki itu yang masih berdiri di depan ambang pintu. Mas Eli terlihat senang, lelaki itu melewatiku lalu masuk ke kamar mandi. Tanpa melepaskan celananya ataupun menutup pintu, lelaki itu langsung mengguyur tubuhnya dengan air menggunakan gayung. Meskipun wajahnya terlihat tidak nyaman di kamar mandi kecil yang terlalu sempit dan kotor untuk Mas Eli yang terbiasa membersihkan diri di kamar mandi-kamar mandi mewah.
Baru saja aku hendak kembali ke kamar meninggalkannya, tangan lelaki itu terulur dari kamar mandi ke arahku. Aku menatapnya bingung, apalagi ketika lima jemarinya bergerak seperti meminta sesuatu.
“Apa, Mas?”
“Handuk,” tangan Mas Eli menangkap kain di tubuhku, berniat ingin menariknya hingga lepas.
Ingin sekali aku memukul Mas Eli atau menamparnya, karena kelakuannya yang tidak sopan.
“Nanti aku bawakan, aku ganti baju dulu.”
Mas Eli masih menarik serat handukku. Tatapan dinginnya membuatku menelan ludah.
“Mas selesaikan dulu mandinya. Belum shampoo-an ‘kan? Gosok gigi? Sabunan aja nggak,” aku mengingatkan sambil mengamati rambut dan tubuhnya yang hanya terguyur air.
“Air di kamar mandi ini membuat kulitku gatal,” Mas Eli mengeluh sambil menggaruk perutnya.
Aku sedikit tersinggung, meski harus memaklumi hal itu. Fadli mirip dengan ayahnya, yang juga sesekali mengeluh tentang air di kamar mandi yang membuat kulitnya gatal.
“Kalau begitu kamu pulang saja sana, mandi di rumah mewahmu. Pergi dari sini.” Aku mengusir ketus lalu menepis kasar tangannya yang masih mencekram serat handukku. Aku melengos begitu saja meninggalkan lelaki itu yang mungkin akan kesal karena aku lancang mengusirnya. Aku berusaha untuk tidak perduli dan berniat masuk ke dalam kamar.