CHAPTER ENAM

2137 Words
Revano menghentikan mobilnya di depan Daily resto dan coworking spaces. Ia melirik Lula yang sedang membuka safety belt lalu menatap bangunan di depannya. Di hari sepagi itu, parkiran di sana sudah cukup ramai. “Kakak di sini seharian?” tanya Vano saat melihat Lula sedang mengecek tasnya. “Nggak tahu, sih. Se-bosennya aja.” Jawab Lula. Ia sudah menyampirkan satu tali ranselnya di sebelah punggungnya. “gue duluan. Hati- hati.” Katanya sambil membuka pintu. Vano membuka sedikit jendelanya dan melihat punggung Lula hingga menghilang di balik pintu kaca besar itu. Setelah kehilangan sosok itu, ia kembali menjalankan mobilnya membelah jalanan ibu kota menuju kantornya. *** Lula masuk ke dalam dan langsung mendekati meja kasir. Ia membeli satu cup cokelat dingin untuk bekal bekerjanya. Sebenarnya tempat itu menyediakan kopi dan teh juga air mineral di lantai atas, namun tak banyak pilihan sehingga ia lebih suka membeli minuman di bawah. Lula lebih sering ke tempat itu karena ia berlangganan di tempat itu sehingga ia tak pernah berikir untuk mencoba coworking spaces lain. Selain itu jaraknya yang tak terlalu jauh dari rumah. Makanan dan minumannya enak dan tempat itu punya banyak fasilitas yang bisa dinikmati. Baginya, tempat itu sangat sempurna untuknya. Setelah mendapatkan pesanannya, ia pergi ke lantai dua. Ia memindai sekeliling. Ruangan besar di lantai itu hanya berisi beberapa meja yang terisi. Ia berjalan sambil menimang hingga akhirnya memilih satu meja besar tanpa partisi yang saat itu tak ada yang menempati. Ia menaruh cup dan tasnya di atas meja lalu duduk di salah satu kursi yang kosong. Ia mulai mengeluarkan peralatannya. Ia membuka laptopnya dan membuka aplikasi yang biasa ia gunakan untuk menggambar. Ia berdoa sejenak sebelum memulai pekerjaannya. Setelah selesai dengan ritualnya, ia membuka buku agendanya dan melihat pekerjaan mana yang harus ia lakukan lebih dulu. Wanita itu tampak berpikir lalu mulai menyentuhkan pen di atas drawing pad. Otaknya tak berhenti berpikir, matanya fokus pada layar laptop, tangannya bergerak lincah sambil memegang pen. Garis- garis mulai terbentuk. Gerakan tangannya pelan namun pasti. Sesekali ia berhenti lalu mengklik keyboard laptop dan berpikir lalu melanjutkan. Kali ini ia sedang membuat pesanan poster dari sebuah yayasan untuk acara yang akan mereka adakan dalam waktu dekat. Wanita itu menengadah saat melihat seseorang duduk di depannya. Meja tanpa partisi itu bisa membuatnya melihat dengan jelas siapa yang duduk di depannya. Saat tatapan keduanya bertemu, laki- laki itu mengulas senyum tipis. Lula terdiam lalu kembali menunduk. Laki- laki itu lagi, pikirnya. Laki- laki itu mengelurkan laptop dari dalam tasnya dan beberapa dokumen dari map yang ia bawa. Lula mengigit bibir bawahnya, tampak berpikir hingga akhirnya memberanikan diri menengadahkan kepalanya. Ia melihat laki- laki di depannya sedang fokus menatap dokumen di tangannya. “Makasih untuk kopinya tempo hari.” Kata Lula dengan nada pelan. Ia masih menatap laki- laki itu saat laki- laki itu menengadah dan tatapan mereka bertemu untuk kedua kalinya hari ini. Laki- laki itu mengulas senyum tipis sambil mengangguk. Lula membalas senyum itu lalu kembali pada pekerjaannya. Tangannya mengutak- atik tools dalam aplikasi lalu membuat garis dan menyempurnakannya dengan warna. Ia mengamati tiap detail dalam gambarnya. Dua orang dalam meja itu tampak sibuk dengan kegiatannya masing- masing. Laki- laki itu, Malik, sesekali menatap Lula yang dari tempatnya sangat terlihat jelas. Kedua mata wanita itu fokus pada layar komputer, tangannya tak berhenti bergerak. Fokus wanita itu tercurahkan sepenuhnya pada apa yang sedang ia kerjakan sehingga tak menyadari bahwa dua pasang mata di depannya kerap meliriknya secara diam- diam. Malik melihat tangan wanita itu tiba- tiba berhenti bergerak. Dahinya mengernyit lalu kepalanya menggeleng pelan. Wanita itu sepertinya menemukan sesuatu yang tak beres dengan gambarnya. Malik mengulas senyum tipis. Gemas dengan raut wajah bingung yang ditampilkan wanita di depannya. Sebelah tangan wanita itu mengambil cup di sebelahnya dan menyesap isinya melalui sedotan yang mencuat di tengahnya. Malik merubah fokusnya. Ia menatap layar komputernya. Tak ingin terlihat bahwa ia memperhtikan wanita di depannya. Wanita itu akan merasa tak nyaman jika menyadarinya. Ia akhirnya kembali pada layar laptop di depannya dan dokumen di mejanya. Waktu bergulir saat meja berisi Lula dan Malik masih tampak tenang. Wanita itu tampak fokus pada pekerjaannya dan tampaknya tak mudah terdistraksi dengan apapun. Meja- meja di lantai itu yang semula kosong sudah mulai banyak yang terisi. Meja dengan partisi tampak terisi penuh. Beberapa orang bergerombol masuk ke ruang- ruang private di lantai itu. Suara dering ponsel sesekali terdengar. Lula menumpu dua sikunya lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia mengusap- usap matanya dengan pelan lalu mengangkat wajahnya dan menatap laki- laki yang berada di depannya. Laki- laki itu memakai kemeja berwarna kuning gading yang lengannya dilipat hingga sebatas siku. Rambut laki- laki itu tersisir rapi. Alis tebal laki- laki itu tampak menonjol. Jam analog di pergelangan sebelah kirinya terlihat mahal. Laki- laki itu bukan freelancer, pikir Lula. Laki- laki itu terlalu rapi. Lula menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan mengambil ponsel yang sejak tadi tergeletak di sampingnya. Ia membuka media sosialnya dan berselancar di dunia maya sebentar untuk melepas penat. Setelah puas mengutak atik ponselnya. Ia mengambil satu pounch dari tasnya dan sebelah tangannya mengambil cup minumannya lalu berdiri dan menjauhi meja. Ia berjalan ke samping. Ke sebuah teras terbuka yang digunakan sebagai smoking area. Ruang terbuka itu memiliki beberapa meja yang sudah terisi beberapa. Beberapa orang lain yang ada di sana memilih berdiri bergerombol sambil menikmati lintingan nikotin di tangannya. Lula menempati salah satu meja kosong. Ia mengambil satu bungkus rokok dan korek dari dalam pounch yang ia bawa. Ia mengambil satu linting nikotin dari bungkusan dan membakar ujungnya dengan bantuan korek api. Setelah itu menyesap lintingan itu lalu menghembuskan asapnya ke udara. Ia menatap layar ponselnya yang menyala. Sebuah pesan masuk. Aileen : Lo di mana? Ia menyelipkan lintingan di antara jari telunjuk dan jari tengahnya lalu membalas pesan dari sahabatnya. Lula : Di Daily. Benda pipih itu ia taruh lagi di atas meja dan ia mulai menikmati kegiatan merokoknya. Matanya menatap keluar dan sadar bahwa matahari bersinar terik hari ini namun angin berembus cukup kencang. Beberapa orang masuk ke ruang terbuka itu dan menempati beberapa kursi kosong yang tersedia. Aileen : Masih lama kan? Nanti lunch gue ke sana. Lula membaca pesan yang masuk dan membalas bahwa kemungkinan ia akan sampai malam di tempat itu. Ia kembali menaruh benda pipih dan mulai memerhatikan sekeliling. Beberapa orang bergerombol dan saling mengobrol. Hanya dirinya di ruangan terbuka itu yang duduk seorang diri. Lula suka mengamati sekitar. Pekerjaannya membuatnya harus memiliki inspirasi yang tak terbatas dan mengamati apa yang ada di sekitarnya adalah salah satu caranya mendapatkan inspirasi yang ia butuhkan. Terkadang ia tak perlu jalan- jalan keluar kota atau staycation di tempat- tempat menarik agar mengembalikan mood dan mencari inspirasi. Ia hanya perlu pergi ke tempat yang ramai, lalu memerhatikan sekitar, mendengarkan hiruk pikuk di sekitarnya ataupun hanya melamun. Hal yang mungkin aneh bagi orang lain namun tidak baginya. Ia merasa banyak hal yang bisa ia lakukan untuk mengambalikan moodnya dalam bekerja. Mungkin ia hanya perlu menikmati secangkir kopi sambil menatap hujan, atau makan makanan manis kesukaannya, menonton film dan sekadar mendengarkan musik. Selain memikirkan bahwa ia membutuhkan uang, hal- hal itu juga bisa membuatnya kembali semangat bekerja. Sebelah tangan Lula menekan ujung rokoknya yang tinggal setengah ke dalam asbak. Ia menghabiskan isi cupnya yang tinggal sedikit lalu pergi ke kamar mandi sebelum kembali ke mejanya. *** Aileen sedang sibuk di dalam ruangannya. Ia menaruh satu telapak tangannya di atas meja lalu tangan yang lainnya terlihat memegang kuas cat kuku dan mengusapkannya pada kuku tangan yang menempel pada permukaan meja. Ia mengusap kuas dengan hati- hati. Cat kuku dengan warna merah menyala itu tampak kontras dengan kulit putihnya yang pucat. Setelah mengecat lima kuku jarinya, ia memasukkan kuas itu pada tempatnya dan mengencangkan tutupnya lalu menaruhnya di laci meja, berkumpul bersama dengan cat kuku koleksinya yang lain. Matanya menatap kukunya yang semula bercat putih kini tampak indah dengan warna merah menyala itu. Ia menaruh tangannya di bawah pengering kutek dan membiarkan alat dengan sinar UV itu mengeringkan cat kukunya dengan sempurna. Suara dering telepon memecah keheningan dalam ruangan ruangan itu. Dengan sebelah tangannya yang bebas, Aileen mengangkat gagang telepon yang berada di samping komputernya dan menempelkannya ke sebelah telinganya. Suara sekretarisnya terdengar di ujung sambungan. “Nggak usah. Saya mau lunch di luar. Makasih, ya.” Jawabnya saat sekretarisnya bertanya apa yang ia inginkan untuk makan siang. Ia kembali menaruh gagang telepon itu ke tempat semula lalu menarik tangannya dari pengering kuteks. Ia menatap kuku- kuku tangannya sekali lagi lalu berdiri. Mengambil blazer yang tersampir di gantungan belakangnya dan memakainya untuk menutupi blouse tanpa lengannya. Ia mengambail ponsel di atas meja dan tasnya di rak belakang kursi lalu berjalan mendekati pintu. Suara heelsnya teredam karpet di ruangan itu dan kembali mengetuk lantai granit saat keluar dari ruangannya. Ia bilang pada sekretarisnya akan makan siang di luar dan tak bisa dipastikan kapan akan kembali ke kantor. Wanita itu berjalan mendekati lift dan turun ke lantai satu. Kotak besi itu terbuka di lantai tiga. Empat orang yang berdiri di luar lift. Tersenyum kaku padanya lalu saling pandang satu sama lain. “Ayo masuk. Mau ke bawah juga, kan?” tanya Aileen saat melihat empat orang itu tampak canggung dan tak ingin masuk. Wajah- wajah itu adalah wajah yang pertama kali ia lihat. Setelah sekali lagi saling beradu pandang, salah seorang dari mereka masuk ke dalam lift dan yang lain mengekori. “Kalian anak baru?” tanya Aileen pada dua orang gadis dan dua orang laki- laki yang baru saja masuk ke kotak besi itu. “Iya, Bu.” Salah saorang laki- laki di sana menjawab. Mereka sudah tahu siapa Aileen dan mendengar cukup banyak tentang wanita itu. Semua karyawan sangat menyukai bosnya itu. Wanita itu selalu santai dan ramah. Gaya berpakaiannya tak selalu rapi namun tampak modis. Wanita itu bekerja keras meski terlihat santai. Tak pelit dan semua orang tahu bahwa wanita itu selalu ceria dan tak pernah membeda- bedakan karyawannya. Wanita itu selalu memperlakukan karyawannya sebagai teman. “Ini mau pada ke mana? Bukannya belum masuk waktu makan siang?” tanyanya sambil melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Jam analognya menunjukkan masih pukul sebelas lewat dua puluh menit. “Kita ada pelatihan di ruang meeting lantai satu, Bu.” Kali ini yang menjawab seorang gadis yang rambut panjangnya di kuncir kuda. Aileen mengangguk. Pintu besi itu terbuka. Mereka mempersilakan Aileen keluar lebih dahulu. “Belajar yang pintar, ya.” Kata Aileen pada anak- anak muda yang ikut keluar mengekorinya. Semuanya tersenyum dan mengangguk pada Aileen yang melambai pada mereka sambil menjauh. Suara ketukan high heelsnya terdengar saat wanita itu berjalan. “Kayaknya cuma Bu Aileen, CEO yang ke kantor pakai celana sobek- sobek.” Kata seorang laki- laki yang berkacamata. Mereka menatap punggung Aileen hingga menghilang di balik pintu kantor. “Tapi stylenya memang keren sih. Santai tapi tetap trendy. Nyentrik tadi tetap enak dilihat.” Kata gadis berambut pendek itu dan disambut anggukan setuju oleh yang lainnya. *** Malik masih ada di mejanya saat Lula kembali dari merokok. Ia melihat wanita itu kembali duduk di depannya. Ia menaruh pounch dan ponselnya di atas meja lalu terlihat mulai kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Malik menggigit bibir bawahnya dan tampak berpikir keras. Ia ingin mengobrol dengan wanita di depannya namun bingung harus memulai dari mana. Ia tak pandai berkenalan dan membuka obrolan. Namun dorongan untuk berbagi informasi pribadi dengan wanita itu sangat kuat. Malik kembali menunduk dan menatap pekerjaan dalam laptopnya. Mungkin ini bukan saat yang tepat, pikirnya. Wanita itu sedang serius bekerja dan ia tidak ingin menganggunya. Mungkin wanita itu juga tak suka di ganggu di sela- sela pekerjaannya. Meja yang tadinya hanya mereka tempati berdua kini ditempat oleh yang lainnya. Seorang pria dengan polo shirt abu- abu dan celana chino berwarna hitam menempati kursi di sebelah wanita itu. Sekali lagi wanita itu masih begitu serius menekuri laptopnya. Pen masih terselip di sebelah tangannya dan menari- nari di atas drawing pad. Jam menunjukkan pukul dua belas siang saat ponsel wanita itu berdering dengan nada pelan. Wanita itu mengambil ponsel dengan tangan kirinya. Setelah menslide layar, ia mendekatkan benda pipih itu ke telinganya. Matanya masih fokus pada komputer dan tangan kanannya tak berhenti bergerak. “Iya… oke… gue turun sebentar lagi. Samain kayak lo aja.” Hanya kata- kata itu yang keluar dari mulut Lula. Ia menutup panggilan dan menaruh ponsel di atas meja lalu kembali fokus menyempurnakan pekerjaannya. Lula akhirnya menghela napas saat menyelesaikan pekerjaannya. Ia menatap hasil kerjanya lalu mulai mengirimkan hasilnya pada kliennya melalui email. Ia berharap hasilnya cukup memuaskan untuk kliennya sehingga kliennya tak perlu meminta revisi dan ia bisa melanjutkan ke desain selanjutnya. Setelah memastikan emailnya terkirim, ia menutup menu yang ada di laptopnya dan mulai membereskan barang- barangnya. Melalui ekor matanya, Malik mengamati pergerakan wanita di depannya hingga wanita itu berdiri dan berjalan meninggalkan meja. TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD