Seperti dugaan Aileen, hujan memang turun cukup deras saat Aileen dan Lula baru saja masuk ke dalam mobil. Aileen menyalakan mesin mobilnya dan menekan pedal gas hingga akhirnya empat roda mobil berputar dan mengarah ke Daily.
“Lo ada payung, nggak?” tanya Lula.
“Ada, sih, satu di belakang.” Kata Aileen. Lula mengangguk lalu mengamati rintik hujan yang membasahi jalan. Genangan air yang tak seberapa terlihat di beberapa tempat. Orang- orang yang berjalan ditrotoar memegang payung untuk melindungi diri. Para pengendara motor terlihat menepi untuk menggunakan jas hujan mereka. Hanya orang- orang dengan mobil yang tampak tak terpengaruh karena turunnya hujan.
Mobil yang dikendarai Aileen mulai memasuki area Daily. Mobil itu melesak cepat untuk parkir karena parkiran masih sepi. Setelah keduanya melepaskan safety beltnya, Aileen mengambil payung yang terselip di bagian belakang kursinya.
“Nggak ada yang lebih gede?” kata Lula saat melihat payung milik Aileen. Ia tahu bahwa keduanya akan tetap kebasahan jika memakai payung itu berdua.
“Nggak ada. Udah pakai yang ada aja.” Kata Aileen.
“Tapi lo kan mau meeting, kalau baju lo basah gimana?” kata Lula.
“So sweet banget, sih, lo.” Kata Aileen. Namun ia tak memperdulikan perkataan wanita itu. Ia keluar lebih dulu lalu membuka payung untuk menghalau hujan dan mengitari mobil untuk mendekati pintu sebelahnya.
Lula keluar dan keduanya berada di bawah payung yang sama. Sesuai dugaan Lula, payung itu tak cukup untuk menampung keduanya. Keduanya baru saja berjalan saat mereka dihampiri oleh seseorang dengan payung besar berwarna hitam.
“Pas banget.” Kata Aileen saat melihat Malik menghampiri dengan payung besarnya. Tanpa pikir panjang, Aileen langsung mendorong tubuh Lula hingga wanita itu bergeser dan hampir saja jatuh kalau saja sebelah tangan Malik tak menahannya.
Tatapan Lula dan Malik bersirobok. Lula berdehem lalu memutus kontak dan membenarkan posisi berdirinya. Malik melepaskan sebelah tangannya dari bahu wanita itu.
“Payung Malik lebih besar. Gue mau meeting. Jangan sampai baju gue basah.” Kata Aileen sambil tersenyum jahil. Ia berjalan lebih lebih dulu, meninggalkan Lula yang langsung memaki.
“Kampret. Siayalan banget. Nyari ribut mulu tuh orang dari pagi.” Kata Lula. Tak sadar Malik tercengang mendengar kata- katanya. Wanita itu seperti baru saja memaki orang yang tak dikenalnya, padahal Aileen adalah sahabat terbaiknya.
Lula menoleh ke arah Malik yang terdiam. “lo mau jalan nggak?” tanya wanita itu. Malik mengangguk. Keduanya berjalan beriringan menuju Daily. Malik mengarahkan payungnya sepenuhnya ke tubuh Lula, memastikan bahwa wanita itu tak kebasahan, tak peduli kemeja bagian sampingnya mulai basah karena tak terlindungi payung.
Setelah berhasil masuk ke atap di depan Daily, Lula mengucapkan terima kasih saat Malik baru saja menutup payung besarnya. Malik mengangguk sambil tersenyum lalu melihat wanita itu masuk lebih dulu dan langsung pergi mendekati lift dan menghilang saat pintu lift itu terbuka dan menutup kembali.
Lula keluar dari lift dan masuk ke dalam ruangan besar dengan beberapa sekat yang memisahkan. Di salah satu meja, ia melihat Aileen tertawa ke arahnya.
Aileen berdiri dari duduknya saat melihat Lula mendekat sambil berkacak pinggang, raut wajah gadis itu persis pemangsa yang sedang menatap buruannya.
“Ampun, La.” Aileen bergerak mundur.
“Gila, Lo, ya. Dorong nggak pakai aba- aba. Kalau gue jatuh gimana? Sakitnya sih mungkin nggak seberapa, tapi malunya itu.”
Aileen terbahak. Dua pasang matang yang sudah ada di tempat itu sebelum Aileen datang tampak menghujam ke arah keduanya.
“Ya namanya juga refleks, masa pakai aba- aba.” Ujar Aileen, masih tak bisa menyembunyikan kegelian dalam nada suaranya. Kini keduanya berdiri berhadapan dengan jarak beberapa meter.
“Harusnya lo jangan marah sama gue, lo makasih aja sama Malik, refleksnya bagus karena langsung nahan badan lo. Lo traktir makan kek, nonton kek.”
“Emang sengaja lo, ya.”
***
Vano sedang fokus pada pekerjaannya saat melihat seorang security menghampirinya.
“Mas, ada titipan.” Pria dengan badan tinggi besar berseragam itu menyerahkan sebuah bungkusan padanya.
“Dari siapa, Pak?” tanya laki- laki itu sambil mengambil bungkusan itu dan membukanya. Ia melihat sebuah boks makan ada di dalamnya. Di boks dan plastiknya, tercetak sebuah nama restoran yang ia tak tahu letaknya di mana.
Vano mengucapkan terima kasih lalu melihat pria itu mengangguk dan meninggalkan mejanya. Ia menaruh bungkusan itu di laci mejanya lalu mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Ia baru saja hendak mengirim pesan pada Aileen untuk bertanya apa wanita itu yang mengirim saat pesan Risa masuk ke ponselnya.
Risa: Van, tadi aku kirim sapo tahu ke kantor kamu. Untuk makan siang, ya. Aku kebetulan lagi ketemu klien di luar kantor.
Vano membaca pesan itu baik- baik. Ia tahu bahwa mereka berjanji bahwa mereka akan tetap berhubungan baik. Tapi bukan seperti ini yang ia inginkan. Gadis itu masih terlalu baik padanya. Gadis itu mengiriminya pesan setiap pagi dan menyemangatinya, bertanya sudah makan siang atau belum, juga sudah sampai rumah atau belum. Yang berbeda sekarang adalah, Vano punya pilihan untuk membalas atau tidak. Ia tak harus langsung membalas. Ia tahu bahwa melepaskan mungkin sulit untuk gadis itu. Ia akan memberikan gadis itu waktu untuk membiasakan diri tanpanya. Juga berharap gadis itu menemukan laki- laki yang tepat.
Ia akhirnya membalas pesan gadis itu. Mengucapkan terima kasih dan meminta gadis itu untuk tak repot- repot melakukannya lagi. Setelah memastikan pesannya terkirim, ia kembali menaruh gawainya di tempat semula lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
Seorang gadis berseragam sekolah menangah atas masuk ke dalam Daily. Seragam gadis itu dilapisi jaket denim. Sepasang sepatu yang terlihat lusuh menyelimuti kedua kakinya. Sepatu yang alasnya sudah di lem berkali- kali karena menganga. Rambut gadis itu di kuncir tinggi- tinggi, menyisakan poni yang di potong rata menutupi dahinya. Matanya memindai sekeliling. Restoran itu ramai karena sudah memasuki jam makan siang. Matanya menyorot beberapa orang yang sedang mengantre di depan kasir. Ia akhirnya melangkahkan kakinya menuju kasir untuk memesan.
Sebelah tangannya mengambil ponsel dari dalam saku jaketnya. Dengan ibu jarinya, ia menslide layar untuk membuka ponselnya dan membuka menu galeri. Ia menyentuh satu foto hingga foto itu memenuhi layar ponselnya. Ia menatap foto itu lalu menatap sekeliling hingga akhirnya tiba gilirannya memesan. Ia mengalihkan padangannya dari ponselnya ke daftar menu makanan dan minuman dalam buku menu yang ada di depan meja kasir.
Ia menelan ludah, berpikir sebentar hingga akhirnya memilih menu kopi yang paling murah. Kasir itu melayaninya dengan ramah. Ia mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dari saku kemeja seragamnya yang lusuh dan memberikannya pada kasir saat gadis berseragam itu menyebutkan sejumlah uang yang harus ia bayar.
Ia mengambil kembalian yang diulurkan kasir, juga sebuah papan kecil bertuliskan sebuah nomor. Ia juga mendengar kasir itu memintanya menunggu di meja dan mereka akan mengantarkan pesanannya.
Ia menyingkir dari depan kasir lalu menatap sekeliling hingga akhirnya menemukan satu meja kosong diujung ruangan. Langkah kaki membawanya mendekati meja itu dan duduk di sana. Selama menunggu, ia tak henti- hentinya menatap pelayan- pelayan yang berlalu lalang dan tampak sibuk. Matanya meneliti wajah- wajah itu, berharap bisa menemukan yang sangat mirip dengan yang ada di salah satu foto di galeri ponselnya.
Seorang pelayan menghampirinya dan menyuguhkan pesanannya. Ia mengucapkan terima kasih saat seorang laki- laki berseragam menaruh satu cup gelas berisi es cokelat itu di atas meja.
***
Lula beredecak saat melihat kondisi lantai satu yang begitu ramai. Padahal sudah lewat dari waktu makan siang. Meja- meja hampir semuanya terisi. Di luar, ia bahkan bisa melihat beberapa orang sedang menunggu dan dalam posisi waiting list. Langkah kaki para pelayan tampak lincah dengan nampan di tangan mereka. Bagas, yang biasanya tampak santai kini terlihat tak kalah sibuk. Ia berdiri di samping kasir dan mengecek pesanan dan memastikan tak ada yang terlewat.
Karena sudah kelaparan, Lula akhirnya pergi mendekati kasir yang baru saja menyelesaikan transaksi dan kini tak ada yang mengantre.
“Ramai, ya, Pak, sampai turun gunung.” Kata Lula pada Bagas yang langsung terkekeh ringan.
“Iya, nih.” Jawab laki- laki itu.
Lula memesan satu porsi fu yung hai serta es teh manis lalu memberikan selembar uang seratus ribuan pada sang kasir yang langsung mengambilnya.
Ia menoleh ke arah pintu masuk dan melihat beberapa orang yang tadi duduk di kursi waiting list memasuki restoran. Mereka menempati satu meja yang kosong sementara satu dari mereka mendekati kasir untuk meminta buku menu.
Lula menerima kembaliannya beserta papan bertuliskan nomor sebagai penanda agar pelayan yang mengantar pesanannya tidak bingung. Ia membalik badan. Matanya memindai sekeliling lalu mendekati satu- satunya meja yang kosong di sana.
Lula menaruh ranselnya di kursi kosong lalu duduk di kursi sebelahnya. Matanya langsung menangkap sosok seorang gadis berseragam SMA yang duduk di depan mejanya. Posisi mereka berhadapan sehingga Lula bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu.
Kulit gadis itu sawo matang, dengan mata bulat yang tak henti- hentinya melirik sekeliling. Di atas mejanya hanya ada satu cup minuman es yang Lula tahu karena menyisakan tetes- tetes air di atas meja.
Selama beberapa saat, Lula memerhatikan gerak- gerik dari gadis itu. Ia tak tahu apakah gadis itu sedang menunggu atau mencari seseorang, namun seragam SMAnya tampak mencolok di restoran itu.
Tatapan keduanya tiba- tiba bersirobok. Gadis itu mengulum senyum pada Lula sambil mengangguk kecil tanpa ragu. Lula melengkungkan garis bibirnya untuk membalas senyuman ramah gadis itu.
Sebelah tangan Lula tiba- tiba menarik ransel di sebelahnya. Ia berdiri dan berjalan beberapa langkah untuk mencapai meja gadis itu. Gadis itu menatap Lula yang menjulang di depannya.
“Boleh gabung?” tanya Lula. Ia masih berdiri dan memberi waktu gadis itu untuk berpikir hingga akhirnya ia melihat gadis itu mengangguk pelan.
Lula duduk di depan gadis itu dan menaruh ranselnya di kursi kosong di sebelahnya.
“Lagi nunggu teman?” tanya Lula seraya membuka pembicaraan.
“Nggak, Kak, memang sendirian aja.” Kata gadis itu.
Seorang pelayan menghampiri meja mereka dan menyajikan makanan pesanan Lula. Wangi harum langsung menggelitik hidung kedua wanita itu.
“Udah makan siang?” tanya Lula lagi.
Ia melihat gadis di depannya menggeleng pelan lalu berkata, “masih kenyang.”
“Ini udah lewat jam makan siang, lho.” Kata Lula sambil melirik penunjuk waktu yang melingkari lengan kirinya. “saya traktir, ya. Nggak enak makan sendiri.”
“Nggak usah, Kak.” kata gadis itu dengan nada tak enak.
“Udah nggak apa- apa.” Lula memanggil pelayan yang berada tak jauh dari mejanya dan memesan seperti yang ia pesan, lengkap beserta minumannya.
Mengindahkan makanan pesanannya yang sudah sampai, Lula memilih mengajak gadis di depannya mengobrol ringan.
“Baru pertama kali ke sini, ya? saya baru lihat kamu.” Kata Lula.
“Iya, Kak. Saya baru pertama kali ke sini.”
“Lula.” Lula akhirnya mengulurkan sebelah tangannya.
Gadis itu, Hana, menatap uluran tangan Lula. Ia menelan ludah lalu menjabat tangan itu dan menyebutkan namanya.
Kedua jabatan tangan itu terurai. Lula lalu bertanya di mana gadis itu bersekolah. Dan saat gadis itu menyebutkannya, Lula langsung terkejut karena ia juga pernah bersekolah di sana belasan tahun lalu, begitu juga dengan Hana. Keduanya tertawa.
“Bu Puji masih ngajar nggak? Guru bahasa inggris yang galak banget itu.” bayangan seorang wanita dengan seragam guru yang memiliki tatapan sejeli elang hadir di pikirannya.
“Masih, Kak. Memang galak dari dulu, ya? ampun deh kalau udah ngawas ujian, kayak napas aja terasa berat banget.” Kata Hana yang langsung membuat Lula tertawa.
Kembali, pelayan menghampiri meja mereka dan menyajikan pesanan di atas meja. Hana menatap isi piringnya yang menguarkan aroma harum. Dari wanginya, ia tahu kalau rasanya akan enak.
“Ayo di makan.” Kata Lula. Ia sudah mengambil sendok dan garpunya lalu memulai suapan pertama. Hana mengucapkan terima kasih sekali lagi lalu mengikuti apa yang Lula lakukan.
Mereka menikmati makanan dalam piring masing- masing, masih sambil mengobrol ringan yang membuat Lula sedikit bernostalgia dengan sekolanya. Beberapa meja di restoran itu mulai ditinggalkan pengunjungnya. Suasanya sudah tak sehectic sebelumnya. Sudah tak ada antrean di depan meja kasir. Para pelayan kini fokus membersihkan meja- meja yang sudah kosong.
Setelah matahari sempat bersinar selepas hujan yang hanya turun sekitar dua jam, cuaca terlihat mendung lagi. Mulai besok, ia sepertinya harus membawa payung untuk berjaga- jaga, pikir Lula.
Hana mengunyah dengan pelan. Menikmati rasa tiap potong fu yung hai di piringnya. Ia mengunyah dengan pelan agar rasa itu tak buru- buru lenyap dari mulutnya. Ia sampai lupa alasan kenapa ia pergi ke tempat itu.
“Lula…” suara itu membuat si empunya nama menoleh ke asal suara. Aileen berjalan cepat menghampirinya. “gue ke kantor, ya.” kata wanita itu saat sampai di depan meja Lula dan melirik Hana sekilas dan mengulas senyum.
“Lo udah makan siang?” tanya Lula. “tumben buru- buru banget.”
“Iya… buru- buru gue. Ada klien yang nunggu di kantor. Gue duluan, ya, Bye.” Kata wanita itu dengan nada cepat tanpa jeda.
Lula melihat wanita itu berlari kecil dengan high heels tiga senti meternya mendekati pintu transparan Daily dan menghilang dari pandangannya.
Keduanya masih mengobrol saat isi piring masing- masing tak bersisa. Isi gelas mereka tinggal setengah. Langit semakin mendung, namun hujan belum turun meski suara guntur sesekali terdengar.
Hana melihat ke luar dan menyadari langit semakin menggelap. Ia melirik jam murah yang melingkari pergelangan tangannya dan memutuskan untuk pulang sebelum hujan turun.
“Kak… saya pulang duluan, ya.” kata gadis itu.
“Kamu pulang naik apa?”
“Naik bus dari halte depan.” Jawab gadis itu sambil melirik ke arah luar, di mana sebuah halte terlihat.
“Nggak naik transportasi online aja. Kayaknya sebentar lagi hujan.” Kata Lula.
“Nggak, Kak, nggak apa- apa.”
“Yaudah bareng, deh.” Kata Lula.
Keduanya berjalan beriringan. Hana langsung mendekati pintu sementara Lula mendekati kasir untuk membayar sisa pesanannya. Sementara kasir memproses, ia membukan aplikasi tranportasi online untuk memesan taksi online. Setelah menyelesaikan transaksinya, ia berjalan pelan menuju pintu transparan itu. Hana masih menunggunya di depan Daily.
Lula melongok ke keranjang tempat payung yang ada di depan Daily dan menyadari bahwa payung milik Aileen masih ada di sana, wanita itu lupa membawanya kembali. Tangannya terulur untuk mengambil payung itu lalu memberikannya pada Hana.
“Nggak usah, Kak. Buat kak aja” gadis itu berusaha menolak karena merasa tak enak pada Lula. Wanita sudah terlalu terlalu baik padanya padahal keduanya baru saling mengenal.
“Kamu lebih butuh. Aku udah pesan taksi, jadi pasti bakal langsung sampai depan rumah.” Kata Lula. Tangannya yang memegang benda itu masih terulur.
Hana menatap payung itu lalu sebelah tangannya terangkat. Payung itu berpindah tangan. Hana sekali lagi mengucapkan terima kasih. Lula membalas dengan senyum. Keduanya berjalan menuju halte yang berada tak jauh dari Daily.
Lula kebingungan saat melihat Hana tiba- tiba berhenti. Mereka tinggal beberapa langkah lagi menuju halte. Ia menoleh dan meliht kedua mata gadis itu membulat dan tampak terkejut. Gadis itu menunduk, Lula mengikuti arah pandangnya.
“Kenapa?” tanya Lula. Hana menggerakkan salah satu kakinya dan melihat bahwa jarinya yang diselimuti kaos kaki putih terlihat saat ia mengangkat sedikit kakinya. Lem yang merekatkan alas sol sepatu itu sudah tak kuat sehingga sepatu bagian depan gadis itu menganga.
Hana tersenyum getir pada Lula lalu melepaskan sepatunya dan berjalan tanpa satu alas kaki menuju halte.
“Sepatunya memang udah tua, Kak. Udah harus pensiun.” kata gadis itu sambil terkekeh ringan. Berusaha menyembunyikan rasa malunya pada Lula yang menatapnya kasihan.
Lula menatap sneakers yang melapisi kedua kakinya. Setelah berpikir panjang, ia memutuskan untuk membuka kedua sepatunya. Badannya sedikit membungkuk untuk mengambil sepasang sepatu miliknya dan menaruhnya di depan Hana yang langsung terdiam.
“Nggak usah, Kak. Hana nggak apa- apa.” Gadis itu kembali menaruh sepatu itu di depan Lula.
“Nggak apa- apa. Kamu kan naik bis, masa nggak pakai sepatu.” Kata Lula, kembali menaruh sneakersnya di depan gadis itu. Ia sekali lagi bilang bahwa ia naik taksi sehingga akan diantar langsung sampai rumah. Gadis itu jelas lebih butuh sepatu itu.
Perasaan tak enak menyeruak di hati Hana. Ia masih berpikir dan menatap sepasang sepatu di depannya lekat- lekat. Sepatu yang terlihat bagus dan mahal. Kedua matanya berkaca- kaca, tak pernah mendapati kebaikan seperti ini sepanjang hidupnya.
Rintik- tintik hujan akhirnya turun juga. Bersamaan dengan sebulir air mata Hana yang lolos dari kelopak matanya.
Lula menggeser duduknya. Ia melihat bahu gadis itu bergetar. Sebelah tangannya terangkat untuk merangkul bahu itu. Ia mengusapnya pelan.
“Makasih, ya, Kak. Kakak baik banget.” Kata gadis itu setelah berhasil mati- matian menghentikan tangisnya.
Lula mengangguk meski tahu gadis itu tak bisa melihat anggukannya karena gadis itu terus menunduk seakan malu hanya untuk menatapnya. Namun ia tahu bahwa bahwa gadis itu tulus berterima kasih.
“Ayo di pakai. Mungkin agak kegedean dikit.” Kata Lula akhirnya. Ia melihat gadis itu menunduk untuk memakai sepatunya.
“Pas, Kak.” kata gadis itu sambil tersenyum. Kali ini ia menatap Lula. Wanita itu bisa melihat kedua bola mata itu berbinar. “Nanti Hana balikin setelah Hana cuci, ya, Kak.” kata gadis itu. Ia tahu sepatu putih itu akan kotor karena terkena hujan.
“Buat kamu aja kalau pas.” Kata Lula.
“Kak…”
“Nggak apa- apa. Di rumah saya masih banyak.” Kata Lula, “eh, maaf, saya nggak bermaksud sombong.” Ia meralat ucapannya dan melihat gadis itu tersenyum.
Hana menatap ke ujung jalan dan melihat bus yang harus akan ia naiki melaju mendekatinya.
“Hana naik bus itu, Kak.” kata Hana. Ia melihat Lula mengikuti arah pandangannya sambil mengangguk. “sekali lagi makasih, ya, Kak.” Hana berdiri lalu membungkuk dalam- dalam ke arah Lula. Tak lupa, ia membuang sepasang sepatu lusuh yang sudah menemaninya selama bertahun- tahun itu ke tempat sampah yang ada di dekat halte.
“Sama- sama… hati- hati, ya.” katanya.
Bus itu berhenti di depan mereka. Lula melihat gadis itu berlari masuk ke dalam bus. Gadis itu duduk di dekat kaca dan masih sempat tersenyum dan melambai padanya.
Lula menatap bus berwarna biru muda itu hingga lenyap dari pandangannya. Ia menatap ponselnya dan mencari tahu sudah sampai di mana taksi online pasanannya. Dalam aplikasi itu, terlihat informasi bahwa ia akan sampai sekitar lima menit lagi.
Ia menatap kedua kakinya yang hanya beralaskan kaus kaki. Hujan tak sederas pagi tadi. Ia menjadi satu- satunya orang yang ada di halte itu.
Ia masih fokus pada benda pipih di tangannya saat seseorang duduk di sebelahnya. Lula tak menoleh, ia fokus berselancar di dunia maya. Tangan sibuk menscroll layar hingga akhirnya melihat sepasang sepatu kets ditaruh di depannya. Ia menatap sepatu itu lalu menoleh ke samping dan melihat Malik duduk di sebelahnya. Matanya melirik kedua kaki laki- laki yang hanya terbalut kaos kaki hitam. Laki- laki itu baru saja melepaskan sepatunya dan menaruhnya di depannya.
“Nggak usah. Gue naik taksi kok.” Kata Lula tanpa basa- basi.
“Tetap aja. Nanti kaos kaki kamu pasti basah.” Malik menatap air hujan yang mulai mendekati aspal tempat mereka duduk karena terbawa angin. “nggak apa- apa. Aku ada sandal jepit di mobil. Lagian aku juga udah mau pulang.” Kata laki- laki itu. Berharap kata- katanya bisa meyakinkan wanita itu.
Lula menatap sepasang sepatu itu, juga aspal yang mulai mengalirkan air ke arahnya. Ia mengangkat kedua kakinya lalu melirik kedua kaos kaki Malik yang sudah basah.
Karena tahu bahwa Malik tak akan memakai kembali sepatunya karena kedua alas kaos kaki laki- laki itu sudah basah, ia akhirnya mengambil sepatu itu dan memakainya. Ia mengucapkan terima kasih.
“Kamu kenal sama gadis itu?” tanya Malik setelah Lula selesai memakai sepatunya.
“Nggak…” jawab Lula singkat.
Malik tak bertanya lagi. Ia hanya duduk di sana sambil menatap rintik hujan yang jatuh di depannya, hingga tak lama sebuah mobil berhenti di depannya. Ia menoleh, melihat Lula berdiri dari duduknya.
Tatapan keduanya bersirobok. Lula mengucapkan terima kasih padanya sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil itu. Malik ada di sana sampai mobil itu menghilang dari pandangannya. Matanya lalu menatap kaos kakinya yang sudah basah. Ia tak benar- benar punya sandal jepit. Ia juga masih harus kembali ke Daily karena pekerjaannya belum selesai.
TBC
LalunaKia