CHAPTER TIGA PULUH

2318 Words
            Lula meringis saat merasakan perutnya melilit karena lapar. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam empat sore dan ia belum sempat makan siang. Ia melirik Malik yang masih tampak serius menekuri pekerjaannya.             Sebelah tangannya menekan ikon save ke semua aplikasi yang terbuka di laptopnya lalu menutup semuanya. Setelah itu, ia menekan ikon shut down dalan melihat layar laptopnya mulai mati. Masih dengan gerakan pelan, ia memasukkan satu persatu barang- barangnya ke dalam ranselnya.             “Mau ke mana?” suara itu mengejutkannya saat ia baru saja berdiri dari duduknya.             “Suka- suka gue.” jawab Lula lalu pergi menjauhi Malik yang langsung buru- buru membereskan barang- barangnya.             Lula memilih menuruni tangga dan langsung pergi ke meja kasir. Resto di lantai satu itu tampak tak seramai lantai atas. Hanya ada beberapa meja yang terisi. Lula tak berpikir panjang. Ia langsung memilih satu porsi sop iga dan es teh tawar. Setelah menyelesaikan pembayaran dan menerima kembalian dari kasir perempuan yang sudah sangat dikenalnya, ia berbalik dan melihat Malik sudah berada tepat di belakangnya.             Laki- laki itu tersenyum sementara Lula mencebik kesal. Lula melewati laki- laki itu dan memilih satu meja di pojok. Ia menaruh ransel di sebelahnya dan menatap ponselnya yang baru saja berdenting.             Aileen: Balik jam berapa?             Lula: Belum tahu. Gue baru sempat lunch. Nggak tahu deh nanti lanjut apa nggak.             Pesan balasan masuk sebelum Lula sempat menaruh ponselnya di atas meja.             Aileen: Ke tempat biasa, yuk.             Lula: Nggak bosen apa lo mabok mulu?             Aileen: Pusing gue.             Lula: Pusing tuh minum bodrek. Bukan mabok.             Aileen: Bukan gitu, Kampreet.             Lula menengadahkan kepalanya saat melihat Malik duduk di kursi di depannya tanpa permisi. “aku duduk di sini, ya.” kata laki- laki itu.             Itu bukan pertanyaan, pikir Lula, sehingga ia tak menjawab. Ia membiarakn laki- laki itu menaruh ranselnya di kursi lain yang kosong sementara ia melanjutkan percakapannya dengan Aileen melalui aplikasi chatting.             Ia baru menengadah saat seorang pelayan laki- laki menghampiri mejanya dengan sebuah nampan di tangannya. Laki- laki menyajikan makanan dan minuman pesanannnya. Lula mengucapkan terima kasih sebelum laki- laki itu pergi dari hadapannya.             Ia melirik Malik yang tengah menatapnya. “Kamu nggak bosen aja apa senyum- senyum mulu.” Kata Lula saat Malik mengulas senyum tipis ke arahnya. Senyum yang mulai bosan dilihatnya.             “Senyum itu sedekah yang paling murah.” Jawab laki- laki itu.             “Sedekah sama yang membutuhkan. Aku nggak butuh.” Jawab Lula. Ia sedang memegang sendoknya saat pelayan kembali ke mejanya dan mengantarkan pesanan laki- laki itu.             Malik tak membalas kata- kata Lula. Ia menatap Lula yang sudah memulai suapan pertama. Ia mengikuti. Selama beberapa saat, keduanya sibuk dengan piring masing- masing. Malik sesekali melirik Lula yang sekali lagi tampak fokus pada isi piringnya dan tampak tak terganggu dengan keberadaannya. Wanita itu seperti tak menganggapnya ada. Membuat Malik terheran- heran.             “La…” kata Malik setelah mengosongkan isi mulutnya. Ia mendengar wanita itu berdehem namun tak juga menatapnya. Wanita itu sibuk dengan sendok garpu dan piring yang ada di depannya.                       “Lula…” lirih Malik lagi.             “Hhhhmmm…” Lula kembali berdehem. Ia tidak ingin tahu apa yang akan keluar dari mulut laki- laki itu. Ia membiarkan laki- laki itu berkutat dengan pikirannya sendiri. Ia tak ingin diganggu oleh siapapun, termasuk dengan laki- laki yang duduk di depannya.             “Kamu cantik…” kata laki- laki itu akhirnya. Lula menghentikan kegiatannya, menghela napas kasar lalu menatap Malik yang lagi- lagi tersenyum ke arahnya.             “Sekali lagi bilang aku cantik, ku tendang kamu, ya.” kata Lula. Lengkap dengan lirikan sinis andalannya. Malik yang tak pernah menyangka bahwa kalimat itu akan keluar dari mulut Lula langsung terdiam. Ia menatap Lula, matanya mengerjap dua kali. Memastikan bahwa ia tak salah dengar. “Aku nggak main- main.” Kata Lula lagi. Kali ini kedua matanya melotot.             Malik menelan ludah. Ia kembali melanjutkan makannya dan tak membuka pembicaraan lagi hingga piring kedua habis di waktu yang hampir bersamaan.             Menjelang jam pulang kantor. Restoran itu mulai ramai. Geromb0lan orang memasuki resto dan langsung menuju ke kasir. Banyak dari mereka yang hanya memesan kopi dan berbagai camilan daripada makanan berat karena belum memasuki jam makan malam. Mereka datang ke sana untuk mengobrol dan mengabiskan waktu bersama teman- teman.             Lula menyedot es teh tawarnya dari sedotan yang mencuat dari dalam gelas. Ia menatap Malik yang juga sedang menatapnya.             “Habis ini mau langsung pulang?” tanya laki- laki itu akhirnya. Ia tak tahan harus berdiam saat mereka berada dalam satu meja dan seharusnya bisa membicarakan lebih banyak hal.             Lula hanya mengangkat bahu sebagai jawaban tercepat. Ujung sedotan masih terselip di antara bibirnya.             Setelah menghabiskan isi gelasnya, ia mengambil ranselnya lalu berdiri dan berjalan ke area outdoor yang beberapa mejanya terisi. Malik mengikutinya dan kembali duduk di depan Lula yang langsung menghela napas kasar.             “Masih banyak meja kosong.” kata Lula. Kali ini wanita itu tak bisa menyembunyikan kejengkelan dalam nada suaranya.             “Aku maunya di sini.” Jawab Malik singkat, "nggak apa- apa, ya." Lula berdecak. Ia tak ingin berdebat sehingga ia tak berbicara lagi. Ia mengambil satu bungkus rokok dari dalam tasnya beserta korek api.             Malik menatap Lula yang memngambil satu lintingan nikotin dari dalam bungkusnya dan membakar ujungnya dengan bantuan pemantik api. Setelah itu, wanita itu menghisap ujung lainnya dan mengeluarkan asapnya melalui mulut.             Lula menggulurkan bungkus r0koknya pada Malik yang langsung menolaknya dengan gelengan kepala.             “Nggak ngerok0k?” tanya Lula. Ia melihat laki- laki di depannya kembali menggeleng. Lula melanjutkan kegiatannya             “Kamu ngerok0k udah lama?” tanya Malik. Ia melihat Lula mengangguk sambil menghisap rok0knya dalam- dalam. Ia menatap baju wanita itu yang warnanya tampak cocok di kulit kuning langsatnya. Rambut panjang yang diikat tinggi itu membuat anak- anak rambut jatuh di bagian belakang dan samping wajahnya. Pujiannya beberapa saat yang lalu bukankah sebuah godaan. Namun baginya, wanita itu cantik. Sama seperti hari- hari sebelumnya. Wanita itu tak pernah terlihat gagal dengan outfit yang dikenakannya.             “Kenapa ngerokok?” tanya Malik lagi.             Lula mengetukkan rok0knya di pinggiran asbak hingga abu rokoknya jatuh ke dalam asbak. Dahinya berkerut dalam saat mendengar pertanyaan Malik yang terdengar aneh di telinganya.             “Pertanyaan macam apa itu.” kata Lula. Seraut bingung masih terlihat di wajahnya.             “Ya maksudnya, kamu kan pasti tahu kalau merokok itu nggak sehat buat…” kalimat yang keluar dari mulut Malik berhenti saat melihat sebelah tangan Lula terangkat dan mengisyaratkannya untuk diam.             “Nggak usah ceramah, ya. Jangan buang energi. Nggak akan mempan. Aku bebal banget soal ini.”             Malik terdiam. Ia menatap Lula yang masih menikmati lintingan nikotinnya.             “Coba sekarang di balik. Kenapa kamu nggak ngerorok?” Kali ini Lula bertanya pada Malik yang langsung tampak berpikir. Laki- laki itu menatap Lula lekat- lekat. Sinar matahari sore yang menerpa bahu telanjang wanita itu membuat kulitanya tampak mengkilap.             “Nggak suka aja.” Jawab Malik singkat.             “Nah, sama. Aku ngrokok yaa karena aku suka.”             Lula tersenyum puas lalu mengalihkan pandangannya dari laki- laki di depannya. Ia berharap bahwa dengan jawabannya, laki- laki itu berhenti mendekatinya. Menurutnya, laki- laki yang tak merok0k pasti akan lebih sadar kesehatan, dan mereka tak akan mencari wanita yang mencintai rok0k. Ia berharap laki- laki itu cukup sadar bahwa Lula seharusnya tak masuk dalam kriteria laki- laki itu.             “Lula…” suara itu membuat keduanya menoleh ke sumber suara. Mereka melihat Aileen baru saja melewati pintu transparan yang memisahkan area indoor dan outdoor lalu kini tengah berjalan mendekatin meja mereka.             Wanita itu memakai dress berbahan denim selutut. Sepatu hak tingginya terdengar mengetuk- ngetuk lantai keramik saat ia berjalan.             “Eh, lagi ngedate?” tanya Aileen. Jika Malik hanya mengulas senyum tipis andalannya, Lula melotot pada Aileen dan membuat wanita itu terkekeh pelan.             Aileen mengambil tempat di samping Lula. Ia mengambil bungkus rok0k di atas meja dan mengambil satu batangnya dari sana.             “Gue ganggu, ya?” tanya Aileen lagi sambil menyelipkan lintingan itu di antara bibirnya dan menyulut ujungnya dengan bantuan korek api yang juga ada di atas meja.             Aileen melihat Malik menggeleng pelan sementara Lula terlihat mematikan putung rok0knya yang sudah pendek ke dalam asbak.             “Gue sama Lula cantikan siapa?” tanya Aileen pada Malik tiba- tiba. Lula langsung menoleh arah Aileen yang tersenyum jahil. Aileen melihat Lula berdecak lalu menatap Malik yang tampak terdiam kebingungan.             “Kenapa? Tinggal jawab doang.” Kata Aileen pada Malik yang terlihat seperti baru saja mendapatkan pertanyaan yang sangat sulit.             “Takut ditendang.”   ***               Sepulang dari kantor, Vano pergi menjemput Risa di kantornya. Gadis itu mengajaknya menonton film. Setelah sampai di kantor Risa, ia memilih menunggu di mobil setelah berhasil memarkirkan mobilnya di tempat yang tersedia.             Dari posisinya, ia bisa melihat pintu utama kantor gadis itu. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan gawainya dari sana. Ia mengirim pesan pada gadis itu, memberitahu bahwa ia sudah ada di depan.             Tak lama, ia melihat gadis itu keluar dari pintu transparan itu bersama seorang laki- laki. Keduanya tampak tertawa bersama. Mereka berdua berhenti sebentar dan terlihat mengobrol sebentar hingga akhirnya laki- laki itu mengusap pucuk kepala Risa sebelum akhirnya berjalan ke samping menuju parkiran motor.             Vano menatap keduanya dan melihat Risa berjalan mendekati mobilnya. Gadis itu tersenyum padanya melalui jendela mobilnya yang terbuka.             “Belum lama, kan?” tanya gadis itu saat masuk ke dalam mobil.             “Belum. Aku juga barusan WA.” Kata Vano. Ia sudah mulai menyalakan mesin mobil dan memutar kemudinya keluar pelataran kantor gadis itu.             “Yang tadi keluar bareng kamu siapa?” tanya Vano saat ia menghentikan mobilnya di sebuah perempatan lampu merah.             “Mas Eka.” Jawab Risa cepat. “kenapa?” tanyanya. Ia melirik ke arah Vano yang tengah menatap detik dalam lampu lalu lintas yang bergerak mundur.             “Nggak apa- apa. Kayaknya kamu dekat sama dia, ya?” tanya Vano. Ia kembali menekan pedal gas saat lampu lalu lintas menunjukkan lampu berwarna hijau.             “Biasa aja, sih. Cuma karena dia senior, jadi pas aku baru masuk, dia memang banyak bantu aku.” Jelas Risa. Risa melihat laki- laki di sebelahnya mengangguk dengan pandangannya terarah sepunuhnya pada jalanan.             “Kamu nggak cemburu kan, sayang?” tanya Risa. Ia merasa ada sedikit nada tendensius dari pertanyaan yang dilontarkan oleh laki- laki itu.             “Nggak kok. Cuma agak aneh lihat dia usap kepala kamu.” Kata Vano. Mobilnya sudah memasuki basement di mall.             “Dia memang kadang suka usil, Van. Nggak cuma aku yang digituin.” Jelas Risa.             “Iya… iya… aku percaya kok sama kamu.” Vano sudah mematikan mesin mobilnya setelah berhasil mendapatkan parkiran yang kosong. Ia menoleh dan mengusap rambut wanita itu sambil tersenyum tulus.             Keduanya keluar dari mobil dan mendekati lift yang ada di basement yang bisa membawa mereka memasuki mall. Mereka langsung menuju lantai di mana bioskop berada.             Keduanya memasuki bioskop yang hari itu ramai. Risa langsung menggandeng tangan Vano menuju loket penjualan. Risa yang sudah tahu ingin menonton apa langsung mengajak Vano mengantre bersama yang lainnya.             Setelah berdiri di depan sebuah wanita dengan seragam khas dan rambut tergulung rapi yang menyapanya dengan ramah, Risa memberitahu film apa yang ingi ia tonton dan wanita berseragam itu menunjukkan kursi- kursi yang masih kosong.             Risa memilih dua kursi kosong lalu mendengar wanita itu menyebutkan sejumlah uang untuk dibayar. Vano menyerahkan dua lembar uang kepada kasir dan pergi setelah mendapatkan kembalian. Mereka masih punya waktu satu setengah jam sebelum film di mulai. Keduanya memutuskan untuk makan terlebih dahulu.                         Risa melingkarkan lengannya di lengan Vano dan berkeliling. Lantai khusus tempat makan itu ramai karena sudah memasuki jam makan malam. Hampir semua resto penuh, beberapa ada yang waiting list. Risa akhirnya memilih salah satu retoran siap saji yang beberapa mejanya terlihat kosong karena baru saja ditinggal pengunjung sebelumnya.             “Ini ja.” Kata gadis itu sambil menarik tangan Vano memasuki restoran itu. Mereka berdua mengantre dan memilih dua paket makanan dalam menu saat sampai di depan kasir. Wanita berseragam itu langsung mengetukkan jarinya di atas mesin kasir lalu meyebutkan sejumlah uang yang harus di bayar. Vano mengeluarkan dua lembar uang dari dompet yang baru ia keluarkan dari sakunya dan menyerahkan pada sang kasir.             Setelah menerima kembalian, keduanya menyingkir dan menunggu di tempat yang disediakan sambil menunggu pesanan mereka selesai dibuat.             “Revan…” suara pelan itu membuat keduanya menoleh ke sumber suara. Tak jauh dari tempatnya, mereka melihat seorang gadis berambut sebahu menatap ke arah Vano dengan tatapan ragu- ragu. Vano memicingkan matanya, menatap gadis itu lekat- lekat. Mengingat apakah ia mengenalnya.             “Revano anak Pak Imam, kan?” tanya gadis itu lagi. “SD 01.” Katanya lagi. Vano mengangguk dan melihat gadis itu mendekat hingga akhirnya berdiri di depannya.             “Gue Putri.” Kata gadis itu. “yang duduk sebangku sama lo pas kelas enam.” Gadis itu masih berusaha membuat Vano mengingatnya. Sementara Risa menatap gadis di depannya dengan tatapan tak suka.             “Putri…” Vano mulai mengingat. Bayangan seorang gadis kecil cerewet yang selalu di kuncir dengan seragam kebesaran terlintas di otaknya. “yang cerewet itu…” katanyanya. Ia melihat gadis itu depannya mengangguk sambil tersenyum.             Vano mengulurkan tangannya dan menanyakan kabar gadis itu sementara Risa mendekat ke meja kasir dan mengambil pesanannya. Ia langsung pergi mencari meja kosong dan membiarkan Vano dan teman lamanya mengobrol.             Vano menoleh dan mendapati bahwa Risa sudah tak ada di sebelahnya, padahal ia ingin mengenalkan gadis itu pada Putri, teman lamanya. Matanya memindai sekeliling hingga akhirnya menemukan Risa sudah menempati salah satu meja. Bibir wanita mengerucut dengan wajah yang ditekuk. Vano sadar bahwa ia baru saja membuat masalah.             Ia berbicara sebentar karena Putri memberitahu bahwa ia dan teman- teman SDnya yang lain akan mengadakan reuni dalam waktu dekat. Keduanya bertukar nomor ponsel untuk komunikasi lebih lanjut.             Putri yang sudah selesai makan, memilih langsung keluar dari restoran siap saji itu, sementara Vano mendekati meja Risa.             “Ris…” Panggil Vano saat ia melihat Risa makan dengan fokus dan tak menatap ke arahnya yang sudah duduk di depan gadis itu.             “Aku nggak suka kamu nyimpan nomor perempuan itu. Hapus sekarang!!!”  TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD