CHAPTER SEBELAS

2038 Words
            “Iya… maaf, sayang.” Kata Vano dengan lirih juga lembut. Di sebelahnya, Risa masih melipat kedua tangannya di depan d**a dan mencebik kesal. “aku cuma nonton series sama Kak Lula sama Kak Aileen.” Jelas Vano.             “Ya berarti kamu bohong dong. Pas chat terakhir kamu bilang mau tidur, kamu ternyata nggak tidur kan?” Risa melirik Vano dengan sinis.             Revano menghena napas kasar, “tadi aku mau tidur. Cuma pas aku ambil air ke dapur, aku ngobrol bentar sama mereka, terus ikutan nonton deh.” Kata Vano.              Ini bukan yang pertama kali terjadi. Ia sudah sering terjadi saat mereka menjalani hubungan jarak jauh. Namun ia tak tahu bahwa menghadapi Risa tecara langsung ternyata lebih sulit.             Gadis itu marah karena melihat last seen di chatnya tadi pagi menunjukkan ia terakhir membuka aplikasi itu pukul setengah dua malam, padahal jam setengah sebelas, ia sudah bilang pada gadis itu bahwa ia akan langsung tidur. Hanya karena itu gadis itu menuduhnya berbohong dan tak percaya saat ia bilang bahwa ia hanya menonton serial di ruang tamunya. Ia bahkan tak keluar rumah.             “Kamu boleh tanya Kak Lula atau Kak Aileen.” Vano mengulurkan ponselnya ke arah gadis itu yang masih bergeming. “kamu tahu kalau aku nggak punya banyak teman di sini. Aku nggak punya alasan untuk keluyuran malam- malam.” Jelasnya.             Vano kembali menarik tangannya saat Risa tak juga menyambut ponselnya. Ia memasukkan ponsel itu ke saku celananya lalu menatap Risa yang masih melempar pandangan keluar jendela. Mereka masih ada di dalam mobil. Menepi di sebuah taman di komplek perumahan Risa. Vano tahu ia harus menyelesaikan masalahnya sebelum mengantar gadis itu ke rumahnya. Kalau tidak, gadis itu tak akan membalas pesannya ataupun mengangkat teleponnya. Seperti yang gadis itu lakukan seharian ini.             Sebelah tangan Vano terulur untuk mengambil tangan Risa dan mengusapnya pelan.             “Sayang…” katanya pelan.             Risa menoleh lalu melihat Vano yang tampak bersungguh- sungguh. Ia mempercayai laki- laki itu. Sifat posesifnya semata- mata karena ia takut kehilangan laki- laki itu. Ia menatap kekasihnya lekat- lekat lalu mengangguk pelan.             Garis bibir laki- laki itu terangkat. Ia mengusap rambut Risa dan meminta gadis itu untuk tersenyum. Risa tersenyum kecil, membuat hati Vano menghangat. Ia kembali menjalankan mobilnya dan berputar- putar di komplek perumahan gadis itu.             Ia memberitahu gadis itu bahwa ia berencana mengajaknya untuk berpergian bersama kakaknya dan Aileen. Rencana itu disambut baik oleh Risa. Ia bilang bahwa ia memang butuh liburan karena pekerjaannya semakin hari semakin membuatnya penat. Ia baru merencanakan liburan bersama laki- laki itu sebelum laki- laki itu menceritakan rencananya. Sebuah kebetulan yang menyenangkan.              Setelah puas mengobrol, Vano mengantar Risa ke rumahnya. Mobil itu berhenti di depan gerbang sebuah rumah sederhana.             “Kamu nggak mau mampir dulu?” tanya Risa sesaat setelah ia membuka safety beltnya.             “Nggak deh. Nanti aku mampir akhir pekan aja. Nggak enak udah malam.” Kata Vano. Risa mengangguk lalu berpamitan pada Vano dan keluar dari mobil.             Revano melihat Risa memutar di depannya. Ia membuka jendela mobilnya dan melihat gadis itu berkata padanya untuk hati- hati. Vano mengangguk lalu melihat Risa melambai padanya dan masuk ke dalam gerbang itu.             Setelah sosok Risa menghilang dari pandangannya, ia kembali menyalakan mesin mobilnya dan menjalankan kendaraan roda empat itu keluar dari komplek perumahan itu.             Vano sampai di rumahnya dalam waktu kurang dari satu jam. Saat ia menekan handle pintu, pintu cokelat itu terkunci, tanda bahwa tak ada orang dalam rumah. Ia mengambil kunci cadangan yang ada di dalam tasnya.             Setelah berhasil memutar kunci, ia menekan handle pintu dan mendorongnya hingga pintu itu terbuka. Ia masuk dan langsung mendekati stop kontak untuk menyalakan lampu.             Melewati sofa ruang tamu, ia langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Kurang dari setengah jam, ia keluar dengan handuk yang meliliti pinggangnya. Ia membuka lemari pakaiannya dan mengambil sepotong kaos dan celana pendek.             Saat menjatuhkan dirinya di ranjang empuknya, ia melirik jam dinding di kamar itu dan melihat waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia mengambil ponselnya dan membalas pesan yang masuk dari Risa. Setelah itu mengirim pesan pada Lula dan bertanya di mana wanita itu berada dan menyuruhnya pulang sesegera mungkin.             Setelah menaruh kembali gawainya ke atas nakas, ia menarik selimut hingga ke pinggangnya dan memejamkan matanya. Tak butuh waktu lama untuk Vano terlelap. Napas laki- laki itu teratur, menandakan bahwa  laki- laki itu sudah tertidur pulas. Waktu terus bergulir semakin malam. Rumah itu tak juga kedatangan satu lagi penghuninya.   ***               Lounge di salah satu hotel berbintang itu ramai. Nyaris semua meja terisi penuh. Para pelayan berseragam hitam terlihat mondar mandir dengan nampan berisi makanan dan minuman di tangannya. Langkah kaki para pelaan tampak lincah. Beberapa pria berseragam keamanan terlihat di beberapa sudut.             Penerangan tempat itu temaran, dengan lampu sorot yang menyorot secara acak. Live music terlihat di panggung yang ada di ujung ruangan, dengan sebuah LED screen berukuran besar di belakangnya. Sebuah band dengan penyanyi wanita bersuara merdu membuat suasana semakin santai dan berwarna. Di salah satu meja yang terisi itu, ada sosok Lula dan Aileen yang tengah asik mengobrol. Piring berisi camilan dan gelas berisi minuman berwarna terlihat di atas meja. Ada juga botol minuman beralkohol yang isinya tersisa setengah.             Hanya meja Lula dan Aileen yang berisi dua orang. Meja- meja lainnya berisi paling tidak empat atau lebih orang. Semuanya asik mengobrol dan tertawa. Tempat itu berisi anak- anak muda yang masih duduk di bangku kuliah, sisanya adalah para pekerja kantoran yang datang selepas pulang kerja bersama teman- temannya. Beberapa orang terlihat berdiri di depan panggung dan menggoyangkan tubuhnya mengikuti musik yang terdengar.               Lula menguap, ia melihat Aileen menenggak minuman beralkohol itu meski tahu kesadarannya sudah tak sepenuhnya. Toleransi wanita itu terhadap alkohol memang cukup baik, tak seperti Lula.             “Ayo, La… lagi… La…” Aileen menuangkan isi botol minuman ke gelas Lula dan meminta Lula menenggaknya. Lula melakukannya. Keduanya masih mengobrol dan membicarakan banyak hal.             Musik yang semula berasal dari band kini digantikan oleh seorang DJ. Dj dengan peawakat agak gemuk dengan tubuh tegap dan kulit sawo matang itu tampak bersiap- siap. Hingga tak lama suara musiknya terdengar dan menyulut riuh dari orang- orang yang masih berdiri di depan panggung.             “Ai, lo udah minta supir jemput?” tanya Lula. Ia tahu bahwa mereka tak mungkin menyetir sendiri meski masih dalam kondisi sadar.             Aileen tak pernah mau menyetir jika sudah menyentuh alkohol meski kesadarannya masih penuh. Ia takut terjadi apa- apa. Ia selalu berpikir bahwa tak masalah jika ia kecelakaan tunggal, namun yang ia takutkan adalah jika ia menabrak seseorang atau pengendaraan lain yang mungkin akan berakibat fatal. Biasanya Aileen akan meminta salah satu supirnya untuk menjemputnya   ***               Jam menunjuikkan pukul setengah dua malam saat Vano menggeliat dan membuka matanya. Mata laki- laki itu langsung menatap jam dinding di ruangan itu. Ia bangun dari tidurnya dan langsung turun dari ranjang. Sebelah tangannya terangkat untuk mengusap matanya. Langkah kakinya mendekati pintu kamar dan membukanya pelan.             Ruang tamu itu kosong. Seperti tak berubah sejak terakhir kali ia lihat saat pulang. Ia lalu bergerak ke samping. Ia menekan handle pintu dan membukanya. Kegelapan langsung menyergapnya. Ia tahu bahwa kamar itu kosong karena lampu tidurnya tak menyala.             Ia berdecak lalu kembali ke kamarnya dan mengambil ponselnya di atas nakas. Pesan yang ia kirim pada kakaknya sebelum tidur tak berbalas. Ia lalu mencari kontak wanita itu dan menghubunginya. Panggilan pertama tak terjawab. Ia kembali melakukan panggilan namun tak juga terjawab. Butuh lima kali panggilan hingga ia bisa mendengar suara diujung sambungan yang sudah sangat dikenalnya.             “Kakak di mana?” tanya Vano tanpa basa- basi. Ia bisa mendengar suara musik begitu keras di ujung sambungan.             “Kenapa?” balas Lula.             “Udah malam… buruan pulang!!!” Perintah Vano. Suaranya menyentak. Berusaha mengalahkan suara musik di ujung sambungan.             “Iya nanti…” hanya itu yang keluar dari mulut Lula.             “Sekarang!!! Lo di mana? Gue jemput sekarang.” Kata Vano akhirnya. Ia tahu bahwa kakaknya tak akan menuruti kata- katanya sehingga ia yang harus berisiniatif.             Vano mendengar Lula menyebutkan sebuah lounge dia salah hotel di bilangan sudirman. Ia melekatkan nama itu baik- baik lalu melepas sambungan. Ia mendekati lemarinya dan mengambil celana jeans panjang dari sana dan memakainya. Sebelah tangannya menyambar jaket yang tergantung di belakang pintu. Ia bergegas ke ruang tamu dan mengambil kunci mobil yang ia taruh di laci lalu pergi ke garasi setelah mengunci pintunya.             Ia mencari alamat tempat melalui maps lalu menjalankan mobilnya membelah jalanan malam yang lenggang. Setengah jam lebih ia berhasil memarkirkan mobilnya di pelataran hotel. Setelah bertanya sana- sini, ia akhirnya berhasil masuk ke lounge tempat Lula dan Aileen berada.             Matanya memindai sekeliling, mencoba mencari keberadaan keduanya di antara puluhan orang yang ada di sana. Ia berdecak lalu mulai berjalan seperti orang kebingungan hingga akhirnya berhasil menemukan keduanya di salah satu meja.             Keduanya tengah mengobrol dengan lintingan nikotin terselip di antara jari telunjuk dan jari tengah masing- masing. Vano mendekati keduanya dan berdiri di sebelah meja. Kedua orang itu langsung menengadahkan kepala dan tersenyum pada laki- laki itu yang menatap keduanya dingin.             “Duduk, Van.” Aileen menarik tangan Vano hingga laki- laki itu jatuh di sisi sebelahnya yang kosong.             “Ayo pulang, Kak. Udah hampir pagi gini.” Kata Vano pada Lula yang sedang menekankan ujung rokoknya ke asbak di depannya. Vano melihat wanita itu mengangguk pelan.             Vano menoleh dan melihat Aileen yang hendak kembali menenggak minuman dalam gelasnya. Belum sempat tepi gelas itu menyentuh bibir Aileen, Vano mengambilnya tanpa persetujuan.             “Hei…” Aileen menatap Vano yang kini merebut lintingan nikotin dari tangannya dan menekannya ke tengah asbak.             Vano mencium bau alkohol yang menyengat dari mulut Aileen. Hanya dengan melihat raut wajahnya saja, ia bisa melihat bahwa wanita itu sudah mabuk. Wajah putihnya terlihat memerah.             “Pulang, ya, Kak.” kata Vano pada Aileen yang kini memijat- mijat kepalanya. Vano menatap ke meja. Memastikan tak ada barang pribadi kedua wanita itu tak ada yang tertinggal.             Jika Lula masih bisa berjalan sendiri dan kesadarannya masih penuh karena tak terlalu banyak minum, lain halnya dengan Aileen. Jalan wanita itu sempoyongan sehingga Vano perlu memapahnya hingga ke dalam mobil.             “Kalau nggak ada gue. Kalian mau pulang sama siapa?” tanya Vano dengan nada geregetan pada Lula dan Aileen yang duduk di bangku belakang.             “Tinggal panggil supir Aileen.” Jawab Lula. Aileen sudah memejamkan mata di sebelahnya.             Vano berdecak. Matanya masih fokus pada jalanan yang tampak sepi karena sudah mamasuki dini hari.             “Lo belum tidur?” tanya Lula. Ia melempar pandangan ke luar jendela dan memijit kepalanya yang mulai terasa pusing.             “Kebangun.” Jawab Vano. Tak ada lagi yang membuka pembicaraan. Vano fokus pada jalanan hingga akhirnya mobil itu masuk ke garasi rumahnya.             Vano keluar lebih dulu dan membuka pintu penumpang. Ia membangunkan Lula yang matanya sudah terpejam. Kedua matanya mengerjap beberapa kali hingga akhirnya terbuka sempurna.             Vano membantu Lula keluar dari mobil. “Lo bantu Aileen aja.” Lula melepas pegangan adiknya pada lengannya. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya dengan kunci yang ia dapat di tasnya. Ia masuk ke dalam rumah, melempar tasnya ke atas sofa dan membuka sepatunya dengan asal. Dengan kaki telanjang ia masuk ke dalam kamar dan langsung menjatuhkan diri di ranjang empuknya.             Vano susah payah memapah tubuh wanita itu saat berhasil mengelurkannya dari mobil. Wanita itu sepertinya sudah pulas entah karena memang mengantuk atau pengaruh alkohol yang diminumnya.             Karena kesulitan, Vano akhirnya membopong tubuh wanita itu. Ia menggengdongnya dan masuk ke dalam kamar kakaknya yang sudah menyembunyikan tubuhnya di balik selimut. Ia menaruh tubuh itu ke atas ranjang dan menggelengkan kepalanya. Bisa- bisanya wanita berumur hampir tiga puluh tahun terlihat seperti ini.             Ia memutar dan berdiri di sebelah kakaknya. “Kak, bangun. Ganti baju dulu, kek. Baju lo bau banget rokok.” Kata Vano sambil mengoyang- goyangkan lengan wanita itu.             “Gue ngantuk.” Kata Lula tanpa memembuka matanya.             “Asap rokok yang nempel di baju nggak bagus buat pernapasan lo. Lagian nanti baunya nempel ke mana- mana.” Katanya lagi. Kali ini keduanya mata Lula terbuka.             Vano mendekati lemari baju Lula dan mengambil dua pasang piayama dari sana.             “Sekalian gantiin baju kak Aileen.” Katanya saat Lula sudah duduk di atas ranjang.             “Lo aja yang gantiin.” Kata Lula.             “Gilaa!!!” Kata Vano sambil melotot. Ia berdecak lalu berbalik dan menghilang di balik pintu.              Lula terkekeh ringan, "Dia masih bocah."  TBC LalunaKia                  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD