CHAPTER TIGA PULUH SEMBILAN

2202 Words
            “Van lo punya acara apa hari ini?” tanya Lula saat melihat Vano keluar dari rumah. Ia sendiri sudah bangun sejak pagi dan melanjutkan lukisannya.             “Belum ada rencana apa- apa, sih.” Jawab laki- laki itu. Ia pergi mendekati kran, menyalakannya lalu mengambil selang dan menyiram tanaman yang ada di halaman.             “Jalan- jalan, yuk.” Ajak wanita itu. Matanya masih fokus pada kanvasnya.             “Ke mana?”             “Ke mall. Sekalian belanja bulanan.” Jawab Lula. Tangannya masih sibuk mengusap kuas pada kanvas.             “Yaudah…” jawab laki- laki itu. Selama beberapa menit, keduanya sibuk dengan kegiatan masing- masing. Setelah menyiram semua tanaman yang ada di halaman, Vano duduk di kursi kosong di sebelah kakaknya dan menatap lukisan di atas kanvas yang sudah hampir selesai.             “Berdua doang?” tanya Vano.             “Kenapa? Lo mau ngajak Risa? Nggak boleh.” Kata Lula langsung. Kali ini ia tak peduli pada perasaan adiknya. Vano pasti sudah tahu seberapa tidak sukanya ia pada Risa. Ia tidak akan lagi menahan diri. Ia akan berkata apa yang ada di pikirannya meski harus menjelek- jelekkan kekasih laki- laki itu.             “Ish… bukan itu. Kak Aileen nggak di ajak?” Vano memperjelas maksud pertanyaannya.             “Dia mah nggak usah di ajak juga nanti nongol sendiri.” katanya.             Lula masih menatap kanvas di depannya sementara Vano menatap jalanan di depan rumahnya yang sepi. Hanya terlihat beberapa motor yang lewat. Namun tak lama, tiga orang ibu- ibu melewatinya dan menyapanya dengan sangat ramah.             “Dari mana ibu- ibu?” tanya Vano dengan tak kalah ramah. Lula hanya mengulas senyum tipis saat ketiganya berhenti di depan rumahnya.             “Dari warung.” Seorang ibu- ibu menunjukkan kantong plastik dalam tangannya.             “Mas Vano di sini, toh? Saya baru lihat. Makin ganteng aja.” Kata ibu- ibu berdaster batik yang tampak semangat bertemu dengan laki- laki itu.             Hampir semua mengenal Lula dan Vano dengan baik karena sebelumnya kedua orangtua keduanya tinggal di sana cukup lama sebelum memutuskan untuk pulang ke kampung. Tak banyak yang berubah dari pemilik- pemilik rumah di komplek itu sehingga mereka masih begitu mengenal Lula dan Vano.             “Vano ingat Dista nggak? Anak saya yang seumuran kamu?”             Vano sudah berjalan mendekati ketiga wanita paruh baya itu untuk berbincang- bincang.             Lula berdecak. Ia menatap adiknya yang tampak asik mengobrol bersama ibu- ibu itu. Mereka tampak seperti sedang reuni karena tampak seru membicarakan hal- hal yang banyak terlewat.             Lula baru saja menghela napas lega karena berhasil menyelesaikan satu pekejaannya saat Vano kembali duduk di sebelahnya.             “Jadi lo pilih yang mana?” Tanya Lula. Ia sudah menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan menatap puas hasil kerjanya.             “Pilih apaan?” Vano balik bertanya karena bingung.             “Bukannya mereka mau jodohin lo sama anak mereka?” Lula menoleh ke arah Vano yang langsung berdecak.             “Waktu itu gue pernah ketemu Amel pas mau berangkat kerja. Itu aja udah canggung banget. Sama- sama lupa tapi berusaha ingat.” Vano bercerita. “gila ya, waktu terasa cepat banget. Perasaan baru kemarin gue main sama mereka.”             “Jangan ngomong gitu, lo bikin gue marasa tua.” Selak Lula.             “Lah… lo kan memang udah tua kan? Nggak nyadar?”             “Anak kampreet!!!”   ***               “Tumben, nih, anak di sini.” Kata seorang pria paruh baya saat melihat anak bungsunya memasuki ruangan makan. Aileen tertawa lalu menyapa ayah dan ibunya yang pagi itu ada di meja makan. “biasanya tiap ditanya ada di mana, jawabnya selalu di rumah Lula.” kata pria itu lagi.             “Mama juga sampai bingung, Pa. Sebenarnya di ruang Lula tuh ada apa sih? Sampai Aileen bisa nginep berhari- hari di sana.” kali ini ibunya yang berbicara.             “Ada teman, Ma, yang jelas.” Jawab Aileen, ia mengambil roti dengan isi selai dari piring di atas meja makan dan mengunyahnya pelan.             “Ajak main, lah, ke sini. Lama dia nggak main ke sini.” Kata ayah Aileen.             “Iya. Gimana kalau ajak makan malam besok.”             “Lula sibuk.” Jawab Aileen singkat.             “Sibuk ngapain orang weekend gini.” Kata Ibu Aileen.             “Sibuk memperkaya diri.”   ***               Lula menatap Vano yang berjalan mondar- mandir di depannya. Gawainya nemempel di sebelah tangan laki- laki itu. Laki- laki itu masih tampak fokus berbicara pada orang yang ada di seberang sambungan.             Lula menumpu sebelah kakinya pada kaki satunya. Ia berdecak karena melihat laki- laki itu sepertinya tak akan mengakhiri panggilan dalam waktu dekat. Laki- laki itu sudah beralih dari hadapannya ke dapur saat Lula menghentak- hentakan keduanya kakinya dengan sengaja.             “Ribut lagi tuh orang kayaknya.” Kata Lula sambil menggeleng- gelengkan kepalanya. Ia mengambil ponselnya di atas meja saat benda pipih itu berdenting.             Aileen: La, di mana?             Lula: Di rumah. Tapi mau ke supermarket nih. Mau belanja bulanan.             Aileen: Ikut dong. Ke tempat biasa kan? Ketemu di sana ya.             Lula: Oke.             Tak lama setelah Lula menaruh benda pipih itu di dalam tasnya, Vano kembali ke ruang tamu.             “Jadi nggak nih?” tanya Lula pada laki- laki yang kini berdiri di depannya dan tengah mengotak- atik ponselnya.             “Jadi… jadi… ayo.” Laki- laki itu sudah berjalan lebih dulu keluar dari rumah. Lula mengekorinya dan mengunci pintu rumah sebelum mengikuti laki- laki itu masuk ke dalam mobil.             “Ribut lagi lo, ya?” kata Lula setelah ia berhasil menghempaskan dirinya di samping laki- laki itu.             “Risa mendadak ngajakin jalan.” Kata laki- laki itu. Vano menaruh ponselnya di saku dan mulai menyalakan mesin mobil.             “Terus dia ngomel- ngomel?” Lula menebak. Ia melihat Vano terdiam, laki- laki itu fokus mengeluarkan kendaraan roda empat itu dari garasi rumah. “dia pikir lo tuh nggak punya keluarga apa.” Keluh Lula.             “Nggak gitu juga, Kak.” seperti biasa, Vano tak ingin kakaknya terlalu mengintimidasi Risa sehingga selalu berusaha menjadi penengah. Ia sudah berkali- kali bilang pada Risa bahwa jangan mengajaknya pergi secara mendadak. Tadi siang padahal ia sudah bilang pada gadis itu bahwa ia akan pergi berbelanja bersama kakaknya. Gadis itu tak masalah dan memberikan izinnya. Namun saat Vano ingin berangkat, gadis itu bilang ia ingin mengajaknya pergi ke acara pembukaan kafe teman lamanya. Gadis itu memaksa Vano mengantarnya meski tahu bahwa ia sudah berjanji dengan Lula terlebih dahulu.             Vano akhirnya meminta gadis itu pergi sendiri dan berjanji nanti akan menjemputnya. Namun seperti biasa, dibanding menerima jalan keluar yang ia tawarkan, Risa lebih memilih untuk melampiaskan semua kemarahannya. Vano hanya menghela napas panjang dan menelan semuanya mentah- mentah. Ia seperti sudah sangat terbiasa mendengar amarah gadis itu. Hati dan telinganya sepertinya semakin hari semakin terbiasa.             Lula tak membuka pembicaraan lagi. Ia menyalakan radio sehingga suara musik mengalun mengisi kekosongan sementara Vano fokus pada kemudinya.             Sore itu jalanan lumayan padat. Mungkin karena malam minggu. Semua orang sepertinya keluar dari rumah untuk bertemu dengan kekasih dan teman- temannya. Café- café di pinggir jalan sudah mulai ramai. Beberapa orang terlihat berlari santai di trotar. Jalur sepeda di lewati geromb0lan orang- orang bersepeda.             Mobil Vano berhenti di sebuah perempatan lampu merah. Ia menoleh ke samping dan melihat kakaknya membuang pandang keluar jendela. Ia menatap Lula yang hari itu memakai kaos putih yang dipadankan dengan rok denim selutut. Alas kaki wanita itu hanya berupa sandal jepit. Sebuah totebag menyantel di sebelah bahunya.             Ia tahu bahwa kakaknya sebenarnya tak susah untuk mendapatkan pacar. Wanita itu cantik dan gaul, juga ramah. Ia tahu bahwa bukan hal aneh jika Malik menyukai kakaknya. Secara kasat mata, kakaknya memang terlihat sebagai wanita yang mudah dicintai. Vano tahu keputusan apa yang yang melatarbelakangi kakaknya yang masih ingin sendiri diumur yang sudah hampir genap tiga puluh tahun. Ia tahu bahwa hubungan terakhir wanita itu dengan mantan pacaranya yang membuat wanita itu masih betah sendiri. Wanita itu pernah memberikan dunianya pada mantan pacaranya yang akhirnya meninggalkannya dan memilih wanita lain. Wanita itu pernah menyerahkan seluruh waktunya dan mengantungkan kebahagiaannya pada seseorang yang akhirnya pergi darinya.             Vano menjadi saksi di mana Lula pernah merasakan patah hati yang amat sangat. Ia menjadi saksi bagaimana wanita itu hancur hingga akhirnya bisa berada dalam tahap ini. Wanita itu kini mencintai dirinya, hidupnya dan tak peduli pada omongan orang lain. Wanita itu tak peduli jika teman- teman seusinya sudah menikah, atau sudah memiliki anak, atau paling tidak memiliki kekasih. Wanita itu tak lagi menyamakan garis startnya dengan orang lain. Wanita itu menjadi dewasa karena ditempa oleh keadaan dan sembuhkan oleh waktu.             Ia kembali menekan pedal gas saat melihat lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau. Ia kembali fokus pada jalanan hingga akhirnya mobil itu memasuki basemen sebuah mall di bilangan Jakarta selatan.             Ponsel Lula berdering saat keduanya berdiri di depan lift. Wanita itu merogoh tasnya dan mengeluarkan gawainya dari sana. Dengan ibu jarinya, wanita itu menslide layar lalu mendekatkan benda pipih itu ke sebelah telinganya.             Vano mendengar wanita itu menyebutkan posisinya pada orang di seberang hingga akhirnya memutuskan panggilan.             Keduanya masuk ke dalam lift saat pintu besi itu terbuka di depannya. “Aileen. Dia udah nunggu di supermarket.” Kata Lula saat Vano bertanya siapa yang menelepon.             “Ikut juga dia.” Kata Vano.             “Gue bilang apa, dia mah nggak usah di ajak. Nanti juga nongol sendiri.” kata Lula. Keduanya keluar dari lift dan langsung keluar di depan supermarket yang hari itu ramai.             Vano mengambil troli lalu mengekori Lula yang berjalan masuk ke dalam supermarket. Mereka langsung menemukan Aileen yang sedang berdiri di depan rak makanan ringan. Wanita itu memakai celana pendek yang dipadankan dengan kaos putih polos. Sebuah sling bag menggantung di sebelah bahunya.             Lula menepuk pundak wanita itu hingga wanita itu berbalik ke arahnya. “Lo yang niat belanja, kenapa gue duluan yang sampai.” Kata Aileen.             “Lo pasti udah kangen banget sama gue, makanya buru- buru datang ke sini.” Kata Lula.             “Kok lo tahu sih, La. Gue kayaknya nggak bisa deh kalau sehari aja nggak ketemu lo.” Aileen merangkul pundak Lula dan mulai berjalan mengitari rak- rak yang ada di sana. Vano tersenyum sambil mengekori keduanya.               ***               Malik mematut tubuhnya di depan cermin. Ia mengamati penampilannya hari ini. Kali ini meninggalkan kesan formal pada dirinya. Ia menggantikan kemejanya dengan kaos polos berwarna hitam. Celana bahannya ia gantikan dengan celana pendek berwarna abu- abu. Rambutnya yang biasanya tersisi rapi dengan bantuan gel kini ia biarkan apa adanya. Ia hanya menyisirnya dengan jari- jari tangannya.             Ia berdecak. Ia tak menyukai style yang seperti ini. Penampilannya memang membuatnya terlihat sedikit berbeda. Namun ia jelas merasa aneh melihat dirinya sendiri. Tapi ia mengingat kata- kata Bagas semalam. Paling tidak ia harus mulai membiasakannya.             Ia keluar dari kamarnya dan langsung mendapat tatapan tidak percaya dari ibunya yang berada di ruang tamu.             “Kenapa, sih, Bu?” tanya Malik saat melihat ibunya tampak terdiam menatapnya.             “Kamu ganteng banget.” Kata wanita itu yang langsung membuat Malik tersipu malu. “harusnya kamu begini aja setiap hari.” Kata wanita itu lagi.             “Nggak bisa dong, Bu. Contoh nggak bagus buat karyawan Malik.” Kata laki- laki itu sambil pergi ke ujung ruangan dan mendekati lemari yang menyimpan beberapa kolekasi sepatunya. Ia mengambil sepasang sepatu kets dari lemari kecil itu juga kaos kaki dalam kotak lalu kembali menghampiri ibunya di ruang tamu.             “Ya paling nggak, nggak pakai celana bahan terus. Rambut nggak usah klimis- klimis.” Kata Indah. Malik hanya mengulas senyum sambil memakai sepatunya.             Hari ini Malik memang akan mengajak ibunya pergi berbelanja. Mereka akan membeli beberapa kebutuhan rumah yang sudah habis. Sebenarnya tak peduli apa yang akan mereka beli, Malik hanya ingin menghabiskan waktu dengan ibunya selagi ia punya waktu.             Setelah selesai mengcover kedua kakinya dengan sepatu kets itu, Malik berdiri dan keluar dari rumah. Malik langsung mendekati mobil, sementara Indah mengunci pintu rumahnya terlebih dahulu.             “Hubungan kamu sama Lula gimana?” tanya Indah saat mobil Malik baru saja keluar dari komplek perumahaan mereka. Malik menoleh ke ibunya sebentar. Tak menyangka kalau ibunya kan menanyakan hal itu.             “Ibu setuju kalau Malik sama Lula?” tanya laki- laki itu. Ia melirik ibunya sebentar lalu mengembalikan pandangannya kembali ke jalanan di depannya.             “Ibu ikut kamu aja. Ibu percaya kamu nggak bakal salah pilih perempuan.” Kata Indah. “tadinya ibu pikir perempuan yang kamu taksir, tuh, Aileen. Soalnya pas buka pintu, ibu lihat tangan dia gandeng lengan kamu.”             Indah melihat anaknya tertawa. “dia memang gitu, Bu. Suka gandeng- gandeng orang sembarangan. Ketemu orang baru udah kayak ketemu teman lama. Dia juga yang bikin Malik kenalan sama Lula.”             Malik akhirnya bercerita lebih banyak mengenai dua sosok itu. Sosok yang sudah sangat dikenal di Daily. Ia menceritakan pertama kalinya melihat Lula hingga akhirnya tertarik pada wanita itu. Juga saat Aileen yang dalam berbagai kesempatan berusaha untuk mendekatkannya dengan Lula.             Indah tersenyum saat melihat semua cerita yang mengalir dari mulut anaknya. Ia mendengarkannya dengan seksama. Hal yang terasa begitu menyenangkan. Ia seperti baru saja mendengarkan anaknya bercerita mengenai cinta pertamanya. Indah tahu bahwa suatu saat laki- laki itu akan mendapatkan wanita yang tepat. Yang dapat menggetarkan hatinya hanya dengan melihat wajahnya. Indah hanya berdoa bahwa perasaan anaknya bersambut dengan baik. Ia tidak akan sanggup melihat hati laki- laki itu patah. Laki- laki itu sudah menunggu begitu lama untuk mendapatkan perempuan yang dapat menggetarkan hatinya, ia ingin laki- laki itu mendapatkan apa yang laki- laki itu inginkan.   TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD