Bab 2: Bunga Mawar

1387 Words
Lorry berjalan keluar dari auditorium dengan diiringi bisik-bisik kagum dari peserta MOS yang masih tak percaya bisa satu sekolah dengan penulis terkenal. Suara-suara yang memuji dirinya paket lengkap karena memiliki wajah yang cantik dan pintar menulis hanya bisa membuat Lorry tersenyum menanggapinya. Saat sudah berada di luar auditorium, senyumnya sirna digantikan dengan gerutuan tentang panasnya udara di dalam auditorium. Ia jadi iba pada para peserta yang harus duduk di dalam dua sampai tiga jam. Ia yang hanya berdiri selama kurang lebih sepuluh menit untuk memperkenalkan organisasi KIR sudah keringatan, lebih-lebih peserta di dalam. Seorang pemuda berbaju panitia MOS berdiri di bawah pohon rindang yang ada di depan kelas. Ketika melihat Lorry sudah keluar dari auditorium, ia tersenyum lebar dan mengangkat sebotol minuman dingin yang digenggamnya. “Gerah ya di dalam sana?” tanya pemuda itu membuka botol minuman dan memberikannya pada Lorry. Lorry mengangguk. “Banget, sumpah,” ujarnya dan meneguk minuman itu sampai tersisa setengah. “Terus, lo kapan dipanggil, Rai?” tanyanya setelah puas minum. Pemuda pemilik nama lengkap Raiden Belvano Bricolane yang juga pacar Lorry itu hanya mengedikkan bahunya. “Gue gugup banget, nih.” “Santai aja. Tinggal ceritain aja gimana keadaan band lo sekarang, berapa anggotanya dan tugasnya apa aja. Kemudian, bagaimana dan di acara apa biasanya band sekolah kita tampil. Gue yakin banyak yang tertarik. Cewek-ceweknya pasti banyak tertarik gantiin lo jadi vokalis. Kemarin pas tes mental, cewek-ceweknya disuruh menyanyi dan banyak yang bagus suaranya,” terang Lorry. “Oke. Kasih semangat, dong!” ujar Raiden dengan nada manja dan mencondongkan wajahnya ke depan. Lorry menahan senyum dan melihat sekelilingnya. Melihat suasana sepi, ia menempelkan telapak tangannya di pipi Raiden dan mengecupnya dengan cepat. “Kok, nggak kerasa, ya?” tanya Raiden dengan nada usil. “Nggak usah macam-macam! Kita lagi di sekolah, tahu!” ujar Lorry menahan malu. Ia menunduk, menyembunyikan pipinya yang memerah. “Berarti kalau bukan di sekolah, bisa, dong, langsung nempel di sini.” Raiden menunjuk pipinya dan menatap pacarnya dengan sorot nakal. “Kalian ngapain di sini?” Lorry berbalik kaget dengan netra membulat mendengar suara Kiara di belakangnya. “Nggak ngapa-ngapain, kok!” ujar gadis itu tegang. Sementara itu, Raiden membuang pandangan ke arah lain, menghindari tatapan Kiara yang seakan-akan mencurigai mereka. “Giliran lo naik, Rai,” ujar Dea akhirnya. Sekali lagi, ia menatap keduanya secara bergantian. Namun, Lorry mengalihkan perhatiannya dengan mendorong Raiden agar segera pergi ke auditorium. “Aneh banget, sih, lo,” gumam Kiara heran lalu menyusul Raiden ke auditorium. Selepas keduanya pergi, Lorry mengelus dadanya pelan. Mencium pipi Raiden secara tak langsung di sekolah membuatnya serasa uji nyali. Ia merinding pelan membayangkan kalau saja Kiara melihatnya tadi, gadis itu pasti akan meledeknya habis-habisan. Kaki Lorry melangkah menuju UKS untuk beristirahat sejenak. Saat memperkenalkan organisasi KIR tadi, sesi tanya jawab membuatnya kelelahan. Banyak pertanyaan yang masuk dan rata-rata semuanya adalah pertanyaan mengenai dirinya dan bukan tentang organisasi. Parahnya, Kiara malah mendukung para siswa yang bertanya seperti itu. *** Setelah perkenalan setiap organisasi, kini para peserta MOS diarahkan keluar lapangan untuk bermain game. Tirta memberi arahan untuk mengatur barisan per kelompok agar rapi dan menyuruh peserta duduk bersila. Setelah itu, Kiara dan panitia perempuan lainnya langsung mengambil alih dengan masing-masing membawa sebuah gelas air mineral berisi kertas-kertas kecil yang digulung. “Perhatian semuanya!” seru Kiara melalui mic. “Jadi, game kali ini hanya untuk orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang beruntung itu hanya satu orang setiap kelompok.” Riuh rendah dari barisan peserta terdengar. “Beruntung apanya!” Melly menoleh ke samping ketika mendengar suara Alfa, teman sekelompoknya berbisik takut. “Pasti ujung-ujungnya kena hukuman,” tambah Lisa, gadis berdarah Tionghoa yang paling pertama mengajak Melly bicara saat MOS. “Kita lihat aja,” gumam Melly. “Nah, kakak-kakak yang berdiri di depan ini akan membagikan kertasnya. Jangan dibuka sebelum disuruh. Yang ketahuan buka duluan, akan dapat hukuman.” Kiara menyuruh teman panitianya membagikan kertas itu. Setelah semuanya mendapatkan kertas itu, Kiara menyuruh mereka membukanya. “Mati gue!” pekik Lisa melihat tulisan ‘Anda beruntung’ di kertas yang didapatnya. Melly dan Alfa menghela napas lega dan malah mengompori Lisa yang gugup. “Nah, yang dapat tulisan Anda beruntung ayo naik. Jangan lama-lama!” seru Dea mempertegas suaranya. “Hayoo, naik lo, Lis. Beruntung, ‘kan?” goda Alfa terkekeh puas. Lima belas orang akhirnya maju. Wajah mereka terlihat tegang. Semuanya disuruh berbaris dan menghadap para peserta yang duduk. Dari bawah, Alfa dan Melly mengangkat tinju mereka, menyemangati Lisa yang matanya sudah berkaca-kaca. “Nah, dari lima belas orang ini, akan dipilih tiga orang lagi yang beruntung. Dua belas lainnya akan dikasih hukuman. Jadi, siap-siap, ya! Di sini ada tiga pertanyaan, tiga orang yang berhasil jawab, itu yang menang. Dengarkan baik-baik pertanyaannya dan yang tahu segera angkat tangan.” Dea memberi arahan dan mulai membaca pertanyaannya. Pertanyaan satu dijawab oleh peserta dari kelompok lima belas dan jawabannya benar. Empat belas peserta lainnya langsung waspada. Aura persaingan di antara mereka sangat kental. Peserta yang hanya menonton ikut tegang menyaksikan game ini. Jawaban dua dan tiga akhirnya dijawab kelompok dua dan lima. Lisa dari kelompok tujuh tak menjawab apa pun karena panik. Otaknya yang cukup encer tak bisa berpikir dengan baik di suasana seperti ini. Ia meremas roknya dengan gugup. Ia dan sebelas orang lainnya akhirnya dibawa salah satu panitia perempuan ke sudut lapangan. Peserta perempuan diberi mawar yang terbuat dari kertas dan peserta laki-laki diberi permen. “Untuk yang perempuan, kasih bunga mawar itu ke panitia laki-laki, terserah yang mana. Untuk laki-lakinya, kasih permen itu untuk panitia cewek. Mengerti?” “Siap mengerti, Kak!” ujar mereka serempak dan mulai menyebar mencari target. Lisa mengedarkan pandangannya mencari kakak kelas yang ia incar sejak kemarin. Matanya membulat tatkala melihat senior bernama Raiden itu tengah duduk di bawah pohon, di pinggir lapangan basket. Ia berjalan ke sana, lewat belakang para peserta dengan hati-hati agar tak menarik perhatian. Mata coklatnya menatap sekilas tiga orang yang menang tadi. Mereka kini disuruh menyanyi Indonesia Raya di depan seluruh peserta. “s**l, untung aja tadi gue nggak jawab,” gumam Lisa. Ia mendekati Raiden yang bersandar di bawah pohon dengan mata tertutup. Gadis itu berjongkok, bingung harus membangunkan seniornya itu dengan cara apa. Baru sibuk memikirkan caranya, mata Raiden tiba-tiba terbuka hingga membuatnya terlonjak kaget dan jatuh ke belakang. Raiden berdiri dan mengulurkan tangannya. Lisa berusaha menahan senyumnya ketika menerima uluran tangan seniornya itu. “Ada apa?” tanya Raiden datar. “Ini ...,” Lisa memberi bunga mawar itu dengan malu-malu, “untuk Kak Raiden.” Raiden tak langsung menerimanya dan melihat sekelilingnya. Beberapa peserta cewek juga melakukan hal yang sama pada panitia lain. Ia menghela napas dan bertanya, “Dikerjain lagi, ya?” Lisa mengangguk pelan. “Oke, gue terima bunganya, ya,” ujar Raiden ramah, namun keburu bunga itu diambil oleh Lorry yang entah kapan tiba di sana. "Kasih ke cowok lain." Lorry memberi kembali bunga itu pada Lisa. "Tapi, Kak ...." "Dia pacar gue. Gue nggak suka pacar gue terima sesuatu dari gadis lain,” ujar Lorry menekankan kata-katanya. "Saya ... saya cuma lakuin arahan dari kakak panitia di sana.” Lisa mundur selangkah karena takut. "Memangnya dia nyuruh lo ngasih bunga ke Rai?" Lisa terdiam sejenak lalu itu menggeleng pelan. "Lisa." Lorry membaca name tag gadis itu. "Lo tahu ‘kan gue ini siapa? Gue bisa aja masukin nama lo ke daftar korban dalam novel terbaru gue. Genrenya gore, lho." Mata Lisa membulat takut dan menarik bunga mawar itu ke belakangnya. "Panitia yang cowok bukan cuma Rai aja. Pergi lo,” usir Lorry tanpa perasaan. Lisa segera berlari dari sana. Membayangkan namanya ada di dalam novel Lorry saja sudah membuat tubuhnya ngilu. Ia sudah pernah membaca novel gore seniornya itu. Hasilnya, ia tidak nafsu makan selama tiga hari. Herannya, novel-novel gadis itu justru jadi best seller. “Ck, lo berlebihan, Lor. Masih jadi calon siswa aja udah lo takut-takutin. Nanti gimana kalau dia malah nggak mau masuk sekolah karena takut sama lo?” tegur Raiden. “Mentalnya mental tempe berarti,” balas Lorry santai. “Lagi pula, kalau cuma perihal ngasih bunga banyak, kok, panitia lainnya yang ada di lapangan. Kenapa harus jauh-jauh ke sini untuk ngasih bunga ke elo? Itu artinya dia suka, ‘kan, sama lo?” Raiden menghela napas dan menggaruk ujung alisnya, pusing menghadapi sikap Lorry yang satu ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD