Another You 7

1880 Words
Happy Reading . . . *** Keesokkan harinya, pagi-pagi sekali aku sengaja sudah berada di depan bangunan flat Tiffany. Aku sudah menyuruh Jeff untuk masuk ke bangunan tersebut untuk mencari kamar flat wanita itu. Aku ingin dilihat sebagai seorang penghibur yang selalu ada disaat wanita itu sedang merasa sedih dan sakit hati. Aku ingin Tiffany bisa melihat jika aku akan selalu ada untuknya. Cukup lama aku menunggu di dalam mobil, akhirnya aku bisa melihat Jeff dan Tiffany yang keluar dari dalam bangunan flat. Aku langsung mengerutkan keningku saat melihat wanita itu yang masih mengenakan piyama tidurnya. Selain itu aku juga bisa melihat wajah wanita itu yang terlihat begitu sembab ketika ia sudah duduk di sampingku. Sepertinya ia sehabis menangis selama semalaman. "Apa hari ini kau bekerja?" "Aku tidak kerja. Aku sedang tidak bersemangat," balasnya dengan suara serak dan lemah. "Kalau begitu kau bisa ikut denganku." "Aku ingin istirahat saja, Nick. Semalaman aku tidak bisa tidur." "Tidak, kau harus ikut. Karena aku ingin membuatmu senang." "Nick..." "Jalan, Jeff." Tiffany yang sepertinya sudah biasa melihat sikapku yang tidak bisa dibantah, langsung terdiam dan membuang pandangannya dariku. Beberapa saat berlalu dan perjalanan kami hanya diisi dengan keheningan saja, akhirnya Jeff memberhentikan mobil di depan sebuah restaurant. "Turun," perintahku kepada Tiffany. Setelah Jeff membantuku untuk turun dari mobil lalu duduk di kursi rodaku. "Nick, kita ada dimana? Aku malu masih mengenakan piyama." "Tidak perlu malu. Sudah, ayo ikut aku." Aku pun menjalankan kursi roda dengan Tiffany yang mengikutiku dari belakang. "Kita naik lift lagi?" Tanya Tiffany setelah kami berhenti di depan lift. "Tentu saja. Restaurant-nya di atas sana." "Tetapi kau tahu jika aku takut dengan ketinggian, bukan?" "Aku akan jamin jika kau tidak akan takut. Lagi pula, bukankah kemarin kau turun menggunakan lift sendiri?" "Aku terpaksa, kau tahu?" "Kau bisa memelukku lagi jika kau takut." Saat itu juga, pintu lift pun terbuka dan aku menjalankan kursi rodaku memasuki lift. "Ayolah, aku tidak bisa menahan pintu ini terus," ucapku sambil terus menekan tombol lift untuk menahan pintunya agar tetap terbuka. Dengan wajah keterpaksaan yang bisa aku lihat di sana, Tiffany melangkahkan kaki memasuki lift. Setelah wanita itu masuk, aku pun langsung menarik tangan Tiffany dan menjatuhkannya di pangkuanku. "Tutup matamu," bisikku tepat di telinganya. Tiffany menenggelamkan wajahnya di bahuku dan memeluk tubuhku dengan erat. Kejadian kemarin pun terulang kembali. Aku kembali mendekap punggungnya dan merasakan perasaan itu lagi. Perasaan tenang dan tidak ingin melepaskan pelukan tersebut. Aku membelai rambut panjang Tiffany yang tergerai dan merasakan lembutnya di tanganku. Hal yang tidak aku sadarkan itu ternyata sudah secara tidak sadar sudah menutup mataku dan mencium kening Tiffany. "Nick..." Panggilan Tiffany itu membuatku langsung tersadar akan hal tersebut. Aku membuka mata dan menatap Tiffany yang ternyata sudah menatap wajahku. "Ada apa?" "Sepertinya kita sudah sampai. Pintu lift-nya sudah terbuka." Dengan sedikit tidak rela, aku pun melepaskan pelukan Tiffany dan membiarkan wanita itu berdiri dari pangkuanku. "Aku akan membantu mendorong kursimu," ucap Tiffany yang sudah berada di belakangku dan mendorong keluar kursi rodaku melalui pintu lift dua sisi. "Nick, apakah ini restaurant?" Tanya Tiffany setelah kami memasuki wilayah rooftop. "Kau melihatnya apa?" "Tetapi kenapa tidak ada orang lain?" "Aku menyewanya. Agar kita bisa sarapan bersama, hanya berdua saja." "Ini berlebihan, Nick." "Tidak. Sudah, kau pilih ingin duduk dimana?" "Hhmm... aku tidak ingin duduk di dekat jurang itu." "Jurang?" "Iya, apapun itu namanya aku tidak ingin duduk di sana," balas Tiffany sambil menunjuk sebuah meja yang berada di dekat pembatas rooftop ini. "Itu sama saja akan membunuhku." "Baiklah, kita duduk di sini saja bagaimana?" Dengan cepat Tiffany langsung menghampiri meja di dekat pintu masuk, lalu mendudukkan dirinya di sana. Aku pun langsung tersenyum dan menggelengkan kepala ketika ia yang meninggalkanku begitu saja. "Katanya kau ingin membantuku untuk mendorong kursi roda ini?" "Hhmm..." "Sudah, kau duduk saja." Sela-ku saat wanita itu hendak berdiri. Bersamaan dengan aku yang sudah memposisikan kursi rodaku berseberangan dengan tempat duduk Tiffany, makanan-makanan yang sebelumnya sudah aku pesan bersamaan dengan aku yang menyewa restaurant ini pun datang. "Nick, makanan ini untuk siapa saja?" Tanyanya bingung setelah melihat piring-piring yang berisi makanan datang dengan silih berganti tanpa berhenti. "Tentu saja untuk kita berdua." "Sebanyak ini? Apa kau sanggup untuk menghabiskannya?" "Memangnya kenapa? Jika kau tidak bisa menghabiskannya, tidak masalah." Piring terakhir berisi puding berukuran besar datang dan melengkapi ketiga meja yang berhubungan satu sama lain di hadapan kami. "Ada yang bisa dibantu lagi, sir?" "Tidak, terima kasih." Perginya waiters yang mengantarkan makanan pun tidak juga membuat Tiffany berhenti memperhatikan makanan yang begitu banyak dan memenuhi meja di hadapannya. "Makanlah. Kau tidak akan kenyang jika hanya terus memperhatikan makanannya seperti itu saja." "Ini hanya sarapan, Nick. Bukannya makan siang. Jadi mana mungkin aku bisa menghabiskan semuanya." "Aku tidak menyuruhmu untuk menghabiskannya. Aku hanya menyuruhmu untuk memakannya." "Ni-" Aku pun langsung memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya sebelum wanita itu kembali protes. "Lembut bukan rotinya? Dan makanlah telur dan juga ayamnya. Itu lebih baik dari pada kau terus protes." Ucapanku yang cukup tahan itu membuat Tiffany mendengus kasar dan ia pun mulai memakan telur mata sapi di hadapannya. Beberapa saat berlalu, aku pun mulai menghitung piring kosong yang telah Tiffany habiskan makanannya. "Delapan piring? Apa saja yang sudah kau makan?" "Jangan berbicara. Kau membuatku kesal," balasnya sedikit ketus. Aku pun langsung tertawa mendengar ucapan Tiffany yang sepertinya sedang kesal denganku. "Kalau begitu berhentilah sebelum perutmu akan meledak." "Aku tidak ingin komentar. Nanti kau akan memarahiku lagi." "Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Maka dari itu aku memesan banyak makanan agar kau tidak kelaparan." "Hal apa?" "Kau, Liam dan masih banyak yang lainnya lagi." "Aku tidak ada apa-apa dengan Liam." "Ya, tidak ada apa-apa setelah kau mengetahui jika Liam memiliki kekasih yang sekarang sudah menjadi tunangannya." "Apa hari kau tidak bekerja? Sebaiknya kau pergi ke kantor dan bekerja dari pada menjadi wartawan di sini." "Jika kau tidak bekerja, maka aku memutuskan untuk ikut tidak bekerja juga." "Huhh... aku tidak ingin membahas hal itu." "Kita harus membahasnya sampai selesai dan jelas agar kau tidak merasa kecewa atau sakit hati, Tiffany." "Aku baik-baik saja, Nick. Siapa yang mengatakan jika aku sakit hati?" "Wajahmu, penampilanmu yang mengatakan jika kau sedang sakit hati. Kau mengatakan sendiri jika semalaman tidak bisa tidur." "Nick..." "Sejak kapan kau sudah jatuh cinta kepadanya?" Tanyaku memotong ucapannya. "Aku tidak jatuh cinta." "Sejak kapan, Tiffany?" ". . ." "Aku bisa melihat dari tatapan matamu ketika sedang berbicara dengan Liam, Tiffany?" ". . ." Aku menarik nafasku dengan sabar saat melihat Tiffany yang tiba-tiba saja berubah menjadi tidak bisa berbicara seperti itu. Kata 'kesabaran' tidak ada di dalam diriku, namun jika ini menyangkut dengan wanita itu. Aku harus mempertahankan sikap tersebut terhadap Tiffany. "Tiff-" "Sejak aku bekerja di Rameez dan dia datang sebagai pelanggan," sela-nya. "Aku tidak menyalahkan hatimu yang jatuh cinta kepadanya. Tetapi seharusnya kau lebih berhati-hati lagi saat menaruh perasaanmu itu. Kau harus tahu siapa yang sedang kau harapkan itu." "Iya aku tahu. Ini salahku yang sudah jatuh cinta kepadanya. Bahkan rasanya hal itu tidak pantas untukku." "Kenapa tidak pantas?" "Karena Liam tampan, kaya dan memiliki kepribadian yang baik. Tentu saja di luar sana banyak wanita yang mengaguminya. Dan tentu saja jika hatinya itu pasti sudah ada yang bisa menaklukkan." "Siapapun berhak dan pantas untuk jatuh cinta. Entah itu kepada seseorang yang mudah ataupun sulit untuk dijangkau." ". . ." "Apa sejak kemarin dia belum mencoba memberi penjelasan kepadamu?" "Dia sudah terus menerus menghubungiku sejak kemarin. Tetapi aku tidak menjawabnya,". "Entah kenapa aku merasa bodoh karena telah memiliki perasaan seperti ini." "Kau tidak bodoh. Tetapi sejak awal, Liam saja yang sepertinya memberikan harapan kepadamu sehingga tanpa tersadar hatimu sudah mengharapkannya." "Tetapi jika aku sadar akan diriku yang tidaklah seberapa ini, mungkin aku bisa menghentikan perasaanku terhadap Liam." "Tidak seberapa bagaimana?" "Iya. Aku tidaklah sebanding dengan tunangan Liam yang sangatlah cantik, memiliki tubuh yang sempurna, semua yang ada pada wanita itu memanglah layak Liam inginkan." "Kau juga tidaklah sadar jika kau itu sama sempurnanya seperti Selena." "Jangan mencoba menghibur apalagi merayuku, Nick." " Aku sedang tidak merayumu. Aku sedang berkata yang sejujurnya." "Selena, apakah itu nama tunangan Liam?" "Ya. Setahuku Liam sudah memiliki hubungan dengannya sejak 4 sampai 5 tahun yang lalu." "Selain memiliki kepribadian yang baik, ternyata Liam adalah tipe pria yang sangat setia." "Apakah itu salah satu tipe pria idaman-mu?" "Bukan salah satunya, tetapi itu adalah pria yang aku inginkan. Jika dia tidak sempurna, asalkan dia adalah pria yang setia, pasti aku akan jatuh cinta kepadanya. Banyak pria di luar sana yang terlihat sempurna, tetapi tidak dengan hatinya yang setia. Mencari pria yang setia itu tidaklah mudah." "Kenapa kau memiliki pikiran jika mencari pria yang setia itu tidak mudah?" "Karena buktinya sampai sekarang aku belum pernah menemukannya juga." "Sampai sekarang?" "Ya, mengenaskan bukan? Di usiaku yang sudah menginjak dua puluh lima tahun ini aku masih juga belum pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki kekasih." "Benarkah?" "Ya, lucu bukan?" 'Wow... rupanya kau memiliki banyak kejutan, Tiffany.' batinku. "Bagaimana kau bisa menilai pria yang setia itu sulit dicari, tetapi kau sendiri saja belum mengetahui rasanya memiliki kekasih?" "Entahlah. Aku selalu merasa takut disaat aku harus mendekati pria atau ada seorang pria yang mendekatiku." "Lalu bagaimana hal itu tidak terjadi pada Liam?" "Siapa bilang? Aku sempat memiliki ketakutan saat setiap harinya Liam mengajakku untuk bergurau. Tetapi setelah cukup lama ia selalu datang ke Rameez, aku tahu dia hanya mencoba untuk ramah saja kepada setiap orang, termasuk denganku." "Lalu, bagaimana denganku? Apa kau merasa seperti itu juga saat bertemu denganku." "Ya." "Tetapi kenapa kau selalu mendengarkanku dan menuruti keinginanku." "Entahlah. Mungkin karena kau itu seorang yang pemaksa." "Benarkah?" "Menurut kau sendiri bagaimana?" "Aku seperti itu karena aku memiliki alasan." "Alasan? Apa?" "Karena aku mencintaimu, Tiffany." "Nick..." "Kenapa? Apa aku salah? Atau kau yang tidak percaya? "Ka-kau, bersungguh-sungguh?" 'Tentu saja tidak. Aku hanya akan mencintai Alexa-ku seorang,' batinku tersenyum. "Apakah itu bukanlah sebuah bukti?" Aku menunjuk ke seberang rooftop, dimana sebuah banner bertuliskan 'Would you be my girlfriend, Tiffany?' melayang dengan balon yang cukup banyak sehingga menerbangkan tulisan tersebut. "Nick..." "Jika kau masih merasa keberatan dan belum siap, aku akan menunggumu. Yang terpenting, disini aku sudah menyampaikan perasaanku terhadapmu. Aku hanya ingin memberikan kepastian untukmu saja agar kau merasa tidak bingung dengan sikapmu yang sangatlah peduli terhadapmu ini." "Kau sungguh-sungguh mencintaiku, Nick?" "Tentu saja. Apakah kau merasa takut dicintai oleh pria sepertiku ini? Pria yang cacat dan tidak bisa berjalan." "Nick, jangan berbicara seperti itu. Aku hanya merasa terkejut saja dengan kau yang tiba-tiba mengungkapkan perasaanmu ini. Bukannya aku tidak menyukaimu, tetapi suasana hati sedang tidak pasti seperti ini setelah fakta yang aku ketahui tentang Liam." "Lalu, apa kau ingin memberikanku sebuah kesempatan untuk memasuki hatimu?" "Entahlah, Nick. Aku hanya ingin menjalani semua hal ini layaknya air. Mengalir saja tanpa arah tujuan, namun terasa pasti." "Jadi, kau ingin menjalaninya seperti air?" "Mungkin sampai pada saatnya hatiku akan siap, aku akan menjawab pertanyaanmu ini, Nick." "Maukah kau menjadi kekasihku itu?" "Ya, sampai waktu yang tepat." "Baiklah. Aku menghargai keputusanmu ini." "Terima kasih karena kau sudah ingin mengerti, Nick." Benar, sepertinya kata 'kesabaran' harus mulai aku pelajari di dalam hidupku. Ini demi Alexa, aku harus bersabar agar Tiffany bisa aku miliki. Dan dengan begitu, aku bisa memiliki Alexa yang sudah pergi dan membayar rasa rinduku kepada istri yang sangat aku cintai itu terhadap Tiffany yang akan menggantikannya. *** To be continued . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD