Happy Reading . . .
***
Dua bulan berlalu, waktu berjalan begitu cepat. Tetapi tidak dengan kondisi tubuhku ini, terutama pada kedua kakiku. Baru saja aku kembali dari rumah sakit setelah sekian lamanya tidak berkonsultasi dengan dokter mengenai kelumpuhanku ini.
Dan dokter mengatakan akan sangat sulit jika aku tidak melakukan usaha apapun untuk mengembalikan fungsi kedua kakiku ini. Dan bukannya aku tidak ingin melakukan usaha untuk menyembuhkan kakiku, tetapi aku ingin kelumpuhanku ini bisa menjadi senjata.
Tiffany, adalah target senjataku. Sudah dua bulan ini juga aku benar-benar tidak berkomunikasi dengannya. Dan rupanya rencanaku untuk sedikit menjaga jarak dengan wanita itu sedikit terasa berhasil.
Bahkan aku juga sudah tidak pernah membeli kopi di Rameez lagi agar Tiffany tidak memiliki alasan untuk mendatangi kantorku seperti saat itu. Walaupun aku sudah tidak menghubungi Tiffany lagi, tetapi justru wanita itulah yang sesekali mengubungiku.
Tentu saja hal tersebut membuatku sedikit terkejut dibuatnya. Selain menelepon, ia juga sesekali mengirim pesan untuk sekedar menanyakan kabar atau mengajak makan siang bersama sekalipun. Namun dari setiap pesan itu, aku sama sekali tidak pernah membalasnya. Biarkan saja wanita itu merasakan hasil dari apa yang sudah ia perbuat jika ia sudah bermain-main denganku.
Dan seperti saat ini, disaat aku baru saja tiba di kantor setelah pergi ke rumah sakit. Aku langsung melihat ponselku yang bergetar dan ada pesan masuk di sana. Ketika aku melihat pesan tersebut, ternyata Tiffany lagi-lagi mengajakku untuk makan siang bersama.
Aku yang masih ingin mempermainkan emosional wanita itu hanya mengacuhkan pesan itu, lalu menaruh ponselku di atas meja kerja. Namun disaat aku sedang ingin menghidupkan laptop, pandanganku langsung tertuju terhadap sebuah benda yang sangat menarik perhatianku.
Benda persegi panjang dengan warna kombinasi merah dan emas bertuliskan nama Liam dan Selena di depannya, membuat keningku sedikit berkerut.
"Nick..."
Panggilan itu pun membuatku menengok ke asal suara.
"Hai, kau yang menaruh undangan ini?" Sapaku kepada Selena yang sedang menghampiriku dan ia mendudukkan diri di kursi di depanku.
"Ya, tadi aku datang ke sini tetapi ternyata kau sedang tidak ada. Maka dari itu aku pergi ke ruangan Liam terlebih dahulu. Walaupun kau saudara Liam, tetapi kau harus tetap mendapat undangan juga."
"Kau yakin? Apakah tidak terlalu cepat?" Tanyaku sambil mengangkat undangan di tangan kananku.
"Liam juga mengatakan seperti itu. Tetapi aku tidak ingin berlama-lama lagi."
"Jika kau tidak ingin menundanya lagi, itu hal yang baik. Lagi pula saat itu Liam juga melamarmu secara tiba-tiba, bukan?"
"Akhirnya ada yang sependapat denganku juga. Kau benar-benar akan menjadi saudara terbaikku, Nick."
"Jika itu sudah menjadi keinginan kalian berdua, aku bisa apalagi. Kalian adalah adikku, dan sudah sepantasnya aku mendukung kebahagiaan kalian."
"Awhh... kau sangat manis, Nick. Seandainya Liam seperti dirimu, pasti dia tidak akan menjadi menyebalkan seperti ini."
"Memangnya ada apa?"
"Entahlah. Beberapa Minggu belakangan ini sikapnya terasa sedikit berubah. Dia menjadi seperti bukan Liam yang aku kenal."
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Atau mungkin kau sedang terkena salah satu syndrome pernikahan."
"Apa kau dulu juga pernah merasakannya?"
"Setiap orang yang ingin menikah pasti memiliki ketakutan masing-masing. Tetapi itu tidak akan lama. Setelah kalian resmi, nantinya pasti rasa itu akan menghilang."
"Benarkah?"
"Yang aku alami seperti itu, Selena."
"Aku harap yang sedang aku rasakan ini adalah salah satu ketakutan yang kau katakan tadi."
"Jangan terlalu dipikirkan juga. Jika Liam benar-benar mencintaimu dan serius ingin berkomitmen, kau tidak perlu takut jika ia akan meninggalkanmu."
"Kau benar,". "Huhh... terima kasih, Nick. Kau sudah mengurangi beban pikiranku."
"Sebisa mungkin pasti aku akan membantu jika kau mengalami kesulitan."
"Kau benar-benar pria yang manis, Nick. Alexa sangat beruntung telah memilikimu."
"Ya..."
"Hhmm... Nick, maafkan aku. Aku tidak bermaksud..."
"Tidak masalah," sela-ku disaat Selena langsung merasa tidak enak ketika membawa-bawa Alexa di dalam percakapan kami.
"Kalau begitu apa kau sudah makan siang? Kita bisa makan bersama dengan Liam," ajak Selena.
"Tidak perlu. Kalian makan siang bersama saja. Aku akan menyuruh sekretarisku untuk memesankan nanti."
"Baiklah, kalau begitu aku ingin ke ruangan Liam lagi. Sampai jumpa."
Keluarnya Selena dari ruangan ini, membuatku ingin memulai pekerjaan yang sempat tertunda karena kedatangannya tadi. Namun baru beberapa saat aku memulai bekerja, aku mendengar suara pintu ruanganku yang terbuka dan membuat kepalaku terangkat untuk melihat siapa yang datang.
Dan ketika aku melihat keberadaan Tiffany yang sedang menutup pintu kembali, aku pun menjadi merasa panik karena kedatangan wanita itu yang secara tiba-tiba.
"Hai, Nick. Hhmm... aku membawakan kopi untukmu," sapa Tiffany dengan canggung sambil menaruh gelas paper cup yang tadi ia bawa di hadapanku.
"Tetapi aku tidak memesan kopi kepada sekretarisku."
"Iya, aku tahu. Ini pemberian dariku untukmu."
"Baiklah, terima kasih."
"Hhmm... apa kabarmu, Nick?"
"Aku baik. Dan masih lumpuh seperti dahulu."
"Apa aku mengganggumu?"
"Tergantung dengan tujuan kedatanganmu ke sini."
"Sepertinya sudah cukup lama kita tidak bertemu. Kau juga tidak pernah menjawab setiap pesan dariku atau sekedar mengangkat panggilan teleponku. Aku takut terjadi sesuatu denganmu, maka dari itu aku ingin mengunjungimu."
"Dan sekarang kau sudah melihat keadaanku yang baik-baik saja, bukan?"
"Ya, kau baik-baik saja."
Aku kembali mengalihkan pandanganku menuju layar laptopku dan sengaja mengacuhkan keberadaan Tiffany yang sedang berdiri dengan canggung dan kaku di hadapanku.
"Hhmm... apa kau sudah makan siang, Nick?"
"Belum. Tetapi nanti aku ingin menyuruh sekretarisku untuk memesankannya."
"Apa kau ingin makan siang bersamaku?"
"Kau, ingin mengajakku makan siang bersama?" Tanyaku dengan pandangan terkejut.
"Tetapi jika kau tidak menginginkannya, tidak apa-apa. Sepertinya aku sedang mengganggumu, kalau begitu aku ingin pamit dulu. Maaf jika kedatanganku ini membuatmu terkejut, Nick. Sampai jumpa."
Senyuman penuh arti-ku terbit saat memandang Tiffany yang sudah membuka pintu dan keluar dari ruanganku. Aku menyukai hal seperti ini. Membuat orang lain merasa menyesal telah melakukan hal yang seakan menyakiti hatiku.
***
Aku melihat jam di tangan kananku yang sudah menunjukkan pukul 10 malam. Belakang ini aku sengaja lebih banyak menghabiskan waktu di kantor dengan bekerja agar aku tidak memiliki banyak pikiran selain ke pekerjaanku.
Saat aku menghentikan kursi roda di lobby, ternyata di luar sana sedang hujan. Entah kenapa tiba-tiba saja pikiranku langsung tertuju kepada Tiffany.
"Jeff, nanti kita lewat Rameez saja." Perintahku saat seperti biasa ia membantuku masuk ke dalam mobil.
"Baik, sir."
Setelah mobilku melaju dan terkena air hujan, ternyata hujannya saat ini sangat deras. Toko-toko yang juga sudah tutup dan membuat jalanan sedikit gelap, cukup membuatku merasa kesulitan untuk melihat apakah Tiffany masih berada di Rameez atau tidak.
Namun, dari kejauhan aku bisa melihat jaket berwarna coklat yang selalu Tiffany pakai. Dan benar saja, ternyata wanita itu sedang berdiri seorang diri sambil memeluk tubuhnya di depan Rameez yang juga sudah tutup. Sepertinya ia sedang menunggu hujan yang sedikit reda.
"Berhenti sebentar di depan Rameez, Jeff."
Setelah mobilku berhenti, aku pun membuka kaca jendela di sampingku. Untung saja hujan sudah sedikit reda jadi aku tidak perlu berteriak untuk berbicara kepada Tiffany.
"Nick..." Panggil wanita itu saat melihat keberadaanku.
"Masuklah, aku akan mengantarmu."
Aku bisa melihat senyuman yang terbit di wajahnya itu. Namun disaat Tiffany sedang sedikit berlari menuju mobilku, tiba-tiba saja Liam datang sambil memegang payung dari arah belakang mobilku. Ia berhenti di depan Tiffany yang tentu membuat wanita itu juga langsung menghentikan langkahnya.
"Kau pulang denganku," ucap Liam sambil sedikit menarik kasar pergelangan tangan Tiffany.
"Aku ingin pulang bersama Nick,” balas Tiffany sambil menarik paksa tangannya dari genggaman Liam.
"Liam sudah menjemputmu. Pulanglah dengannya."
"Nick..."
Panggilan Tiffany itu tidak aku hiraukan. Aku langsung menutup kaca jendela dan menyuruh Jeff untuk menjalankan mobil.
"Nick, tunggu aku."
Suara Tiffany yang terdengar sedih dan samar-samar masih aku dengar, membuatku justru tersenyum dibuatnya. Aku semakin menyukai situasi seperti ini. Situasi dimana Tiffany akan merindukan keberadaanku, karena aku sudah tidak terlalu memperhatikannya lagi.
***
To be continued . . .