"Ikut Papa yuk!" Kata Pak Khalid membuka pembicaraan. Khalyana sedang menikmati nasi goreng di depannya, gadis cantik itu tampak menoleh. Lalu sejenak kemudian beralih pada piringnya lagi, ia comot telur dadar dengan garpu, lalu menyuapkan ke mulutnya.
Ningsih terlihat masih mondar mandir di sekitar meja makan, mengantar s**u, kopi dan air putih kepada majikannya. Pak Khalid mengangguk saat kopi panas terhidang di hadapannya. Lalu asisten rumah tangga itu segera kembali ke dapur.
"Ke kantor?" Tanya Khal sesaat kemudian, dengan bingung, tapi masih tetap sambil makan. Ia segera berpikir, mau apa Papanya mengajak ke kantor? Pasti sangat membosankan, batin Khal. Dia segera menggeleng.
Dulu waktu masih SD, saat pengasuhnya izin pulang kampung, Khal sering diajak ke kantor Papanya seusai pulang sekolah. Tentunya dengan berbagai macam sogokan. Seperti uang jajan tambahan, ia bebas bermain game di komputer, hingga pergi ke tempat wisata di akhir pekannya.
"Bukan." Jawab laki-laki paruh baya itu dengan cepat. Ia tahu sekali, Khal tidak pernah mau diajak ke kantor. Menurut Khal, kantor Papanya adalah tempat paling membosankan di dunia. Di sana ia hanya bisa bergelut dengan barang-barang yang hampir semua tidak boleh disentuh. Ia harus sopan dengan semua orang, dan menurut Khal, semua orang pura-pura manis padanya. "Ke restoran, ketemu kolega bisnis Papa." Sahut Khalid cepat.
"Enggak ah, Pa." Jawab Khal malas.
"Restorannya estetik lho, bagus kalau mau buat konten di sana." Khalid masih mencoba menego putrinya. Khalyana segera memberikan tatapan menyelidik, tumben sekali Papanya mendukungnya bikin konten.
"Emmm yaudah kalau gitu, boleh." Jawab Khal akhirnya. Dia hari ini memang belum ada agenda apa-apa. Lagi pula, Khalid memang belum mengizinkannya membuat konten di tempat-tempat jauh bersama timnya. Selain itu, dia juga perlu mengambil beberapa gambar untuk produk paid promote.
Jadilah siang itu, Khal pergi bersama Khalid ke restoran Dapur Pantura untuk menemui laki-laki bernama Haydar yang tidak lain tidak bukan adalah pemilik dari restoran itu. Sebenarnya, Khalid punya misi yaitu melihat lebih jauh seperti apa Haydar itu, apakah dia bisa menjadi 'penjaga' yang baik untuk Khalyana. Hanya saja, dia berkedok melakukan sebuah penawaran bisnis.
***
Mobil Vellfire warna putih berbelok ke halaman sebuah restoran berbentuk joglo, kental dengan suasana Pantura. Restoran itu cukup besar dan memiliki halaman cukup luas. Banyak mobil terparkir di halaman karena ini jam makan siang.
Khal sudah kenal restoran itu, dia pernah beberapa kali makan di sana. Makanannya memang terkenal enak, makanan khas Jawa yang medok sekali dan hampir tidak ada di lain tempat. Ketika Khalid dan Khal masuk, hampir semua kursi sudah terisi. Mereka pun harus celingukan untuk mencari tempat.
"Papa nggak reservasi?" Tanya Khal merasa aneh. Papanya menggeleng.
"Tapi Papa sudah janjian dengan pemilik restoran untuk bertemu. Sebentar, Papa tanya ke pelayan."
Mereka tak menemukan kursi kosong, Khal berdiri di salah satu sudut, dia menggerutu karena seperti orang terlantar, hanya berdiri ketika semua orang asyik makan. Untung hari ini dia pakai masker dan kacamata, jangan sampai ada follower yang menangkapnya sedang berdiri nggak jelas di sudut restoran.
Pak Khalid, Papanya berjalan menemui salah seorang penjaga restoran yang berdiri di salah satu sudut. Mereka tampak berbicara sebentar, Khalid lalu tampak melambaikan tangan ke arah Khal dan memintanya untuk mendekat. Dengan malas, Khal berjalan menuju Papanya.
"Bagaimana, Papa?"
"Kita bisa masuk ke ruangan privat. Haydar sudah menunggu di sana." Kata Khalid sumringah.
Haydar? Batin Khal dalam hati saja, ia lalu mengikuti Papanya masuk ke ruang yang dia kira ruang karyawan. Mereka dibimbing oleh penjaga restoran yang tadi ditemui Khalid.
"Restoran ini sangat maju." Ghumam Khalid berdecak kagum setelah mereka akhirnya sampai dan duduk di sebuah ruang yang terlihat seperti ruang pertemuan, namun tak muat lebih dari sepuluh orang.
Mereka duduk di atas kursi rotan jadul khas Jawa yang melingkari meja berbentuk oval yang terbuat dari kayu jati. Perjaga membuka jendela dan menyibak tirai yang berwarna kekuningan, persis di film-film horor tanah Jawa. Lalu penjaga itu juga menyalakan kipas angin yang cukup besar, seperti blower.
"Mas Haydar akan segera kesini, Pak. Mohon ditunggu sebentar. Silakan sambil memilih menu makanan dan minuman." Penjaga itu dengan ramah menyodorkan buku menu. Khalid mengangguk sambil terus tersenyum. Khal heran, kenapa Papanya itu tersenyum terus sejak tadi. Bahkan sampai penjaga restoran tadi pergi.
"Benar-benar konsep restoran yang matang." Khalid berdecak kagum. Khal tidak terlalu memperdulikan Papanya, dia berdiri lalu celingukan, mencari spot yang instagramable untuk mengambil gambar.
"Sini, Khal! Kamu mau makan apa, Nak? Semua menu yang ada di sini terlihat enak." Khalid masih terkagum-kagum. Sebenarnya semua hal yang dilihatnya di restoran itu sudah biasa, pengusaha paruh baya itu sudah ratusan kali keluar masuk restoran ternama. Namun hari ini ia punya misi, yaitu melihat calon mantu yang ia bidik akan menjadi penjaga Khalyana. Ia tampak bersenandung sambil terus membolak-balik buku menu.
Khal tidak memperhatikan itu, ia dengan siap mengambil tripot dari tasnya. Ia sudah menemukan spot yang cocok untuk mengambil gambar. Ia harus gerak cepat karena ia tak secara resmi meminta izin mengambil gambar.
Ia hadapkan kamera ke salah satu sudut rak kayu yang tersusun berbentuk segi tiga. Rak kayu itu estetik sekali, batin Khal. Cat kayu yang terkelupas dan hiasan porselen yang tertata di atasnya terlihat cantik sekali. Ia segera mengambil prodaknya hari itu, pas sekali, dia hari ini akan mengambil gambar untuk promosi tas tangan handmade yang kental dengan suasana etnik.
Jepret..jepreet… beberapa kali kameranya mengambil gambar, Khal lalu segera mengecek hasilnya, dan ia segera tersenyum puas. Hasilnya bagus meskipun ia hanya berbekal tripot. Ia tidak mungkin meminta Pak Khalid, karena tahu betul kualitas gambar jika diambil Papanya itu.
"Khal, kamu mau garang asem?" Suara Pak Khalid memecah keheningan, Khal menoleh, segera mengangguk. Bukan karena mau dengan menu itu, hanya biar cepat saja. Dia masih berniat mengambil beberapa gambar lagi.
"Es dawet Siwalan mau nggak?"
Huftt…Khal jadi kehilangan konsentrasi karena ditanya terus, dia segera mengangguk lagi. Kali ini dia akan segera take video review produk.
"Kalau es sinom dan gorengannya kamu mau yang mana?"
Arghgjhhhh….Khalyana geram, dia sudah meng-klik tombol start video, tapi gagal karena suara Papanya.
"Pa, Khal mau semua yang Papa pesan. Tolong Papa diam dulu, ya. Khal mau ambil video." Kata Khal berusaha sabar dan menjaga mood. Papanya malah terkekeh, sambil mengacungkan jempol.
Satu… dua… tiga… "Hallo bestie, aku ada rekomendasi handbag yang super cantik, lucu, dan tentunya bikin kamu antimeanstream karena ini tuh unik banget. Taraaa Tas Gayatri dari @kendedesshop. Sumpah tas ini cantik banget, cocok banget buat nemenin ootd kamu, warna-warna nya pun soft dan earth tone. Dan pastinya, harganya nggak bikin kantong kamu bolong. Yuk samaaan sama aku!"
Khal mengakhiri video itu dengan senyum paling manis dan segera berlarian meng-klik tombol end.
"Permisi! Apakah saya bisa masuk sekarang?" Suara yang berat dan serak-serak basah membuat Khal dan Pak Khalid segera menoleh. Sesosok laki-laki berdiri di depan pintu, entah sejak kapan.
Khal menoleh ke arahnya, ia langsung salah tingkah. Apakah laki-laki itu tadi melihatnya mengambil gambar? Apakah dia pemilik restoran ia? Bagaimana kalau dia kena tegur? Khal segera mengangguk merespon pertanyaan itu.
"Nak! Haydar!" Pak Khalid tampak berdiri, menyambut laki-laki itu dengan sedikit heboh. Khalyana beringsut mundur memberi jalan kepada papanya yang sudah merentangkan tangan. Kenapa Papa heboh sekali, batinnya.
Pak Khalid dan Haydar berpelukan seolah sahabat lama. Tapi menurut Khal, semua itu berlebihan, wajah Haydar kurang nyaman dipeluk Pak Khalid, Khal yakin laki-laki itu hanya melakukan sopan santun menghadapi kolega.
"Kok belum pesan makanan?" Kata Haydar sembari duduk, dia melirik buku menu yang terbuka.
"Bingung, makanan di sini enak semua, Nak." Kata Pak Khalid lalu terkekeh.
"Bapak perlu rekomendasi dari saya?" Haydar mengambil buku menu, lalu segera menemukan sebuah lembar yang menampilkan foto makanan, "Ini menu favorit saya, udang windu kuah asam. Ini mantap sekali, Pak. Dijamin Bapak dan Mbak ketagihan."
Disebut "Mbak" Khalyana sontak menoleh, asing sekali di telinganya panggilan itu. Apalagi oleh seorang laki-laki yang terlihat sepuluh tahun lebih tua dari dia. Tapi Haydar tidak merasa itu hal aneh, dia terus saja menunjukkan beberapa menu lainnya. Pak Khalid ikut saja, apalagi Khalyana.
"Masakan di sini fresh semua, Pak. Dimasak sebelum disajikan, jadi memang kekurangannya menunggu agak lama. Itulah masalah kami, meskipun kami sudah terus menambah koki-koki baru, rupanya hal itu masih menjadi masalah kami."
"Ahh itu biasa, orang-orang rela menunggu untuk sebuah hidangan yang enak."
Pak Khalid dan Haydar terus bercakap-cakap, makanan yang mereka pesan mulai berdatangan satu per satu. Khalyana terus sibuk dengan gadget, beberapa kali Pak Khalid mengkode agar meletakkan gadgetnya, ya diletakkan, namun sesaat diambil lagi.
Ketika Pak Khalid dan Khal makan, Haydar pamit keluar sebentar, mungkin untuk menghormati tamunya agar bisa makan dengan leluasa. Khal bersyukur untuk itu, dia malas sekali harus makan dengan sopan santun di depan kolega ayahnya.
"Bagaimana? Keren nggak?" Tanya Pak Khalid di sela-sela makan, Khalyana menoleh, lalu memberi ayahnya itu tatapan menyelidik.
"Maksud Papa?" Ia hanya menanggapi dengan kalimat itu, lalu kembali menikmati makanan di hadapannya yang diakuinya memang sangat enak.
"Haydar. Keren ya, masih muda, punya usaha yang maju." Tambah Pak Khalid lagi, Khal hanya mengangguk. Dia tidak berpikir lebih jauh tentang kalimat Papanya. Pak Khalid memang sering memuji anak-anak muda yang sukses, terutama dalam hal bisnis. Kadang, itu semua membuat Khal risih karena merasa dibandingkan. Namun ia tidak ingin membuat Papanya kecewa, dia hanya bisa menanggapi dengan anggukan.
Selesai makan, Haydar masuk lagi ke ruangan itu. Tampak pelayan restoran mengambil piring dan gelas kotor. Lalu pelayan lain datang membawa irisan buah semangka dan es asam jawa. Khal bingung, bagaimana dia bisa tahu kalau mereka sudah selesai makan.
Khal izin sebentar keluar untuk mengambil gambar, ia izin secara terang-terangan bahwa ia akan mengambil gambar untuk keperluan paid promote, bahkan Khal juga bertanya apakah ada administrasi untuk itu.
"Tidak, untuk saat ini belum, silakan mengambil gambar sesuka Kakak!" Kata Haydar menjawab perizinan itu. Khal memang pemberani dan tidak suka basa basi. Ia mengatakan apa yang ia ingin katakan, tapi sungguh, dipanggil kakak sangat aneh di telinganya, karena yang menyebut begitu adalah kolega bisnis ayahnya. Ia seperti sedang belanja di mall saja kalau begitu, batin Khal. Tapi ia tidak menaruh kepedulian yang banyak tentang itu ia segera cabut keluar bersama tas ransel yang berisi peralatan tempurnya.
Sebelumnya, Khal tidak biasa mengambil gambar sendiri. Ia punya tim, kemanapun ia mengajak tim-nya untuk sesi pemotretan. Tapi, sepak terjang gadis itu sedang tidak lancar sekarang, papanya banyak sekali membatasi. Sehingga, mau tak mau, ia terus berjuang sendirian untuk pekerjaan yang disenangi itu. Toh, paling tidak nanti bagian edit juga ada sendiri.
Setengah jam ia mengambil puluhan gambar dengan kilat. Di dekat sebuah patung kayu tua berbentuk kuda, di dekat jendela kayu yang sangat tinggi dan besar, di dekat tanaman-tanaman bonsai, dan banyak lagi yang lain yang tentunya tidak sampai di tempat makan pengunjung umum.
Dan setelah dia mengecek hasilnya, semua tampak memuaskan. Kamera yang bagus, view yang instagramable, Khal yang cantik, sempurna. Khal tersenyum-senyum sendiri, tidak sia-sia waktunya hari ini apalagi dia mengesampingkan rasa malunya saat beberapa kali karyawan restoran tampak mengamatinya sambil berlalu.
Khal duduk di sebuah gazebo, tidak jauh dari ruang pertemuan tempat Papanya berada. Sampai dia selesai mengambil gambar, rupanya Pak Khalid belum ada tanda-tanda selesai bertemu koleganya itu. Beberapa kali Khal celingukan melihat ke arah pintu tempat mereka makan tadi, tapi tetap belum ada perkembangan.
"Harus dikode nih Papa." Desis Khal sambil membuka aplikasi w******p. Dan mujarab! Tak sampai lima menit, tampak Pak Khalid dan Haydar berdiri di depan ruang makan tadi, melambaikan tangan ke arah Khal. Khal yang langsung bangkit mendatangi mereka.
"Maaf ya, nunggu Papa lama."
Kalimat Pak Khalid tak berubah sejak Khal kecil, caranya pun tetap sama, yaitu sambil merangkul pundak putri semata wayangnya itu. Dan respon Khal tetap sama pula, tersenyum, menggeleng, lali mengatakan, "tidak apa, Papa!"
"Terimakasih, Nak, atas waktunya, maaf mengganggu kesibukanmu. Tolong pikirkan baik-baik kata-kata ku."
Kalimat Pak Khalid mengakhiri pertemuan dengan Haydar, laki-laki itu tampak menggeleng dan menyambut uluran tangan Pak Khalid dengan mantap.
"Saya yang terimakasih Bapak sudah mampir kesini."
Khal tidak tahu isi percakapan di belakang mereka, dia tidak curiga sama sekali tentang apapun. Bahkan dia tidak sadar Haydar beberapa kali menatapnya sedikit lebih lama.
Mereka berjalan keluar area privat itu, menuju tempat makan utama. Sekarang sudah tidak seramai saat Khal dan Pak Khalid baru datang tadi. Beberapa meja sudah kosong dan kembali bersih. Namun pelayan restoran masih sibuk berlalu lalang.
"Khalyana Baryani, ya? Minta foto dong kak!" Salah seorang karyawan restoran tampak mengenali Khal, Khal celingukan bingung. Sejak terkenal, ini kali pertama ia pergi dengan Papa dan dikenali followernya. Khal meminta izin pada Papanya juga Haydar, lalu mengangguk mengiyakan permintaan karyawan itu.
Saat itu Khal memakai celana kulot dan kaos lengan pendek, tidak perlu terlalu bermake-up, natural saja cukup bedak, blush on dan lipstik cukup membuat Khal terlihat bersinar. Sehingga, meskipun pakai masker dan kacamata rupanya fans tetap mengenali.
Khal berfoto dengan beberapa orang secara bergantian, ia tampak tersenyum ceria dan tulus, kali ini masker medis ia lepas. Dia berpose natural dan terlihat akrab. Tanpa Khal ketahui, Haydar mengamatinya, terus mengamatinya selama beberapa saat. Sampai akhirnya sesi foto seleb dan fans itu selesai, dan Khal bersama Pak Khalid pergi meninggalkan restoran itu.