“Ini apartemen saya. Mulai sekarang kamu akan tinggal di sini.”
Aksa mendorong dengan pelan kursi roda yang diduduki Ananta untuk masuk ke dalam apartemennya. Di sana di dalam apartemen berlantai satu itu, kedua mata Ananta mengedar—menjelajahi setiap sudut apartemen yang memiliki suasana klasik dengan tema monokrom yang dominan. Untuk ukuran seorang pria, Ananta rasa apartemen Aksa terbilang cukup rapi.
“Apartemen Mas, rapi,” puji Ananta. Meskipun canggung, dia mencoba untuk lebih mengakrabkan diri dengan Aksa karena bagaimanapun juga, pria itu kini suaminya dan tidak mungkin jika Ananta tidak akrab dengan suaminya sendiri.
“Jangan memaksakan diri untuk akrab dengan saya, karena saya tak bisa melakukannya,” ucap Aksa yang tentunya berhasil membuat Alana tertegun.
Seolah belum puas dengan perkataanya, Aksa yang baru saja menutup pintu apartemen, langsung mendorong kursi roda Ananta untuk masuk lebih dalam ke ruang tamu apartemennya dan setelah itu Aksa berjalan menuju sofa untuk mengobrol dengan Ananta dan tentu saja memberikan perempuan itu sebuah peringatan agar tak terlalu banyak berharap, meskipun status mereka kini adalah sepasang suami istri.
“Ananta.” Aksa memanggil nama perempuan itu.
“Iya, Mas?” tanya Ananta—berusaha sesopan mungkin, meski dia tahu jika Aksa hanya lebih tua satu tahun darinya.
“Bagaimana perasaan kamu sekarang? Apa kamu senang bisa menikah dengan saya?” Aksa berkata dengan nada yang sarkas. Dia memandang Ananta dengan tatapan yang benci. “Apa kamu senang karena akhirnya bisa masuk ke dalam keluarga saya?”
“Maksud Mas apa?” tanya Ananta tak mengerti.
“Maksud saya?” Senyuman miring diukir Aksa. “Maksud saya, kamu itu perusak. Karena kamu dan Papa kamu hubungan saya berantakan.”
“Mas.” Ananta menatap Aksa.
“Asal kamu tahu, saya sudah punya calon istri, Ananta,” ungkap Aksa. “Tapi karena Papa kamu, saya harus menikah dengan kamu. Perempuan asing yang tidak saya kenal sebelumnya. Apa menurut kamu itu tidak memuakkan?”
Ananta terdiam. Dia sama sekali tak tahu menahu tentang Aksa yang ternyata sudah memiliki kekasih karena yang dikatakan Dodi padanya hanya tentang Aksa yang akhirnya mau menyetujui rencana pernikahan dengannya setelah dibujuk Adam. Sungguh, jika tahu Aksa sudah memiliki kekasih, Ananta pasti tak akan bersedia untuk dinikahkan dengan pria beriris abu-abu itu.
“A-ku enggak tau kalo Mas udah punya pacar,” ucap Ananta tergagap, karena jujur saja tatapan Aksa membuatnya sedikir takut. “Kalo aku tau Mas udah punya pacar, aku pasti akan nolak Mas. Lagipula kenapa Mas enggak bilang sama Papa kalo Mas udah punya pacar?”
“Tidak bilang?” tanya Aksa. “Are you kidding, me? Saya sudah puluhan kali bilang sama Papa kamu Ananta, saya bilang sama dia kalo saya enggak bisa nikahin kamu karena saya punya pacar bahkan saya sudah melamar pacar saya itu dan kami pun punya rencana menikah nanti, tapi yang dilakukan Papa kamu adalah terus memaksa saya untuk menikahi kamu. Dia bahkan menghasut Papa saya untuk mengikuti kenginannya. Jangan pura-pura tidak tahu, saya yakin Papa kamu memberitahu semuanya.”
“Aku beneran enggak tau, Mas. Aku enggak tau kalo Papa lakuin itu semua,” ungkap Ananta. “Kalo Mas mau, kita boleh cerai sekarang juga, Mas. Aku perempuan, dan aku enggak mau pacar Mas nanti marah kalo tau semuanya.”
“Ck, sandiwara,” ucap Aksa. “Kamu bilang gitu supaya saya simpati sama kamu, kan?”
“Mas enggak gitu.”
Aksara beranjak dari kursi. “Saya sedang pusing. Kamu jangan banyak bicara karena kita enggak mungkin cerai sekarang,” ucapnya. “Sementara waktu mungkin kita harus tetap berada dalam ikatan pernikahan sialan ini, tapi kamu jangan berharap dapat cinta dari saya karena semua itu mustahil. Pernikahan kita hanya ada di atas kertas karena di dalam hati saya, kamu bukan siapa-siapa. Kamu hanya sekadar perempuan asing yang sudah menghancurkan hidup saya.”
Aksa melepaskan kaos yang sejak tadi dia pakai lalu beralih pada kemeja yang akhirnya dia pakai. Tanpa menghiraukan Ananta, Aksa berjalan menuju kamar untuk menyimpan baju kotor, karena sepuluh menit lagi dia harus pergi ke Jakarta untuk menjemput Viola yang akan sampai di bandara sekitar pukul sebelas malam.
“Mas mau ke mana?” tanya Ananta saat dia melihat penampilan casual Aksa yang begitu rapi. “Ini malam pertama kita setelah menikah, kenapa Mas pergi?”
“Sudah saya bilang, pernikahan kita itu hanya di atas kertas, jadi jangan pernah berharap akan ada malam pertama,” ucap Aksa.
“Dan jika kamu ingin tahu ke mana saya akan pergi. Saya mau ke Jakarta. Saya mau jemput pacar saya di sana.”
“Mas aku ....” Ananta ingin mempertanyakan nasibnya pada Aksa karena dengan kondisi kedua kakinya yang lumpuh, dia akan sangat sulit melakukan aktivitas seperti biasa.
Mengerti dengan raut wajah Ananta, Aksa tersenyum miring. Rasa bencinya pada Ananta nyatanya tak sampai menutup hati nurani Aksa. Dia masih peduli pada kondisi gadis itu karena bagaimanapun juga itu karenanya. Karena Aksa yang menabrak Ananta.
“Tenang saja, saya masih punya hati nurani,” ucap Aksa. “Sebelum pergi, saya akan menunggu asisten rumah tangga datang. Selama tinggal di sini, dia yang akan membantu kamu melakukan semuanya.”
"Terima kasih, Mas."
"Jangan berterima kasih, karena saya melakukan ini bukan karena kamu," jawab Aksa. "Ini hanya bentuk pertanggungjawaban saya karena sudah membuat kamu lumpuh. Ingat, jangan berharap lebih selain ini, karena kamu tidak akan pernah mendapatkan apa-apa dari saya."
"Mas." Lagi, Ananta memandang Aksa yang kini kembali duduk di sofa sambil bertopang kaki.
"Di apartemen ini ada tiga kamar. Satu kamar saya, satu kamar tamu, dan satu lagi kamar kecil untuk asisten rumah tangga," ungkap Aksa. "Kamu tidur di kamar saya karena kamar tamu diisi barang-barang pacar saya."
"Iya Mas."
"Satu kamar bukan berarti satu ranjang," ucap Aksa. "Saya akan beli kasur tambahan nanti dan kamu tidur di sana. Saya tidak mau tidur dengan perempuan asing. Saya hanya ingin tidur bersama perempuan yang saya cintai dan yang jelaa itu bukan kamu karena kamu hanya perempuan asing."
Hati Ananta mencelos ketika entah sudah berapa kali kata 'perempuan asing' diucapkan Aksa padanya. Dia memang asing. Ya, tentu saja ucapan Aksa memang tidak salah karena nyatanya Ananta adalah perempuan yang begitu asing di hidup Aksa.
"Mas."
"Apa?"
"Bagaimana jika nanti pacar Mas datang ke sini? Apa yang harus aku lakukan?"
"Diam di kamar," jawab Aksa. "Selama saya memikirkan cara untuk berpisah denganmu, kamu tidak boleh menampakkan diri di depan pacar saya karena saya tidak akan pernah mengatakan pernikahan ini padanya."
"Sebagai permintaan maaf aku, aku bakalan lakuin apapun yang Mas minta," ucap Ananta.
"Ya, tentu saja harus seperti itu karena apa yang sudah kalian berdua lakukan terhadap hidup saya itu sangat keterlaluan," ucap Aksa. "Masih beruntung, saya mau tampung dan rawat kamu di sini. Coba kalau semua ini menimpa pria lain, saya yakin kamu sudah dibuang atau ditinggalkan begitu saja. Jadi sekarang, jangan banyak protes. Ikuti apa yang saya minta karena inilah yang mungkin diinginkan Papa kamu."
"Iya Mas."