8). Menjemput Viola

1103 Words
Pukul delapan malam, mobil sedan hitam yang dikendarai Aksa baru memasuki gerbang tol purbaleunyi. Viola bilang jika pesawat yang ditumpanginya akan mendarat di bandara Soekarno hatta tepat pukul sembilan malam, sedangkan kini Aksa masih harus menempuh perjalanan yang cukup jauh sebelum sampai ke bandara. “Ah, ini gara-gara perempuan itu. Semuanya jadi kacau,” gerutu Aksa ketika kini dia semakin mempercepat laju mobilnya. “Hidupku, hubunganku, semuanya kacau karena dia. Ya Tuhan, kenapa Ana harus hadir di hidupku? Kenapa aku harus menabraknya malam itu?” Perhatian Aksa pada jalanan beralih ketika ponsel yang dia simpan di atas dashboard berbunyi. Amanda. Senyuman tipia diukir Aksa ketika panggilan tersebut berasal dari sang Mama. Seolah tak kapok mengangkat telepon sambil berkendara, Aksa menggeser gambar gagang telepon di layar ponselnya sebelum akhirnya menempelkan benda pipih itu di samping telinga. “Halo, Ma.” “Halo, Aksa. Gimana, Bi Ijah udah sampe?” tanya Amanda dari seberang sana. “Udah, Ma. Bi Ijah udah sampe.” “Syukurlah. Kamu sedang apa sekarang? Udah makan?” tanya Amanda lagi. “Belum, Ma. Aksa lagi di jalan. Mungkin nanti kalo udah sampe, Aksa makan.” “Di Jalan? Kamu mau ke mana sayang?” “Bandara, Ma. Aksa mau jemput Viola. Malam ini dia pulang,” jawab Aksa apa adanya. Jika Adam atau Teresa yang menelepon, sudah jelas Aksa akan berbohong karena mereka pasti akan memarahinya kalau tahu Aksa meninggalkan Ananta di apartemen. Namun, karena Amanda yang menelepon, Aksa memilih untuk berkata jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi karena baik itu Amanda maupun Dirga, selalu bisa mengertikannya atau jika dia salah pun, kedua orangtuanya selalu menegur dengan cara baik-baik. Sangat berbeda dengan Adam yang selalu menggunakan cara keras untuk menegurnya. Dari seberang sana, Aksa bisa mendengar dengan jelas, Amanda menghela napas panjang. “Sama siapa? Sendiri? Enggak capek?” Rentetan pertanyaan itu keluar dari mulut Amanda—membuat Aksa bahagia karenanya. “Enggak, Ma. Buat Viola, Aksa enggak pernah ngerasa capek,” jawab Aksa apa adanya. “Jangankan bandara, Viola minta jemput ke Paris aja, Aksa bakal lakuin.” “Jaga kesehatan, Aksa. Belakangan ini kamu pasti banyak pikiran,” ucap Amanda memperingatkan. “Mama enggak mau kamu sakit.” “Iya Ma, makasih buat perhatiannya,” ucap Aksa. “Iya sayang,” jawab Amanda. Beberapa detik sempat hening, Amanda kembali bersuara. “Oh ya, Aksa. Bagaimana, Ananta?” Senyuman yang sempat diukir Aksa perlahan memudar. Berubah menjadi raut wajah yang kecut dan tak bersahabat. “Bagaimana apanya, Ma?” tanyanya—berusaha sebisa mungkin untuk menahan rasa kesal setiap nama perempuan itu terdengar di telinganya. “Aksa.” Amanda mengambil napas sebelum akhirnya melanjutkan apa yang ingin dia ucapkan pada sang putra. “Mama tahu kamu enggak cinta sama dia, tapi sekarang Ananta istri kamu, sayang. Tolong jaga dia ya. Setidaknya sampai dia sembuh.” “Hm.” Aksa hanya menjawab dengan sebuah gumaman. “Ma.” “Iya?” “Udah dulu, ya. Aksa lagi di jalan.” “Ya udah, hati-hati di jalan.” “Iya Ma.” “Besok Mama ke apartemen kamu.” “Hm.” Tanpa banyak berkata lagi, Aksa memutuskan sambungan telepon lalu menyimpan kembali ponselnya ke atas dashboard. Setelah itu dia mempercepat laju mobilnya agar bisa segera sampai di bandara karena rasanya tak tega jika dia membiarkan Viola menunggu terlalu lama. Hampir tiga jam atau lebih tepatnya pukul sebelas kurang, Aksa sampai di Bandara. Tak mau membuang-buang waktu, pria bermanik abu itu langsung mencari keberadaan sang kekasih yang kebetulan baru sampai sepuluh menit yang lalu. Senyuman merekah, kembali diukir Aksa ketika di dekat pintu kedatangan, seorang gadis berdiri sambil menyunggingkan senyuman manisnya. Seminggu yang lalu, dia memang sedikit marah pada Viola, tapi kini rasa marahnya itu sudah menguap entah ke mana—tersalip rasa rindu yang mendalam pada sang kekasih. “Sayang." Aksa berjalan mendekat lalu tanpa ragu meraih tubuh Viola dan memeluknya dengan begitu erat. Tak lupa, dia membubuhkan sebuah kecupan di puncak kepala sang kekasih. “Apa kabar sayang?” “Baik.” Viola mengurai pelukan Aksa lalu menatap kekasihnya itu dengan intens karena memang perbedaan tinggi mereka terpaut tak terlalu jauh. “Kamu apa kabar? Baik, kan?” Aksa tersenyum tipis. Jika ditanya apakah kabarnya baik, maka sudah jelas jawabannya adalah tidak. Bagaimana mungkin Aksa merasa baik-baik saja setelah siang tadi dia mengucapkan ijab kabul di depan penghulu untuk meminang gadis lain, sementara gadis yang sangat dia cintai kini berdiri di depannya, tanpa tahu apa saja yang sudah terjadi selama seminggu ini. “Aksa, kabar kamu baik, kan?” tanya Viola sekali lagi, ketika Aksa tak kunjung menjawab pertanyaannya. “Baik. Aku baik-baik aja sayang,” jawab Aksa. “Syukurlah,” jawab Viola kemudian. “Aku sempet khawatir lho, pas kamu enggak ngasih kabar selama beberapa hari. Kamu kan, workaholic, aku takut kamu sakit karena kerja terus-terusan.” “Maaf ya.” Tangan Aksa terulur untuk mengusap puncak kepala Viola dengan lembut. “Aku sibuk kerja. Pulang kerja aku langsung tidur, jadi enggak sempet hubungin kamu.” Viola mengusap rahang tegas milik kekasihnya itu dengan lembut. “Iya enggak apa-apa, aku ngerti kok,” ucapnya. “Makasih sayang,” jawab Aksa ketika tangannya menyentuh tangan Viola yang masih mendarat di wajahnya. “Oh ya, Ima ke mana? Kenapa kamu pulang sendiri?” “Ima ngurusin model lain di sana. Dia nyuruh aku nunggu buat pulang bareng beberapa hari lagi sih, tapi aku nolak,” ungkap Viola setelah tangannya turun dari wajah Aksa. “Kenapa?” tanya Aksa penasaran. “Kenapa?” Viola tersenyum. “Ya jelas karena aku kangen sama kamu, sayang. Kamu emangnya enggak kangen gitu sama aku?” “Kangenlah, mana mungkin aku enggak kangen sama kamu.” “Kamu ....” Viola menjeda ucapannya. “Waktu aku di Paris, kamu enggak nakal kan sama cewek lain?” “Hey, mana mungkin,” ucap Aksa dengan segera. “Aku tuh cuman cinta sama kamu, sayang. Mana mungkin aku nakal sama cewek lain.” "Bagus deh, aku lega dengernya," jawab Viola dengan senyuman manisnya yang tentu saja selalu membuat Aksa candu. Melihat senyuman Viola, membuat Aksa bisa melupakan masalahnya saat ini dan tentunya melupakan rasa kesalnya pada Ananta yang kini entah sedang apa, Aksa tidak peduli. Sama sekali tak peduli. "Oh ya, sayang." Aksa melirik koper hitam milik Viola kemudian kembali beralih pada sang kekasih. "Mau pulang ke Bandung malem ini apa besok?" "Kalo aku mau pulang malem ini, kamu bisa enggak?" tanya Viola. "Aku takut kamu kecapean." "Buat kamu, apapun selalu bisa," jawab Aksa. Dia mengulurkan tangan kirinya untuk meraih koper milik Viola, sementara tangan kanannya kini meraih tangan lembut sang kekasih. "Ayo pulang, sayang." "Iya Aksa, ayo."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD