***
“Mas Aksa belum pulang juga.”
Menguap beberapa kali, Ananta menoleh ke arah jam dinding yang ternyata sudah menunjukan pukul dua dini hari. Pantas saja sejak tadi mata Ananta sangat sulit digerakkan, pikirnya.
Tak sadar pula, Ananta bahkan sudah menonton dua film di televisi yang berada di ruang tamu apartemen. Sunyi. Ananta mengedarkan pandangannya—menjelajahi setiap sudut apartemen.
Sekarang Ananta bingung, ingin pergi tidur dia tak bisa, karena untuk naik ke atas kasur, Ananta perlu bantuan seseorang. Bi Ijah? Ananta tidak tega untuk membangunkannya karena sejak tadi Bi Ijah sudah pergi tidur. Melanjutkan untuk menunggu Aksa? Ah, rasanya mata Ananta sudah sangat berat.
“Apa aku harus nelepon Mas Aksa?” tanya Ananta pada dirinya sendiri. Meskipun, tak pernah meminta atau bahka diberi langsung oleh sang pemiliknya, Ananta memiliki nomor Aksa dari Adam yang secara sukarela memberinya nomor sang putra.
Ragu. Ananta memandangi layar ponselnya sebelum menelepon. Dia takut mengganggu Aksa yang saat ini mungkin sedang bersama kekasihnya, tapi jika tidak di telepon. Ananta tidak akan tahu, Aksa akan pulang atau tidak.
“Oke Ana, kamu telepon aja. Mas Aksa kayanya enggak bakalan marah cuman karena ditelepon,” gumam Ananta. Menarik napas panjang, Ananta menekan tombol panggil pada nomor Aksa. Satu kali, dua kali, hingga lima kali, Aksa tak menjawab panggilan darinya.
Masih penasaran—cenderung khawatir, Ananta kembali menghubungi Aksa, dan untuk kali ini, Aksa menjawab panggilan darinya.
“Halo, ada apa kamu telepon saya?” tanya Aksa.
Segurat senyum terukir di bibir Ananta ketika tahu Aksa menyadari yang menelepon adalah dirinya.
“Mas,” panggilnya. “Kamu tahu, ini aku?”
Dari seberang sana, Aksa berdecak. “Ditanya malah balik nanya,” ucapnya. “Mau apa kamu telepon saya? Ganggu, tau gak?"
Ananta mengerjap. "Ah, iya maaf Mas," ucapnya. "Aku telepon karena mau nanyain kamu. Masih di mana sekarang? Pulang ke apartemen apa enggak?"
"Punya hak apa kamu nanya itu sama saya?" tanya Aksa dari seberang sana. "Mau saya di jalan kek, mau saya pulang atau enggak kek, itu terserah saya. Lagian, saya enggak minta kamu nunggu, kan? Sana tidur. Enggak usah nunggu saya."
"Tapi Mas-"
"Jangan banyak berharap kamu," ucap Aksa. "Saya enggak akan tertarik sama kamu."
"Mas."
"Tidur, enggak usah nungguin saya dan enggak usah cari muka," perintah Aksa.
Sebelum Ananta sempat menimpali ucapan Aksa, sambungan telepon lebih dulu terputus dari seberang sana dan Ananta? Dia hanya bisa menghembuskan napas kasar atas respon Aksa padanya.
"Sabar Ana, kamu pasti bisa lalui ini semua," gumam Ananta pelan.
Kembali memandang televisi yang masih menyala, Ananta sedikit terkesiap ketika ponselnya bergetar. Berharap dari Aksa, Ananta justru dibuat terkejut karena ternyata panggilan kali ini berasal dari Dodi sang papa.
Tak mau membuat Dodi menunggu, Ananta lekas menjawab panggilan tersebut.
"Halo Papa, ada apa?" tanya Ananta.
"Ana, kamu udah tidur cantik?" tanya Dodi.
"Belum, Pa. Ana belum ngantuk," jawab Ananta. "Kenapa?"
"Papa ada di depan apartemen kamu," ungkap Dodi, yang jelas saja membuat Ananta membelalakan matanya.
Di depan apartemen? Sekarang? Dini hari ini?
"Pa, papa serius?" tanya Ananta. "Ngapain, Pa? Ini udah mau subuh. Papa kenapa ke sini?"
"Papa tadi lagi tidur, terus tiba-tiba keinget sama kamu," ungkap Dodi. "Karena kebetulan papa tau alamat apartemen kamu dari papanya Aksa, papa langsung ke sini. Papa mau pastiin kamu."
"Sekarang papa di mana?" tanya Ananta.
"Di depan," jawab Dodi.
"Ya ampun, Papa. Bentar ya, Pa. Ana buka pintunya."
"Iya An."
Memutar roda kursinya dengan sedikit cepat, Ananta bergegas mendekati pintu lalu membukanya, dan tentu saja benar. Saat pintu apartemen terbuka, yang pertama kali dilihat Ananta adalah Dodi. Pria paruh baya itu berdiri dengab hanya piyama juga jaket yang melekat di tubuhnya.
"Ya ampun Papa," ucap Ananta. Melihat perhatian sang papa, tanpa sadar butiran bening tak kuasa membendung di kedua kelopak mata Ananta dan di detik yang sama pula, butiran-butiran bening itu lolos dan menetes—membasahi pipi. "Ini udah malam papa."
"Are you okay little girl?" tanya Dodi. Dia yang memiliki postur tubuh tinggi, lantas berjongkok di depan sang putri. Kedua matanya menatap lekat manik hitam milik Ananta yang basah. "Kenapa nangis?"
"Papa kenapa ke sini malam-malam, Pa?" tanya Ananta sambil terisak. "Angin malam enggak baik buat Papa."
"Papa tadi lagi tidur, terus mimpiin kamu," ungkap Dodi. "Abis mimpi itu, Papa enggak bisa tidur lagi karena tiba-tiba aja kepikiran kamu. Kamu enggak apa-apa, kan?"
Ananta diam. Dia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Dodi. Sekali lagi, Ananta tidak mungkin berkata jika Aksa saat ini tak ada karena pergi menjemput pacarnya. No, masalah akan semakin rumit jika Ananta mengatakan yang sebenarnya.
"Ana, kamu enggak apa-apa, kan?" tanya Dodi—mengulang pertanyaan yang sama.
Ananta tersenyum tipis. "Enggak, Papa. Ana enggak apa-apa, Ana baik-baik aja kok," jawabnya. "Papa enggak usah khawatir."
"Suami kamu mana?" tanya Dodi. "Papa harus ketemu sama dia. Papa mau memperingatkan dia supaya jaga kamu. Papa enggak mau dia lakuin sesuatu sama anak papa."
"Mas Aksa tidur, Pa," jawab Ananta bohong. "Seperti yang tadi dia bilang di rumah, Mas Aksa capek. Pulang dari rumah Ana, dia langsung tidur."
"Serius?" tanya Dodi meyakinkan. "Suami kamu lagi tidur?"
Ananta mengangguk. "Iya Papa, serius," jawabnya. "Dingin, Papa masuk dulu ya."
Dodi beranjak. "Enggak, An. Enggak usah," jawabnya. "Papa ke sini cuman mau mastiin kamu baik-baik aja apa enggak. Karena kamu ternyata baik-baik aja. Papa mau langsung pulang."
"Enggak mau minum dulu, Pa? Biar Ana buatin teh anget," jawab Ananta.
"Enggak cantik, enggak usah," jawab Dodi. "Papa enggak mau repotin kamu. Sekarang, lebih baik kamu tidur. Jangan begadang."
"Iya Pa."
"Masuk lagi sana, Papa juga mau pulang," pinta Dodi.
"Papa yakin enggak masuk dulu?" tanya Ananta sekali lagi.
"Enggak, An. Enggak usah," jawab Dodi. "Tutup pintunya, Papa mau pulang."
"Iya Pa," jawab Ananta pasrah. Mengulurkan tangannya, Ananta mencium punggung tangan Dodi sebelum akhirnya dia mundur dan menutup pintu.
Memejamkan mata, Ananta mencoba menahan tangisnya agar tidak keluar, hingga dering ponsel yang tadi dia simpan di atas meja, membuat Ananta segera memutar roda kursinya untuk kembali ke sofa.
"Mas Aksa," gumam Ananta pelan, ketika kursi rodanya mendekati sofa. Namun, harapannya pupus karena ternyata yang meneleponnya bukan Aksa. "Ah, Ana. Kamu terlalu berharap. Mana mungkin Mas Aksa telepon duluan."