"Jangan kayak gini, Fey." Rich mengalihkan pandang ke arah jendela. Sebuah guncangan rasa bahagia serta terluka muncul di waktu yang sama. Rich memang menanti hari ini sejak lama. Dia sangat terharu saat pada akhirnya Feyra berani menyatakan hal ini. Namun, saat merasakannya langsung, ternyata tak hanya suka yang terasa, tapi juga guyuran luka. Tidak bisa ditampik, Rich kini justru semakin merasa menjadi yang kedua. Sikap Feyra yang seperti ini seolah-olah hanya berupa angin segar yang sementara. Saat kesejukan sudah berlalu, Rich harus kembali menghalau badai. "Kamu nggak seneng?" tanya Feyra. "Aku seneng. Tapi nggak kayak gini caranya, Fey." Mendengar ucapan Rich, wajah Feyra mendadak pias. Feyra pikir, Rich akan bahagia karena mengetahui bahwa Feyra sudah memutuskan untuk memilihn

