Satu hari telah berlalu. Maka, Fania tinggal memiliki satu hari lagi untuk memutuskan akan meraih mimpi itu dan terbang ke Paris atau melepaskan mimpi yang hampir menjadi kenyataan itu demi mempertahankan apa yang ia miliki di sini. Keluarga dan cinta. Walau semalam sempat berdebat cukup lama, rutinitas pagi ini akhirnya kembali seperti biasanya. Tidak ada lagi kucing-kucingan. Dito tak lagi menghindar meski laki-laki itu masih tampak kesal perkara tawaran pekerjaan ke Paris untuk Fania yang belum menemui titik final. “Dit, kalau lagi makan jangan cemberut gitu dong,” komentar Fania−yang sengaja mengkritik laki-laki itu agar Dito memperhatikannya. Dito mendongak untuk menatap Fania. “Aku hari ini kayaknya nggak pulang.” “Kenapa?!” Fania refleks memekik. “Nggak usah teriak, Fan. Teling

