Greb! Tiba-tiba tangan Han Wol digenggam erat. Gadis itu diseret menuju halaman belakang. Tangan kuat yang sedang menyeret Han Wol itu adalah milik aboeji. Tubuh Han Wol dihempaskan di tanah basah yang semalam terkena tetesan air hujan. Sehingga membuat hanbok-nya kotor terkena lumpur. "Apa kau itu bodoh?!" pekik aboeji. "Apa kau kira dengan usahamu mengakhiri hidup akan membuat orang lain peduli?" tanya aboeji sarkastik. "Tsk! Kau itu harusnya bersyukur sudah diberikan kesempatan untuk hidup di dunia ini! Dasar anak tak tau diuntung!" lanjut aboeji. Han Wol berdiri dengan kedua kaki ringkihnya. Matanya kering. Ia sudah terlalu kebal. Ia memang tidak menangis. Tapi bukan berarti hatinya tak sakit. Hatinya sakit. Sangat sakit. Ucapan itu mengiris-iris hatinya ya

